Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 126 Benar-benar Bedah


__ADS_3

Setelah seminggu ini ditahan di kantor polisi, Rendy tidak tahan dengan para napi lain yang selalu menjadikannya kacung, definisi roda kehidupan berputar. Rendy yang dulunya seorang CEO yang disegani, cukup terkenal dan mempunyai kekuasaan, kini harga dirinya diinjak-injak oleh sesama tahanan di sana.


Para napi di sana memintanya untuk memijat, mengerjakan sesuatu yang bukan tugasnya dan jika tidak dituruti maka Rendy akan babak belur.


Rendy sebenarnya tidak takut pada mereka, hanya saja dia tidak ingin wajahnya yang tampan akan hancur tak berbentuk. Lebih baik dia menurut saja, toh kalau dia berkelakuan baik, masa tahanannya akan dikurangi, dan Rendy akan bebas lebih cepat.


Berbeda halnya dengan Naomi yang selalu dikunjungi Sinta sahabatnya, Rendy tak ada yang menjenguk.


“Sial! Disaat seperti ini bahkan Robert tak pernah mengunjungiku, dasar pengkhianat! Awas saja kalau sampai aku bebas, akan aku buat perhitungan begundal itu.” Teriak Rendy dalam sel.


“Woi berisik! Lu cari mata ya?!” Hardik salah satu napi yang terganggu tidur siangnya.


“Maaf maaf.” Ucap Rendy.


“Sial! Rasanya aku ingin segera keluar dari sangkar besi ini.” Gerutu Rendy dalam hati.


****


Monita dan Ilham sudah tau hubungan Eden dan Andre. Pria itu sudah terang-terangan menemui Eden di rumah Ilham, kakak ipar Eden itu sudah memberi restu. Eden sudah dewasa, lagi pula yang menjadi pacarnya adalah Andre, pria baik-baik yang sudah Ilham kenal sejak dulu sehingga tak ada lagi yang perlu diragukan.


Seperti hari ini, Andre memasuki kamar Eden karena ada yang ingin dia sampaikan. Ilham dan Monita tidak masalah jika Andre masuk ke kamar Eden. Bagaimana tidak, Monita menyimpan akses cctv kamar Eden untuk memantau apa yang akan dia lakukan bersama Andre di kamar tersebut, cctv tersebut akan terus ada di kamar Eden sebelum dia menikah, kalau sudah menikah tentu cctv itu akan Monita copot.


Tapi tenang saja, hanya Monita yang bisa mengakses cctv di kamar adiknya itu, Ilham tidak bisa, mana mungkin Ilham juga bisa mengaksesnya, lagi pula pria itu juga tidak berminat. Dia mempercayakan hal itu pada sang istri.


Andre membuka gagang pintu kamar Eden yang ternyata tidak dikunci. Begitu ia masuk, ternyata sosok yang ia cari tidak ada di sana. Andre terus melangkahkan kakinya ke dalam kamar Eden dan begitu ia berada di depan kamar mandi, suara gemericik air terdengar, mungkin dia sedang mandi pikir Andre.


Tok… tok… tok


“Siapa?” Eden bertanya dari dalam kamar mandi.


“Aku Andre. Kamu masih lama ya Den?”


“Tidak kak, tinggal bilas sabun.”

__ADS_1


Andre tersenyum simpul kemudian teringat akan sesuatu yang akan dia sampaikan, tidak ada salahnya kan jika menyampaikannya sekarang. Andre yang memiliki kesabaran setipis kulit bawang akhirnya mulai menyampaikan maksudnya.


Dia menarik napas dalam, kemudian menghembuskan perlahan, tekadnya sudah bulat, dia tidak ingin menunda lagi.


“Den!”


“Ya kak.”


“Kamu dengar kakak kan?”


“Iya dengar.”


“Ada yang mau kakak sampaikan.”


“Apa itu?”


Tanya Eden sengaja mematikan guyuran air shower dari dalam sana demi menciptakan suasana yang hening. Dia ingin mendengarkan Andre.


“Apa kamu mau jadi istri kakak?”


Disaat Andre sedang mengutarakan niatnya, di kamar yang lain Monita justru baper melihat rekaman cctv yang menampilkan Andre sedang berdiri di depan kamar mandi sedang melamar adiknya.


