Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 92 Pamit


__ADS_3

Ilham langsung menutup pintu kamar hotel dan menguncinya begitu sudah sampai di kamar tujuan.


Tak ingin buang-buang waktu, dia langsung meraih tengkuk istrinya dan menyambar bibir ranum itu dengan rakus hingga membuat Monita hampir kehabisan napas.


“Mas, sabar sedikit dong.” Ujar Monita tersenyum simpul begitu Ilham melepaskan pagutan mereka sejenak.


“Semalam kita berhenti di tengah jalan, sekarang kita harus menuntaskannya, mumpung tidak ada Dikta.” Ilham tersenyum sumbang lalu kembali meraup bibir Monita.


“Iya oke, tapi cepat ya mas.” Peringat Monita.


Ilham tak menjawab, ia hanya mengangguk lalu kembali menerkam istrinya, hingga tanpa sadar kini sang istri sudah berada di bawah kungkungannya.


Waktu singkat yang diminta Monita justru berlangsung lama hingga 1 jam. Tepat satu jam sudah Ilham menuntaskan hasr**nya pada sang istri.


Monita segera beranjak dan membilas tubuhnya, dia tidak mungkin mandi satu badan, nanti akan menimbulkan tanya begitu dia pergi menemui David. Bukan dia takut David marah, bukan, hanya saja dia yang akan malu nantinya mendapat tatapan aneh dari David.


****


Seperti biasa, pagi ini bu Nancy datang ke rumah anak dan menantunya untuk sekedar menemani Naomi.


Namun begitu ia masuk, langkahnya terhenti saat mendapati bi’ Ratih tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Mama Nancy dibuat panik, ia segera mengambil langkah panjang dan menghampiri wanita paruh baya itu.


“Bi’ Ratih, bi’ apa yang terjadi?” Mama Nancy menepuk pelan pipi bi’ Ratih saking paniknya.


Tak lama, mama Nancy mengambil minyak angin lalu mengoleskannya ke hidung bi’ Ratih, detik berikutnya bi’ Ratih mengerjapkan matanya, dengan perlahan ia membuka mata beratnya.


“Ny… nyonya..” merasa tidak enak, bi’ Ratih langsung bangun dari pangkuan bu Nancy dan menatapnya dengan sungkan.


“Bi’? Apa yang terjadi?”


****


“Maaf kak, aku tidak bisa.” Jawab Monita kemudian.


“Tapi kenapa Mon? Bukan kah kita akan segera menikah?”


David kembali mempertanyakan perihal pernikahan mereka, namun kali ini Monita menolak. Hanya dengan sekejap Monita berubah, Ilham memang pandai merebut hati Monita. Bertemu Ilham membuat pikiran wanita itu teralihkan.


“Aku sangat mencintai kamu Monita.”


“Maaf kak, mas Ilham sudah melegalkan pernikahan kami jauh sebelum aku pergi, aku masih punya suami.” Hanya jawaban itu yang bisa keluar dari mulut Monita, dia merasa kesal pada pria ini namun merasa bersalah juga.

__ADS_1


“Tapi Mon, aku sudah lama mencintai kamu, tolong jangan seperti ini.” Ujar David yang lebih dulu mengutarakan isi hatinya, sebelum Monita mengungkapkan keinginannya untuk pergi dari kota itu dan ikut pulang bersama Ilham.


“Maaf kak, tapi aku wanita bersuami.” Monita menghela napas kasar.


“Tapi selama ini dia tidak pernah ada niat untuk mencarimu kan?” David meremehkan sosok Ilham yang selalu menjadi alasan Monita untuk menolaknya.


“Dia lelaki bodoh, tega-teganya dia menyakitimu sedemikian rupa, jika memang dia berniat untuk mencarimu, ke ujung dunia pun dia akan mencari, tapi ini sudah berjalan 5 bulan lamanya, tapi dia tidak mencarimu Monita!!.”


