Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 40 Sembunyi-sembunyi


__ADS_3

Setelah cukup lama berpelukan, kini tatapan bu Rahayu beralih menatap Ija dan Andre yang sedang berdiri di samping mobil.


“Ini Andre bu, dia bertugas sebagai asisten atasan kami, dan ini Ija anak bi Ratih pelayan di rumah atasan Monita, Monita sengaja mengajak mereka karena atasan Monita yang meminta agar Monita lebih aman jika ditemani oleh mereka.” Jelas Monita masih menutupi kebenaran.


“Oh begitu rupanya, atasanmu itu baik sekali.” Ucap sang ibu dengan tersenyum hangat.


“Ya sudah kalau begitu mari masuk, terima kasih ya nak Andre, nak Ija, sudah mau menemani anak ibu pulang ke sini.”


“Iya bu’ tidak usah sungkan.” Jawab Andre kemudian.


Kini Monita, Ija dan Andre sudah masuk ke dalam rumah Monita yang tampak sangat sederhana itu.


Mereka duduk di sofa kecil yang ada di ruang depan, setelah dipersilahkan duduk oleh bu Rahayu.


“Sebentar ya ibu ke dapur dulu mau buat minuman.”


“Tidak perlu bu, tidak usah repot-repot.” Sergah Andre nampak sungkan.


“Tidak repot sama sekali kok nak Andre, sebentar ya.” Ucap bu Rahayu kemudian pamit beranjak ke dapur.


“Ndre, Ija, sebentar ya, aku mau susul ibu dulu.”


“Baik nona.” Jawab Andre kemudian.


“Pantas saja dia begitu rendah hati, dia memang benar-benar berasal dari keluarga sederhana, sehingga dia sangat paham bagaimana rasanya hidup susah.” Gumam Andre dalam hati.


“Bu..” Panggil Monita begitu sampai dapur.


“Kenapa kamu ke sini? Sebaiknya kamu istirahat saja, kamu pasti lelah.” Jawab bu Rahayu dengan nada lembut.


Tanpa aba-aba, Monita langsung memeluk hangat tubuh sang ibu, menyalurkan rindu yang sudah lama ia pendam untuk ibunya, Monita begitu senang saat bertemu ibunya, dia semakin mengeratkan pelukannya.


“Kamu masih tetap manja seperti dulu.” Celetuk bu Rahayu sembari mengusap singkat kepala Monita, ia pun sama bahagianya, bu Rahayu begitu senang bisa bertemu kembali dengan putrinya setelah sekian lama.


“Iya bu, Monita akan terus manja seperti ini, tak peduli berapapun usia Monita.”


“Mau berapapun usiamu, dimata ibu kamu tetap anak kecilnya ibu, entah itu kamu sudah punya anak sudah punya suami, kamu tetap anak kecil.”


Mendengar ibunya membahas soal anak dan suami, Monita terdiam sejenak, dia ingin menyembunyikan statusnya di depan ibunya karena menurutnya, pernikahan dia dan Ilham tidak ada masa depan, tapi dia sudah terlanjur janji pada Ilham untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibunya.


“Aku tidak mau merusak moment bahagia ini, sebaiknya ibu jangan tau dulu tentang pernikahanku, nanti kalau sudah tepat waktunya, aku akan jujur.” Batin Monita dengan raut wajah sendu.


“Monita, hei!! Kenapa melamun?” Tanya bu Rahayu sontak membuyarkan lamunan Monita.


“Ah tidak bu, Monita hanya kelelahan saja.” Kilah Monita dengan senyum keterpaksaan.


Tak lama, bu Rahayu dan juga Monita sudah kembali masuk ke dalam rumah, dengan membawa dua cangkir teh dan juga beberapa kue di piring kecil yang ada di tangan Monita.


“Maaf ya nak Andre, nak Ija, sudah lama menunggu, tadi Monita masih bermanja-manja di dapur, maklum meskipun anak sulung Monita tetap saja ingin bermanja-manja dengan ibu.” Ucap Rahayu setelah meletakkan dua cangkir teh dan kue di hadapan Andre dan Ija, lalu kemudian mendudukkan dirinya di sofa yang ada di depan Andre, sedangkan Monita duduk di sofa yang ada di hadapan Ija.


