Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 47 Perasaan Sensitif


__ADS_3

“Sekarang, ceritakan kemana kamu pergi selama ini? Aku sudah sampai ke Swiss mencarimu, tapi ternyata kau tidak ada di sana.” Ucap Ilham begitu mereka terbaring di ranjang dengan kepala Naomi yang ia sandarkan di dada bidang Ilham.


“Apa? Jadi Mas mencariku sampai ke Swiss?” Tanya Naomi mendongakkan kepala saking terkejutnya.


“Iya, aku mencarimu sampai ke vila kita yang di sana, tapi kau tidak ada di sana, ada apa sebenarnya denganmu Naomi? Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa seizinku?” Protes Ilham pada istri pertamanya itu.


“Sebenarnya aku bukan ke Swiss sayang, tapi ke Paris, maafkan aku, aku sengaja tidak memberitahukan keberadaanku yang sebenarnya padamu karena aku tau kamu pasti akan menyusulku kemana pun aku pergi, aku hanya ingin rencana kita berjalan lancar, mungkin jika ada aku, kamu tidak akan berani meniduri Monita, jadi lebih baik aku pergi saja, agar kau dan Monita bisa punya waktu berdua.” Jelas Naomi sembari mengelus dada suaminya.


“Tapi tetap saja, kau sudah berhasil membuatku khawatir Naomi, kau tau sendiri kan, aku tidak bisa lama-lama jauh darimu, tapi kau malah meninggalkan aku begitu lama.”


“Maaf sayang, aku benar-benar minta maaf, tolong maafkan aku.” Ucap Naomi dengan nada manja sembari memeluk erat tubuh Ilham.


“Lalu, kamu dari mana Mas? Kamu habis lembur?”


Ilham terdiam sejenak, ia menghela nafas dalam lalu mulai menceritakan semua yang menimpah ibu Monita tadi pagi, ia pun secara gamblang menceritakan pada Naomi siapa pelaku tabrak lari itu, mendengar itu Naomi sontak membulatkan matanya dengan sempurna, bahkan saking terkejutnya, mulutnya menganga lebar.


“Apa? Ja… jadi Re… Rendy pelakunya?” Tanya Naomi tampak gelagapan.


“Iya, bahkan aku tidak menyangka jika Rendy bisa setega itu melakukan hal keji kepada orang lain, dulu aku mengenal Rendy sebagai orang yang begitu baik, tapi ternyata aku salah menilainya.”


Naomi pun terdiam, ia tampak memikirkan sesuatu, Naomi sama terkejutnya dengan Ilham atas apa yang Rendy lakukan pada Monita, benar-benar di luar dugaannya.


“Besok aku akan ke rumah Rendy, aku akan memberi dia pelajaran!!” Ujar Ilham dengan nada serius.


“Mas serius?” Tanya Naomi bangkit dari tidurnya dengan posisi miring menggunakan siku yang menopang tubuhnya.


“Iya, kenapa? Kau mengizinkan aku kan? Naomi, aku harus memberikan pelajaran untuk orang yang sudah berani melakukan tindak kejahatan pada Monita, itu aku lakukan agar Rendy mengalami efek jera, orang jahat seperti itu tidak boleh dibiarkan, jika dibiarkan dia akan semakin merajalela.” Manik mata Ilham menatap serius istrinya.


“Ta.. tapi Mas, ak… aku…”


“Kenapa?” Tanya Ilham memotong ucapan Naomi.


“Aku hanya khawatir padamu.”

__ADS_1


“Kamu tenang saja, aku ke sana bersama anak buahku, jangan khawatir.”


“Mas sebentar ya, aku ke dapur dulu tiba-tiba saja aku haus tenggorokkan ku terasa kering.”


“Iya baiklah, cepatlah kemari, aku akan menyampaikan satu kabar gembira padamu.”


“Kabar gembira apa Mas?” Tanya Naomi tampak penasaran.


“Nanti saja, kalau kamu sudah kembali dari dapur.”


“Hmmm baiklah, begitu aku datang lagi, kamu harus menceritakan kabar gembira itu padaku, janji.” Ucap Naomi bangun dari tidurnya sembari menunjukkan jari kelingkingnya.


“Iya janji.” Jawab Ilham melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Naomi.


Sisi Lain Rumah Monita…


“Ibuuuuu!!!” Teriak Eden terbangun dari tidurnya secara tiba-tiba dengan nafas terengah-engah, keringat di dahinya sudah bercucuran.


“Den, ada apa?” Tanya Monita dengan mata yang begitu sayu, ia tersentak dari tidurnya yang begitu lelap karena mendengar suara teriakan Eden, tak hanya Monita Ija pun juga ikut bangun dari tidurnya.


“Den, sudah sudah itu hanya mimpi, lagipula kakak yakin, ibu pasti sudah tenang di sana, sudah ya jangan menangis lagi, kalau kamu menangis ibu juga pasti akan sedih.” Ujar Monita sembari meraih tangan Eden lalu memeluknya.


