
“Apa? Jadi kamu ingin David yang menyamar jadi suami pura-pura Monita?” Pria itu tak menyangka kalau Naomi benar-benar ingin menjalankan ide gilanya itu.
“Iya mas, karena dari awal aku sudah terlanjur bilang ke mama dan papa kalau suami Monita itu CEO di Green Agency, siapa lagi CEO Green Agency di negara ini kalau bukan David.”
Ilham mengusap kasar wajahnya sendiri, kali ini Naomi sudah di luar batas, kenapa harus David? Laki-laki yang mati-matian dia larang untuk mendekati Monita.
“Tidak sayang, aku tidak setuju kalau Monita harus dipasangkan dengan laki-laki mana pun!” Tegas Ilham, namun tanpa disadari statment yang Ilham keluarkan itu, mengundang perih di hati wanita yang ada di sebelahnya ini.
“Kenapa mas? Apa karena cintamu pada Monita sudah sangat besar sehingga kamu tidak rela dan kamu akan cemburu kalau Monita dipasangkan dengan David?!” Teriak Naomi karena saking kesalnya.
“Di mana-mana tidak ada satu manusia pun yang bisa membagi cinta dalam porsi yang sama, pasti ada salah satu yang mendapatkan ketidakadilan, kalau aku dan Monita sama-sama bahagia saat mas membagikan cinta mas pada kami, mungkin sekarang kami sudah tidak merasa sedih dan tidak menuntut perhatian dari mas lagi.” Tambah Naomi dengan buliran bening yang sudah membasahi pipi mulusnya.
“Kamu salah Naomi! Kamu salah besar kalau mengatakan, tidak ada manusia yang bisa membagi cinta dalam porsi yang sama….”
“Lalu apa namanya ini? Aku tidak pernah rela kalau mas membagi cinta yang sudah mas berikan padaku selama bertahun-tahun ini kepada orang lain!” Naomi segera memotong ucapan Ilham.
“Harus berapa kali aku ingatkan kalau semua ini kamu yang minta, secara sadar kamu sudah menghadirkan rasa cintaku ini padanya dan kamu tidak bisa mengatur perasaanku agar bisa menahan untuk tidak mencintai Monita!”
Hati Naomi seperti sudah diluluh lantakkan oleh Ilham, kalau Ilham melarang Naomi untuk menjadikan David sebagai suami pura-pura Monita, itu tandanya rasa cinta Ilham pada Monita sudah sangat dalam, rasa cemburu yang Ilham tunjukkan ini terlebih dia sudah mengeluarkan statment seperti itu, itu jelas menjadi bukti, seberapa besar rasa cintanya pada Monita dan yang Naomi tau, setiap hati manusia itu tidak akan bisa menyimpan rasa cinta yang sama besarnya pada dua insan sekaligus dalam waktu yang lama.
Pastinya salah satu penghuni hati Ilham ada yang harus dikorbankan karena mendapat bagian cinta dalam porsi kecil di hati Ilham, toh pada dasarnya manusia tidak akan pernah adil dalam hal mencintai, itulah yang ada dalam pikiran Naomi.
Namun akhirnya, Naomi mulai melunak, ia bersimpuh di hadapan Ilham agar Ilham setuju dengan idenya sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada dengan deraian air mata.
“Aku mohon padamu mas, biarkan David menjadi suami pura-pura Monita, biarkan sandiwara ini tetap berjalan.”
Melihat itu Ilham segera merengkuh kedua bahu Naomi dan mencoba membantunya berdiri namun Naomi tidak mau.
“Aku tidak akan berdiri sebelum mas mengizinkan aku untuk bicara dengan Monita dan David kalau mereka akan menjadi pasangan pura-pura di depan mama dan papa.”
Melihat Naomi memohon padanya sampai seperti itu membuat hati Ilham tak tega, Ilham juga tidak tega melihat istri yang begitu ia cintai berderai air mata, hingga akhirnya ia mensejajarkan tubuhnya dengan Naomi lalu mengusap lembut air mata istrinya itu dengan tangannya.
Ilham menarik napas dalam-dalam sembari memejamkan mata, sebenarnya berat baginya untuk merelakan Monita bersama pria lain walau itu hanya sandiwara, tapi apa boleh buat, istri pertamanya ini sudah memohon padanya sampai segitunya, Ilham harus apa? Pria beristri dua itu kini sedang berada dalam kebimbangan.
****
“Kak, baju ini bagus tidak?” Tanya Eden memperlihatkan dres selutut pemberian Andre, ia memutar tubuhnya di hadapan Monita yang sedang asyik menonton televisi.
“Bagus, baju baru ya?”
__ADS_1
“Iya, pemberian kak Andre.”
“Cieee awas lo ketahuan kakak iparmu.”
“Bodo amat!”
“Huss jangan begitu, bagaimana pun kak Ilham itu suami kakak, jadi kamu harus hormat padanya.”