David tidak pernah sekeras ini, namun gusar juga dia lama-lama melihat Monita yang selalu membela Ilham yang menurutnya tidak berguna itu.


“Jangan menghina mas Ilham kak!!”


“Tapi itu kenyatannya Monita!”


Bukan tidak mencari, entah karena ingin meremehkan Ilham atau karena memang benar anggapan David begitu, nyatanya semua itu keliru. Ilham selalu mencari Monita, begitu istri kecilnya itu hilang dari pelupuk mata. Bahkan ia mengerahkan Doni dan anak buahnya yang lain untuk mencari keberadaan Monita, namun sulit, karena pada saat itu Monita benar-benar hilang di telan bumi. David seolah menyembunyikan identitas Monita hingga sulit Ilham temukan.


“Sudahlah kak, tidak perlu dibahas lagi, aku datang hanya ingin mengembalikan ini.” Ujar Monita mengeluarkan kunci rumah dan kunci mobil dari dalam sakunya lalu menyerahkannya pada David.


Kening David mengkerut.


“Maksudnya apa ini Monita?”


“Aku ingin pamit secara pribadi padamu, dan sesuai janjiku, aku akan mengembalikan semuanya padamu.”


“Janji apa maksud kamu?”


David mengepalkan tangannya, hati siapa yang tidak terluka jika di hadapkan dalam situasi serumit ini, namun ini bukan kesalahan Monita sepenuhnya, salah David sendiri yang nekat melamar wanita bersuami.


“Anggap saja begitu.” Monita meraih tangan David dan meletakkan 2 buah kunci itu ke tangannya.


David semakin muak, dari awal dia sudah menduga, kedatangan Ilham adalah petaka untuk hubungan dirinya dan wanita pujaannya ini.


“Maaf, kamu boleh marah padaku, membenciku pun juga boleh, aku tidak tau sama sekali kalau diam-diam mas Ilham sudah melegalkan pernikahan kami, dan bahkan aku hampir menikah dengan kamu padahal jelas-jelas namaku sudah lebih dulu tercatat.” Sindir Monita sengaja menyentil hati David.


Mendengar itu David diam seribu bahasa, tubuhnya menegang, Monita sudah tau rencananya. Dari awal dia sudah berniat untuk menikahi Monita dengan berbagai cara, namun belum sempat terwujud, sang empu sudah mengetahui semuanya.


“Aku tidak peduli sekali pun kau sudah bersuami Monita! Peduli setan walau pun dia sudah melegalkan pernikahan kalian!”


David membatin, dia menatap lekat wanita pujaannya itu, sesakit ini rasanya. Kalau tau begini, lebih baik dari awal kelahiran Dikta, dia nekat memaksa menikahi Monita. Rupanya dia sudah terlambat.


“Aku mencintaimu Monita, begitu pun dengan Dikta, aku menerima kalian berdua, kenapa kau tidak tinggalkan saja dia?”

__ADS_1


David masih berusaha, dia berharap terlalu tinggi pada Monita, bahkan dia sudah menjadi pria yang paling mempedulikan Monita dan menyayangi anaknya dengan tulus, namun nyatanya tidak semudah itu.


“Masih banyak wanita di luar sana yang lebih baik dariku kak, kamu salah mencintaiku.” Ungkap Monita dengan lembut. Mungkin harus seperti itu agar David mengerti.


“Cinta tidak pernah salah Monita, awalnya aku pikir aku hanya tertarik saja padamu, tapi semakin ke sini, cintaku semakin besar hingga membuat aku sulit untuk membendungnya, terlebih begitu melihat kehadiran Dikta, kalian menjadi pelita dalam hidupku.” Ujar David dengan tulus.


“Terima kasih kak, tapi maaf aku tidak bisa mencintaimu.”


Monita menunduk, rasa bersalah menyeruak jauh ke dalam lubuk hati ibu satu anak itu, sekali pun dia mau, perasaannya tetap tidak akan muncul, tertutup oleh rasa cintanya pada Ilham yang teramat besar.


