Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 50 Mengaku


__ADS_3

Paginya Naomi dan Ilham sudah ada di meja makan, mereka sarapan dengan menu sandwich dan roti gandum.


Semua sarapan yang ada di meja makan sudah disiapkan Naomi, Monita ingin membantu tapi Naomi menolaknya, Naomi sudah mengatakan kalau mulai hari ini, dia tidak akan membiarkan Monita kelelahan, Monita harus banyak istirahat.


Naomi sudah berjanji pada Monita, kalau selama Monita hamil, Naomi yang akan mempersiapkan segala kebutuhan Monita, Naomi akan mengurus Monita dengan baik.


Tak lama Monita terlihat menuruni anak tangga, begitu pun dengan Eden yang terlihat keluar dari kamarnya yang ada di lantai dasar, Naomi menyambut Eden di meja makan dan mempersilahkannya untuk duduk dan sarapan.


Naomi sudah tidak heran dengan keberadaan Eden, karena sebelumnya Ilham sudah memberitahukan kepada Naomi kalau Eden adik Monita akan tinggal bersama mereka dan Naomi pun menyetujuinya.


“Haii Eden.” Sapa Naomi dengan senyum termanisnya.


“Haii juga kak.” Jawab Eden lalu mendudukkan dirinya begitu Naomi mempersilahkan duduk.


“Siapa wanita ini? Kenapa yang duduk di samping kak Ilham bukan kak Monita tapi dia, kak Monita malah duduk di sampingku.” Gumam Eden dalam hati, sembari melirik singkat ke arah Monita yang kini tampak fokus menikmati sarapan paginya.


Begitu sampai, Monita belum menceritakan semuanya pada Eden, Monita berniat menceritakan semuanya nanti malam, ia memutuskan untuk jujur, masalah reaksi Eden nanti, itu urusan belakangan, yang penting Monita sudah mengatakan yang sejujurnya.


“Mas, mau aku ambilkan sandwich?” Tanya Naomi menawarkan.


“Boleh.” Jawab Ilham ragu-ragu, ia tampak tidak enak pada adik iparnya itu.


Naomi pun mengambil sandwich dan meletakannya ke piring Ilham, tanpa disadari semua perlakuan Naomi terhadap Ilham tak luput dari perhatian Eden, namun Eden memilih diam, ia akan menanyakan hal itu pada Monita nanti selesai sarapan.


Sarapan berjalan dengan tenang dan damai, begitu sampai di gigitan sandwich terakhir, Ilham pamit ke kantor, ia beranjak dari duduknya dan melirik Monita yang sedang duduk berhadapan dengannya, ingin rasanya ia mengecup kening Monita seperti biasa, tapi ia tidak berani melakukannya karena menjaga perasaan Naomi, akhirnya ia memilih untuk tidak mengecup kening kedua istrinya.


Ilham pamit pada kedua istrinya dan juga adik iparnya, begitu ia hendak melangkahkan kaki untuk berangkat ke kantor, Naomi mencegahnya.


“Mas, biar aku antar ya.” Naomi berjalan berdampingan dengan Ilham sembari menggandeng tangan suaminya itu, dan lagi-lagi Ilham tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


Begitu Naomi dan Ilham berlalu, Eden mulai menginterogasi kakaknya itu.


“Kak kita perlu bicara.” Ajak Eden sembari menarik tangan Monita masuk ke dalam kamarnya.


“Ada apa Den?” Tanya Monita begitu sampai di dalam kamar Eden.


Eden mengunci pintu kamarnya dan mendudukkan Monita ke tepi ranjang, disusul dengan dirinya yang ikut duduk di samping Monita.


“Sekarang, kakak jelaskan padaku, siapa kak Naomi sebenarnya?” Tanya Eden dengan tatapan mengintimidasi.


Deggg…


Jantung Monita berdegup begitu kencangnya, ia sontak mendelikkan matanya dengan deru nafas yang tak karuan.


“Ya Tuhan, aku benar-benar lupa untuk mengatakan ini pada Mas Ilham dan Mbak Naomi, pasti dari tadi dia memperhatikan perlakuan Mbak Naomi ke Mas Ilham.” Gumam Monita dalam hati.


“Eh iya Den.”


“Kenapa diam saja?”


“Maaf Den… baiklah kakak akan jujur tentang apa yang terjadi pada kakak selama ini padamu.” Ucap Monita sembari menggenggam kedua tangan Eden.


“Tapi kamu harus janji untuk tidak kaget dan marah ya.”


“Tergantung apa penjelasan kakak.”


Monita menghela nafas panjang, lalu mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Eden, ia menatap adiknya dengan raut wajah serius.


