Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 37 Aksi Penyelamatan


__ADS_3

Malam hari di kediaman Ilham…


Monita sedang duduk sendirian di ruang TV sembari menikmati secangkir teh, malam ini Ilham tidak ada di rumah karena harus lembur, menyisakan Monita sendiri di rumah tanpa ada bi’ Ratih dan pak Rudi karena mereka sedang cuti pulang kampung selama 3 hari.


Ting tong….


Suara bel pintu rumah berbunyi, Monita menghentikan sejenak aktivitas nonton TV nya lalu melirik ke arah pintu dengan dahi yang mengkerut, mengingat Ilham lima menit lalu baru saja mengabarinya kalau dia tidak akan pulang karena ada lembur di kantor.


Ting tong…


Setelah mendengar suara bel pintu yang kedua, Monita segera beranjak dari duduknya menuju pintu depan untuk membukanya, namun begitu pintu terbuka, Monita sedikit terperanjat dengan kehadiran Rendy yang ada di balik pintu.


“Tu… tuan Rendy!” Seru Monita sedikit gelagapan.


“Malam Monita.” Balas Rendy dengan tersenyum menyeringai, dan menatap Monita dari ujung kaki hingga ujung kepala yang kala itu sedang memakai kimono tipis yang sedikit menerawang.


“Ada apa? Mas Ilham tidak ada di rumah.”


“Aku tau, Ilham sedang lembur di kantor.” Ucap Rendy tampak santai.


“Kalau begitu nanti tuan Rendy kembali lagi kalau Mas Ilham sudah pulang.” Ujar Monita tanpa menatap Rendy.


“Ah tidak, boleh aku masuk?” Tanya Rendy dengan tatapan tak biasa.


Perasaan Monita mulai tidak enak, apalagi menyadari tatapan Rendy yang begitu mencurigakan membuat Monita bergidik ngeri, hingga akhirnya dia meminta Rendy untuk pulang seraya menutup pintu depan namun dengan sigap Rendy segera menahannya.


“Monita tunggu!”


Namun Monita tidak menggubrisnya, Monita semakin curiga dengan tingkah Rendy yang memaksa untuk masuk, alhasil ia berusaha menutup kembali pintu rumah dengan tenaganya yang tak seberapa itu dibanding dengan tenaga Rendy yang juga ikut mendorong pintu itu dari luar, hingga membuat Monita terhuyung ke belakang akibat dorongan Rendy yang cukup keras, kini Rendy bisa masuk dengan leluasa.


“Apa di rumah ini hanya ada kau?” Tanya Rendy yang terus berjalan mendekati Monita dengan tatapan mesum.

__ADS_1


Monita terus berjalan mundur menghindari Rendy dengan perasaan takut bukan kepalang, namun menyadari Monita yang mulai menghindarinya membuat Rendy mencekal kuat kedua tangan Monita dan menghempas kasar tubuh Monita di atas sofa ruang tamu itu dan tanpa pikir panjang, Rendy langsung menindihnya.


“Tolong jangan lakukan ini padaku, tolong lepaskan aku!” Ucap Monita yang akhirnya semakin menangis histeris.


“Sayang, kenapa kau harus menangis? Aku hanya ingin mengajakmu bersenang-senang sebagaimana kamu dan Ilham bersenang-senang.” Ucap Rendy dan mulai mendekatkan bibirnya.


Monita sontak memberontak, ia terus menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri dengan cepat sebagai tanda penolakan.


“Lepaskan aku, tolong!” Teriak Monita.


“Sudah begini kau masih berlagak sok suci rupanya.” Rendy mulai membuka paksa tali kimono yang melingkar di pinggang Monita.


Hal itu membuat kimono Monita terlepas sampai batas perut dan semakin memperlihatkan dada mulus miliknya.


“Sayang, aku semakin tak tahan melihatmu begini, baiklah aku akan segera memulainya.” Rendy pun semakin mendekatkan bibirnya ke bibir Monita.


Namun Monita secara spontan langsung mencakar kasar wajah Rendy dengan kukunya yang sedikit panjang, lalu ia pun menendang alat vital Rendy.


Sementara Monita dengan sigap langsung bangkit dan berlari menuju pintu, melihat bagian dadanya yang cukup terekspos membuat Monita berhenti sejenak dan mengikat kembali tali kimononya di pinggang, namun Rendy kembali menarik tangannya.


“Dasar wanita j*lang! Kau tidak tau siapa aku!” Teriak Rendy yang masih langsung meringkus tangan Monita dan menampar pipinya dengan keras hingga membuat hidung Monita berdarah.


