Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 117 Amarah Mama Nancy


__ADS_3

“Tumben kesiangan, tidur jam berapa?” tanya mama Nancy yang sontak mengundang kaget Ilham yang baru saja keluar dari kamarnya. Sejak tadi dia tidak memperhatikan sekelilingnya karena kesadarannya belum terkumpul semua.


Sudah hampir jam delapan, tidak biasanya Ilham baru keluar dari sangkarnya dengan penampilan yang acak-acakan dan hanya menggunakan celana pendek.


“Mama juga tumben pagi-pagi buta sudah di sini.” balas Ilham sembari menenggak air dingin yang sudah hampir beku itu.


“Cucu mama di mana Ham?”


Jangan heran jika pembicaraan mereka tidak nyambung, sudah biasa seperti itu. Ilham menguap sembari mengembalikan botol kosong itu ke dalam kulkas di hadapannya.


“Ada di kamarku, masih tidur.”


“Tumben dia ada di kamarmu?” tanya Nancy sembari membuang air cucian beras yang terakhir. Ya Nancy sedang memasak, bukan apa-apa, hanya ingin saja, karena begitu dia datang dua pasutri beserta cucunya itu masih terbang di alam mimpi.


“Iya, semalam Dikta tidur dengan Ilham ma dan Monita tidur di kamar Dikta.”


“Apa? Kalian pisah ranjang?” pekik Nancy dengan suara yang naik satu oktaf, begitu kerasnya bahkan mungkin bisa sampai ke telinga semua security di pos satpam depan.


“Aduh ma, jangan keras-keras begitu ngomongnya, telinga Ilham sampai sakit loh.”


“Cepat jelaskan sama mama, kenapa kalian pisah ranjang?” cecar Nancy mendadak emosi, dia tidak pernah mengharapkan rumah tangga anaknya dengan menantu kesayangannya ini akan retak.


“Pisah ranjang apanya? Monita tidur di kamar Dikta semalam karena dia cuma ingin menenangkan pikiran saja karena_”


“Kamu memarahinya Ilham?” belum selesai penjelasan Ilham, mama Nancy sudah memotong ucapan anaknya.


“Bukan ma, mana berani Ilham memarahinya. Makanya dengar dulu, belum juga kering bibir Ilham, sudah mama potong.” keluh Ilham menggerutu, dia benar-benar dongkol kali ini.


“Ya sudah, lalu apa? Awas saja ya kamu kalau sampai menyakiti menantu mama, mama sunat kamu dua kali.” ancam mama dan sontak membuat milik Ilham ngilu rasanya.


Entah sejak kapan Nancy begitu, dia sudah tidak ketus lagi pada Monita. Bahkan dia sudah terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya pada menantu kecilnya itu, tanpa ada rasa gengsi. Rasa gengsi itu sudah ia buang sejak lama, bersamaan dengan terkuaknya fakta kebohongan Naomi.


“Monita masih syok kala mendengar dalang dari penyebar isu busuk itu adalah Naomi, itulah kenapa semalam dia ingin sendiri dulu.”

__ADS_1


“Memang sudah sepantasnya dia yang dicurigai.” ujar mama Nancy dengan raut wajah santai seakan tau segalanya.


“Mama sudah lebih dulu tau?”


“Bukan, hanya saja dari awal gosip itu tersebar mama sudah yakin dalangnya dia, mama tidak mengatakan langsung pada kalian tentang kecurigaan mama ini karena pasti kalian tidak akan percaya. Kan di mata kalian, wanita itu bak titisan malaikat.”


Sepanjang isu tak sedap itu menerpa, mama Nancy selalu ke rumah kedua untuk sekedar datang menghibur menantunya. Monita tidak sendiri kala dia mengurung diri di kamar, ada mama Nancy yang selalu setia menemaninya dan membantu menjaganya.


“Ilham masih tidak menduga Naomi akan berubah seburuk itu.”


“Dia bukan berubah, hanya saja topengnya terjatuh.”


“Bahkan dia juga sudah berencana ingin membunuh Monita.” cetus Ilham menatap nanar tanpa arah.


“Apa?! Dia juga berencana membunuh menantu mama?” pekik Nancy dengan mata membulat. Ia bahkan berdiri dari duduknya karena terperanjat.


Ilham mengangguk lesu, raut wajahnya berubah sendu, dia memang emosi dan benci sekali pada Naomi, sulit diterima nalar, kenapa harus Naomi? Wanita yang selama ini Ilham anggap baik dan lembut bak bidadari.


“Ceraikan dia Ilham! Mama tidak mau tau, kamu harus menceraikan dia.” perbuatan Naomi itu sudah tidak ada toleransi lagi bagi Nancy.


