
Monita mengikuti langkah Ilham masuk ke dalam rumah, pria itu terlihat lebih tenang namun matanya masih menyiratkan amarah di dalamnya.
Monita tersenyum simpul, ia meraih tangan Ilham dan mengusapnya pelan.
“Maaf Mas, aku tadi tidak sempat memberitahu kamu kalau aku pergi ke klinik, aku cuma takut ganggu kegiatan meeting kamu, lagi pula aku bertemu David tadi cuma kebetulan saja, mungkin dia tidak tega melihat aku kedinginan jadi dia membantu meminjamkan jasnya padaku.” Tutur Monita dengan lembut.
Ilham menatap wajah cantik Monita dengan seksama, melihat senyuman wanita itu benar-benar berhasil mengurangi amarah dalam dirinya, Ilham mengusap pipi Monita lalu mencium bibirnya secara tiba-tiba.
Monita melototkan matanya, saat ini mereka ada di ruang tamu, bagaimana jika sampai ada yang memergoki mereka seperti ini.
Monita mendorong dada Ilham agar menjauh.
“Nanti dilihat pelayan Mas.” Ucap Monita pelan.
Ilham terkekeh, ia mengangkat dagu Monita lalu mencium gemas pipi Monita yang memerah.
“Wajahmu merah Monita, kau demam atau gugup?” Tanya Ilham usil.
“Mas berhenti menggoda saya.” Tegur Monita tanpa menatap Ilham dan terus menunduk.
Ilham tak membalas, ia merengkuh pinggang Monita lalu mengajaknya menaiki anak tangga, masuk ke dalam kamar utama bersama Monita.
“Apa ini Mas?” Tanya Monita dengan wajah berseri-seri saat melihat seprai kamar mereka ditaburi dengan bunga mawar merah, bunga kesukaan Monita.
“Indah sekali.”
“Hmm, tapi tidak lebih indah darimu.” Jawab Ilham lalu memeluk tubuh Monita dari belakang.
Monita menahan nafasnya, ia terdiam merasakan pelukan Ilham yang akhir-akhir ini terasa begitu hangat, bahkan perlakuan pria itu berubah dan tak memaksanya lagi.
“Kau tau Monita, aku sangat suka memelukmu seperti ini, tubuh kecilmu ini seakan habis dalam pelukanku.” Celetuk Ilham dengan wajah yang tenggelam di ceruk leher Monita.
Monita menutup matanya, dia menghela nafas lalu mengusap tangan Ilham yang melingkari pinggangnya dengan apik.
“Boleh aku tanyakan sesuatu Mas?” Tanya Monita ragu-ragu.
“Hmmm.” Balas Ilham berdehem karena begitu menikmati kehangatan tubuh Monita.
“Jika aku sudah melahirkan anakmu, apakah kamu akan membuangku?” Tanya Monita mulai mengatur nafasnya yang mulai sesak.
“Monita, aku sedang tidak ingin membahasnya.” Jawab Ilham membuat Monita tersenyum remeh.
__ADS_1
“Mas jawab saja.” Tanya Monita masih terus membahasnya.
“Monita.” Tegur Ilham masih berusaha untuk sabar.
“Aku tau posisiku Mas, bukankah wajar jika aku bertanya…” ucapan Monita terhenti saat Ilham membenturkan tubuh Monita ke dinding.
“Monita! Aku sedang tidak ingin membahasnya, kau harus tau batasanmu!” Gertak Ilham sembari mencengkram kedua sisi bahu Monita dengan kasar.
“Aku sangat tau batasanku, karena itulah aku mempertanyakannya.” Timpal Monita masih berusaha untuk berani.
“MONITA!!!” Bentak Ilham tepat di depan wajah Monita.
Monita memejamkan matanya, perutnya tiba-tiba terasa nyeri, Monita berusaha melepas cengkraman tangan Ilham namun sangat sulit.
“Sssshhh, Mas… sakit.” Ringis Monita merasakan sakit di perut dan bahunya.
Melihat wajah kesakitan Monita membuat Ilham ikut merasakannya, ia melepaskan cengkramannya lalu memeluk Monita dengan erat.
“Aku mohon jangan mempermainkan emosiku Monita! Sudah aku katakan berulang kali, aku tidak akan melepaskanmu.” Bisik Ilham tepat di telinga Monita yang hanya diam dengan mata terpejam.
“Mas!”
“Hmm.” Jawab Ilham mengangkat dagu wanitanya itu lalu menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.
Nafas Ilham berubah memburu, untuk kesekian kalinya Monita meminta pergi darinya, dan hal itu paling dibenci oleh Ilham.
