Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 43 Duka Mendalam


__ADS_3

Selesai belanja di pasar, Monita dengan digandeng Rahayu melangkah penuh semangat menuju ke mobil Andre.


Pagi itu, Andre yang baru bangun 5 menit setelah Monita dan Rahayu bangun tak sengaja mendengar rencana Monita dan Rahayu untuk berangkat ke pasar dengan menggunakan angkot, karena jarak antara rumah dan pasar yang lumayan jauh, ia tak tega melihat anak dan ibu itu berangkat ke pasar dengan menggunakan angkot, sehingga Andre menawarkan dirinya untuk mengantar Monita dan ibunya ke pasar.


Tawaran Andre pun diterima dengan baik oleh Monita, rupanya belanjaan mereka akan banyak jadi Monita langsung setuju ketika Andre menawari tumpangan.


“Kamu nampaknya begitu semangat nak.” Ucap Rahayu tersenyum sembari mengusap lembut rambut panjang Monita.


“Hehehe iya bu, aku senang sekali karena aku bisa jalan-jalan ke pasar lagi bersama ibu.” Jawab Monita dengan wajahnya yang begitu berbinar.


“Iya sama, ibu juga senang sekali bisa belanja ke pasar bersama kamu.”


Monita pun mengangguk sembari tertawa ringan, mereka pun melanjutkan langkah menuju lahan parkir di mana mobil Andre sudah menunggu di depannya, ternyata belanjaan mereka tidak seperti ekspektasi Monita, mereka hanya belanja sedikit sehingga mereka bisa membawa barang belanjaan tanpa bantuan Andre.


Saking begitu asiknya tertawa dengan ibunya, hingga membuat Monita tak menyadari jika di sisi sebelah kanannya, sebuah mobil hitam telah menanti untuk menabraknya.


Melihat Monita yang sudah menapaki kaki ke tengah jalan, sang pria yang tak dikenal itu kembali menginjak kembali gasnya, dengan kecepatan yang begitu tinggi, mobil itu melesat dengan cepat ke arah Monita.


“Kau tampak senang nona, rasakan ini!” Celetuk pria tak di kenal itu dengan senyuman sinis.


Namun Rahayu sebagai orang pertama yang menyadari adanya mobil yang melaju semakin dekat ke arah mereka, membuatnya langsung menjerit histeris.


“Monita awas!” Teriak Rahayu spontan mendorong Monita ke pinggir jalan.


Alhasil tubuh Monita sontak tersungkur ke rerumputan di seberang jalan, sementara Rahayu harus menerima nasib menjadi orang yang harus tertabrak oleh orang itu, tubuh Rahayu terpental jauh lalu terguling-guling di jalan dengan keadaan tubuh yang sudah bersimbah darah.


“Ibuuuuuuu!” Teriak Monita begitu histeris.


“Tidaakkk!” Teriaknya lagi sembari berlari terpincang-pincang menghampiri sang ibu yang sudah tergeletak di tengah jalan.


“Bu Rahayu!!” Teriak Andre yang sontak turun dari mobil dan ikut berlari menyusul langkah Monita menghampiri bu Rahayu.


“Ah sial!” Teriak pria tak di kenal sembari memukul setir kemudinya.


Ia pun terus melajukan mobilnya dan langsung meninggalkan area pasar agar tidak tertangkap masa.


“Ibuuuu!” Monita menangis histeris sembari mengguncang-guncangkan tubuh ibunya.

__ADS_1


Rahayu sama sekali tak dapat bersuara, tubuhnya kejang-kejang seperti layaknya ikan yang baru dikeluarkan dari air.


“Andre, tolong ibuku.” Jerit Monita yang semakin histeris.


Sementara Andre, tubuhnys merosot dengan tatapan kosong melihat bu Rahayu yang sudah tak berdaya.


“Ya Tuhan, kenapa bisa seperti ini? Aku sama sekali tidak melihat mobil yang menabrak ibu Rahayu saking cepatnya kejadian itu.” Andre membulatkan matanya melihat keadaan Rahayu yang sudah kejang-kejang.


Andre bergegas membopong tubuh Rahayu dan membawanya masuk ke mobil untuk segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.


Begitu sudah dalam mobil, Monita memangku kepala ibunya lalu meraih ponsel di dalam tasnya dan menelepon Eden.


“Apa?!” Pekik Eden dari seberang sana begitu menerima panggilan telepon dari Monita, nampaknya ia juga begitu syok, terdengar suara tangis histeris Eden dari seberang telepon.


“Cepatlah menyusul ke rumah sakit Den.” Ucap Monita lalu kembali mengakhiri panggilan teleponnya.


“Ibu, aku mohon bertahanlah.” Ucap Monita sembari memeluk tubuh ibunya.


Hanya butuh waktu 5 menit, mobil Andre sudah sampai di depan IGD rumah sakit, Andre dengan sigap langsung meminta bantuan para perawat, dua perawat pun langsung berlari dengan membawa brankar menuju mobil dimana Rahayu terbaring lemah.