“Apa sama sekali tidak ada tempat di hatimu untukku?”


Nama Monita terukir jelas dalam hati David, tapi dalam hati Monita, nama David terukir hanya sebatas sahabat saja, sahabat yang begitu peduli pada dirinya dan Dikta.


“Ada, sebagai pahlawan yang begitu tulus membantu diriku dan juga Dikta, aku tidak akan pernah melupakan itu kak.” Jelas Monita dengan mata yang sudah basah, tidak mungkin dia membagi cinta.


“Monita, jika kau mau menerima lamaranku kembali, dan kita menikah nanti, aku tidak akan menuntutmu untuk memberikan aku seorang anak, cukup kita jadikan Dikta sebagai pelengkap keluarga kecil kita, jadi aku mohon terima aku ya.” Kali ini Monita sama sekali tidak memberinya celah untuk masuk, saat ini David sedang berada dititik terendah kehilangan harapan.


“Kak, masih banyak wanita di luar sana yang bersedia menjadi istrimu, kau bisa menikah dengan wanita mana pun yang kau mau, asal itu bukan aku, kau akan memiliki anak dari wanita yang tentunya juga akan sangat mencintaimu.” Tutur Monita kemudian meletakkan benda kecil itu ke atas meja kerja David.


“Baiklah kalau memang itu keputusanmu, aku tidak akan mengambil rumah dan mobil itu, itu tetap untukmu, dan bila kau tidak mau, kau bisa membuangnya, aku pamit.” Usai berkata begitu, David berlalu meninggalkan Monita dengan membawa perasaan kalutnya.


Baru keluar dari ruangannya, langkah David terhenti kala melihat seorang pria sedang berdiri seraya menyandarkan dirinya di dinding lalu menatap datar ke arahnya.


“Apa kau menguping?” Tanya David dengan perasaan yang diselimuti kebencian kala melihat Ilham.


“Iya.” Jawab Ilham enteng dan tanpa rasa bersalah sama sekali.


“Suami macam apa yang menyia-nyiakan Monita dan Dikta, jika saja Dikta sudah bisa bicara, dia pasti akan menolak kehadiranmu.” Cecar David kemudian, amarah yang menggerogoti dirinya sudah tak terbendung lagi.


“Tutup mulutmu! Kau tidak mengerti bagaimana di posisiku.” Ilham mendadak panaa dengan ucapan pria tersebut.


“Mau bagaimana pun kau membantah, tapi itulah kenyataannya, kau hanya menjadikan dia pemuas nafsu, membuatnya hamil lalu mencampakannya begitu saja, begitu dia melahirkan justru pria lain lah yang ada disampingnya lalu mendampinginya serta merawat anaknya.” Sinis David, dia menarik sudut bibirnya, seolah sengaja memancing emosi Ilham.


“Brengsek!”


Ilham mendorong tubuh David hingga membentur dinding, ia menarik kerah kemeja David lalu memberikannya bogem mentah tepat di wajah pria menyebalkan itu.


“Perlu aku tegaskan! Jika saja aku tau istriku akan dipertemukan dengan lelaki sepertimu, maka hari itu juga, aku tidak akan mengizinkan dia keluar dari kamar.”


“Ck, kau bahkan meninggalkan Monita dan lebih memilih mengejar istri pertamamu itu di saat Monita dan Dikta hampir kehilangan nyawa mereka, kau memang suami gila yang membiarkan istrinya yang sedang hamil pergi dan lebih memilih bermanja-manja denganku.” Bisiknya lumayan pelan, seraya menatap remeh Ilham, membuat Ilham ingin kembali melayangkan pukulan namun…

__ADS_1


“Mas!” Sentak Monita menahan tangan Ilham yang hendak melayangkan pukulan kedua di wajah David.


“Aaahhh Monita, dia menyerangku tiba-tiba, padahal aku tidak berbuat apa-apa padanya.” Jelas David seolah tidak tau apa-apa sejenak dia membuat Ilham menelan salivanya dengan pahit.


__ADS_2