
“Sudah siap?” Tanya Ilham lembut.
Monita hanya mengangguk.
“Ok let’s go!” Dengan memegang tangan Monita, ia terus melangkah keluar dari kamar.
Dahi Monita berkerut kala Ilham menaiki mobil jeep, mobil yang sangat jarang dipakai.
“Naik mobil ini?” Tanya Monita santai sembari menghampiri Ilham.
“Iya, kita tidak mungkin menggunakan mobil sport yang ceper, perjalanan yang akan kita tempuh lebih cocok menggunakan mobil ini.”
“Ke mana kita sebenarnya mas?” tanya Monita sembari mulai duduk di samping Ilham.
“Rahasia! Aku tidak akan beritahu kamu ke mana kita pergi. Kamu harus tetap penasaran sampai kita tiba nanti.”
“Mencurigakan.”
Pria itu hanya mendengus pelan dan menampakkan senyum lebarnya, perlahan ia menggerakkan mobil jeep dengan ban besar itu keluar dari garasi rumahnya. Ilham mulai melajukan mobilnya meninggalkan kawasan elit itu, membelah jalanan pagi hari yang masih tampak sepi pengendara.
Ilham terus melirik ke arah istrinya yang sedang menikmati perjalanan, bisa dikatakan ini kali pertama mereka jalan-jalan sebagai pasangan suami istri sah yang tengah di mabuk cinta.”
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, padatnya jalanan kota telah mereka lalui. Kini mereka memasuki perjalanan yang mulai terasa lengang, bahkan udaranya juga terasa lebih sejuk dari sebelumnya.
Monita semakin menggoreskan senyuman kala ia melihat hamparan kebun teh bak permadani di bagian sisi kiri dan kanan perjalanan yang begitu mulus itu. Sepersekian detik berlalu ia mengerutkan dahi dan melirik sekilas ke arah suaminya.
“Kenapa? Kamu kenal jalan ini?” tanya Ilham sembari mengukir senyum manisnya.
“Kita mau ke kampung aku?”
“Kita lihat saja nanti Mon.” jawab Ilham masih dengan senyuman yang penuh teka teki.
“Menyebalkan!” Gerutu Monita mencebik kesal, bibirnya maju beberapa centi membuat Ilham semakin gemas saja, pria itu lalu mengacak-acak rambut Monita hingga sang empu semakin menggerutu.
Monita pun terdiam dan semakin menikmati pemandangan jalan yang membuat ia semakin rindu dengan kampung halaman.
Namun dahi Monita semakin berkerut dengan senyum tipis yang terukir di bibir ranumnya kala mobil yang mereka naiki sudah melewati kampung halaman Monita.
“Kemana sebenarnya mas akan membawaku pergi?” Tanya Monita yang justru semakin dibuat penasaran.
“Nikmati saja perjalanannya sayang.” jawab Ilham yang kembali membuat sang istri penasaran.
Wanita itu pun akhirnya diam, setelah setengah jam lamanya mereka melintasi kampung halaman Monita, kini mobil jeep yang dikendarai Ilham berhenti di jalan buntu.
“Kita turun di sini.” ucap Ilham sembari melepas sabuk pengamannya.
“Apa kita salah jalan? Ini jalannya buntu.” Monita pun mulai terlihat cemas.
“Apa sebelumnya kamu tidak pernah ke sini? Padahal ini lumayan dekat dengan kampung halaman kamu.”
__ADS_1
“Tidak, selama di desa aku jarang jalan-jalan.”
“Kalau begitu kita lanjutkan perjalannya dengan jalan kaki. Aku akan menunjukkan pemandangan yang tak kalah indah di balik jalan buntu ini.”
“Jadi kita jalan kaki?”
“Iya, perjalan dengan mobil memang hanya sampai di sini, kita akan memasuki hutan yang ada di dalamnya.”
“Apa? Ma-masuk hutan?” tanya Monita yang sedikit terkejut.
“Kenapa? Kamu takut sayang?”
“Bu-bukan begitu, tapi sepertinya aku salah kostum.” jawab Monita memandang lesuh pakaiannya.
“Tidak salah kostum kok, selagi kamu tidak pakai heels ini masih cocok-cocok saja.” ujar Ilham sembari tersenyum saat mendapati Monita yang saat itu memakai flat shoes.
“Yuk!” Ilham mulai menjulurkan tangannya.
Namun tampaknya Monita masih terlihat sedikit ragu saat memulai perjalanan.
“Sayang, kita tidak akan berjalan sangat jauh ketika memasuki hutan, paling hanya butuh waktu 5 menit untuk kita sampai ke tempat tujuan.”
“Oh iya?”
“Eemm.” Ilham pun mengangguk penuh keyakinan.
“Kalau saja mas beritahu aku kemana kita pergi, aku pasti akan memakai pakaian yang sporty.” celetuk Monita yang saat ini fokus memperhatikan langkahnya.
