
Sudah dua minggu kepergian Naomi, dan sejauh ini Ilham tidak mendengar kabar bahwa Naomi berselingkuh, bukan karena mata-mata Ilham yang di Paris tidak menjalankan perintah Ilham, melainkan mereka hanya melaporkan kegiatan positif Naomi, tidak ada kejanggalan yang mereka temukan di sana, hingga akhirnya, Ilham mulai jengah, sepertinya istri pertamanya itu benar-benar tidak selingkuh, Ilham jadi merasa bersalah sendiri, sudah menuduh yang bukan-bukan pada istrinya.
Saat itu juga, Ilham mulai menghentikan anak buahnya yang ada di Paris agar tidak lagi memata-matai Naomi, setelah menerima segepok uang yang tak main-main jumlahnya, anak buah Ilham sudah berhenti mengawasi istri pertamanya itu, Ilham memang suka menghargai kinerja seseorang dengan memberi uang yang banyak.
Sementara itu, hubungan Ilham dan Monita semakin membaik, kepergian Naomi menjadikan mereka punya kesempatan untuk berdua, mereka bebas melakukan apa saja selama tidak ada Naomi, meskipun ada rasa bersalah yang menyeruak ke dalam sanubari dua insan itu, namun entah kenapa mereka tidak bisa jauh sedetik pun, seakan cinta sudah membutakan segalanya.
Kebetulan hari ini hari minggu, jadi Ilham tidak ke kantor, dan itu artinya Ilham seharian penuh ini akan bersama Monita.
Ilham dan Monita tengah duduk bersantai di kursi yang ada di taman belakang, sembari menikmati secangkir teh.
“Mas.” Panggil Monita melirik Ilham yang sedang menyeruput tehnya.
“Ya sayang.”
“Aku mau makan nasi goreng.”
“Baiklah, akan aku belikan ya.”
“Tidak Mas, aku mau makan nasi goreng buatan Mas Ilham.”
“Hah?!” Pekik Ilham, bagaimana tidak, Ilham tidak pernah memasak, dia bingung ketika Monita ingin makan nasi goreng buatannya.
“Beli saja ya sayang.” Mohon Ilham dengan wajah memelas.
“Loh, kenapa?”
“Aku tidak tau memasak.” Ucap Ilham cengengesan sembari mengusap tengkuknya.
Monita pun menghela nafas dalam lalu berdiri dari duduknya.
“Ayo!” Ajak Monita sembari mengulurkan tangannya pada Ilham.
“Kemana sayang?”
“Ke dapur, aku akan ajari caranya, tapi Mas yang masak.”
“Baiklah.” Ilham pun meraih tangan Monita dan beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Begitu sampai dapur, Monita mulai mengarahkan Ilham.
“Ambil cabe, bawang merah dan bawang putih, kupas, cuci lalu iris tipis-tipis.”
Ilham pun melakukan sesuai apa yang disuruh Monita.
Setelah cabenya sudah dihaluskan, Ilham beralih ke perbawangan, bawang yang Ilham iris tidak sama rata, begitu Monita menyuruh Ilham mengirisnya tipis-tipis, Ilham mengirisnya dengan tipis malah terlampau tipis, begitu Monita menyuruhnya untuk diiris dengan tebal, dia mempertebal irisannya bahkan terlampau tebal, Monita sampai gemas sendiri melihatnya, hingga akhirnya Monita mengambil alih bumbu-bumbu itu dengan mengerjakannya sendiri.
Setelah Monita mengambil alih bumbu-bumbu itu untuk dihaluskan, Monita menyuruh Ilham untuk menggoreng telur.
Ilham mengambil dua butir telur dan mulai menggorengnya, Monita yang terlalu fokus mengiris bawang sudah tidak dapat mengawasi Ilham lagi, begitu selesai dengan bumbu-bumbunya, Monita beralih menatap Ilham yang sedang menggoreng telur, namun alangkah kagetnya Monita, telur yang digoreng Ilham gosong.
“Mas!” Pekik Monita kemudian tanpa permisi langsung mematikan kompor.
“Gosong sayang.” Ucap Ilham dengan raut wajah rasa bersalah.
“Kenapa bisa gosong si Mas? Kamu juga tidak bisa menggoreng telur?”
Ilham pun mengangguk, sembari tersenyum cengengesan.
“Tapi sayang, katanya kamu mau makan nasi goreng buatan aku.”
