Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 51 Di Bawah Taburan Bintang


__ADS_3

Kantor Utama Anugrahjaya…


“Haah sampai kapan dokumen-dokumen itu terus menumpuk?” Keluh Ilham di ruangan kerjanya.


Tak lama kemudian Andre mengetuk pintu, ia pun dipersilahkan masuk oleh Ilham.


“Maaf tuan, setelah ini anda ada jadwal meeting dengan tuan David Bramantyo, beliau sudah sampai di kantor kita dan sedang menunggu di lobi.” Andre memberitahukan jadwal kegiatan Ilham.


“Baiklah, aku akan menemui mereka sekarang.”


Mereka pun keluar dari ruangan Ilham menuju ruang meeting yang tak jauh dari ruangan pribadi Ilham.


“Mari tuan, mereka duduk di sebelah sana.” Ucap Andre begitu mereka sudah memasuki ruangan meeting.


Ilham berjalan dengan memasukkan salah satu tangannya di saku depan celananya, ia berjalan bagaikan model yang sedang memperagakan busana di catwalk, aura dingin menyelimuti raut wajah Ilham, ia pun sudah berada di hadapan David.


“Selamat sore tuan Ilham, senang rasanya bisa bertemu denganmu kembali.” Sapa David sambil berdiri.


“Sore juga David, ya kita memang sudah lama tidak bertemu, padahal proyek kita sudah lama berjalan.” Jawab Ilham seadanya.


“Anda benar, mari kita langsung saja ke intinya.” Saran David.


Di ruangan tersebut hanya ada 4 orang saja, Ilham dengan Andre, David dengan asistennya, mereka membahas hal yang akan dilakukan untuk memperluas lahan yang akan dibuat panti asuhan.


Kesepakatan pun terjalin, David langsung pamit pada Ilham kemudian meninggalkan perusahaan Ilham, setelah David pergi Ilham langsung mengendurkan ikatan dasinya.


“Berani sekali dia menanyakan kabar istriku langsung di depanku.” Teriak Ilham tampak emosi, bagaimana tidak, sebelum David pergi dia sempat menanyakan kabar Monita padanya, namun Ilham tidak menjawabnya, ia hanya menatap dingin ke arah David.


“Sepertinya tuan David tau kalau Nyonya Naomi sudah kembali, jadi dia sengaja menanyakan kabar nona Monita pada tuan muda, sebaiknya tuan Ilham harus bisa menjaga nona Monita dengan baik, agar David tidak akan lagi mendekati nona Monita.”


“Kau urus saja semuanya sebelum pulang, aku lelah, aku akan pulang cepat hari ini, aku percayakan saja semuanya padamu.” Pesan Ilham.


“Baik tuan.” Jawab Andre lalu menundukkan kepalanya sejenak.


“Baguslah.” Ucap Ilham sambil berjalan keluar dari ruangan meeting, ia berjalan menuju basemen lalu menjalankan mobilnya keluar dari pintu gerbang perusahaan.


Sepanjang jalan, Ilham terus memikirkan Monita, semenjak Naomi dan Monita tinggal satu atap, pikirannya jadi kacau, ternyata punya istri dua tidak seindah yang dibayangkan, yang ada malah repot jadinya, tapi Ilham sudah terjebak dengan perasaannya sendiri, dia tidak bisa meninggalkan keduanya.


“Sepertinya, aku harus menemui Monita diam-diam, aku sangat merindukan istri kecilku itu.” Gumam Ilham dalam hati.


Semenjak kedatangan Naomi, Ilham jadi tidak leluasa untuk bermesraan dengan Monita lagi, mereka tinggal serumah, tapi seperti sedang LDR saja.

__ADS_1


Semalam Ilham tidak tidur dengan kedua istrinya itu, ia memilih tidur di ruang TV, dan hal itu tentu saja tidak luput dari perhatian Naomi, padahal Monita sudah hamil, kenapa Ilham seolah-olah menjaga perasaan Monita dan tidak ingin tidur bersama Naomi, itulah yang ada di pikiran Naomi.


