
Ilham menugaskan Andre untuk melanjutkan obrolan dengan pak Aslan, karena moodnya sudah terlanjur rusak saat melihat kebersamaan Monita dan David tadi.
Ilham menghempas kasar tubuh Monita ke ranjang, tatapannya seperti pedang yang siap menghunus jantung Monita, sangat tajam, Monita meringis memegang pergelangan tangannya yang sejak tadi dicekal Ilham dengan kuatnya.
“Mau apa lagi dia? Apa dia mau meniduriku lagi secara paksa? Ya Tuhan, kenapa pria ini hobi sekali memaksa.” Celetuk Monita dalam hati tampak kesal namun dia hanya diam saja, dia tidak punya keberanian mengata-ngatai suaminya itu, karena takut kejadian seperti malam-malam kemarin terulang lagi.
Ilham mencengkram kedua pipi Monita dengan satu tangannya dan mencondongkan tubuhnya ke arah Monita, kini napas mereka saling bersahut-sahutan.
“Sudah saya bilang berkali-kali, jangan dekat-dekat dengan pria lain apa lagi itu David, saya tidak suka! Saya meninggalkan kamu sebentar untuk menemui pak Aslan bukan berarti kamu bebas beramah tama dengan dia!” Tegas Ilham semakin mencengkram pipi Monita.
“Mas sakit!” Keluh Monita lirih.
Ilham melepas kasar cengkramannya dari pipi Monita, membuat tubuh Monita terhuyung ke belakang.
Ilham membalikkan badannya membelakangi Monita sembari mengecakan pinggang, wajahnya memerah karena marah, Ilham benar-benar cemburu Monita berdekatan dengan pria lain, namun lidah Ilham begitu kelu jika harus mengutarakannya langsung.
“Mas, Monita benar-benar tidak tau kalau Mas David ada di acara itu juga, Monita juga kaget saat melihat Mas David tiba-tiba datang menghampiri Monita.” Ujar Monita yang kini sudah berdiri di belakang Ilham, mencoba menjelaskannya.
Ilham kembali berbalik badan, kini mereka sudah berdiri berhadap-hadapan, dia semakin menajamkan tatapannya lalu merengkuh pinggang Monita dengan kasar, kini tubuh mereka sudah tidak berjarak lagi, Ilham meraih dagu Monita dan menengadahkannya.
“Sudah beberapa kali saya katakan, jangan panggil dia Mas! Apa kamu tuli?” Bentak Ilham berhasil membuat Monita tersentak.
“Maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Monita, jika boleh, Monita ingin sekali membantah kata-kata Ilham, namun dia takut, takut Ilham akan kembali menjamah tubuhnya secara paksa.
“Kenapa dia menempelkan punggung tangannya di dahimu?” Kali ini kata-kata Ilham mulai melunak.
“Tidak tau.” Jawab Monita singkat, namun nyatanya jawaban itu semakinmengundang murka Ilham, dikiranya Monita menjawab pertanyaan Ilham asal-asalan.
“Kenapa harus tidak tau?! Memangnya kamu tidak sadar saat dia memegang dahimu? Tadi saya lihat kamu sangat sadar dan membiarkan dahi kamu disentuh begitu saja, dasar genit!” Teriak Ilham sembari mencengkram kuat kedua bahu Monita.
Monita meringis kesakitan, matanya mulai berkaca-kaca.
“Sudah cukup Mas!” Monita menepis kasar tangan Ilham dari bahunya.
__ADS_1
“Kenapa kamu terus mengasariku seperti ini? Kamu juga selalu mengataiku dengan berbagai macam hinaan, semua manusia juga ada batas kesabaran!” Cetus Monita dengan suara bergetar.
“Karena saya tidak suka kamu dekat-dekat dengan David! Sudah berapa kali saya katakan Monita.”
“Iya tapi kenapa?” Teriak Monita dengan suara melengking.
“Karena saya mencintai kamu!” Jawab Ilham dengan begitu lantang.
Mendengar itu Monita tampak syok, ia mendelikkan matanya dengan mulut menganga, ada perasaan bahagia menyelinap masuk ke dalam hatinya.
“Apa? Mas Ilham mencintaiku? Apa aku tidak sedang bermimpi?” Tanya Monita dalam hati dengan perasaan yang tak karuan.
“Tapi, dia kan suami orang, suami Mbak Naomi, mustahil rasanya jika aku bisa memiliki dirinya seutuhnya, lebih baik aku jangan terlalu banyak berharap padanya.” Lanjutnya, dadanya terasa sesak mengingat kenyataan itu, saking sesaknya tanpa sadar air matanya menetes membasahi pipi mulusnya.
Lamunan Monita buyar saat Ilham mengusap lembut air matanya, entah kenapa, sikap pria itu berubah-rubah, tadi dia bersikap kasar namun saat ini kembali bersikap lembut, tidak tau saja Monita kalau hati Ilham terasa perih saat melihat air mata Monita menetes begitu saja, rupanya tanpa Ilham sadari, perasaannya untuk Monita sudah semakin dalam.
“Maafkan aku ya, jujur aku benar-benar cemburu melihatmu dekat dengan pria lain, apalagi pria itu David, dia menyukaimu, aku tidak rela kalau sampai dia merebutmu dariku, aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Ucap Ilham dengan nada lembut.
“Kamu memaafkan aku kan? Dan kamu harus janji jangan dekat-dekat dengan pria manapun lagi.” Kini Ilham meremas pelan kedua bahu Monita.
“Iya Mas, aku memaafkanmu, tapi…” Monita menggantung kalimatnya.
