
Kini jasad Rahayu sudah diletakkan di atas tempat tidur yang ada di rumah mereka, Monita dan juga Eden yang sudah memakai baju putih dan kerudung, sudah duduk di samping ibu mereka dengan terus menangis histeris sembari saling berpelukan, sudah banyak tamu yang hadir untuk membantu proses pemakaman bu Rahayu ada juga yang datang untuk menguatkan Monita dan Eden.
Tak lama Andre pun menoleh ke arah Ilham yang baru saja muncul, Andre segera beranjak dari duduknya menghampiri Ilham dan mengiring langkahnya ke kamar dimana Monita berada, semua tamu tampak penasaran dengan pria tampan yang masuk ke dalam rumah dan melangkah menghampiri Monita, suara bisik-bisik pun sayup-sayup terdengar.
“Siapa pria tampan itu? Apa dia suami Monita?”
“Mungkin saja.”
“Tapi bu Rahayu tidak ada mengatakan kalau Monita sudah menikah.”
“Mungkin mereka baru menikah dan mungkin juga mereka menikah di kota.”
“Semoga saja memang benar suaminya ya, kasihan Monita, mereka hidup sebatang kara sekarang, kalau itu suaminya berarti bagus, dia akan bertanggung jawab untuk Monita dan membawa adiknya bersama mereka.”
Ilham tak kuasa melihat istrinya yang tampak terpukul dengan kepergian ibunya, Ilham pun ikut menangis dan spontan memeluk tubuh Monita dengan erat, mendapat pelukan dari Ilham Monita pun sontak menoleh dan semakin menangis ketika melihat sosok Ilham yang tengah mendekapnya.
“Mas!” Monita mendongakkan kepalanya menatap Ilham, menyadari keberadaan Ilham yang kini mendekapnya.
“Ibuku tidak mungkin pergi.” Ucap Monita lirih dan semakin menangis histeris sembari memukul-mukul dada Ilham.
Melihat Monita yang menangis pilu membuat Ilham semakin tak tega.
Ilham pun hanya sanggup terdiam, tetesan-tetesan bening pun terus mengalir di pipinya, ia begitu tak percaya dengan apa yang terjadi, ia pun syok, namun ia berusaha bersikap tenang agar bisa tetap menenangkan Monita istrinya.
“Sudah sayang, aku mohon jangan seperti ini.” Ilham mencoba menenangkan Monita.
Namun Monita masih saja menangis dan ingin kembali memeluk ibunya yang sudah terbujur kaku, namun Ilham segera menahannya, ia tak ingin Monita semakin larut dalam kesedihan.
__ADS_1
“Dengarkan aku!” Tegas Ilham sembari memegang kedua pundak Monita.
“Lihatlah adikmu!” Ucapnya lagi.
Monita pun dengan mata sembabnya melirik Eden yang masih terduduk lesu di sampingnya dengan tubuh yang bersandar di dinding, suara tangisannya hampir tak terdengar.
“Apa kamu melihat bagaimana hancurnya dia? Dia juga begitu terpukul, dan saat ini hanya kamu lah satu-satunya walinya, secara tak langsung, kamu sudah menjadi kakak sekaligus orang tua untuknya, maka dari itu, aku mohon agar kamu bisa menenangkan dirimu di depannya, dia membutuhkan mu saat ini untuk menguatkannya.” Jelas Ilham.
Mendengar hal itu, isak tangis Monita perlahan mereda, ia perlahan melirik ke arah adiknya yang begitu memprihatinkan, perlahan ia pun menghampiri Eden, ia pun memeluk erat sang adik.
“Bagaimana bisa ibu pergi secepat ini kak?” Eden membalas pelukan Monita sembari kembali menangis.
“Kenapa ibu tega meninggalkan aku? Bagaimana aku akan menjalani hidupku sendiri tanpa ibu kak?” Ucap Eden lagi yang begitu lirih.
Monita yang masih terdiam kembali meneteskan air matanya.
“Selama ini aku hidup berdua dengan ibu, jika ibu pergi maka aku sendirian di rumah, aku takut kak, aku tidak bisa membayangkan melewati hari tanpa ada ibu, berbeda denganmu yang bekerja jauh di kota dan sudah terbiasa tinggal berjauhan dengan ibu.” Eden terus meratapi nasibnya dengan begitu lirih.
