Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 59 Belum Direstui


__ADS_3

Karena perjalanan akan melintasi kantor Ilham dulu, maka seperti biasa Andre akan mengantar Ilham ke kantor terlebih dahulu kemudian mengantar Eden, jika Andre terlambat sampai kantor, Ilham sudah memakluminya karena dia mengantar adik iparnya ke sekolah setelah menurunkan Ilham di depan lobi kantor, jadi Andre tidak akan mendapat SP1.


Di perjalanan mereka diam dengan pikiran masing-masing, ternyata sejak tadi Andre diam-diam memperhatikan Eden, sudah sebulan lamanya Andre selalu memantau setiap aktivitas Eden dari kejauhan, sampai saat ini Andre belum punya keberanian untuk mengutarakan isi hatinya pada Eden karena takut dengan respon Ilham nantinya.


Andre merasakan gelisah yang semakin tinggi dalam hatinya, ingin sekali dia mengajak Eden bicara, namun lidahnya terasa keluh, terkadang Andre merutuki kebodohannya yang tidak punya keberanian itu, hingga akhirnya.


“Ah terserah saja, aku ingin mengajaknya bicara! Sangat rugi rasanya jika tiap ada kesempatan bersama seperti ini tapi tidak berbicara apapun.” Gumam Andre dalam hati.


“Emmm Den!” Andre membuka suara.


Yang namanya dipanggil pun menoleh.


“Ya.” Jawab Eden singkat.


“Apa sebentar malam kau tidak ada kesibukan?” Tanya Andre tampak ragu-ragu.


“Tidak, memangnya kenapa?”


“Apa kau ingin pergi ke taman bermain bersamaku nanti malam?”


Mendengar itu Eden tampak antusias, taman bermain adalah tempat kesukaannya, di sana ada banyak sekali wahana permainan dan berbagai macam kuliner tentunya, sudah lama Eden tidak ke tempat itu, membuat Eden ingin menyetujui saja ajakkan Andre.


“Boleh, jam berapa?” Tanya Eden tampak antusias dengan wajah berbinar-binar.


Melihat itu Andre tersenyum puas, ternyata tempat yang ia pilih tepat sasaran, tak disangka Eden menyukai taman bermain.


“Jam tujuh aku jemput, boleh?”


“Boleh sekali dong kak, aku suka sekali dengan taman bermain, di sana banyak wahana permainan dan beragam kuliner, dari dulu aku suka sekali ke taman bermain, waktu di kampung jarang sekali ada taman bermain, jadi aku juga jarang ke tempat itu, dan sekarang kebetulan kak Andre mengajakku, tentu saja aku dengan senang hati menerima ajakan kakak.” Jelas Eden panjang lebar.


Andre pun tersenyum senang, setidaknya tidak sia-sia mengajak Eden kencan karena tempat pilihannya adalah tempat favorit Eden juga.


“Baiklah kalau begitu, aku jemput tepat jam 7 ok!”


“Ok deh!” Jawab Eden dengan begitu riang.


Karena keasikan mengobrol, sekolah Eden sudah terlewat, begitu Eden menyadari jalanan yang mereka lewati sudah tampak asing, Eden segera menyuruh Andre berhenti.


“Kak stop!” Ucap Eden tiba-tiba membuat Andre mengerem mendadak, untung saja tidak ada mobil lainnya di belakang.


“Sekolahku sudah lewat!” Seru Eden dengan raut wajah panik.


“Apa?! Astagaa.” Andre menepuk jidatnya sendiri, dan melirik ke arah kaca spion.


“Untung tidak jauh.”


“Ya sudah cepat putar balik, nanti aku terlambat.” Ujar Eden membuat Andre sontak memutar setir kemudi, lalu kembali menjalankan mobilnya kembali ke jalanan tadi.


“Kak Andre si, terus mengajakku bicara, lihat kita sampai terlewat kan.” Ujar Eden menahan tawanya.


“Kenapa menyalahkan aku? Kau juga asik mendengarkan obrolanku kan.” Jawab Andre tersenyum lebar.


Mereka pun tertawa bersama mengingat kekonyolan pagi itu, bagaimana pun Eden tampak bahagia, diam-diam hatinya seakan sudah menjerit-jerit karena Andre seperti mengajaknya berkencan, selain karena taman bermain itu adalah tempat favorit Eden, Eden juga senang karena ia bisa ke tempat favoritnya bersama lelaki yang dia sukai, itulah mengapa Eden langsung menyetujui ajakan Andre.


Tak lama mobil yang dikemudikan Andre pun sudah sampai di depan gerbang sekolah, begitu Eden pamit, Andre segera melajukan mobilnya menuju kantor.


Di kantor Ilham beberapa kali melirik jam tangannya.


“Kemana Andre? Kenapa dia belum balik juga? Tidak biasanya dia mengantar Eden lama begini? Seharusnya 20 menit yang lalu dia sudsh sampai.” Gerutu Ilham kembali melirik jam tangannya.


Ilham menunggu Andre karena lima menit lagi mereka akan mengadakan meeting dan berkas yang akan mereka siapkan untuk meeting ada di mobilnya, Ilham tampak gusar.

