
“Tuan, hendak di apakan perempuan ini? Kami sudah membawanya ke tempat biasa.” Tanya Doni begitu sudah berhasil membawa Rosa dengan tangan yang sudah terikat.
“Terserah kalian saja. Buat dia jerah, dan jangan lepaskan dia sebelum dia bertaubat.” Ucap Ilham dari balik telpon.
“Tidak akan dibunuh tuan?” Rosa terperanjat bahkan sampai mendelikkan matanya mendengar penawaran bodyguard Ilham tersebut.
“Apa?! Kamu pikir aku pembunuh, tidak semua kejahatan itu dibalas dengan membunuh Doni. Nyawa hanya akan dibalas dengan nyawa jika istri dan calon bayiku tak terselamatkan karenanya. Tapi ini kan mereka masih terlindungi, jadi buat saja dia jerah dan benar-benar tobat Doni.”
“Baiklah tuan.” Jawab Doni kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rosa, yang sukses membuat wanita itu bergetar.
Rosa mengirah Ilham menyetujui penawaran Doni untuk membunuhnya. Dia benar-benar setakut itu jika Doni akan merealisasikannya. Dia menatap Doni dengan waspada, jantungnya berdegub dua kali lebih cepat. Rosa tidak ingin mati konyol di ruangan persis penjara begini.
“Roy, masukkan dia ke sana.” Titah Doni menunjuk sebuah kotak kaca yang lumayan besar itu.
Rosa menggeleng kuat, mau berteriak pun sudah percuma karena mulutnya dibekap dengan kain hitam. Suara Rosa seperti tercekik, dengan suara terbatas dia hanya berteriak dibalik kain hitam tersebut. Dia menduga Ilham meminta dua pria ini untuk membunuhnya dengan memasukkannya ke dalam tempat yang sangat sempit itu.
Hingga beberapa detik berselang, Roy mengangkat tubuh Rosa persis karung beras dan memasukannya ke dalam kotak tadi dengan keadaan tangan dan kaki yang terikat.
Rosa terus meronta-ronta minta dilepaskan meski tangan dan kakinya diikat. Sepanik itu dirinya, kala Roy mulai mengambil karung kecil berisi kecoak dan memasukkan serangga-serangga tersebut ke dalam sana.
Rosa panik dan menatap Roy dengan raut wajah penuh permohonan, jantungnya berdetak tak karu-karuan kala beberapa kecoak mulai melompati pahanya.
“Kenapa? Memohon minta di lepaskan?” Tanya Doni merasa begitu puas mengerjai wanita ular itu.
Rosa meraung dengan berurai air mata, wanita itu menatap takut dan jijik kecoak yang jumlahnya tak sedikit itu. Bahkan dia meremang kala beberapa kecoak memasuki baju dan celananya. Keringat dingin kini membasahi pelipisnya.
“Roy, buka penutup mulutnya.” Titah Doni kemudian.
“Tolong lepaskan aku! Aku janji tidak akan mengusik keluarga mas Ilham lagi, jangan hukum aku seperti ini aku takut.” Teriak Rosa dengan suara bergetar, begitu penutup mulut itu dilepas.
__ADS_1
Doni hanya menatap datar wanita itu tanpa menggubrisnya.
“Aku menyesal! Kalau aku mengulang kesalahan yang sama lagi, aku bersedia menerima apapun hukuman yang akan kalian berikan. Bahkan kalian bisa membunuhku bila perlu.” Lirih Rosa dengan linangan air mata. Rosa tidak berbohong, dia benar-benar takut dan jerah kali ini.
“Tolong keluarkan aku dari sini, aku mohon.” Rosa mengatupkan kedua tangannya yang terikat itu di depan dada, sebagai isyarat agar mendapat belas kasih dari dua pria berbadan kekar tersebut.
Alih-alih membebaskan Rosa, dua pria itu malah saling menatap sembari tersenyum miring ke arah wanita itu. Seakan menikmati penderitaan wanita pembuat onar tersebut, mereka masih ingin berlama-lama menyaksikan Rosa tersiksa tanpa ampun.
“Tolong aku, kenapa kalian diam saja? Jangan bermain-main, serangga ini benar-benar membuatku takut.” Rosa sampai bergetar mengatakan itu dengan ketakutan yang membelenggu batinnya. Tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau dia akan berakhir di tempat ini. Rosa pikir rencananya akan berhasil, namun nyatanya gagal total. Satu hal yang Rosa lupa, Ilham adalah pria yang tangkas dan terstruktur, sehingga Ilham akan dengan mudah mengendus kebusukannya.
Rosa yang sejak tadi terus digerayangi beberapa kecoak hanya berteriak histeris, entah sudah kecoak keberapa yang sejak tadi keluar masuk bajunya, hingga selang beberapa detik, satu kecoak yang berada di lehernya terbang dan hinggap di wajahnya, Rosa mengatupkan bibirnya dan juga matanya, tangis pilu Rosa dan kecoak yang nyaris masuk ke hidungnya membuat Doni dan Roy segera menyudahi permainan mereka.