“Ibu…” Sergah Monita sembari memegang lengan ibunya dengan kedua tangannya.


“Tidak apa-apa bu, anak perempuan memang suka bermanja-manja dengan ibunya.” Jawab Andre tersenyum tipis.


“Oh ya bu, sejak tadi aku tidak melihat Eden di sini, di mana dia bu?” Tanya Monita sembari melirik kesana kemari.


“Eden kan di sekolah nak.”


“Oh iya, Monita lupa.” Ucap Monita cengengesan.

__ADS_1


Sehabis minum teh, mereka pun berbincang ringan tentang masa kecil Monita.


“Mungkin nak Andre dan nak Ija mau istirahat, kebetulan di sini ada 3 kamar, nak Andre tidur di kamar depan saja, nak Ija sama Monita di kamar tengah, ibu dan Eden biar di kamar belakang saja.” Ujar bu Rahayu sembari menunjuk beberapa kamar setelah puas berbincang.


“Iya Ja, Ndre, sebaiknya kalian istirahat dulu, sejak tadi kalian belum istirahat, mari saya antar.” Ucap Monita kemudian berdiri dari duduknya.


“Baik nona.” Jawab Andre ikut berdiri dari duduknya.


Mendengar panggilan dari Andre untuk Monita sontak membuat Rahayu mengerinyitkan dahinya.


“Nona? Nak Andre memanggil Monita apa tadi?” Tanya bu Rahayu dengan raut wajah bingung.


“Memang seperti itu panggilan Andre terhadap Monita bu, tidak apa tidak usah di bahas, biarkan Andre dan Ija istirahat dulu ya bu.” Ucap Monita berkelit sembari menarik pelan tangan Ija untuk ikut dengannya ke kamar.


Andre pun pamit sembari membawa barang bawaan mereka ke kamar, lalu tas Monita dan Ija di letakkan di kamar mereka juga.


Sepuluh menit kemudian, panggilan Video Call dari ponsel Monita berbunyi dengan menampilkan nama ‘suami tampanku’ di layar ponselnya, Monita pun sedikit terperanjat karena sejak tadi dia lupa mengabari Ilham, Monita bergegas keluar sampai halaman depan yang agak jauh dari rumahnya untuk menjawab panggilan dari sang suami.


Setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya dari belakang, Monita menjawab panggilan dari Ilham.


“Sayang, kau sudah sampai? Kenapa tidak langsung mengabariku?” Protes Ilham dengan dahi mengkerut.


“Kenapa harus protes? Maaf ya aku lupa.” Jawab Monita tertawa cengengesan.


“Semudah itu ya melupakan suami sendiri.”


“Kan memang lupa, lagi pula hanya lupa mengabari kok.” Jawab Monita dengan bibir mengerucut dengan suara manjanya.


Melihat itu Ilham pun tersenyum, emosinya mereda begitu melihat wajah Monita yang begitu menggemaskan.


“Baiklah, kali ini kau ku maafkan, tapi hukuman tetap akan berjalan begitu kau pulang.” Ujar Ilham lalu tersenyum lebar.


“Hukuman? Apa hanya karena itu saja kau akan menghukumku?” Tanya Monita semakin mengerutkan keningnya.


Monita yang mengerti akan arah pembicaraan Ilham sontak mengangkat sebelah bibirnya dan berdecih.


“Cihh, dasar mesum.”


“Tidak ada salahnya kan mesum untuk istri sendiri.”


“Ya ya ya terserah Mas saja mau menghukumku dengan cara apapun, aku akan membalasnya.” Balas Monita tersenyum menggoda.


“Ooohhh sudah pintar ya kamu sekarang, siapa yang mengajarimu seperti itu?”


“Seorang lelaki yang hobinya memaksa, dia tidak mengajariku dengan lembut tapi mengajariku dengan paksa.” Sindir Monita sembari mengulum senyumnya.


