
Waktu menunjukkan pukul 15.00 sore, Monita baru bangun dari tidur siangnya setelah selesai menerima video call dari suaminya, ia bangkit dari tidurnya sembari mengucek matanya dan meregangkan ototnya yang terasa kaku.
Karena nyawanya belum semuanya terkumpul, Monita masih duduk diam sejenak di atas ranjang, tak lama sayup-sayup ia mendengar suara ibunya dari luar kamar, ia mendengar ibunya sedang berbicara dengan seseorang melalui telepon dan mungkin saja orang itu adalah Eden karena berkali-kali ibu menyebut namanya ketika sedang berbicara.
“Apa ibu sedang menelepon Eden? Apa Eden belum pulang?” Tanya Monita seorang diri dengan mengerutkan dahinya.
“Jadi bagaimana ini? Kalau kamu pulang jam 7 malam, nanti kamu ketinggalan angkot, angkot dari rumah temanmu menuju ke sini kan cuma sampai jam lima sore.” Gerutu sang ibu tampak cemas.
Monita pun segera beranjak dari tempat tidur dan berbalik menatap Ija yang kini masih terlelap di sampingnya.
“Ada apa bu?” Tanya Monita begitu keluar dari kamarnya.
“Eden belum pulang, katanya masih ada tugas kelompok dan sore nanti jam lima baru bisa mulai belajar kelompoknya, kemungkinan pulangnya malam, tapi katanya dia ingin bertemu kamu, dia ingin pulang tapi kamu tau sendiri kan angkot di sini cuma sampai jam lima sore, kalau dia pulangnya malam, nanti tidak ada angkot lagi.” Jelas sang ibu secara detail.
Monita pun terdiam dan tampak berpikir sejenak, lalu melirik Andre yang kebetulan baru keluar dari kamarnya.
“Andre!” Seru Monita dan sontak membuat Andre menoleh.
“Ya Monita.” Jawab Andre tampak ragu-ragu menyebut nama Monita.
Andre sudah merubah panggilannya kepada Monita, sesuai instruksi dari Monita, jika di depan bu Rahayu dan juga Eden, Andre tidak boleh memanggilnya nona tapi panggil nama saja, karena Monita belum siap jika ibunya atau adiknya sampai tau kalau dia sudah menikah dengan Ilham, meskipun awalnya Andre sungkan untuk memanggil Monita dengan sebutan nama, namun akhirnya Andre setuju karena paksaan dari Monita.
“Apa aku boleh minta tolong?”
“Minta tolong apa no.. eh Monita?” Tanya Andre yang hampir saja salah sebut.
“Tolong kamu jemput adik saya Eden di alamat yang akan ibu saya berikan ini ya Ndre.”
“Sekarang?”
“Tidak, nanti malam jam tujuh, apakah kamu bersedia?”
“Bisa bisa, saya bersedia.”
“Ah syukurlah, terima kasih ya Ndre, bu berikan saja alamatnya pada Andre.” Ucap Monita sembari melirik ibunya.
“Ini alamatnya, terima kasih ya nak Andre.” Ucap Rahayu menyodorkan sebuah kertas bertuliskan alamat rumah teman Eden kepada Andre.
“Tidak usah sungkan bu.” Jawab Andre tersenyum tipis sembari meraih sebuah kertas dari bu Rahayu.
Lantas Rahayu pun kembali menghubungi Eden kalau nanti malam, ada yang akan menjemputnya jadi dia harus menunggu.
Waktu begitu cepat bergulir, kini siang sudah beranjak menjadi sore, hingga tak terasa jam sudah menunjuk ke angka 18.15 sore, Andre pun sudah bersiap untuk pergi menjemput Eden, Andre berangkat dari jam enam lewat lima belas, karena jarak dari rumah Monita ke rumah teman Eden berjarak setengah jam perjalanan.
Dengan menggunakan alamat pemberian bu Rahayu, Andre melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang sudah gelap gulita dan nampak begitu lengang itu.
Sisi lain sebuah rumah…
“Akhirnya selesai juga.” Ujar Eden bernafas lega setelah selesai mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya.
__ADS_1
“Iya, Den bagaimana kalau kamu nginap di sini saja? Jam segini kan sudah tidak ada angkot lagi.” Ajak Rani saat melihat Eden sudah mengemasi buku-bukunya dan memasukannya ke dalam tas.
“Tidak usah Ran, kakakku sudah menyuruh orang untuk datang menjemputku.” Jawab Eden menolak secara halus.
“Oh begitu ya, jadi kakakmu sudah pulang?”
“Iya sudah, aku senang sekali Ran, akhirnya aku bisa bertemu kakakku lagi setelah sekian lama.”
“Iya aku juga ikut senang, semoga kamu bisa terus bersama ibu dan kakak kamu ya Den.” Ujar Rani dengan senyuman hangat.
Rani adalah sahabat terdekat Eden yang begitu Eden percayai, selama ini Eden selalu bercerita tentang semua keluh kesahnya pada Rani, bahkan Eden banyak menceritakan tentang kakaknya yang bekerja di kota.
Sembari asyik mengobrol, tak terasa waktu sudah menunjuk ke angka 18.45 malam, tak lama terdengar suara klakson mobil dari depan rumah Rani.