“Monita! Kesabaranku sudah habis, kau tak henti-hentinya meminta pergi, apa kau tidak sadar diri ha?!” Bentak Ilham lagi.
“Kenapa kau selalu meminta untuk pergi? Apa kau sudah tidak sabar ingin mencari pria lain lalu menggoda mereka agar mau memberimu uang begitu? Kau ingin merayu mereka dengan tubuhmu, seperti yang kau lakukan padaku kan!” Ucap Ilham dengan ucapan yang begitu menusuk.
“Mas!!” Tegur Monita mengangkat wajahnya.
Monita menatap wajah Ilham dengan berani, dia sudah tidak peduli dengan rasa sakit di hati dan perutnya.
“Sudah cukup kau menghinaku Ilham Adhitama! Aku tidak melakukan apapun untukmu, kau yang memaksaku, kau bahkan memperkosaku di awal pertama kita melakukannya!” Teriak Monita dengan mata menyiratkan amarah.
Monita maju selangkah mendekati Ilham, ia tetap menatap pria itu dengan tajam.
“Jika saja malam itu kau tidak melecehkanku, aku tidak akan kehilangan mahkota paling berharga dalam hidupku, sekarang apa lagi yang harus aku harapkan? Aku wanita yang kotor, kesucianku sudah hilang, lalu aku tidak punya masa depan entah itu dalam hal pernikahan atau dalam hal cita-cita.” Lanjut Monita dengan begitu berani.
“Monita!!” Bentak Ilham lalu kembali mencengkram bahu Monita dengan kasar, Ilham mengetatkan rahangnya.
__ADS_1
“Mungkin aku terlalu bersikap baik padamu sehingga kau kurang ajar Monita, sekarang biarkan aku menunjukkan di mana posisimu nona Monita Maheswari!” Tukas Ilham lalu mendorong tubuh Monita ke atas ranjang.
“Kau selalu saja memaksaku seperti ini Mas, kenapa kau selalu meniduriku secara paksa!”
Ilham tak menggubris ucapan Monita, ia ikut naik ke atas ranjang hingga posisinya menindih tubuh Monita hingga perut wanita itu terasa sakit karena menahan bobot Ilham.
“Jangan Mas!” Lirih Monita terisak.
Monita semakin merasakan sakit di perutnya, ia dengan sekuat tenaga mendorong Ilham dan berhasil.
Monita bangkit dari tempat tidur dan hendak keluar, namun tiba-tiba sakit di perutnya kian bertambah, Monita meremas pakaiannya lalu merasakan sesuatu mengalir di kakinya.
Monita menunduk melihat sesuatu yang terasa mengalir, ia semakin menangis melihat darah yang keluar membasahi lantai kamar itu.
“M-monita!” Panggil Ilham dengan suara terbata.
“Hiks hiks hiks… tidak, anakku pasti baik-baik saja!” Teriak Monita perlahan merosot dan memegangi perutnya yang semakin terasa nyeri.
Ilham mendekati Monita, ia memegang kedua sisi bahu wanita itu.
“Apa maksudmu? Apa maksudnya ini Monita?” Tanya Ilham dengan suara berat.
“Hiks… jangan tinggalkan mama nak.” Bukannya menjawab Monita terus menangis sambil mengusap perutnya yang kian terasa sakit.
“Monita, darahnya semakin banyak, kita ke rumah sakit sekarang!” Ucap Ilham lalu menggendong tubuh Monita ala bridal style dan membawanya keluar dari kamar.
Di sebuah rumah…
“Bu, ibu kenapa?” Tanya seorang wanita remaja saat melihat ibunya yang teriris pisau karena sedang mengiris bawang.
“Eden sudah bilang, jangan bekerja dulu, ibu kan belum benar-benar pulih.” Tambah wanita yang tak lain adalah Eden adik Monita.
“Ibu bosan duduk saja nak.” Jawab bu Rahayu.
Eden menggiring langkah ibunya menuju kamar, begitu sampai kamar, Eden mendudukan ibunya di tepi ranjang.
“Ibu tiba-tiba teringat kakak kamu, bagaimana kabarnya sekarang ya?”
“Kabarnya baik bu, 3 hari lalu Eden baru telponan sama kak Monita, ponselnya hilang di jambret orang, jadi dia tidak bisa sering-sering mengabari kita.”
“Syukurlah nak, ibu jadi lega, ibu merindukannya.”
__ADS_1
“Nanti malam, Eden akan coba hubungi kakak ya bu, sekarang ibu istirahat lah dulu.”
Bu Rahayu mengangguk patuh lalu kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menyelimuti dirinya sendiri.