Tangisan Eden pun mereda begitu mendengar ucapan Monita, ia membalas pelukan hangat Monita, rasanya pelukan Monita seperti pelukan ibunya, teduh dan menenangkan.


“Iya kak Eden, kak Eden tidak akan hidup sendirian di dunia ini, masih ada kami yang akan menemani kakak, Ija juga ingin menjadi teman kakak.” Ucap Ija sembari mengusap punggung Eden.


“Terima kasih ya Ja, terima kasih kak.” Ucap Eden menatap Ija dan Monita secara bergantian, dengan mata sembabnya.


“Iya kak sama-sama.”


“Ya sudah, kamu tidur ya sekarang.” Monita pun merebahkan tubuh Eden kembali di ranjang, lalu menyelimutinya sampai sebatas dada.


Monita mengelus lembut rambut Eden hingga tak lama kemudian, mata gadis belia itu terpejam akibat elusan yang diberikan Monita pada rambutnya.

__ADS_1


Jam sudah menunjuk ke angka 01.30 dini hari, namun mata Monita sulit untuk terpejam semenjak dia tersentak dari tidur lelapnya tadi karena suara teriakan Eden yang begitu melengking, disamping itu dia juga teringat Ilham, tak lama kemudian dia meraih ponselnya di bawah bantal dan melihat pesan masuk dari Ilham namun nihil, Ilham tak mengiriminya pesan apapun.


“Sudah sampai?” Tanya Monita berinisiatif mengirim pesan via whatsapp untuk Ilham.


Namun sampai 20 menit kemudian, tak ada balasan pesan dari Ilham padahal status whatsapp nya saat ini sedang online.


“Online tapi tidak dibalas?” Gumam Monita dengan dahi mengkerut.


Monita pun sudah tidak bisa tidur lagi, dia sedikit gusar karena Ilham tidak membalas pesannya, hingga membuatnya sulit untuk kembali tidur.


“Ada apa dengannya? Kenapa dia tidak membalas pesanku?” Monita bertanya-tanya dalam hati.


“Mungkin dia kelelahan dan sudah tertidur, tapi, kenapa whatsapp nya online?”


Monita pun akhirnya menepis pikiran-pikiran buruk dalam benaknya, lalu mencoba memejamkan mata untuk mengundang tidur namun tetap sulit, akhirnya Monita melangkah menuju dapur untuk membuat teh hangat.


Dia duduk di dapur dan mulai meneteskan air mata, perasaannya berkecamuk antara merindukan ibunya dan memikirkan sikap Ilham yang mengabaikannya, bagaimanapun di saat-saat seperti ini dia begitu membutuhkan sosok Ilham untuk menghiburnya, meskipun hanya lewat pesan, tapi apalah daya, Ilham tidak membalas pesannya, semenjak hamil, perasaan Monita jadi semakin sensitif, akhir-akhir ini dia gampang menangis dan gampang sakit hati.


Ternyata ponsel Ilham ada di tangan Naomi, begitu kembali dari dapur, Ilham sedang berada di toilet, bertepatan saat Naomi masuk kamar notifikasi whatsapp di ponsel Ilham berbunyi, Naomi pun membukanya dan melihat whatsapp dari Monita, namun Naomi memilih untuk mengabaikannya.


Begitu Ilham keluar dari toilet, Naomi bergegas meletakkan kembali ponsel Ilham di tempat semula tepatnya di atas nakas.


“Mas.” Sapa Naomi dengan menunjukkan senyum termanisnya, dan langsung menggandeng tangan Ilham dan mendudukkannya di tepi ranjang.


“Sekarang, coba kamu katakan, kabar gembira apa yang akan kamu sampaikan padaku?” Tanya Naomi dengan raut wajah penasaran dan berseri-seri.


“Rencana kita berhasil, Monita hamil dua bulan.”


“Apa? Kamu serius Mas?” Tanya Naomi dengan binar di wajahnya.


“Apakah wajahku ini terlihat berbohong?” Tanya Ilham sembari sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Naomi dan menunjuk wajahnya sendiri.


“Syukurlah Mas, akhirnya… kita bisa punya anak juga.” Celetuk Naomi lalu memeluk erat tubuh Ilham dengan begitu hangatnya.

__ADS_1


Ilham pun membalas pelukan Naomi dengan ragu-ragu, saat ini yang ada di mata dan pikirannya hanyalah wajah Monita, dia begitu merindukan istri keduanya itu, ingin rasanya ia menghubungi Monita dan bertanya apakah ia tidur nyenyak malam ini? Namun dia tidak punya keberanian karena harus menjaga perasaan istri pertama yang kini sedang berada di sampingnya.


Akhirnya, dengan terpaksa Ilham menahan rasa rindunya itu, dan berniat untuk menghubungi Monita besok hari, mungkin dia sudah tertidur pikir Ilham, ia benar-benar tidak tau, malam ini Monita sedang menunggu kabar darinya, dengan perasaan gundah.


__ADS_2