Semenjak Monita hamil, Naomi seperti menguasai Ilham agar dia tidak tidur seranjang dengan Monita, meski pun Monita adalah istrinya, Naomi tidak rela, pikirnya, begitu Monita hamil, mereka sudah tidak boleh tidur bersama lagi apalagi sampai melakukan hubungan ranjang, karena itu akan membuat Naomi sakit hati dan kecewa.


Sesampainya di rumah, yang ia butuhkan hanya satu yaitu Monita, Monita seakan menjadi daya tarik tersendiri untuk mengisi energi pada tubuh Ilham, ingin sekali Ilham berhubungan suami istri dengan Monita, namun ia harus mencari cara dimana tepatnya mereka melakukan itu, karena ada Naomi jadi mereka harus melakukannya sembunyi-sembunyi.


Namun begitu mobilnya terparkir sempurna di depan pekarangan rumahnya, Ilham mengerutkan kening melihat mobil ayahnya yang juga terparkir di depan rumahnya.


“Papa?”


Ilham pun memutuskan untuk memastikannya sendiri di dalam rumah.


Begitu sampai di dalam ruang keluarga, Ilham dikejutkan dengan keberadaan orang tuanya yang kala itu tengah duduk bersenda gurau dengan Naomi.


“Ma, Pa…” sapa Ilham menghampiri mereka.


“Ilham, ayo sini duduk duduk..” ucap mamanya menepuk kursi yang ada di sampingnya.


Ilham pun mendudukkan dirinya dan melirik kesana kemari untuk mencari keberadaan Monita.


Namun yang dicari-cari tak kunjung datang, Ilham tidak menemukan adanya Monita di rumah.


Dua jam sudah Nancy dan Agam berada di rumah Ilham, akhirnya mereka puas berbincang-bincang dengan Naomi, sekali-sekali Nancy memanjakan menantunya itu dengan menyuapinya lalu mengurut kaki Naomi lalu mengoleskan minyak kayu putih di kakinya.


Malam harinya…


Tepat di bawah taburan bintang-bintang, Monita duduk termenung di taman belakang rumah, Monita begitu merindukan ibunya, bahkan saking rindunya dia sampai meneteskan air mata.


“Ibu, aku benar-benar tidak tau lagi harus bagaimana, aku sudah terlanjur terjebak dalam situasi ini, untuk saat ini, aku benar-benar merindukan ibu.” Gumam Monita dalam hati.


“Pantas saja Mas Ilham seperti menghindariku, ternyata dia sedang sibuk bersama Mbak Naomi.” Lirih Monita lalu mengusap air matanya, namun lagi-lagi air mata itu terus saja keluar dari pelupuk matanya.


Tadi siang, Monita sengaja tidak keluar dari kamarnya begitu tau, kedua orang tua Ilham ada di ruang keluarga sembari berbincang dengan Naomi.


Monita juga melihat semua perlakuan lembut Nancy terhadap Naomi, sebelumnya Naomi sudah memberitahukan pada Monita, apabila di depan ibunya, Naomi akan pura-pura hamil dan mau tidak mau Monita pun mengangguk setuju serta ikut menjalankan sandiwara ini.


Sedangkan di dalam kamarnya, begitu Naomi terlelap, Ilham berjalan mengendap-endap agar tak di dengan Naomi.


Ilham membuka pintu kamarnya dengan begitu pelan hingga nyaris tak bersuara, lalu keluar dari kamar mereka, ia terus berjalan menuruni anak tangga, mencari keberadaan Monita yang sejak tadi tidak dilihatnya.


Ilham terus menapakkan kakinya menuju dapur, ruang makan, ruang keluarga serta ruang tamu, namun ia tidak menemukan adanya Monita di sana, akhirnya ia mengayunkan kakinya menuju taman belakang, dan benar saja, Monita sedang duduk sendirian di sana dengan posisi membelakangi Ilham.