“Iya iya, mumpung aku sedang tidak ada di rumahnya, jadi aku bisa bebas jalan-jalan dengan kak Andre kapan saja.” Ucap Eden sambil mengecak pinggang dengan senyum jahilnya.
“Begitu ya, jadi kamu sudah tidak perlu izin kakakmu ini?” Balas Monita mulai berdiri dengan tangan yang bersedekap di dada.
“Hehehe bukan itu maksud aku, setidaknya kan kakak tidak sesadis suami kakak itu.”
“Eden!” Monita mendelikkan matanya.
“Iya ampun deh kak, ya sudah kalau begitu izinkan Eden jalan sama kak Andre ya, Eden mau lunch bersama kak Andre.” Eden bermohon sembari memegang lengan Monita dengan wajah memelas.
“Emmmm….” Monita mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk sembari pura-pura berfikir.
“Kak please!” Eden menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
“Apa?”
“Bawakan kakak seblak.”
“Oke bos! Perintah segera dilaksanakan!” Eden berseru sembari memberi hormat ala prajurit pada atasan.
“Jangan pulang malam!”
“Iya kakakku sayang, aku pergi dulu ya.” Pamit Eden sembari mengecup singkat pipi kakaknya.
Monita pun hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya.
Menit berikutnya, ketika Eden sudah pergi suara bel pintu kembali terdengar.
“Pasti ada yang ketinggalan!” Monita mengerutkan alis, lalu membukakan pintu.
“Ada apa lagi Den?” Namun yang datang bukanlah Eden melainkan Naomi dan suaminya.
__ADS_1
“Mbak?!” Monita menatap Ilham dan Naomi bergantian.
****
“Ma banyak sekali salad sayurnya.” Ucap pak Agam melihat istrinya mempersiapkan banyak salad sayur di atas meja.
“Iya ini untuk Monita, mama lihat waktu itu dia suka sekali makan salad sayur, jadi mama buatkan saja.”
“Lalu, untuk Naomi mana?”
“Tadi pagi kan mama baru belikan Naomi black forest, jadi kali ini mama mau memenuhi keinginan Monita dulu.”
Pak Agam pun manggut-manggut tanda mengerti.
Istrinya ini kalau sudah sayang, pasti tidak akan tanggung-tanggung untuk memperlihatkan kasih sayangnya, pak Agam merasa beruntung memiliki istri sebaik bu Nancy, sudah berpuluh tahun lamanya pernikahan mereka, tapi bu Nancy tidak pernah berubah, bu Nancy bukan hanya cantik parasnya, tapi juga cantik hatinya, bu Nancy adalah bukti dari kebaikan Tuhan pada pak Agam.
****
“Kamu mau ya Monita? Please!”
Monita tertegun mendengar permintaan Naomi yang menurutnya tidak masuk akal, dia pun melirik suaminya seakan bertanya melalui isyarat apakah suaminya setuju atau tidak, namun yang ada Ilham hanya diam tanpa sepata kata pun.
“Mas Ilham setuju kok, iya kan mas?” Naomi melirik Ilham namun Ilham malah memalingkan muka.
“Ayolah Monita aku mohon! Aku sudah konfirmasi hal ini dengan David, dan dia setuju, ini hanya sementara, hanya untuk malam ini saja, toh kalian juga tidak harus tinggal serumah kan.” Naomi memasang wajah memelas di depan Monita.
Monita menundukkan wajahnya kemudian menatap Naomi dan suaminya secara bergantian, dia tau jauh di dalam manik mata suaminya, Ilham tidak setuju dengan ide gila Naomi ini, tapi apa boleh buat, Naomi tipe orang pemaksa tidak bisa ditolak karena pasti dia akan melakukan apapun agar Monita setuju.
“Baik aku setuju.” Ucap Monita kemudian.
“Benarkah? Aaahh thankyou so much Monita, kamu sudah mau membantu melancarkan sandiwara ini.” Naomi kegirangan dan memeluk Monita begitu saja.
“Ya sudah kalau begitu, kamu harus siap-siap, oh ya ini ada dres pilihan aku, nanti malam kamu pakai ya, kita sepakat untuk dinner di rumah mama dan papa saja, jadi kamu hanya perlu siap-siap dan jam 7 malam David akan menjemputmu oke!” Naomi tampak antusias sembari memberikan sebuah paper bag pada Monita.
“Kenapa harus David yang menjemput kenapa bukan kita saja?” Sergah Ilham merasa tak terima.
“Mas, kalau kita yang menjemput, yang ada mama akan curiga, supaya sandiwara ini berjalan lancar Monita harus semobil dengan David.”
Ilham mendesis kesal, lama-lama sifat Naomi ini menjengkelkan sekali, istrinya ini tidak tau betapa cemburunya dia bila melihat Monita jalan bersama David, apalagi sampai satu mobil, rasanya Ilham benar-benar akan gila dibuatnya.
__ADS_1