“Jadi, waktu itu kakak sudah benar-benar buntuh dan tidak tau lagi harus mencari uang 50 juta di mana untuk biaya operasi ibu, hingga akhirnya kakak bertemu dengan mami Bela, salah satu mucikari besar di club tempat kakak bekerja sebagai waiters, gaji kakak sebagai waiters waktu itu sangatlah minim, hanya cukup untuk biaya hidup kakak selama di sini, tapi tiba-tiba kamu menyampaikan kabar kalau ibu membutuhkan biaya operasi sebesar 50 juta, kakak benar-benar tidak tau lagi harus cari di mana, kakak menolak tawaran mami Bela untuk menjadi ladies di club malamnya…”

__ADS_1


“Kakak mencoba mencari pinjaman ke mana-mana, tapi tak ada satu pun yang mau meminjamkan uang sebanyak itu untuk kakak, kakak benar-benar frustasi, kakak tidak mau kehilangan ibu hingga akhirnya kakak menyetujui tawaran mami Bela untuk menjadi ladies, beruntung mami Bela tidak memaksa kakak untuk menemani tamu-tamu itu di ranjang, jadi kakak memilih untuk menemani para tamu minum saja.”


Eden masih berdiam diri menyimak penjelasan Monita.


“Jadi kakak aman, dan masih bersih dari sentuhan pria-pria hidung belang itu, tapi kakak belum juga bisa mengumpulkan uang sebanyak 50 juta, hingga akhirnya kakak bertemu dengan Mas Ilham di club itu, Mas Ilham membawa kakak di sebuah hotel, dan mentransfer uang sebesar 100 juta di rekening kakak asalkan kakak mau menikah siri dengannya menjadi istri keduanya untuk melahirkan anaknya karena Mbak Naomi tidak bisa memberikannya anak.”


“Mbak Naomi sudah divonis dokter tidak bisa hamil lagi semenjak bayi dalam kandungan Mbak Naomi beberapa bulan lalu meninggal sebelum dilahirkan karena suatu komplikasi.”


“Jadi kakak harus melahirkan anak untuk mereka dan kakak pun sudah menandatangani kontrak itu, begitu kakak melahirkan, anak kakak harus diberikan pada mereka dan kakak harus pergi meninggalkan anak kakak dengan uang 1 Milyar yang akan Mas Ilham berikan, uang 100 juta yang dia berikan untuk biaya operasi ibu waktu itu hanya DP, sisanya akan dia berikan begitu kakak melahirkan, tak hanya itu dia juga akan membiayai sekolah kamu sampai ke perguruan tinggi jika kamu mau, tanpa mengurangi uang 1 Milyar kakak.”


“Dan sekarang, kakak sudah hamil Den, usia kehamilan kakak sudah dua bulan.” Jelas Monita di akhir kalimatnya.


Eden menatap kakaknya dengan intens, buliran bening jatuh membasahi pipinya mendengar semua pengakuan Monita, dadanya terasa sesak, Monita sudah banyak berkorban untuk dia dan ibunya.


“Kak, aku tidak pernah menyesali jika uang itu dipakai untuk biaya operasi ibu, tapi yang aku sesali kakak juga mengorbankan diri kakak untukku, lebih baik aku tidak sekolah kak, dari pada harus melihat kakak menderita, aku tidak sanggup.” Cetus Eden dengan air mata yang sudah membanjiri pipinya.


“Den, kakak sudah setengah jalan, lagi pula selama ini Mas Ilham selalu berusaha membahagiakan kakak, meski pun kakak hanya istri siri, tapi dia sudah berjanji untuk tidak akan melepaskan kakak meski anak kakak sudah lahir.” Ucap Monita yang juga ikut menangis.


“Tapi kak, tetap saja, kakak akan makan hati, Eden tau bagaimana perasaan kakak tadi saat melihat kemesraan kak Naomi dengan kak Ilham, Eden tau kakak pasti terluka, mau sampai kapan kakak seperti ini?”


“Entah lah Den, kakak juga tidak tega untuk menyakiti Mbak Naomi terus menerus, meski pun Mas Ilham yang meminta kakak agar tidak pergi meninggalkannya, tapi kakak tetap akan pergi, kamu tenang saja Den, begitu kontrak kakak selesai, kita akan pergi dari sini dan memulai hidup baru.” Jelas Monita kemudian.


“Ya sudah terserah kakak saja, tapi kakak harus janji kakak harus pergi meninggalkan kak Ilham jika sampai nanti kak Ilham masih tetap bersama istrinya.”


“Iya Den, kakak sadar dengan posisi kakak, kakak di sini hanya orang ketiga, kakak seperti selingkuhan Mas Ilham yang disembunyikan, jadi kakak tetap akan pergi meninggalkan Mas Ilham, dan memberikan anak ini untuk mereka.”


“Tapi, apa kakak sanggup meninggalkan anak kakak begitu dia lahir?” Tanya Eden nampak ragu.


“Entahlah Den, kakak juga bingung, kakak akan menjalaninya dulu.” Jawab Monita kemudian tersenyum getir.

__ADS_1


__ADS_2