
Jarum jam sudah mengarah ke angka 04.00 sore, namun Ilham juga tak kunjung pulang, Monita yang sejak tadi hanya rebahan saja di kamar hotel itu mendadak jadi ingin keluar jalan-jalan, maklum orang desa, baru kali ini menginjakkan kaki ke luar negeri, jadi ingin memanfaatkan kesempatan untuk menikmati pemandangan yang ada di kota Bern tersebut, seperti yang dia ketahui, kedatangan mereka ke Swiss bukan untuk jalan-jalan, apalagi untuk bulan madu, tapi untuk mencari Naomi.
Monita mulai mengganti pakaiannya dengan jaket yang sangat tebal karena sedang turun salju, ia memoles wajahnya dengan make up tipis dan rambutnya dibiarkan tergerai.
Setelah selesai bersiap-siap, Monita meraih slingbag di atas nakas lalu berjalan keluar kamar.
Sesampainya di luar hotel, Monita mulai menikmati pemandangan Swiss yang di penuhi dengan banyaknya salju di setiap jalan yang ia tapaki, namun ketika berada sedikit jauh dari hotel, Monita mulai menghentikan langkahnya, ia sangatlah bingung harus ke mana lagi, karena Monita hanyalah turis yang baru pertama kali mendatangi kota Bern, dia tidak tau tempat-tempat wisata yang indah dan unik di kota tersebut.
Tak lama, Monita menemukan adanya street food yang menyediakan beragam makanan ringan yang ada di seberang jalan.
Monita penasaran dan hendak mampir ke street food tersebut, namun begitu dia mulai menyebrang jalan, mendadak langkahnya terhenti saat sebuah mobil sedan berwarna hitam hampir saja menabrak dirinya, Monita refleks berteriak sembari menutup matanya dengan kedua telapak tangan, jantung Monita hampir saja copot, sadar kalau tidak terjadi apa-apa dengan dirinya, Monita perlahan mulai membuka matanya.
“Are you okay?” Tanya seorang pria yang turun dari mobil sedan hitam itu pada Monita.
Mendengar sang pemilik suara bariton yang menghampirinya, Monita segera mengalihkan pandangannya melirik pria tampan yang kini sudah berdiri di depannya, berbeda halnya dengan Monita yang bersikap biasa saja, pria itu justru terpesona saat melihat wajah Monita.
“Cantik sekali.” Gumam pria itu dalam hati sembari mulai menyunggingkan senyumannya, ternyata pria itu juga berasal dari negara yang sama dengan Monita.
Monita pun hanya mengangguk pelan, dengan terus memandangi pria itu dengan seksama, bagaimana tidak, pria ini seperti orang Indonesia.
“Luckily (untunglah).”
“Where are you going? let me take you, (nona mau ke mana? biar saya antar).”
“I just want to go to the street food that is there, (saya hanya mau ke street food yang ada di sana).” Jawab Monita sembari menunjuk street food tersebut.
“I happen to be going there too, then let's go together (kebetulan saya juga mau ke sana, kalau begitu ayo pergi bersama).” Ujar pria itu seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berkenalan dengan Monita.
“Yes come on.” Monita tersenyum lalu hendak melangkahkan kakinya menuju street food tersebut.
“How about going by car?” Pria itu mencoba menawarkan.
__ADS_1
“I want to walk (saya mau jalan kaki).”
“Wait a minute.” Ucap pria itu lalu kembali menghampiri supirnya yang ada di mobil.
“Come on.”
Tanpa menolak lagi, Monita pun segera mengikuti langkah pria asing tersebut menuju street food.
Begitu sampai di street food tersebut, mereka memesan makanan yang bernama Tartiflette yang terbuat dari perpaduan kentang, keju, bacon, karamel dan krim kacang, pada saat sedang asyik makan, pria asing tersebut mulai bertanya.
“What's your name?” Tanya pria itu sembari mengulurkan tangannya ke arah Monita.