Ilham pun menghampiri mereka berdua, ia berjongkok sembari kedua tangannya ia pakai mengusap punggung Monita dan juga Eden.
“Jangan cemas, mulai sekarang kami adalah walimu, kau bisa tinggal bersama saya dan Monita di rumahku, dan aku akan memasukkan nama kamu dan Monita di daftar keluarga kami.” Ucap Ilham lembut.
Mendengar itu, Monita langsung terdiam dan melirik ke arah Ilham.
“Benarkah? Bagaimana mungkin, aku hanya…” Belum sempat Monita menyelesaikan kalimatnya, jari telunjuk Ilham langsung diletakkan di bibirnya.
“Jangan bahas itu dulu sekarang, yang pasti aku akan tetap memasukkan nama kalian di daftar keluargaku.” Ilham mengusap air mata Monita.
__ADS_1
Sementara Eden, ia tampak asing dengan wajah Ilham yang kini berada di samping mereka.
“Bapak siapa?” Tanya Eden tampak heran.
“Eden sebaiknya, kita keluar sebentar, nanti akan kakak jelaskan, biarkan Ija dan Andre di sini duduk di samping jasad ibu.” Ucap Monita mulai beranjak dari duduknya dan menarik pelan tangan Eden.
Mereka pun melangkah keluar menuju belakang rumah yang dimana tidak ada siapa pun di sana, diikuti dengan Ilham yang melangkah di belakang kedua kakak beradik itu.
Begitu sampai di tempat tujuan, Monita mendudukkan Eden di atas sebuah dipan begitu pun dengan dirinya dan juga Ilham yang juga ikut duduk di depan Eden.
Monita menghela nafas panjang, menatap Eden dan memberanikan diri untuk jujur tentang hubungan rumah tangga dirinya dan juga Ilham.
“Eden, ini Mas Ilham, suami kakak.” Jelas Monita sembari melirik singkat ke arah Ilham.
“Su… suami? Kakak sudah menikah? Sejak kapan?” Cecar Eden dengan berbagai pertanyaan.
“Iya, saya suami Monita, kami menikah dua bulan yang lalu.” Jelas Ilham sembari meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
“Tapi, kenapa kakak tidak mengatakan kebenaran ini pada ibu?”
“Aku akan mengatakannya, tapi aku tidak punya keberanian, hingga akhirnya aku memutuskan untuk jujur pada ibu begitu akan kembali ke kota, tapi takdir berkata lain, ibu sudah pergi lebih dulu sebelum tau pernikahanku.” Jawab Monita mulai nampak lesu dengan buliran bening yang kembali membasahi pipinya.
“Ini semua di luar dugaanku Eden, aku tidak pernah mengharapkan ini terjadi, tapi aku begitu menyesal, sudah mengulur-ulur waktu sehingga sampai ibu menghembuskan nafas terakhir, ibu tidak tau tentang semua ini.” Tambah Monita lagi.
“Eden, kamu tidak usah khawatir, seperti yang sudah ku katakan tadi, aku dan Monita akan menjadi walimu, kami yang akan bertanggung jawab padamu, aku berjanji akan menjaga kalian seumur hidupku.” Jelas Ilham lagi yang sontak membuat Monita memeluk Ilham, disusul dengan Eden yang beranjak ke tempat duduk Monita dan ikut memeluk kakaknya itu.
Sebenarnya masih ada yang mengganjal di hati Monita, tangisnya semakin pilu begitu mengingat nasibnya yang hanya akan menjadi istri sementara Ilham, ia semakin merasa bersalah mengingat Naomi, ia sadar kalau dirinya hanya istri siri Ilham, sehingga dia tidak menaruh banyak harapan pada Ilham, namun lagi-lagi ia teringat dengan nasibnya dan juga Eden yang sudah tidak ada tempat untuk pulang lagi jika nanti ia akan bercerai dengan Ilham.
__ADS_1
Mengingat dirinya dan juga Eden yang masih dalam suasan duka, membuat Monita tidak terlalu memikirkan itu lagi, Monita masih menyembunyikan kebenaran mengenai jati dirinya yang hanya sebagai istri kedua Ilham di depan Eden, nanti jika sudah tepat waktunya, Monita akan tetap mengungkap kebenaran itu kepada Eden.
Monita menutupi kebenaran itu karena tidak ingin memperkeruh suasana, dia tidak sampai hati melihat adiknya yang sudah terpukul, akan semakin terpukul karena kenyataan ini.