Tak lama brankar pun datang, tubuh Rahayu langsung dinaikkan ke atasnya dan langsung dilarikan ke ruang khusus perawatan, disusul dengan Eden yang baru saja tiba, ia menjerit histeris melihat keadaan ibunya yang sudah bersimbah darah.


Monita dengan berjalan terpincang-pincang kembali menghampiri ibunya yang saat itu sedang dibersihkan darah yang ada di wajahnya oleh seorang perawat, sementara seorang dokter sedang mengecek denyut nadi Rahayu.


Saat itu Rahayu semakin kejang-kejang, bahkan semakin ke sini, kejangnya semakin parah membuat Monita dan Eden semakin panik dan histeris.


Andre melangkah keluar dari ruang perawatan untuk menghubungi Ilham mengenai musibah yang menimpah ibu mertuanya saat ini.


“Apa?! Jadi ibu mertuaku tertabrak mobil?” Pekik Ilham terperanjat dari duduknya.


“Iya tuan, kejadiannya sangat cepat, saat itu saya sedang menelepon ibuku begitu saya mendengar suara ribut-ribut dari luar mobil saya langsung mengakhiri panggilan telepon saya bersama ibu saya, begitu keluar bu Rahayu sudah tergeletak di tengah jalan dengan sudah bersimbah darah, saya panik dan langsung berlari menghampiri bu Rahayu.” Jelas Andre secara detail.


“Baik Ndre, saya akan berangkat ke sana sekarang juga! Tolong kamu kirimkan alamat rumah sakit dan alamat rumah istri saya.”


“Baik tuan.”


Sementara Monita dan Eden yang ada dalam ruangan perawatan ibunya semakin panik dan menangis melihat kondisi sang ibu saat ini.

__ADS_1


“Ibu, tidak ibu, aku mohon bertahanlah.” Monita kembali berteriak memegangi tangan sang ibu.


“Dokter, apa yang terjadi pada ibu kami, tolong lakukan sesuatu!” Bentak Eden yang tak kalah panik.


“Ibu kalian kehilangan terlalu banyak darah.” Jawab dokter sembari menyiapkan jarum suntik.


Namun ternyata takdir berkata lain, belum sempat mendapati penanganan dari tenaga medis, Rahayu sudah terlihat tak bergerak.


Rasa bahagia yang dialami Monita karena akan adanya orang baru yang akan terlahir di kehidupannya kelak, nampaknya harus digantikan dengan salah satu orang tersayangnya, yang harus pergi meninggalkannya, Rahayu tanpa berucap sepatah katapun lagi pada kedua anaknya, kini harus menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit.


Tangan Rahayu sontak terjuntai ke bawah, menandakan sudah tak ada lagi nyawa di tubuhnya, membuat mata kedua anaknya membulat.


“Ibu!” Ucap Monita yang jadi terdiam sejenak.


“Ibu bangun ibu!” Ucap Monita menepuk pelan pipi Rahayu.


“Ibu!!” Teriak Monita meninggikan suaranya.


Eden yang menyadari hal itu sontak langsung terduduk lesu ke lantai sembari mengencangkan tangisnya, Andre tak bisa berkata apa-apa lagi, ia tercengang, dengan langkah lesu mulai menghampiri Monita dan Eden yang seolah tak percaya ibunya sudah tiada.


“Ibu, aku tau ibu adalah wanita kuat, tolong bangun bu, tolong bergerak lah walau hanya sedikit.” Teriak Eden yang sudah kembali berdiri di samping brankar ibunya, sembari mengguncangkan tubuh ibunya yang mulai dingin.


“Tolong lakukan sesuatu, aku mohon tolong, selamatkan ibuku!” Monita semakin menangis seakan tak terima dengan kepergian ibunya.


Dokter dengan sigap langsung mempersiapkan alat kejut jantung, yang berfungsi untuk memancing jantung agar kembali berdetak.


“Eden, Monita, kemari lah biarkan dokter bertindak.” Ucap Andre yang spontan menarik masuk Eden masuk ke dalam dekapannya.


Dokter pun mulai menempelkan alat itu pada dada Rahayu, hingga beberapa kali alat itu memicu jantungnya, tubuh Rahayu masih tak bergerak, begitu pun dengan detak jantungnya, kini dokter pun akhirnya memastikan jika Rahayu sudah meninggal dunia dan tak bisa tertolong lagi.


“Tidaaakkk!” Teriakan Monita semakin menggema di ruangan itu hingga mengundang kaget orang-orang yang berada satu ruangan dengannya.


Kini suasana di bilik tempat ibunya dirawat berubah suasana menjadi sangat mencekam bagi Monita.


“Tidak ibuku tidak mungkin pergi!” Teriak Monita semakin histeris.


Tak lama pihak rumah sakit menyediakan ambulance untuk membawa jasad bu Rahayu di kediamannya.

__ADS_1


Andre pun berusaha mencoba menenangkan Eden dan Monita dengan terus melangkah sembari mendekap Eden yang nampak begitu syok dan lesu, sementara Monita berjalan gontai di depan Eden dan Andre dengan tatapan kosong, beberapa buliran bening kini terus membasahi pipinya.


__ADS_2