Tidak berhenti sampai di situ, Rosa pikir penderitaannya akan berakhir dan mereka akan iba, namun nyatanya tidak, kecoak yang sejak tadi bertandang di dalam kotak tersebut kini berganti dengan air yang sengaja mereka isi di dalam sana hingga membasahi setengah tubuh Rosa. Hari mulai gelap, dan mereka sengaja melakukan itu demi membuat Rosa menggigil kedinginan.
Doni dan Roy sudah terbiasa menjalani titah Ilham kala menaklukkan musuh tuan mereka itu. Begitu Ilham menyerahkan musuhnya ke tangan dua pria itu dengan pesan terserah mau diapakan, mereka dengan senang hati menerimanya bahkan tak jarang mereka langsung membunuh. Namun jika pria pemilik senyum manis itu tidak meminta mereka membunuh musuhnya maka mereka juga tidak akan melakukannya, tidak akan membuat lawan Ilham mati, paling tidak, hanya setengah mati saja.
****
Setelah cukup lama tenggelam dalam lamunan, Monita sedikit terkejut dengan sebuah tangan yang melingkar ke pinggangnya. Keterkejutan Monita terganti oleh senyum hangat yang menghiasi wajah cantiknya begitu mencium aroma wangi Ilham. Tanpa melihat, dia tau betul siapa pria yang kini tengah mendekapnya, sehafal itu dia dengan suaminya yang kini tengah menyandarkan dagunya di atas bahu wanita pemilik dagu belah itu.
“Jangan terlalu lama berdiri di sini, nanti diganggu makhluk astral.”
Monita tertawa sumbang mendengar ucapan suaminya, seorang CEO terkenal dengan kecerdasan yang tiada banding itu mendadak percaya mitos. Rasanya dunia sedang tidak baik-baik saja, Ilham yang dulunya tidak percaya dengan hal ghaib semacam itu mendadak membahas makhluk astral dengan ekspresi wajah serius.
“Tumben percaya begituan, lagi pula siapa sih yang sudah mencuci otak mas sehingga bisa sadar dan percaya hal itu?”
“Andre.” Jawab Ilham singkat dan sontak mengundang gelak tawa hingga memperlihatkan gigi rapinya yang semakin menambah pesona seorang Monita Maheswari.
Wanita dengan bulu mata lentik, hidung bangir dan mata sipitnya serta bibir yang ranum selalu membuat Ilham betah berlama-lama menatap wajah sang istri kala ia tengah tersenyum. Sungguh perpaduan yang sempurna, seakan semua syarat kecantikan diborong habis oleh Monita.
__ADS_1
“Kenapa tertawa sayang?”
“Lucu saja, sewaktu aku yang meminta mas agar percaya mitos begitu mas malah tidak mau percaya, tapi giliran kak Andre mas langsung percaya? Sebegitu besarnya ya pengaruh kak Andre dalam hidupmu mas.” Ujar Monita sembari terus tertawa renyah.
“Jangan ditertawakan dong sayang, bagus kan jadi ada peningkatan?”
Peningkatan katanya? Sungguh pencapaian yang tidak perlu diapresiasi sebenarnya, tapi Monita mengangguk saja demi memperkecil perdebatan.
“Oke oke terserah mas saja.”
Mereka terdiam beberapa saat hingga selang beberapa menit, Monita kembali memecah keheningan.
“Mas.”
“Hm?”
“Aku tidak menyangka Rosa mencintaimu sedalam itu.”
“Aku bahkan menyesal pernah menyebutnya high value dan tidak mungkin merebut suami orang.”
“Iya, tapi itu tidak penting sayang dan apa tadi? High value?” Ilham tertawa sumbang mendengar pujian Monita pada Rosa yang terkesan berlebihan.
“Iya tapi aku tarik lagi ucapanku itu mas.”
“Wanita ular itu tidak pantas disebut high value tapi low value Monita.”
Monita tak membantah, memang benar kan apa kata suaminya. Dia tersenyum getir mengingat Rosa yang begitu gencar mengejar suaminya. Dia tak bisa menampik fakta bahwa pesona Ilham memang sekuat itu.
“Ternyata mas banyak penggemarnya ya.” Ungkap Monita beberapa detik kemudian.
__ADS_1
“Itu bukan sebuah kebanggaan sayang, mas justru risih. Kalau hanya sekedar kagum saja tidak masalah, tapi jangan sampai usik hidup rumah tangga mas juga dong. Mas kan jadi ilfil kalau seperti itu.” Ilham mengeluhkan beberapa penggemar selain Rosa yang juga sering menerornya dengan rangkaian pesan singkat yang membuat Ilham ingin muntah membacanya.
Entah siapa yang lancang membagikan nomor Ilham tersebut, hingga membuat dia terpaksa mengganti kontaknya meski kolega bisnisnya banyak yang menghubungi nomor lama Ilham. Tapi bukan kah teknologi sudah canggih? Karena meski pun Ilham ganti nomor, mereka masih bisa menghubungi Ilham lewat DM sosial medianya. Ya meski sering dijuluki kanebo kering, karena kerap bersikap dingin terhadap orang asing, Ilham tetap punya akun instagram walau pun fotonya dia privat.