Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 96 Keputusan


__ADS_3

Ilham baru selesai mandi setelah baru habis mengarungi lautan kenikamtan bersama sang istri. Masih dalam keadaan handuk yang melingkar di pinggang dan tubuh yang sengaja tidak dikeringkan membuat Monita terkesima dengan pesona suaminya. Tubuh atletisnya bahkan perut kotak-kotak itu masih ada walau sudah kurang atletis akibat turunnya berat badan secara signifikan yang ia alami.


Dengan kembalinya Monita yang bersedia merawatnya dengan penuh cinta, membuat Ilham tak butuh waktu lama untuk mengembalikan tubuh proporsionalnya itu.


“Kenapa menatapku seperti itu?” Tanya Ilham kala melihat istrinya termangu memandanginya.


“Tidak.” Jawab Monita segera mengubah ekspersinya dan sontak memalingkan wajah.


Ilham menarik sudut bibirnya kala melihat ekspresi menggemaskan istrinya, dia pun segera menghampiri sang istri dan duduk di sebelahnya.


“Mas, pakai baju sana.” Tegur Monita melihat suaminya yang masih saja betah duduk di sampingnya dalam keadaan bertelanjang dada.


“Cium dulu.” Ujar Ilham seraya menunjuk bibirnya.


Monita memutar bola matanya malas, dia sangat hafal dengan modus suaminya ini. Kalau sudah dicium tidak mungkin dia akan melepaskan Monita begitu saja, dia pasti akan meminta lebih.


“Aduh mas, jangan modus deh, nanti kalau Monita cium, yang ada mas akan meminta lebih. Monita lelah mas.” Keluh Monita seraya mendorong pelan dada bidang suaminya.


“Tapi kan…” ucapan Ilham terhenti kala dering ponselnya berbunyi.

__ADS_1


“Siapa sih yang telepon? Ganggu saja.” Gerutu Ilham tanpa melihat si penelepon.


“Apa?!”


“Ilham? Bisa tidak jawabnya biasa saja?”


Deeggg


Suara tak asing itu, nafas Ilham terhenti sejenak kala mendengarnya. Ia pun melihat nama “Mama” yang tertera di layar ponsel itu. Ia menelan salivanya yang terasa pekat, ternyata yang menelepon adalah mama Nancy. Jantung Ilham berdegub kencang, seakan ingin loncat dari tempatnya.


“M-mama?”


“Ke-kejadian apa ma?” Tanya Ilham tampak gelagapan.


“Ada seseorang dengan pakaian serba hitam menyelinap masuk ke rumahmu tengah malam. Dan anehnya istrimu tidak tau sama sekali, bi’ Ratih dia buat pingsan, bahkan cctv kamar utama rusak tiba-tiba.” Jelas Nancy yang ditujukan untuk menyindir Naomi.


“Apa? Bagaimana bisa?” Ilham beranjak dari duduknya saking terkejutnya.


“Dan ada satu hal lagi yang akan mama tanyakan padamu?”

__ADS_1


“Apa ma?”


“Apa kamu turut andil atas kebohongan yang Naomi lakukan?”


Deegg


Bencana tidak harus gempa bumi atau tsunami, tapi juga terkuaknya fakta kebohongan dirinya dan Naomi soal kehamilan pura-pura itu juga merupakan bencana besar bagi Ilham.


“Ilham? Kenapa diam? Jawab mama!!” Bentak Nancy dengan suara yang menggelegar, Ilham bahkan sampai menjauhkan ponselnya dari telinga karena saking melengkingnya.


Ilham memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Pria itu tidak mau membohongi orang tuanya terlalu lama, karena sejak awal dia juga tidak setuju dengan sandiwara yang akan Naomi jalankan itu. Karena pada akhirnya, sandiwara itu akan mengantarkannya pada lubang dusta yang terlalu dalam.


“Iya ma, Ilham turut andil dalam kebohongan itu.”


“Apa?! Jadi benar Ilham? Kamu juga turut andil? Keterlaluan! Mama dan papa kecewa pada kalian, berani-beraninya kalian merusak kepercayaan mama dan papa! Pulang kamu sekarang juga Ilham, mama tunggu kamu di rumahmu.” Titah Nancy dengan amarah yang sulit dibendung. Dadanya naik turun akibat emosi yang meluap-luap. Anak kebanggaannya tega membohonginya, orang tua mana yang terima?


“Baik ma.” Jawab Ilham singkat lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Dia menatap lurus ke depan dengan menatap yakin akan keputusannya ini, dia akan menghadapinya, terserah nantinya Naomi akan menganggapnya apa, kecewa atau sebagainya. Dia sudah terlalu muak dengan semua ini, menjalani sandiwara yang dijalankan sang istri pertama.

__ADS_1


“Monita! Siap-siap sekarang, kita temui mama, bawa Dikta juga.” Ujar Ilham dengan tatapan yang luar biasa tajam, tatapan yang membuat Monita ciut seketika, benar-benar dingin namun tak memudarkan ketampanan seorang Ilham Adhitama.


__ADS_2