Ilham yang melihat istrinya yang seperti kebelet pipis itu sontak bertanya-tanya, apa istrinya sedang melihat ketampanan oppa-oppa korea di drakor yang biasa ia tonton? Seketika Ilham dibuat geram karenanya. Benar-benar cemburu akut, artis korea saja dicemburui. Lagi pula, mana mungkin mereka akan merebut istrinya, walau pun Monita cantik luar biasa, mereka tidak semudah itu bisa bertemu Monita dan langsung menikahinya kan.


“Ekhem.” Ilham berdehem dengan tangan dilipat di atas perut.


Monita menghentikan aktivitasnya dan mendongak menatap suaminya.


“Kamu pasti sedang lihat pria yang bertulang lunak itu kan?” Tukas Ilham dengan tatapan mengintimidasi.


“Enak saja, mereka itu bukan bertulang lunak ya, mereka itu cute, lagian tampan begitu dibilang tulang lunak, dasar cemburuan.” Sahut Monita tak terima idolanya disebut bertulang lunak.


“Coba mana mas lihat, setampan apa pria yang kamu tonton itu?” Ucap Ilham seraya mengulurkan tangannya meminta ponsel Monita.

__ADS_1


“Kalau mereka bertulang lunak, kenapa harus dilihat segala? Mas cemburu? Seharusnya mas tidak perlu dong cemburu pada pria yang kata mas itu bertulang lunak.”


“Mas bukan cemburu, tapi mas tidak suka liat kamu seperti tergila-gila begitu pada pria yang tidak setampan mas.”


“Alasan saja, bilang aja kalah saing.” Sergah Monita dan sontak membuat Ilham kian penasaran saja. Akhirnya tanpa aba-aba, Ilham segera merebut ponsel Monita dari tangannya dan sontak membulatkan matanya karena pria yang membuat istrinya persis kebelet pipis itu bukan aktor drakor tapi asistennya Andre.


“Kenapa kamu melihat dia sampai segitunya sayang?” Tanya Ilham tak terima.


“Ih mas! Coba dengar deh apa yang mereka katakan.”


Ilham pun menambah volume pada ponsel istrinya demi bisa mendengar dengan jelas apa yang hendak Andre katakan.


“Tapi tunggu! Kenapa Andre berdiri di depan kamar mandi Eden? Bukan kah dia akan mengintip sayang? Itu adik kamu, kenapa kamu santai begitu?”


“Yah ampun mas, mending dengar dulu deh.”


“Gimana Den? Pegal ni kakiku berdiri terus.” Keluh Andre yang sebenarnya bukan masalah pegal itu yang dia keluhkan, tapi jawaban Eden.


“Dia sedang apa?” Bisik Ilham seolah mereka tengah mengintip dari jarak yang tak jauh dari Andre berdiri.


“Andre sedang melamar Eden.”


“Hah?! Di kamar mandi? Dasar aneh, apa dia tidak tau bagaimana caranya agar terlihat sweet di mata wanita? Seperti aku dong, sudah dua kali lamar wanita dengan cara jantan.” Protes Ilham yang membandingkan pemula seperti Andre dengan player seperti dia.


“Dulu itu kamu bukan lamar aku mas! Tapi kamu sedang membeli aku.” Monita menepuk pundak suaminya agak keras.


“Tapi pada akhirnya kamu jadi satu-satunya wanita yang aku cintai kan.”


“Shut! Coba dengar jawaban Eden apa.” Tutur Monita masih memantau rekaman cctv tersebut.


Sepersekian detik berlalu, Eden membuka pintu kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya, dia berdiri di hadapan Andre yang kala itu meneguk salivanya begitu melihat pemandangan indah yang tersaji di depan matanya kini.


“Aku jawab nanti pas aku selesai ganti baju ya? Sekarang kakak tunggu di bawah dulu aku mau ganti baju.”

__ADS_1


“I_iya sayang, kakak tunggu di.. bawah saja ya.” Andre mendadak gelagapan, ini pertama kali dalam hidupnya dia melihat wanita dengan hanya menggunakan handuk seperti itu.


Begitu Andre keluar dari kamar Eden, Ilham langsung mengalihkan pandangannya lalu ikut berlalu keluar dari kamar mereka hendak menemui Andre. Ilham begitu menjaga pandangannya dari wanita lain, oleh karena itu dia segera menghindar begitu Eden hendak ganti baju.


__ADS_2