Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 86 Akhirnya


__ADS_3

Ilham menyerahkan mobil itu pada Doni, lalu ia berlari masuk ke dalam bandara yang dipenuhi banyak orang yang sedang berseliweran.


Sedangkan di sudut yang lain, masih dalam bandara yang sama.


Seorang wanita dengan tubuh yang sudah sedikit berisi, bukan lagi seperti anak kecil yang dipandang sebelah mata sebagai istri kedua, sedang berjalan menggendong bayi.


Anak itu terlihat tampan dan menggemaskan, usianya baru 3 bulan, ia berjalan beriringan dengan seorang gadis yang usianya lebih muda dari Monita.


Mereka sedang menunggu seseorang sebelum benar-benar berangkat ke Korea, ini adalah kali kedua Monita dan Eden berkunjung ke negeri ginseng tersebut.


Mereka akan mengunjungi ibu David Bramntyo dan menetap di sana.


“Dikta!” Panggil David, pria dengan usia yang sudah masuk kepala 3 itu datang dengan membawa beberapa paper bag berisi makanan kesukaan Dikta.


Setelah menyerahkan barang yang ia bawa itu pada Monita, ia menggendong putra Monita itu dengan sayang.


Dikta Bramntyo adalah anak yang sudah David akui seperti putranya sendiri, meski Monita dan Dikta belum masuk ke dalam kartu keluarga David, namun David sudah lebih dulu menyematkan nama belakangnya pada nama Dikta, mereka akan menikah begitu mereka sampai di korea.


David akan menikahi Monita secara resmi di mata hukum negara, namun hanya suami istri di dalam kertas, hubungan mereka terjalin tanpa ada rasa cinta yang Monita rasakan.


David bagai pahlawan yang sudah banyak berjasa dalam hidup Monita dan Eden, dia yang sudah merawat dan menjaga Monita selama hamil dan dia juga yang mendampingi Monita pasca melahirkan hingga Dikta berumur tiga bulan.


Pria yang sudah memang mencintai Monita sejak awal itu, merasa kehadiran Monita dan putranya bagai pelita dalam hidupnya. Sayang Monita menutup hatinya rapat-rapat. Wanita itu mau menikah dengannya demi melindungi Dikta. Monita tidak mau Ilham dan Naomi merebut putranya.


Apalagi Ilham belum melegalkan pernikahan mereka, jadi Monita pikir sah-sah saja jika dia menikah dengan pria lain, apalagi sekarang dia sudah melahirkan anaknya, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Sehingga satu-satunya cara untuk mendapatkan hak asuh anaknya adalah dia memutuskan untuk menikah dengan David.


Monita sangat terbuka pada pria berdarah Indonesia Korea tersebut.


David bersedia menampung Monita begitu ia tau apa yang menimpah Monita beberapa bulan yang lalu.


Karena pada hari itu, begitu Naomi mengetahui keberadaan Monita, ibu hamil itu beserta adiknya berpamitan pada Andre untuk pindah dari apartemen Andre menuju tempat kost milik David, awalnya Andre menolak permintaan mereka, namun Eden berusaha meyakinkan Andre kalau mereka akan baik-baik saja, hingga akhirnya Andre setuju.


Namun meski sudah tidak tinggal bersama, Eden selalu bertukar kabar dengan Andre, bahkan tak jarang, Andre selalu menemui mereka di tempat tinggal yang sudah David sediakan untuk mereka. Satu-satunya orang yang tidak mengetahui keberadaan Monita hanyalah Ilham, bahkan Naomi pun sudah tau di mana Monita berada, namun dia sengaja tidak memberitahu Ilham karena ia tidak ingin kembali berbagi suami.


Pada hari itu, Monita dan juga Eden menemui David untuk meminta izin agar David mau menyewakan kost miliknya untuk mereka tinggali, selama Monita hamil.


Namun David yang pada dasarnya memang sudah mencintai Monita, melarang Monita untuk tinggal di kost kecil miliknya, meski kost itu terbilang elite, namun di mata David itu tidak layak untuk wanita yang ia cintai.


Dia ingin Monita mendapatkan tempat yang nyaman untuk dia dan juga anaknya, sehingga itu David memberikan Monita 1 buah rumah yang David beli khusus untuknya.

__ADS_1


Awalnya Monita menolak, karena Monita tipekal wanita yang tidak enakkan, namun David memaksanya untuk menerima semua pemberian David termasuk mobil mewah dilengkapi dengan supir dan satu pelayan di rumah itu.


Rumah yang David berikan itu cukup sederhana, sesuai permintaan Monita, dia tidak ingin rumah yang terlampau besar, David pun menyanggupinya walau sebenarnya David ingin memberikan sebuah menssion mewah untuknya, namun sangat mustahil jika Monita mau menerimanya.