“Itu tadi, tapi sekarang tidak lagi, kamu tidak tau apa-apa soal dapur, bahkan goreng telur saja sampai gosong begini.” Umpat Monita agak kesal dengan suaminya itu.
Ilham pun memakluminya, mood ibu hamil memang suka naik turun seperti itu.
Monita mulai mencampur nasi dan bumbu-bumbunya dalam wajan, dengan lihai dia mulai mengaduk-aduk nasi goreng tersebut menggunakan spatula.
Namun begitu sudah hendak mencampur bumbunya, perut Monita seperti diaduk, dia mulai merasa mual, dan bergegas berlari ke toilet yang ada di dekat dapur.
“Sayang? Kamu kenapa? Mual lagi?” Tanya Ilham mulai panik.
“Aku mau ke toilet, tolong Mas lanjutkan dulu ya.” Ucap Monita sembari berlari kecil meninggalkan Ilham sendirian di dapur.
“Tapi sayang..” Ilham ingin menyusul Monita, namun dia melihat nasi goreng yang di dalam wajan belum di angkat juga, karena belajar dari pengalaman tidak ingin masakannya gosong, Ilham mematikan kompor dan memindahkan nasi goreng itu ke piring.
Ilham dengan semangat mulai menghidangkan nasi goreng di atas meja makan, tak lupa ia menghias nasi goreng itu dengan tomat yang diirisa bulat, dan sayur selada, walau pun bukan dia yang memasaknya sampai selesai, setidaknya Ilham yang akan menghidangkannya.
__ADS_1
“Kelihatannya enak.” Ujar Ilham dengan wajah sumringah, “walau pun telurnya gosong.” Ucap Ilham lagi yang beralih menatap sedih ke arah telur yang ada di piring satunya lagi.
Tak lama Monita keluar dari toilet, mual yang ia rasakan sudah berangsur-angsur hilang.
Begitu melihat nasi goreng sudah tersaji di atas meja dengan hiasan di atasnya, wajah Monita berseri-seri.
“Dia tau menghias makanan juga ternyata.” Batin Monita.
“Kamu yang menghidangkannya Mas?”
“Iya, kamu sudah tidak muntah lagi?” Tanya Ilham menghampiri Monita dan mengusap kedua pundaknya.
“Tidak Mas, sekarang aku ingin makan nasi goreng buatan kamu.”
“Kamu yang buat sayang.”
“Iya, tapi Mas yang menyelesaikan masakannya kan.” Ucap Monita mendudukkan dirinya di kursi yang sudah ditarik Ilham.
Ilham pun juga ikut mendudukkan dirinya di samping Monita.
Begitu Monita menyendokkan nasi goreng dari piring ke mulutnya dan mulai mengunyah nasi goreng tersebut, Monita mengerutkan dahi, melihat ekspresi Monita Ilham pun mulai bertanya.
“Kenapa sayang? Bagaimana rasanya? Apakah enak?” Tanya Ilham memperhatikan wajah Monita.
“Sangat enak Mas, saking enaknya sampai garamnya tidak terasa.”
“Hah?! Coba sini aku cicipi.” Ilham meraih sendok di tangan Monita dan mencicipinya.
Detik berikutnya, Ilham menatap Monita dengan raut wajah rasa bersalah, nasi goreng itu ternyata hambar, Ilham sama sekali tidak punya pengalaman memasak, namun karena itu permintaan si bumil, Ilham tidak bisa menolaknya, tapi jika disuruh pilih, lebih baik Ilham disuru mencari buah langka, dari pada harus disuruh masak.
“Tidak ada rasa garam sama sekali.”
“Iya memang, tapi tidak apa-apa aku akan menghargai usaha Mas, aku akan tetap memakannya.” Monita mulai menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya, namun Ilham buru-buru mencegahnya.
“Jangan, tidak apa-apa jika usahaku tidak dihargai, asalkan kamu tidak makan makanan hambar ini, nanti kalau anak kita tidak suka bagaimana? Bisa-bisa dia muntah-muntah di dalam.”
Mendengar penuturan Ilham tersebut membuat Monita heran bukan kepalang, bagaimana mungkin seorang CEO yang terkenal pintar ini tidak tau sama sekali soal kehamilan, benar-benar konyol, mana ada janin dalam kandungan muntah-muntah, pemikiran macam apa itu.
__ADS_1