
Seperti biasa, Monita sudah bangun pagi-pagi sekali untuk menyiapkan sarapan pagi, hatinya begitu bahagia karena mendengar pengakuan cinta Ilham semalam, dia pun memasak sembari bersenandung ria.
Setelah sarapan selesai dimasak, Monita sudah menghidangkan berbagai jenis makanan itu di atas meja.
Tak lama Ilham turun menuju meja makan dimana Monita sudah menunggu dirinya untuk makan, seperti biasa mereka hanya makan berdua saja dan Monita yang selalu mengambilkan makanan untuk suaminya itu.
“Monita, maaf tindakanku semalam sudah keterlaluan.” Celetuk Ilham tanpa menatap Monita namun tetap mengunyah makanannya.
Monita tak menjawab apa pun, ia hanya diam sambil berusaha mencerna makanan yang tiba-tiba membuat perutnya seperti dikocok.
“Aku….” Ucapan Ilham terhenti saat Monita beranjak dari duduknya dan langsung berlari ke wastafel.
Monita menundukkan kepalanya, ia memuntahkan cairan bening dan sedikit makanan yang mungkin saja baru dicerna olehnya.
Ilham yang melihat itu langsung mendekat, ia mengusap tengkuk Monita yang masih belum berhenti muntah-muntah.
“Monita, kamu sakit? Kita ke rumah sakit ya.” Ucap Ilham tampak khawatir.
Monita mencuci mulutnya, ia menggelengkan kepalanya.
“Tidak perlu Mas, aku baik-baik saja, maaf sudah membuat sarapan Mas kacau.” Tolak Monita.
“Tidak apa-apa, ya sudah kita berangkat saja, ayo!” Ajak Ilham menggandeng tangan Monita.
“Tidak perlu Mas, Monita tidak apa-apa, Monita cuma butuh istirahat saja, paling juga begitu bangun langsung sehat lagi.”
“Ya sudah, aku antar ya, bi’ Ratih, bi.” Ilham berteriak memanggil bi Ratih, salah satu pelayan kepercayaan keluarga Adhitama dari dulu.
“Ya tuan muda.”
“Nona Monita sedang sakit, dan pagi ini saya ada meeting penting, jadi bi Ratih bantu jaga Monita ya, nanti selesai meeting saya akan segera pulang.”
“Baik tuan.” Jawab bi Ratih membungkukkan badannya.
Ilham menggandeng tangan Monita sampai kamar, begitu masuk, Ilham membaringkan tubuh mungil istri keduanya itu, lalu menyelimuti dirinya dengan kain sampai sebatas dada.
“Kamu istirahat ya, aku janji akan cepat pulang begitu meeting selesai.” Ucap Ilham sembari mengusap lembut ujung kepala Monita.
__ADS_1
“Iya Mas.”
“Kalau butuh apa-apa, panggil bi Ratih ya.”
Monita pun mengangguk, lantas Ilham mengecup keningnya dengan lembut kemudian berlalu meninggalkan Monita di kamar.
Monita begitu terkesima dengan kelembutan Ilham padanya, semakin ke sini Ilham semakin lembut saja padanya, sudah hampir masuk bulan kedua perpernikahan mereka, Ilham mulai menunjukkan sikap lembutnya pada Monita.
Kantor Utama Anugrahjaya…
Ilham menatap pamandangan dari ruangannya yang berada di lantai 15, jika dilihat dari sana, mobil yang berlalu lalang dari sana terlihat begitu kecil.
Dengan sebelah tangan berada di saku celana dan tangan lainnya menopang berat badan pada kaca besar di sana.
Pikiran Ilham sedang kalut, tiba-tiba saja dia teringat Naomi, istri pertama yang sudah lebih dulu mengisi hari-harinya dengan penuh warna.
Dia sangat merindukan Naomi, tapi dia juga sudah mencintai Monita, kepalanya benar-benar pusing memikirkan kedua wanita itu, secara sadar Ilham sudah tau kalau dia tidak bisa hidup tanpa kedua istrinya itu.
Naomi dan Monita sama-sama sudah menempati hatinya, tak bisa dipungkiri kalau saat ini hati Ilham sudah bercabang dua.
Sedangkan Monita masih terus muntah-muntah, kini sedang berada di toilet, Monita kembali memuntahkan cairan bening, ia memijit pelipisnya lalu bersandar di pojok toilet.
Monita mengusap ujung bibirnya, ia segera keluar dari toilet, menyambar tasnya menuju klinik kesehatan, ia akan meminta bantuan dokter untuk memeriksa kondisinya saat ini.
Begitu sampai klinik kecantikan, Monita dialihkan ke bagian kandungan, jantungnya semakin berdetak tak menentu saat suster menunjuknya ke bagian poli kandungan.
