Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 132 Suami Impian


__ADS_3

“Kamu apa kabar mas?” Tanya wanita itu dengan binar kebahagiaan.


“Menurutmu?” Ditanya malah balik bertanya, Ilham menatap wanita itu tanpa minat.


“Kalau menurutku, kamu tampak sangat bahagia mas dan semakin tampan.” Wanita itu tidak berbohong, Ilham memang terlihat semakin tampan dan dia semakin terkesima.


Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya Rosa kembali dipertemukan dengan pujaan hatinya sejak dulu. Ya, wanita yang dimaksud itu tidak lain dan tidak bukan adalah Rosa wanita malam di club ternama tempat Monita bekerja dulu, anak asuh mami Bela.


Dan hingga kini, wanita itu masih menjadi kupu-kupu malam, semenjak kepergian Monita, Rosa kembali menjadi primadona di club tersebut karena dengan adanya dia, pemasukan mami Bela naik drastis dan mami Bela tidak ingin melepasnya dengan mudah.


Melihat tingkah genit wanita itu Ilham semakin ilfil, terlebih profesi Rosa sebagai wanita panggilan jelas saja membuat Ilham semakin menatapnya jijik. Bagaimana tidak, Rosa adalah wanita yang cukup berada, ayahnya adalah seorang pebisnis yang lumayan kaya, tapi karena gaya hidup Rosa yang terlalu tinggi, membuat dia tidak puas dan nekat jual diri.


Tanpa menggubris celetukan Rosa, pria itu berlalu begitu saja tanpa pamit. Rosa yang melihat itu seketika kesal karena merasa diabaikan. Ilham tidak berubah, sewaktu Rosa belum jadi wanita panggilan saja Ilham tidak sudi membalas perasaan Rosa apalagi sekarang dia menjadi wanita malam.


Rosa tidak ingin menyerah, sebagai wanita yang tidak pernah ketinggalan dengan gosip terbaru, tentu dia tau siapa istri Ilham sekarang, namun dia yang masih beranggapan bahwa Ilham masih mencintai mendiang istrinya jelas saja mengira kalau pria itu tidak mencintai Monita sesungguhnya.


Namun di sisi lain Rosa ketar ketir, bagaimana tidak, Monita selalu menjadi saingan beratnya baik itu di dunia pekerjaan atau pun di dunia percintaan.


“Kau menikahi wanita panggilan itu mas?” Pertanyaan Rosa sontak menghentikan langkah Ilham. Dia berbalik dan menatap wanita itu dengan tatapan menghunus bak seribu anak panah. Ilham yang tidak ingin wanitanya dihina jelas saja mengeluarkan taringnya. dadanya yang naik turun menjadi pertanda kalau dirinya sangat lah marah. Kebencian dalam dirinya kembali menguar, seakan sudah menjadi kebiasaannya, Rosa memang suka menghina. Dulu Naomi yang dia hina sekarang Monita, mana mungkin Ilham terima.


“Kamu mengatai istriku murahan sedangkan kamu bahkan lebih menjijikkan Rosa. Apa kau tidak sadar?” Tutur Ilham dengan nada pelan namun penuh penekanan.


“Jangan pernah menyebutnya wanita murahan, karena dia adalah wanita terhormat bahkan sejak dirinya masih bekerja di club itu. Hanya aku yang tau bagaimana sucinya Monita.”

__ADS_1


“Sekali lagi aku dengar kau menghina istriku, aku tidak akan segan-segan mendaratkan telapak tanganku ini ke wajahmu tak peduli meski kau perempuan!” Ucapnya dengan kekesalan yang kini mengalirkan deras dalam darahnya.


Rosa menelan salivanya dengan susah payah, ketakutan itu kini sudah membelenggu hatinya, satu hal yang sukar rosa tangkap, apa pria ini sudah jatuh hati pada Monita? Atau hanya tidak terima saja ia menghina wanita yang menjadi ibu dari anak-anaknya.


Ucapan Ilham yang setajam omongan tetangga itu berhasil membuat Rosa bungkam. Selain takut mati, Rosa juga takut Ilham. Namun hal itu tak membuat Rosa menyerah, dia tetap akan mencintai Ilham dan masih ingin memiliki pria itu sekuat apapun penolakan Ilham, benar-benar muka tembok.