__ADS_1


“Lama sekali dia, tidak mungkin kan dia menggoda adik iparku?” Tanya Ilham membayangkan Andre yang sengaja berlama-lama agar bisa menggoda Eden.


“Awas saja jika sampai itu terjadi, adik iparku masih sekolah, kalau dia ingin mendekati adik iparku seharusnya dia harus bersabar dan menunggu adik iparku sampai lulus SMA, kalau seperti itu bisa-bisa sekolah Eden akan terganggu.” Ilham terus mengoceh sendiri.


Ceklek…


Pintu ruang pribadi Ilham terbuka, Ilham sontak mendelikkan matanya pada orang yang ada di balik pintu tersebut, siapa lagi kalau bukan Andre.


“Benar-benar kau ya, dari mana saja kamu? Kenapa mengantar Eden saja lama sekali? Kau tidak sedang menggoda adik iparku kan? Kau tidak macam-macam padanya kan?” Cecar Ilham dengan berbagai pertanyaan.


Mendengar itu Andre dengan cepat menggelengkan kepalanya.


“Tidak tuan, aku tidak menggoda Eden sama sekali, kami hanya mengobrol biasa, karena keasikan mengobrol, tanpa sadar sekolah Eden terlewat, jadi itulah yang membuatku lama sampai ke sini karena harus putar balik lagi menuju sekolah Eden.” Jelas Andre dengan jujur.


“Kamu sedang tidak berbohong kan? Kau tidak menggodanya kan? Awas saja kalau sampai kau menggodanya, ingat! Adik iparku itu masih belia, dia masih sekolah jangan sampai dia tidak lulus sekolah karena kau memacarinya.” Ilham memberi peringatan pada Andre.


Deeggg…


Seketika jantung Andre seolah berhenti sejenak, bisa dipastikan malam nanti acara kencannya bersama Eden akan gagal total, mengingat Ilham yang masih begitu posesifnya menjaga adik Monita itu, bagaimana nasibnya nanti? Padahal rencananya malam nanti dia akan memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya pada Eden, namun sepertinya ia harus mengurungkan niatnya itu.


“Andre!” Suara Ilham sontak membuyarkan lamunan Andre.


“Ti.. tidak tuan, aku tidak menggoda adik ipar tuan, semua yang aku jelaskan tadi benar adanya.” Jawab Andre jadi sedikit gelagapan.


“Bagus! Sekarang ayo kita ke ruang meeting.” Suara Ilham kali ini sudah mulai melunak.


Andre pun mengangguk dan mengikuti langkah Ilham dari belakang, Ilham seperti itu bukan tanpa alasan, dia tidak ingin adik iparnya terganggu masa depannya karena memikirkan percintaan, Ilham bukan tidak merestui Andre, hanya saja Ilham takut jika hal yang tidak diinginkan terjadi dan Eden akan putus sekolah.


Ilham hanya ingin melakukan yang terbaik untuk keluarganya, dia tidak ingin melihat Monita sakit dan kecewa melihat kemalangan adiknya, Ilham selalu berupaya membahagiakan keluarganya apapun yang terjadi.


Begitu sudah tepat waktunya, Ilham akan membiarkan Eden dan Andre bersatu, justru Andre adalah lelaki baik, sejauh ini, Ilham tidak pernah melihat Andre bermain-main wanita, bahkan Andre tidak pernah ke club dan minum-minum, sangat cocok dengan Eden, tapi belum waktunya Ilham menunjukkan lampu hijau kepada mereka.


Begitu ia terduduk, tak sengaja matanya melihat sebuah pigura kecil di atas mejanya, dalam pigura itu, terlihat dia dan Naomi sedang berpose dengan mesranya, tiba-tiba dia teringat Naomi, apakah istri pertamanya itu sudah berangkat? Kesibukannya pagi ini membuat Ilham melupakan Naomi, Ilham melirik jam, benar saja sudah jam satu siang, pasti Naomi sudah berangkat.


Ilham meraih ponselnya lalu menelepon Naomi, beberapa detik kemudian Naomi menjawab panggilan telepon dari Ilham.


“Halo sayang.”


“Kamu di mana? Apakah sudah berangkat?”


“Iya aku sudah berada di bandara, menunggu pesawat take off, Mas di mana?”


“Aku di kantor baru selesai meeting, ada empat meeting sekaligus pagi ini, maaf ya saking sibuknya aku baru meneleponmu.” Ucap Ilham sedikit merasa bersalah.


“Tidak Mas, aku paham dengan kesibukanmu, tidak usah cemas, aku janji begitu sampai aku akan menghubungimu.”


“Iya baiklah kamu hati-hati di sana.”


“Iya Mas.”


“Aku tutup dulu ya.” Ucap Naomi lagi.


“Ok!” Panggilan telepon pun berakhir.


Ilham kembali teringat tanda merah di pay***ra Naomi, persis seperti yang dia buat di pay***ra Monita semalam, pikirannya kembali pusing mengingat hal itu, apalagi sampai sekarang, Andre belum memberikan informasi mengejutkan tentang Naomi, Ilham mengacak-acak rambutnya.