Monita menggigit bibirnya saat dokter tengah memeriksa keadaannya.
“Selamat Nyonya, anda positif hamil dan saat ini usia kandungannya memasuki bulan kedua.” Ucap dokter seketika membuat Monita terperanjat.
“S-saya hamil dok?” Tanya Monita sembari menunduk menatap perutnya yang masih rata.
“Benar Nyonya, mohon dijaga kandungannya ya, jangan bekerja yang berat-berat.” Tutur dokter lalu memberikan resep vitamin untuk Monita.
“Tapi dok, saya kan baru dua kali ini melakukannya, apa mungkin saya benar hamil?” Tanya Monita sangsi, karena seingatnya mereka baru dua kali melakukan hubungan suami istri.
“Itu bisa saja terjadi apalagi jika dilakukan di saat masa subur Nyonya.”
__ADS_1
“Baiklah dok, saya permisi.” Pamit Monita kemudian segera berlalu dari ruangan dokter.
Monita berjalan dengan gontai melewati lorong demi lorong, dia sudah berhasil mengandung anak Ilham, sejenak rasa tidak rela menyelusup masuk ke dalam hatinya dan sangat mengganggu pikirannya, bayangan Naomi dan Ilham mengambil anaknya lalu mencampakkan dia begitu saja mulai bersarang dalam benaknya.
Bagaimana tidak, anak yang baru seumur jagung itu sudah berhasil merebut hatinya, namun dia tidak boleh egois, dia sudah menandatangani kontrak untuk memberikan anaknya kepada dua pasangan suami istri itu.
“Apa yang harus aku lakukan Tuhan?” Monita menitikan air mata sembari mengusap lembut perut yang kini sudah terisi malaikat kecil yang sudah menarik hatinya.
“Baiklah aku akan memberikan anak ini pada mereka, mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus memberikannya, aku tidak mungkin mengingkari janji yang sudah ku sepakati sendiri, tapi aku belum mau mengatakan hal ini pada Ilham, biar lah dulu seperti ini.” Gumam Monita dalam hati.
Monita beranjak dari duduknya, ia harus segera kembali ke rumah sebelum Ilham pulang, begitu sampai di depan klinik hujan rintik-rintik perlahan mulai turun.
Kini Monita sedang duduk di halte yang tak jauh dari klinik untuk menunggui taxi, dia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya dan meniupnya karena hawa dingin yang mulai menusuk.
Tak lama sebuah mobil sedan berhenti di depannya, Monita sedikit terkejut melihat seorang pria yang sangat familiar sedang menuruni mobil.
Pria itu berlari kecil ke arah Monita sembari menutup kepalanya dengan kedua tangannya.
“Kak David?”
“Sedang apa kau di sini Monita?” Tanya David saat sudah berdiri di samping Monita.
“Aku… aku hanya keluar sebentar.” Jawab Monita kemudian.
David melihat Monita yang menggigil kedinginan, dia pun berinisiatif membuka jasnya dan memakaikan jas itu kepada Monita, namun pada saat dia memakaikan jasnya, mereka sama-sama tersentak.
“Katanya tidak enak badan, tapi kenapa pergi keluar?” Ucap pria yang tak lain adalah Ilham, dia kini sudah berdiri di hadapan Monita.
“Maaf Mas, aku sudah tidak tahan, jadi aku putuskan untuk ke klinik kesehatan saja sendiri, ini obat yang sudah dokter resepkan untukku.” Ucap Monita sembari menunjukkan kantong plastik berisi vitamin.
Ilham melihat tubuh Monita yang dibalut dengan jas milik David.
“Sepertinya anda terlalu senggang, sehingga selalu saja mencuri-curi kesempatan untuk mendekati istri saya.” Ujar Ilham melihat sesaat ke arah David, lalu beralih menatap Monita dan berdiri di hadapannya.
“Suami macam apa yang membiarkan istrinya ke klinik kesehatan sendiri, saya tak sengaja melihat dia duduk sendirian dengan tubuh yang menggigil kedinginan seperti tadi, jadi saya berinisiatif untuk membantunya.”
Ilham tak menghiraukan perkataan David, dengan tenang, Ilham menyentak kasar jas yang ada di pundak Monita hingga terjatuh tepat di tangan David yang kebetulan sedang berdiri di belakang Monita, lalu dia membuka jasnya dan membungkuskannya ke tubuh Monita untuk menggantikan jas David yang sejak tadi bertengger di tubuh istrinya.
__ADS_1
David sekilas melirik jas yang ada di tangannya, dan beralih menatap Ilham dengan raut wajah datar.
“Ayo kita pulang sekarang!” Ajak Ilham sembari melirik sejenak ke arah David yang masih diam tak bergeming dari tempatnya.