Pertemuannya dengan Ilham hari ini membuat obsesi Rosa untuk memiliki pria tampan itu kembali menguar. Bertahun-tahun tidak mengusik Ilham, bukan berarti dia menyerah, selama ini dia masih berusaha mencari celah untuk bertemu Ilham, tapi sangat sulit karena baru saja di depan gerbang, security di rumah Ilham mau pun di perusahaannya melarang Rosa masuk, tentu saja semua itu atas perintah Ilham.


Selama ini, Ilham benar-benar menyingkirkan semua hama yang berpotensi mengusik ketenangan keluarganya. Rosa tidak akan tinggal diam, dia akan bergerak dan memutar otak untuk menemukan cara bagaimana agar dia bisa masuk dalam rumah Ilham.


Rosa seperti ini karena tidak ingin usahanya sia-sia, dulu dia rela meninggalkan calon tunangannya demi Ilham, namun sayangnya Ilham tak menatapnya sama sekali.


Sementara di tempat lain, Monita sudah menunggu suaminya. Begitu selesai melakukan panggilan video bersama Amira, matanya menangkap sosok pria tampan yang sedang berjalan ke arahnya, siapa lagi kalau bukan suaminya.


Ya Ilham belum berani jujur soal pertemuan dia secara tidak sengaja bersama Rosa tadi, bukannya apa-apa, Ilham hanya tidak ingin istrinya salah paham. Ilham tidak berniat membohongi Monita, dia akan tetap jujur soal Rosa tapi tidak sekarang.


“Iya proses administrasinya agak lama.” Ujar Ilham berdalih.


“Pulang yuk.” Ajak Ilham kemudian seraya menarik lembut tangan istrinya dan tanpa mereka sadari, hal manis itu di saksikan sepasang mata dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan Rosa.


“Beruntungnya kau Monita, aku jadi iri padamu.” Imbuhnya sembari menatap sinis punggung dua insan yang semakin hilang dari pandangan matanya itu.


“Tapi aku yakin, hati Ilham masih terpaut pada Naomi, dan sepertinya kamu hanya pelampiasannya saja. Kalau sudah begitu, artinya aku masih punya celah untuk masuk ke dalam hatinya, karena cinta pertama Ilham sudah mati.” Rosa bermonolog dengan kepercayaan diri yang terlampau tinggi.

__ADS_1


****


Seharian penuh Ilham akan menemani Monita, setelah periksa kandungan di siang hari, malamnya ia mengajak istrinya makan malam romantis. Sebenarnya ini bukan kali pertama, hanya saja mungkin akan jadi kali terakhir mereka makan malam romantis dalam keadaan Monita yang hamil besar, karena bisa jadi minggu depan Monita akan melahirkan.


Meski pun tengah hamil besar, Monita tetap berusaha menjaga penampilannya agar tidak terlihat jelek di mata Ilham. Padahal tidak ada saat di mana Monita terlihat jelek walau hanya sekali di mata Ilham, karena memang dia secantik itu.


Semua berjalan lancar tanpa suatu hambatan, hingga begitu makan malam romantis selesai, Ilham masih juga mengeluarkan kotak kecil yang selalu membuat Monita tercengang.


Ilham bangkit dari duduknya dan mengitari meja untuk mendekati istrinya dengan tangan yang membawa sebuah kalung, dan memakaikannya. Sudah kalung kesekian, namun Ilham tetap ingin memberikannya. Bahkan Monita sampai bingung harus diapakan perhiasannya yang lain.


“Sayang, kamu beli kalung lagi? Yang kemarin saja belum sempat aku pakai.”


“Jadikan koleksi saja, supaya kalau kamu bosan dengan kalung yang satu kamu bisa pakai model yang lain, lagi pula aku cari uang juga demi kamu.”


Dari dulu Ilham memang terbiasa memberikan hadiah untuk pasangannya. Bersama mendiang Naomi saja dia sering memberikan hadiah, apalagi kini bersama Monita, istri terbaiknya.


Jawaban Ilham hanya sederhana, hanya saja mendengarnya Monita merasa seperti diratukan. Ilham memang tidak banyak berjanji dan menanyakan apa hal yang disukai Monita, dia selalu bertindak tak terduga, dan semua yang dia berikan selalu berhasil membuat Monita terkesima dan tentu saja dia sangat suka.


“Gimana? Kamu suka dengan pilihanku?”


“Cantik sekali dan aku suka sekali, terima kasih ya mas. Padahal Monita tidak minta loh.”


“Tidak apa, kan sudah aku bilang aku cari uang untuk kamu dan anak-anak kita. Kamu tidak suka belanja, jadi aku saja yang berinisiatif membelikannya untukmu.”

__ADS_1


__ADS_2