“Den sepertinya itu jemputan kamu.”
“Seperti klakson sebuah mobil.”
“Iya ya, ya sudah aku antar kamu ke depan ya.” Ujar Rani beranjak dari duduknya.
Rani dan Eden pun sudah sampai di teras depan rumah Rani, sementara Andre menurunkan kaca mobilnya begitu melihat kedatangan Eden.
Begitu kaca mobil diturunkan, Eden sontak mendelikkan matanya dan tampak terpukau melihat pria tampan yang kini ada di dalam mobil, bahkan ia sempat tak percaya kalau pria itu yang akan menjemputnya, Andre memang sudah seusia Ilham, namun wajahnya sama halnya dengan Ilham, tidak menunjukkan usianya, begitu tampan dan awet muda, sehingga siapapun wanita yang melihatnya akan terpikat dengan pesona Andre.
Bahkan semua karyawan di Anugrahjaya juga sangat menghormati Andre, layaknya mereka menghormati Ilham, karena posisi Andre yang cukup berpengaruh di perusahaan itu, bahkan mereka menjuluki Andre dan Ilham sebagai dua pangeran tampan Anugrahjaya.
“Eh iy.. iya pak.” Jawab Eden terbata-bata.
“Apa anda yang ditugaskan kak Monita untuk menjemput saya?” Tanya Eden lagi.
“Iya, kita berangkat sekarang?”
“Iy.. iya pak, emm Ran, aku pulang dulu ya, terima kasih banyak.” Ucap Eden beralih menatap Rani yang juga tampak tercengang sama halnya seperti Eden saat melihat Andre.
“Eh iy.. iya Den tidak apa, jangan sungkan.” Jawab Rani tampak gelagapan dan melirik singkat ke arah Andre.
Eden pun masuk ke dalam mobil dan duduk di samping kursi kemudi, lebih tepatnya di samping Andre, Andre pun menancap gas dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Rani.
Sepanjang jalan Eden dan Andre terus diam dengan pikiran mereka masing-masing, sedangkan Eden nampak sering melirik Andre yang kala itu sedang fokus menyetir.
“Apa aku begitu tampan?” Tanya Andre tiba-tiba memecah keheningan yang sempat tercipta.
Eden pun terperanjat dan langsung salah tingkah ia sontak mengalihkan pandangannya ke arah jendela sembari menahan senyumnya.
“Kalau mau tersenyum silahkan, jangan ditahan.” Goda Andre yang tampak gemas dengan tingkah gadis belia di sampingnya itu, dengan tetap menunjukkan sikap dinginnya.
Eden pun sontak menoleh dan semakin mengembangkan senyumnya.
__ADS_1
“Oh ya sejak tadi kita belum berkenalan.” Seru Eden mengulurkan tangannya ke arah Andre.
“Saya Andre asisten pribadi tuan Ilham yang merupakan atasan saya dan juga atasan kakak kamu.” Jawab Andre tanpa membalas uluran tangan Eden sembari terus fokus di jalanan.
Eden pun memasang raut wajah kesal dengan menaikkan sebelah sudut bibirnya dan kembali menurunkan tangannya karena tidak ada sambutan dari Andre.
“Dasar sok cool.” Gerutu Eden dalam hati nampak geram.
“Untung tampan, kalau tidak sudah aku hajar habis-habisan!” Batin Eden lagi yang kemudian memindai matanya menatap Andre.
Mereka pun kembali terdiam dengan pikiran masing-masing, Eden kini lebih fokus menatap jalanan yang nampak sepi dan gelap bahkan hampir tak terlihat apapun di sisi kiri dan kanan jalan.
Kini giliran Andre yang melirik Eden dengan seksama, lalu ia menyunggingkan senyumannya kemudian kembali menghadap lurus ke depan.
“Cantik.” Gumam Andre dalam hati nampak mulai kagum.
“Eden.”
“Ya.” Lamunan Eden buyar, dan kemudian sontak menoleh.
“Kamu kelas berapa?”
“Aku kelas tiga SMA.”
“Kamu sudah genap 17 tahun?”
“Belum.”
“Hah?!” Andre nampak terkejut mendengar umur Eden yang masih sangat belia.
“Kenapa pak?”
“Tidak, saya pikir usia kamu sudah genap 17 tahun ternyata baru 16 ya.”
“Hehehe iya pak.” Jawab Eden cengengesan.
“Masih anak-anak ternyata.” Ucap Andre lirih agar tak di dengar Eden.
“Gimana pak?” Tanya Eden yang rupanya sayup-sayup mendengar ucapan Andre.
“Ah tidak tidak, bukan apa-apa.”
“Aneh, jelas-jelas tadi aku dengar dia berkata sesuatu tapi kenapa katanya tidak.” Gumam Eden dalam hati sembari melirik singkat ke arah Andre kemudian kembali fokus menatap ke arah luar jendela.
“Masih anak-anak tapi cantik, hampir mirip kakaknya, tuan Ilham saja menikahi Monita yang masih sangat muda.” Batin Andre kembali melirik Eden, namun lagi-lagi ia menepis pikirannya.
“What the hell? Kenapa aku sampai berpikir sejauh itu? Lagi pula mana mungkin gadis belia seperti dia mau dengan saya yang sudah om-om ini.” Sangkal Andre dalam hati sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1