“Monita, and you?” Monita membalas uluran tangannya lalu balas menanyakan namanya.
“Beautiful name as beautiful as you, (nama yang cantik secantik dirimu).”
“Hehehe thankyou.”
“I'm David, David Bramantyo.”
“Yes, why?” Tanya pria bernama David itu sembari mengangkat kedua alisnya.
“Like the Indonesian name (seperti nama Indonesia).”
“Hahaha I do come from Indonesia (saya memang berasal dari Indonesia).” Jawab pria itu kemudian tertawa.
Mendengar itu Monita mengerutkan keningnya, lalu kemudian ikut tertawa.
“I'm also Indonesian (saya juga orang indonesia).”
“Apa? Benarkah?” Wajah David seketika dibuat berbinar-binar.
__ADS_1
“Emmm.” Jawab Monita sembari tersenyum sumringah.
“Astaga Monita, saya fikir kamu warga kota Bern ini.”
“Bukan, saya tinggal di hotel dekat sini, saya baru saja sampai beberapa jam lalu.”
“Wajahmu blasteran, saya bahkan tidak tau sama sekali kalau kamu orang Indonesia.”
Mereka pun sama-sama tertawa, Monita mulai menyantap makanannya sedangkan David terus saja menatap Monita dengan kagum, sepertinya pria tampan itu mulai terpikat dengan Monita.
Selesai dari street food, mereka jalan-jalan ke tempat wisata lainnya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, Monita teringat akan Ilham yang mungkin sekarang sudah berada di hotel, Monita pun meminta David untuk segera mengantarnya pulang karena dia takut Ilham akan memarahinya saat mendapati dirinya yang tidak ada di hotel.
David Bramantyo
Sementara Ilham yang sejak 10 menit lalu sudah sampai hotel, mulai kelimpungan mencari-cari Monita, dia meraih ponselnya untuk menghubungi Monita namun nomornya tidak aktif, detik berikutnya Ilham baru ingat, ponsel Monita kan hilang, dia pun kembali menyimpan ponselnya di saku celana dan memutuskan untuk mencari Monita di luar.
Namun begitu Ilham hendak keluar, tiba-tiba handle pintu kamar mereka terbuka bersamaan dengan masuknya Monita ke dalam kamar.
Ilham pun mulai menatap Monita dengan tatapan tajam, matanya seakan ingin keluar dari tempatnya saking marahnya, melihat kilat kemarahan dari mata Ilham membuat Monita beringsut, nyalinya menciut menatap Ilham yang seakan ingin menerkamnya saat itu juga.
“Dari mana saja kamu?” Bentak Ilham berhasil membuat Monita tersentak kaget.
“Aku… aku…” Monita belum selesai bicara, Ilham sudah memotong ucapannya.
“Habis keluyuran?” Tanya Ilham yang kini mulai berjalan mendekati Monita.
Monita hanya diam tak bergeming dengan deru jantung yang seperti maraton, dia sudah pasrah dengan hukuman yang akan Ilham layangkan padanya, karena dalam hal ini, Monita sadar kalau dirinya memang bersalah.
Ilham yang sudah dikuasai amarah karena tak menemukan Naomi di vila mereka semakin tersulut amarahnya saat mengetahui Monita tidak ada saat dirinya baru saja pulang.
__ADS_1
Namun seketika ia tersenyum menyeringai saat mengingat Monita yang gemetaran begitu dia menyuruh Monita untuk membuka bajunya, kini ia tau hukuman apa yang akan dia berikan pada Monita saat ini.
Kini Ilham sudah berada di hadapan Monita, memangkas jarak antara mereka, hembusan nafas Ilham mulai terasa menyapu wajah cantik gadis lugu non polos itu, Monita memejamkan matanya dengan perasaan yang campur aduk, dadanya mulai kembang kempis menahan rasa takut yang kian menerpa.