“Tapi kau suka kan? Kau menikmati ajaran dari pria itu kan?”


“Tidak, aku tidak menikmatinya.” Jawab Monita berkelit.


“Kalau begitu, begitu kau pulang aku akan memangsamu sampai kau sulit melupakan rasanya hingga memintanya lagi dan lagi.”


“Baiklah coba buktikan, kalau sampai aku tidak menikmatinya, aku tidak akan memberimu jatah selama sebulan.” Ucap Monita tersenyum menantang.


“Awas saja kalau kau sampai menikmatinya, aku akan membuatmu mendesah tanpa henti.”


“Aku tidak akan mendesah.”


“Kita lihat saja nanti.”

__ADS_1


“Kau…” Ucapan Monita terhenti saat mendengar suara seorang wanita memanggilnya.


“Monita? Kenapa berdiri di situ nak.” Tanya Rahayu dengan lembut sembari melangkah mendekati Monita.


“Ak.. aku…” Monita tampak gelagapan dan bergegas memasukkan ponselnya di dalam saku celana.


“Kenapa nak? Ayo masuk, sebentar lagi turun hujan.” Ujar Rahayu sembari mengusap lembut pundak Monita.


“Ibu masuk lah duluan, Monita mau menghubungi seseorang dulu, jaringan di dalam jelek jadi Monita keluar untuk mencari jaringan bagus.” Monita tampak tersenyum kecut.


“Baiklah, cepat masuk ya.”


“Iya bu.”


Rahayu pun beralih masuk ke dalam rumah meninggalkan halaman.


“Apakah tadi itu ibumu?” Tanya Ilham ketika Monita kembali mengangkat ponselnya tepat di depan wajahnya.


“Iya.”


“Kenapa tidak mengenalkannya padaku?”


“Aku masih ragu Mas, bahkan lebih baik tidak usah berkenalan saja.” Ucap Monita lirih dengan menundukkan wajahnya.


“Loh? Kenapa?”


“Pernikahan kita hanya sebentar dan kita akan tetap berpisah.”


“Apa di pikiranmu hanya ada perpisahan saja Monita? Apa kamu tidak ingin hidup selamanya denganku?” Tanya Ilham mulai protes.


“Aku sangat ingin hidup selamanya denganmu, tapi aku tidak mau mengkhianati Mbak Naomi, begitu anak ini lahir kita akan tetap berpisah.”


“Tidak Monita, harus bagaimana lagi aku mengatakannya padamu, aku tidak akan pernah melepaskanmu selamanya.”


“Tapi aku hanya orang ketiga diantara kalian Mas, aku tidak mau menempatkanmu dalam posisi sulit, dan aku tau kamu pasti akan tetap memilih kembali pada Mbak Naomi, istri pertamamu.”


“Monita, untuk saat ini aku memang tidak bisa memilih, tapi bukan berarti aku akan memilih Naomi, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri, jujur saja, aku sangat sulit memilih di antara kamu atau Naomi.” Ujar Ilham lirih.


“Sudah kuduga, hati Mas sudah bercabang dua, tidak ada wanita yang rela cinta suaminya terbagi Mas, termasuk aku dan Mbak Naomi!”


“Sudah sudah sayang, tidak baik saling berdebat di saat kita berjauhan seperti ini, tolong jangan rusak rinduku ini dengan pertengkaran, aku hanya ingin berbaikan denganmu di saat jauh seperti ini.” Ucap Ilham dengan nada lembut.


“Maaf Mas, ya sudah Monita masuk dulu.”


“Iya, nanti malam Mas Video Call lagi ya.”


“Iya Mas.”


“Bye, I Love You.”


“Love you to.”


“Jangan bilang Love you to, kamu seperti hanya ikut-ikutan.”


“Iya Love you Mas Ilhamku sayang.”


Ilham pun semakin mengembangkan senyumannya lalu mencium ponselnya seakan itu adalah Monita.


Monita pun hanya tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang mencium ponsel.

__ADS_1


“Ya sudah Monita tutup ya Mas.”


“Iya sayang.”


__ADS_2