__ADS_1


Begitu melihat Monita, Ilham tersenyum sumringah, istri kecilnya ada di taman rupanya, Ilham pun berjalan gontai menghampiri Monita dan tanpa aba-aba, Ilham menutup mata gadis muda itu.


“Siapa?” Tanya Monita yang sedikit tersentak, ia meraba-raba punggung tangan seseorang yang menutup matanya itu.


“Mas Ilham.” Mendengar itu Ilham melepaskan tangannya dari mata Monita lalu mendengus sebal.


“Kau sudah tau rupanya.” Ucap Ilham sembari mendudukkan dirinya di samping istri mungilnya itu.


“Jangan kau pikir kau bisa bersembunyi dariku Mas, aku tau harum tubuhmu.”


“Benarkah itu?” Tanya Ilham menatap Monita dengan lekat.


Semenjak kepulangan Naomi, Ilham sudah tidak pernah tersenyum selepas ini ketika sedang bersama Naomi, entah karena perasaannya sudah memudar dan dominan pada Monita, entahlah, hanya Ilham dan Author yang tau.


“Sayang, kau menangis?” Tanya Ilham begitu menatap manik mata Monita yang tampak sembab.


“Kenapa?” Tanya Ilham lagi.


“Aku… aku hanya merindukan ibu dan…” Monita menggantung kalimatnya.


“Dan apa?”


“Sayang, aku ada di sini untuk menghiburmu, kamu jangan merasa kesepian lagi, karena sebisa mungkin, aku akan selalu mencuri kesempatan agar bisa bertemu denganmu seperti ini.”


“Itu artinya kamu sembunyi-sembunyi dari Mbak Naomi kan Mas?” Ilham mengerutkan dahi dan tampak kesal dengan ucapan Monita barusan.


Melihat Ilham yang tak merespon ucapannya, Monita pun menundukkan kepalanya, namun dengan lembut Ilham kembali mengangkat dagu Monita, membuat wajah mereka kembali berhadapan dan kedua mata mereka pun saling beradu pandang.


Lalu tanpa berkata apapun lagi, Ilham mencium bibir Monita tanpa permisi, Monita mendelikkan matanya, rupanya ia sangat terkejut dan takut jika Naomi melihatnya, dengan cepat ia menolak tubuh Ilham, namun sayangnya saat itu Ilham begitu kuat menahan tubuh Monita, Ilham merespon ucapan Monita tadi dengan tindakan ini.


Bahkan saat itu, Ilham terkesan ingin memaksakan ciuman itu, ia terus mel*mat bibir Monita, meski Monita terus mencoba menghindar namun Ilham seolah tak mempedulikan itu.


Tanpa ampun, ia terus membasahi bibir Monita, melu*atnya dengan penuh gairah, dengan kedua tangannya yang terus menahan kepala Monita agar tidak menghindar lagi.


Kini Monita seperti kehabisan tenaga untuk melakukan perlawanan dan semuanya seakan sia-sia karena tenaga yang dimiliki Ilham tidak sebanding dengannya.


Monita pun akhirnya jengah, seolah pasrah bibirnya menjadi santapan bibir Ilham yang saat itu terlihat begitu rakus melu*ati bibirnya.


Hingga akhirnya perlahan tapi pasti, Monita mulai terbuai, ia mulai menikmati setiap gerakan bibir yang Ilham lakukan pada bibirnya.


Kini mata Monita pun mulai terpejam, kedua tangannya yang sejak tadi terus bergerak ingin memberontak, kini perlahan mulai meremas baju Ilham, dan bibirnya yang sejak tadi ia tutup rapat, perlahan mulai ia buka, seakan membiarkan lidah Ilham mulai menjelajahi lebih dalam rongga mulutnya.

__ADS_1


Deru nafas keduanya saling memburu, degup jantung juga seolah saling bersahut-sahutan dan tak lagi berirama.


__ADS_2