
Mendengar pengakuan David yang menyebut Monita sebagai calon istrinya membuat Ilham naik pitam.
Pria itu mengepalkan tangannya seraya menyembunyikan Monita dan anaknya di balik punggung, dengan langkah pasti ia berjalan mendekati David dan menarik kerah kemeja pria menyebalkan itu.
“Coba katakan sekali lagi? Apa saya tidak salah dengar?”
“Dia memang calon istriku Ilham! Kami akan segera menikah begitu sampai ke luar negeri, kenapa harus marah? Bukan kah kalian hanya menikah siri?” Tantang David balas menatap Ilham dengan sengit.
“Brengsek!!” Ilham memberikan bogem mentah pada David hingga membuat David terhuyung ke belakang dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.
“Mas!!!” Monita segera berdiri di tengah-tengah mereka sembari memeluk Dikta.
“Kenapa? Apa kau juga mau membelanya? Aku tidak peduli sekali pun kau sudah menjadi istrinya sekarang! Aku tidak pernah menjatuhkan talak padamu, itu artinya kau masih istriku sayang! Kau tidak boleh menikah dengannya!”
“Tapi kita hanya menikah siri mas! Lagi pula sudah 5 bulan kau tidak menafkahiku, itu artinya kita sudah berpisah!”
“Rupanya kau masih tidak tau diri juga ya Ilham! Jelas-jelas dia sudah tidak ingin bersamamu lagi, kenapa kau memaksanya?” Ujar David begitu ia merasa sudah lumayan membaik lalu kembali berusaha untuk berdiri.
“Diam kau brengsek!!” Umpat Ilham hendak kembali memberi pukulan di wajah David namun Monita segera melerainya, rasanya Ilham ingin membogem pria itu hingga giginya rontok semua.
Namun David tak tinggal diam, ia ingin mencekal tangan Monita namun anak buah Ilham dengan sigap lebih dulu mencekal David sebelum tangannya meraih Monita.
“Lepaskan!” Bentak David berusaha memberontak, namun anak buah Ilham memegang tangannya dengan sangat kuat.
“Mas lepaskan dia!” Cetus Monita tampak mengkhawatirkan David.
“Sayang, kau akan ku beri pilihan, jika kau benar-benar kasihan padanya ikutlah bersamaku, karena jika tidak aku akan menghajarnya habis-habisan hingga dia sendiri yang memilih akan ke rumah sakit atau ke kuburan!” Ilham benar-benar tidak main-main dengan ucapannya, apa yang ia katakan adalah nyata dia akan membuktikan ucapannya jika Monita tetap menolak ikut dengannya.
“Monita jangan dengarkan dia! Aku mohon Monita jangan tinggalkan aku, sebentar lagi kita akan menikah.” David memohon pada wanita itu.
Kini Monita sedang dilanda kebimbangan, antara ikut suaminya atau membiarkan David dipukuli. Sejujurnya Monita juga tidak sampai hati jika sampai David terluka, bagaimana pun David berperan penting dalam hidupnya ketika ia berjuang bersama Eden.
__ADS_1
“Tidak apa-apa kalau kau menghalangiku seperti ini sayang, aku akan memerintahkan anak buahku untuk mematahkan kakinya.” Ancam Ilham seraya tersenyum sinis.
“Kau kejam mas!”
“Terserah kau mau berkata apa sayang! Yang jelas aku tidak akan pernah rela melihat istriku pergi bersama pria lain.”
“Cepat kau putuskan, kau akan ikut pulang bersamaku atau kau harus rela melihat laki-laki ini terluka.” Tambah Ilham lagi.
Monita menatap Ilham dengan tatapan tajam, ia benar-benar tak menyangka sifat egois Ilham semakin mendarah daging, kali ini Ilham tidak akan melepaskan Monita lagi, dia ingin segera mengakhiri rasa frustasinya selama beberapa bulan ini ia kehilangan istri tercintanya itu.
“Monita, please jangan tinggalkan aku.” Ujar David dengan wajah memelas.
Kini Monita beralih menatap David, sesaat kemudian matanya beralih melirik dua orang pria berbadan besar bahkan tiga kali lipat lebih besar darinya sedang mengapit David, bisa dibayangkan bagaimana babak belurnya David jika sudah berada di tangan dua orang ini, bahkan mereka juga sudah memborgol kedua tangan David seolah tidak ingin memberikan kesempatan kepada David untuk membalas atau sekedar membela diri.
“Maafkan aku kak, aku tidak ingin melihat kamu dilukai, tolong jaga dirimu baik-baik, aku harus ikut mas Ilham.” Ucap Monita di akhir keputusannya.