Jangan salah, meskipun Naomi berada di luar negeri, Ilham tetap menyewa penguntit yang ada di Paris untuk mengikuti Naomi begitu sampai di sana.


“Dari pada aku pusing begini, lebih baik aku pulang menemui istri mudaku, rasanya kalau ada di sampingnya, semua stresku ini akan hilang.” Gumam Ilham seorang diri.


Ilham pun beranjak dari duduknya menuju rumah untuk menemui Monita, sang istri tercinta.

__ADS_1


Begitu sampai rumah, Ilham langsung berteriak-teriak memanggil Monita.


“Monita! Monita…” teriakan Ilham begitu menggema di ruang keluarga itu.


“Iya Mas kenapa? Tidak usah teriak begitu.” Jawab Monita menuruni anak tangga.


“Sayang.” Ilham pun berjalan menghampiri Monita dan tersenyum bahagia melihat istrinya itu, hanya dengan melihat wajah Monita, kesal di hati Ilham perlahan hilang begitu saja, Monita benar-benar membuat energi Ilham bertambah, bagaikan ponsel yang di charger.


“Ada apa?”


“Aku rindu.” Jawab Ilham sembari membelai pipi kanan Monita.


Mendengar itu, Monita memutar bola matanya, dia pikir ada suatu hal yang mengejutkan terjadi karena Ilham berteriak-teriak seperti orang kesurupan saat memanggilnya tadi, begitu ditanya, ternyata hanya rindu saja, benar-benar suami lebay.


“Ngamar yuk sayang.”


“Tidak mau.”


“Aku mau tidur.”


“Kamu bukan mau tidur Mas, yang ada nantinya bukan tidur tapi malah mau menerkamku, aku tidak mau.” Ujar Monita yang sudah hafal alibi suaminya itu.


“Ayolah sayang, please.” Rengek Ilham dengan manjanya.


“Lebih baik Mas makan siang sana, ayo aku temani.”


“Aku ingin memakanmu saja.” Ucap Ilham setengah berbisik.


“Kan tadi malam sudah Mas.”


“Beda dong sayang, itu jatah khusus malam hari, kalau sekarang jatah siang hari dan aku akan menagih jatah siang hariku.” Ujar Ilham dengan tatapan menggoda.


“Enak saja, tidak mau ah.”


Cuuppp


Ucapan Monita terhenti ketika Ilham tiba-tiba mendaratkan bibirnya ke bibir Monita, namun Monita kembali mendelikkan matanya begitu melihat Ija yang berdiri tak jauh di belakang Ilham, seketika mata Ija tercemar akibat perlakuan mesum Ilham pada istrinya itu, Ija sontak menutup matanya dan putar haluan kembali masuk ke dapur.


Monita pun memukul-mukul dada bidang Ilham dan berusaha menolak tubuh Ilham agar menjauh darinya dan melepaskan tautan bibir mereka, bikin malu saja!


“Kenapa sayang? Kenapa kamu tampak panik?” Tanya Ilham begitu melepas tautan bibir mereka.


“Mas! Ada Ija tadi, kamu ini bagaimana si? Di rumah ini bukan cuma ada kita berdua, kamu malah seenaknya mencium aku di tempat terbuka seperti ini.” Gerutu Monita tampak kesal.


“Loh memangnya kenapa? Biarkan saja, supaya kalau Ija menikah nanti, dia tidak akan kaget dengan serangan tiba-tiba yang diberikan suaminya nanti.” Jawab Ilham tanpa ada rasa bersalah sama sekali.


Mendengar itu Monita semakin mendelikkan matanya dan melayangkan cubitan di pinggang Ilham.


“Aww sakit sayang.” Keluh Ilham meringis kesakitan.


“Siapa suruh, seenaknya saja bicara, ingat Mas! Ija itu masih kecil, dia belum pantas mendapat tontotan tak senonoh seperti tadi, gara-gara kamu matanya jadi tercemar kan.”


“Ya sudah kalau begitu, ayo lanjutkan di kamar, kalau tidak, aku akan memaksamu bercinta di sini.” Ancam Ilham dengan seringai di bibirnya.


Mau tidak mau Monita pun pasrah, akhirnya dengan terpaksa dia mengikuti kemauan Ilham dari pada Ilham menggerayanginya di tempat ini, lebih baik dia menurut saja.


Ilham pun membopong tubuh Monita begitu saja, tidak adanya Naomi di rumah membuat Ilham semakin leluasa melakukan apa saja kepada istri mudanya itu kapanpun dan di manapun.


Begitu masuk kamar, Ilham langsung merebahkan tubuh Monita di atas ranjang, seakan tidak mau kehilangan kesempatan, Ilham langsung mengungkung tubuh Monita dan melahap serta melum*** bibir sang istri sesuka hatinya.


Di kamar itu, mereka kembali melakukan aktivitas suami istri yang cukup menguras tenaga, dua insan itu justru mengundang keringat di tubuh mereka di cuaca yang panas membahana itu.

__ADS_1


__ADS_2