Walau rumah itu sederahana, namun sangat nyaman ditempati, halamannya tampak asri, rapi dan bersih, karena setiap hari pelayan di rumah Monita yang bernama bi’ Ina itu selalu membersihkan rumahnya.


Sebenarnya lambat laun, benih cinta akan tumbuh karena terbiasa namun tidak bagi ibu anak 1 itu, David hanya teman yang selalu ada untuknya.


Mungkin Monita lupa pada rumus dunia, tidak ada istilah teman bagi pria dan wanita dewasa.


Bayi itu tampak anteng dalam pelukan David, bak keluarga bahagia, mereka tampak harmonis.


Entah kenapa, tiba-tiba Dikta muntah di baju David, hal itu mengundang kaget Monita dan Eden.


“Astaga kak, Dikta muntah!” Seru Eden yang terkejut melihat ponakannya muntah hingga mengenai kemeja David.


“Sini, biar aku yang bersihkan.” Monita mengulurkan tangannya hendak memeluk Dikta namun David menahan tangannya.


“Tidak usah biar aku saja, aku akan membersihkannya di toilet, kalian tunggu di sini sebentar ya.”


“Tapi kak.”


“Tidak usah sungkan.” Ujar David kemudian berlalu dari hadapan dua kakak adik itu.


Sembari bersandar, Monita dan Eden melihat orang yang lalu lalang di sana.


Ketika Monita melihat orang yang lalu lalang, tak sengaja matanya menatap sosok yang tak asing.


“Mas Ilham?” Gumam Monita ketika melihat Ilham dari samping karena terhalang tiang.


Kini Monita dilanda rasa bingung, apa Ilham masih suaminya? Sedangkan ia akan segera menikah dengan David.


Saat ini Monita bingung dengan statusnya, apa dia akan memiliki dua suami? Sebab Ilham tak pernah menjatuhkan talak, tapi Ilham sudah tidak pernah menafkahi dirinya dan juga putranya selama 5 bulan ini, lagi pula mereka hanya nikah siri.


Monita jadi dilema, sebenarnya suaminya itu yang mana?


Untuk menepis berbagai pertanyaan dalam benaknya, Monita memejamkan mata sejenak lalu menghela napas dalam-dalam.


Namun begitu Monita membuka matanya, ia kembali menatap sosok pria yang begitu ia rindukan itu.


Monita cepat-cepat berbalik membelakangi Ilham agar pria itu tak melihatnya.

__ADS_1


Monita mengusap air matanya.


“Kenapa aku jadi sesedih ini? Padahal dia tidak pernah mencari kami!”


“Kak ada apa?” Tanya Eden yang bingung melihat tingkah aneh kakaknya.


Belum sempat menjawab, David sudah kembali dari toilet bersama Dikta.


Tidak ingin ketahuan Ilham, Monita langsung mengambil Dikta dari dekapan David.


Belum sampai tangannya mendekap Dikta, sebuah lengan memeluknya dari belakang.


“Akhirnya aku menemukanmu, aku temukan kamu Monita, kita bertemu sekarang.”


Monita terhenyak, melihat Ilham memeluk calon istrinya tangan David mengepal.


“Kenapa kamu tega sekali padaku Monita? Kenapa kamu meninggalkan aku?” Ilham memeluk tubuh Monita dengan erat, seakan tak ingin pelukannya lepas.


“Lepaskan aku!” Ujar Monita, ia menggigit bibir bawahnya menahan tangis.


Sedangkan David, ia menatap geram pemandangan yang mengusik hatinya tersebut.


Perasaan Monita campur aduk, akhirnya karena merasa tak tahan, Monita melepas paksa pelukan Ilham, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Ilham.


Ilham yang menyimpan rindu yang begitu dalam kembali memeluk Monita, mereka saling mengungkapkan perasaan yang tak bisa diungkapkan lewat kata, hanya mata mereka yang menjelaskan semuanya.


“Kak!” Sergah Eden yang sontak membuat tautan tubuh mereka terlepas.


Mata Ilham beralih menatap Dikta, ia tampak terkesima.


Manik mata itu, bahkan bibir dan hidung mereka terlihat sangat mirip, takjub campur haru, Ilham langsung berjalan menghampiri Dikta.


Monita panik, tak ingin anaknya direbut Ilham, ia segera mengambil alih Dikta ke dalam dekapannya lalu menjauh dari Ilham.


“Jangan mengusik hidup kami!!”


Mendengar itu Ilham membatu, istrinya menganggap ia mengusik hidup mereka.


Ditambah ia melihat David menyentuh pundak Monita dan bersikap hangat padanya, tidak terima Ilham langsung berteriak.


“Lepaskan tanganmu dari istri saya!” Sentak Ilham seraya mendekati Monita dan menarik paksa lengan wanita itu agar menjauh dari pria yang merupakan rival beratnya sejak dulu.

__ADS_1


“Anda yang harus melepaskan tangan anda dari calon istri saya!” Gertak David tak kalah sengit.


__ADS_2