Mendengar itu Ilham tersenyum penuh kemenangan, sedangkan Eden terkejut sembari menutup mulutnya yang menganga, ia tak menyangka kakaknya akan mengambil keputusan itu, namun dia juga mengerti, jika dia berada di posisi itu dia pasti akan melakukan hal yang sama, kakak iparnya ini benar-benar egois, dia akan selalu melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sementara Ilham, merasa telinganya sakit kala mendengar David merancang masa depan bersama istrinya di depan matanya.
“Diam kau brengsek! Jangan berharap lebih kepada istri orang!” Bentak Ilham seraya menunjuk wajah David dengan tatapan membunuh.
“Mas sudahlah! Aku sudah memutuskan untuk ikut bersamamu, tidak usah kau perpanjang lagi, kau mau aku ikut denganmu atau tidak?” Ucap Monita sengaja mengakhiri amarah Ilham, kepalanya sakit melihat dua pria ini bertengkar karena dirinya.
“Baiklah sayang, kita pergi sekarang, Eden kau ikut juga ya, maafkan kakak, kakak janji setelah ini kakak akan merestui hubungan kamu dengan Andre, kau sudah lulus kan?” Tutur Ilham basa basi demi kembali mengambil hati adik iparnya itu.
Eden terdiam, saat ini dia tidak ingin apa-apa lagi selain kebahagiaan kakak dan juga keponakannya, walau pun tak bisa dipungkiri kalau dia masih sangat mencintai Andre.
“Ayo kita pergi sekarang.” Ajak Ilham pada dua wanita itu.
“Mas tunggu!”
__ADS_1
“Ada apa sayang?” Ilham menghentikan langkahnya.
“Kau harus berjanji padaku kalau dua orang itu tidak akan menghajar David.” Pintah Monita seraya melirik tajam dua orang pria berbadan kekar itu.
“Monita tolong jangan lakukan ini, aku mohon.”
“Maafkan aku kak.” Lirih Monita dengan suara sepelan mungkin namun masih di dengar Ilham.
“Oh ya satu lagi sayang, tolong kau jangan panggil dia kak, hatiku sakit mendengarnya.”
Apa-apaan ini, Ilham benar-benar keterlaluan, bahkan perkara nama panggilan saja dia permasalahkan, kini hidup Monita benar-benar ada dalam kendalinya, segala apa yang Monita lakukan harus ia atur, termasuk cara memanggil David.
Monita tak menggubris ucapan Ilham, ia kelewat kesal dengan suaminya itu, suka seenaknya saja, dengan terpaksa dan dengan langkah berat, Monita mengayunkan kakinya meninggalkan David yang masih berada dalam kendali anak buah suaminya.
“Monitaaaaaa!!!” Teriakkan David berhasil mengundang kaget setiap orang yang berlalu lalang di sana. Kini beberapa pasang mata sedang menatapnya, ada yang kasihan namun tak sedikit pula yang kesal karena David dengan terang-terangan ingin merusak rumah tangga orang, terutama kalangan ibu-ibu, mereka mengumpat bahkan melayangkan tatapan tajam saking kesalnya.
Wajar jika saat ini David menjadi pusat perhatian, ternyata perdebatan mereka serta kejadian tadi mengundang perhatian banyak orang.
“Diam!” Bentak anak buah Ilham kemudian.
“Brengsek kalian, lepaskan aku!!”
“Tenang saja, kita akan melepaskan kamu begitu mobil tuan Ilham berjalan.”
David memandang nanar punggung Ilham beserta Monita yang sedang menggendong anak yang sudah ia anggap anaknya itu.
Waktu 4 bulan kebersamaan mereka adalah waktu yang paling berharga bagi David, dari dulu ia sangat sulit mendapatkan Monita, namun hari ini, di saat ia hampir saja akan mengikat Monita dengan sebuah pernikahan, semuanya harus gagal karena kedatangan laki-laki itu.
Padahal tinggal selangkah lagi Monita akan menjadi miliknya, dia pikir dengan dia menikahi Monita, wanita itu akan membalas cintanya karena terbiasa, dia pikir Monita akan membuka hatinya dan melupakan Ilham berkat kebaikannya yang sudah rela menemani Monita selama ia dalam masa sulit, namun ternyata Monita berbeda, bahkan hingga David sudah melamarnya Monita masih saja berkata kalau dia masih sangat mencintai suaminya.
Dalam kisah ini, David merasa ternyata dia hanyalah second lead, sedangkan pemeran utamanya tetaplah Ilham.
__ADS_1
Selama ini David sengaja menyembunyikan Monita, bahkan ia begitu pintar menyembunyikan wanita itu tanpa merubah identitasnya sama sekali, itulah sebabnya kenapa Ilham sangat sulit menemukan Monita.