“Mau ke mana ma?” Ilham bergegas menahan langkah mamanya, kalau sudah marah begitu, sasarannya pasti Naomi dia tidak ingin terjadi kericuhan pagi-pagi begini. Biarlah dia yang menyelesaikannya sendiri.


Mama Nancy benar-benar tak bisa dilarang, dia terus berjalan tanpa mempedulikan anaknya yang terus memanggil-manggil. Dengan langkah panjang, mama Nancy terus berjalan meninggalkan kediaman anaknya menuju garasi mobil, tempat di mana mobil mama Nancy terparkir.


“Ma tunggu ma.” cegah Ilham kala mamanya sudah berada di dalam mobil.


“Ma, jangan buat kericuhan dong.” Ilham mengetuk-ngetuk kaca mobil mamanya namun Nancy tak menggubris sama sekali. Dia terus menancap gas tanpa peduli apapun.


Ilham menatap lemas mobil mamanya yang sudah menjauh. Ia pun bergegas menaiki mobilnya untuk ikut ke rumah utama.


Tanpa sepengetahuan Naomi, mertua dan suaminya sedang menuju ke rumah utama. Saat itu Naomi yang tanpa sehelai benang pun di balik selimut sudah bangun sejak tadi, ia duduk bersandar di headboard ranjang sembari membelai lembut wajah Rendy. Ya selingkuhan Naomi adalah Rendy, sahabat yang sekarang sudah menjadi musuh bebuyutan Ilham.


Selang beberapa saat, setelah puas bercengkrama, Rendy menyibak selimut yang membalut tubuh Naomi, hingga tubuh polos wanita itu terpampang nyata.

__ADS_1


“Aku menginginkanmu lagi.” bisik Rendy tepat di telinga Naomi.


Naomi hanya tersenyum menggoda sembari melingkarkan lengannya di leher Rendy.


“Sekarang katakan, gaya apa yang akan kita lakukan untuk memulainya kembali?” bisik Naomi kemudian.


“Gaya apa saja aku siap melakukan semuanya.” jawab Rendy kemudian langsung menyambar bib*r Naomi.


Kedua bib*r mereka saling bertautan, Naomi pun tak segan membalas ciu***an Rendy dengan ganasnya. Bagaimana tidak, di belakang Ilham nyatanya mereka sering melakukan hubungan terlarang itu tanpa ada seorang pun yang tau.


“Ayo lakukan cepat, aku sudah tidak tahan.” bisik Naomi di sela-sela erangannya.


Rendy tersenyum dan langsung kembali mencum** Naomi tanpa menutup rapat pintu kamar utama tersebut.


Bak binatang buas yang saling memangsa satu sama lain, membuat suara dan gesekan ranjang itu semakin terdengar. Terlebih suara desah** Naomi yang begitu menikmati permainan yang diberikan Rendy, tak mampu ia kendalikan lagi.


Suara mereka tak mungkin terdengar sampai ke lantai bawah kecuali para pelayan di dapur sengaja naik ke lantai atas dan berdiri di depan kamar utama. Semenjak Naomi mulai membawa Rendy masuk ke rumah itu, wanita itu seketika membuat peraturan dadakan. Semua pelayan tidak boleh sembarang naik ke lantai atas kalau tidak diperlukan, bahkan jika ada tamu, pelayan hanya diperbolehkan menelpon Naomi.


Namun tanpa mereka sadari, mobil Ilham sudah terhenti tepat di samping mobil mama Nancy.


“Ma, tunggu!” cegah Ilham sengaja menghentikan langkah mamanya.


“Apa lagi Ilham?”


“Tolong lah ma, jangan buat kericuhan.”


“Istrimu yang memulai kericuhan ini, tunggu! Kenapa kamu jadi membelanya sekarang? Apa kamu tidak akan menceraikannya Ilham? Kamu masih mau mempertahankan dia? Setelah dia merencanakan pembunuhan untuk Monita?” cerocos mama Nancy tak menyangka. Rasanya ingin ia jitak kepala anaknya ini biar sadar sesadar-sadarnya, mungkin otak Ilham sedang korslet.


“Bukan begitu ma_”


“Awas! Jangan halangi mama.” ketus Nancy sembari mengecak pinggang dengan mata yang sengaja dibesarkan.


Tatapan maut Nancy membuat Ilham ciut seketika, hingga dia menepi, memberi jalan untuk mamanya.

__ADS_1


Pintu utama rumah itu saat ini dalam keadaan setengah terbuka. Keadaan ruang tamu tampak begitu sepi, tak ada seorang pun di sana. Mama Nancy dengan diikuti Ilham di belakangnya terus berjalan meniti anak tangga dengan langkah tergesa-gesa.


__ADS_2