“Tapi apa?”
“Apa kamu tidak akan setuju jika aku melarangmu dekat dengan pria lain? Monita, aku melarangmu karena kamu istriku, dan aku tidak mau kehilangan kamu.”
“Aku setuju dengan larangan Mas itu, tapi pada akhirnya kita juga akan berpisah kan? Jadi Mas akan tetap kehilangan aku.”
“Kata siapa Monita?! Kita tidak akan pernah berpisah, aku sudah memutuskan kalau mulai hari ini sampai selamanya, kamu akan tetap menjadi istriku.”
“Istri kedua kan?” Monita tersenyum getir.
Bagaimana pun Monita cukup tau diri, dia hanyalah istri kedua dan selamanya akan tetap begitu, seperti yang sudah sering Monita dengar, istri kedua tidak akan jadi prioritas, istri kedua hanya akan jadi nomor yang ke sekian dan pada akhirnya akan dicampakkan, Monita juga sudah banyak melihat, jika suami susah, sakit atau apapun itu, tempat pulangnya hanya pada istri pertama bukan istri kedua, istri kedua hanya akan jadi tempat pelarian.
__ADS_1
Kediaman Rumah David…
David pulang dengan raut wajah murung, dia berjalan melewati bi’ Mun begitu saja.
Bi’ Mun adalah pelayan di rumah David, dia ditugaskan ibu David untuk menjaga David dan merawat rumah itu, bi’ Mun juga lah yang sudah mengasuh David sejak bayi, jadi wajar jika dia sangat menyayangi David begitu pun sebaliknya.
Karena merasa khawatir, bi’ Mun menyusul David ke kamar dan mengetuk pintu kamarnya.
Tok tok tok…
Sudah berapa kali bi’ Mun mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar.
“Tuan muda, buka pintunya tuan, tuan muda tidak apa-apa kan? Jangan buat bibi’ khawatir tuan.”
“Tinggalkan saya sendiri bi’ saya hanya ingin sendiri dulu.” Jawab David dari balik pintu.
David tidak pernah seperti itu, terakhir kali David mengurung diri di kamar waktu dia ditinggal pacarnya tepat di hari pertunangan mereka, undangan sudah disebar, gedung dan semua persiapan pernikahan sudah rampung, tinggal menunggu hari H, pernikahan mereka akan diselenggarakan seminggu setelah pertunangan.
Namun semua gagal, tepat di malam pertunangan mereka, saat itu semua tamu sudah hadir, David dan orang tuanya juga sudah ada di tempat, namun calon istrinya tak kunjung datang, sampai dua jam mereka menunggu kehadiran calon istrinya namun yang ditunggu tak pernah muncul, hingga akhirnya orang tua David membubarkan acara pertunangan itu, para tamu sudah pulang, dengan terpaksa David mengakhiri acara tersebut dan mulai mengubur dalam-dalam perasaannya untuk calon istrinya itu.
Satu hari sebelum malam pertunangan itu tiba, David dan calon istrinya bertengkar hebat, hari itu David mengetahui satu kebenaran kalau calon istrinya menyukai Ilham, ya David dan Ilham sudah kenal lama sampai akhirnya memutuskan untuk menjalin kontrak kerja sama.
Namun karena saking cintanya David dengan calon istrinya itu, dia nekat menyelenggarakan acara pertunangan mereka, dia yakin kalau wanita itu tidak mungkin tega membatalkan pertunangan secara sepihak, jadi David tetap menunggu kedatangannya, dan benar saja, semua tak sesuai ekspektasi David, wanita itu membatalkan acara pertunangan mereka.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan David saat itu, undangan sudah disebar, pernikahan mereka tinggal satu minggu lagi, acara pertunangan sudah digelar, para tamu sudah hadir, namun pujaan hatinya itu tidak datang ke pertunangan, sakit hati dan malu kian menyeruak ke dalam sanubari David, saking marahnya, dia melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya, keadaan kamarnya tampak berantakan, David mengurung diri di kamar selama 1 bulan.
Sampai akhirnya David mulai bangkit kembali dari keterpurukan, dia sudah tidak pernah mendengar kabar calon istrinya itu, bahkan sudah tidak mau tau kabarnya lagi, yang David dengar hanyalah kabar Ilham, alih-alih menikahi wanita yang dia cintai itu, Ilham ternyata menikah wanita lain.
Dari awal David sudah menduga, Ilham tidak mungkin berpaling dari Naomi, saat dia tau kenyataan kalau wanitanya mencintai Ilham, dia tidak menjamin kalau pacarnya akan bahagia saat mencoba mendekati Ilham, karena yang dia tau Ilham sangat mencintai Naomi dan tidak mungkin meninggalkan Naomi begitu saja.
Ilham tidak mungkin menggantikan Naomi dengan pacarnya itu, itulah sebabnya dia tetap nekat mau bertunangan dengan calon istrinya itu, karena dia masih yakin, hanya dia yang bisa membahagiakan pacarnya itu.
Hingga akhirnya dia mulai membuka hatinya untuk Monita setelah bertahun-tahun lamanya dia mencoba move on dari calon istrinya tersebut, setelah dia berhasil move on dan menambatkan hatinya pada Monita, nyatanya dia kecewa lagi, Monita sudah menikah, terpaksa dia harus sakit hati untuk kedua kalinua, namun dia tidak bisa segampang itu melupakan Monita, perasaannya terhadap Monita masih terlalu kuat meski pun dia tau kalau Monita adalah istri dari rivalnya dulu, yang kembali menjadi rivalnya sekarang.
__ADS_1