Monita semakin ketakutan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Rendy namun hal itu justru membuat Rendy semakin menggebu-gebu, ia kembali menghempas kasar tubuh Monita di sofa lalu berusaha mencium leher Monita dan merobek pakaian Monita hingga menampilkan gundukan daging yang menyembul di balik bra berwarna hitam.


Hal itu membuat Rendy semakin bernafsu, ia pun berusaha melepas bra yang Monita kenakan namun Monita menutupi dadanya dengan satu tangannya dan terus memberontak.


Pada saat Rendy berusaha melepaskan tangan Monita dari dadanya, tiba-tiba saja seseorang menarik kerah kemeja Rendy dari belakang hingga membuat Rendy menoleh.


Rendy pun semakin membulatkan matanya dan…


*Bukkkk*

__ADS_1


Rendy terhuyung ke belakang akibat pukulan yang dilayangkan Ilham padanya.


“Il… Ilham,” seru Rendy dengan badan yang sudah gemetaran.


“Kau mau memperkosanya?” Ilham kembali menarik kerah kemeja Rendy dan kembali meninju pipi kiri Rendy lalu kemudian pipi kanannya secara bergantian dengan membabi buta.


“Ilham, apa hanya karena pelacur murahan ini kau berani memukul sahabat lamamu?” Tanya Rendy tak percaya, kini wajahnya sudah babak belur akibat pukulan yang dilayangkan Rendy berkali-kali.


“Jangan menyebutnya pelacur brengsek!!!” Emosi Ilham semakin tersulut, lalu kembali meninju bibir Rendy sampai berdarah, Rendy pun terjerembab ke lantai dan Ilham menendang perutnya habis-habisan.


“Kau berani menyebut istriku pelacur murahan? Dia istriku Rendy!! Bukan pelacur!” Teriak Ilham kembali menarik kerah kemeja Rendy dan kembali meninjunya habis-habisan.


“Ilham tolong lepaskan aku, aku tidak tau kalau dia adalah istrimu! Aku janji aku tidak akan mengulangnya lagi, maafkan aku Ilham tolong maafkan aku!” Rendy memohon dengan raut wajah penyesalan sembari menangkupkan kedua tangannya dengan keadaan masih bersimpuh di lantai.


Sementara Monita yang melihat itu semakin ketakutan dan bersembunyi di balik guci besar yang ada di ruang tamu, dengan nafas yang tersengal-sengal dan air mata yang tumpa ruah.


“Pergi kau sekarang juga dari rumahku dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi ke rumahku ataupun ke kantorku, aku akan membatalkan kerja sama kita!” Bentak Ilham sembari menunjuk pintu depan sebagai isyarat agar Rendy keluar dari rumahnya.


“Ilham, apa kau benar-benar akan membatalkan kerja sama dengan perusahaanku? Aku mohon Ilham jangan lakukan itu, tolong maafkan aku, aku berjanji hal seperti ini tidak akan terulang lagi.” Ujar Rendy dengan raut wajah permohonan.


“Keputusanku sudah bulat, kau hampir memperkosa istriku dan mengatainya pelacur murahan, perlu kau tau dia adalah wanita yang tak ternilai harganya, apa dia terlihat pelacur di matamu? Aku tidak melihat dia seperti itu, dia adalah wanita terhormati!!”


Mendengar itu Monita semakin menangis haru, Ilham sudah melindunginya dan membelanya mati-matian, menyangkal setiap kata kotor yang dilontarkan Rendy padanya, Monita begitu terenyuh mendengar pembelaan Ilham padanya.


“Ilham, aku teman lamamu, tolong beri aku kesempatan.” Bujuk Rendy semakin memelas meminta belas kasih dari Ilham.


“Teman lama katamu? Bahkan jika kau adik kandungku, aku akan membunuhmu!” Bentak Ilham kembali mencecar Rendy dengan beberapa pukulan, dan mendorong tubuh Rendy secara kasar sampai ke teras rumah, Rendy yang kembali terjerembab ke lantai bergegas bangkit dengan rasa takut yang kian melanda, lalu berlari menuju mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Ilham.


Malam ini Ilham memang berencana untuk lembur, namun tiba-tiba Ilham merindukan Monita, setelah istirahat sejenak dari pekerjaannya, Ilham iseng-iseng mengecek cctv rumahnya lewat ponsel demi melihat aktivitas apa yang Monita lakukan saat ia tinggalkan.


Begitu akses cctv terbuka dari ponselnya, mata Ilham seketika membulat sempurna dengan emosi yang mulai naik ke ubun-ubun saat melihat rekaman cctv yang menampilkan Rendy yang sedang berusaha memperkosa Monita di ruang tamu, itulah sebabnya Ilham bergegas pulang dan sampai di rumah tepat waktu sebelum Rendy melakukan hal yang lebih jauh lagi pada Monita.

__ADS_1


__ADS_2