“Hehehe maaf sayang.” Ilham pun kembali tersenyum lebar.
“Aku akan menentukan mas dimaafkan atau tidak kalau aku sudah melihat tempatnya nanti.” jawab Monita yang terus mengulum senyum.
Mereka mulai menyusuri jalanan setapak itu, perlahan tapi pasti sayup-sayup Monita mulai mendengar suara gemericik air.
“Kamu mendengarnya kan sayang?” tanya Ilham lagi.
“Suara air, tapi apakah itu sungai atau bisa juga…”
“Bisa juga apa?”
“Air terjun?” jawab Monita menebak.
“Kita lihat saja nanti.” jawab Ilham semakin melajukan langkahnya dengan menarik tangan Monita untuk terus mengikuti langkahnya.
Begitu sampai di tempat tujuan, mata Monita dibuat membulat kala netra cantik itu disuguhkan oleh pemandangan alam yang sangat indah di tengah hutan. Monita tidak menyangka, tidak jauh dari tempat kelahirannya ada pemandangan seindah ini, kenapa dia baru tau sekarang? Pikir Monita. Di tengah hutan tersebut ada hamparan rerumputan yang cukup luas, kemudian di tengahnya terdapat air terjun yang teramat indah, dilengkapi dengan kolam sebagai tempat penampungan air terjun tersebut.
“Waahh, aku tidak menyangka tidak jauh dari kampung kelahiranku ada tempat seindah ini.” celetuk Monita yang nampak berdecak kagum begitu ia memandangi pemandangan yang sangat memanjakan mata itu.
“Selamat datang di tempat favoritku.” ucap Ilham dengan senyum bahagianya.
__ADS_1
Perlahan Monita melangkahkan kakinya mendekati kolam yang airnya tampak begitu bening dan beriak akibat air terjun yang berjatuhan tiada hentinya.
“Awas kamu bisa basah sayang.” ucap Ilham santai.
Tidak salah, masih beberapa meter tak jauh dari tepi kolam, tempiasan dari air terjun yang teramat deras itu sudah mulai melembabkan tubuhnya.
“Apa kamu menyukainya sayang?”
“Iya! Aku sangat suka tempat ini, bahkan ini sangat jauh dari ekspektasiku.” jawab Monita sembari tersenyum sumringah.
“Syukurlah, aku juga ikut senang.”
“Terima kasih sayang, terima kasih sudah mau membawaku ke tempat seindah ini.” ungkap Monita kemudian mulai memeluk hangat tubuh Ilham.
“Tidak perlu berterima kasih, niatku memang ingin membahagiakanmu saat bersamaku.” jawab Ilham membalas pelukan istrinya.
Monita pun akhirnya tersenyum dan mulai melonggarkan pelukannya.
“Jangan terlalu lama berdiri di sini, nanti kamu terkena tempias air terjun.” Ilham pun kembali menarik tangan Monita.
Ia membawa istrinya sedikit menjauh, tepatnya ke area rerumputan hijau.
Monita pun kembali memandangi indahnya air terjun, suasana di sana tampak begitu asri, alami bahkan seperti belum terjamah, sangat sepi dan menenangkan hati.
Ilham meletakkan sebuah keranjang yang terbuat dari kayu yang sejak tadi ia bawa dari mobil dan meletakkannya ke atas rerumputan.
Dengan sigap ia mulai membuka kain yang menutupi keranjang itu, pria itu mulai mengeluarkan satu persatu isi keranjang tersebut. Mulai dari kain yang bisa digunakan sebagai alas mereka duduk, beberapa novel dan berbagai macam makanan seperti buah-buahan, snack-snack dan minuman.
Monita kembali membeliak kala melihat isi dalam keranjang yang di bawa Ilham itu, tanpa ia duga semuan isi dalam keranjang itu adalah kesukaannya.
“Mas menyiapkan semua ini?” Tanya Monita seolah tak menyangka.
Ilham hanya mengangguk dengan senyuman yang terukir indah di wajah tampannya. Ia mulai membentangkan kain bermotif kotak-kotak tersebut, menyusun novel di atasnya, juga aneka cemilan ia tata sedemikian rupa sebagai pelengkap piknik mereka kali ini.
“Silahkan duduk tuan putri.” ucap Ilham setelah ia selesai menata semuanya.
Monita pun tersenyum haru, seumur hidup ini kali pertama dia diperlakukan seperti itu oleh lelaki, bahkan ini juga pertama kalinya ia merasakan piknik di alam bebas. Sepasang netra cantik itu mulai berkaca-kaca meskipun saat itu bibirnya terus menyunggingkan senyuman lebar.
“Mas.” ucapnya kembalu menghamburkan tubuhnya ke dalam dekapan Ilham.
“Aku terharu dengan semua ini, terima kasih banyak mas.”
Ilham pun ikut tersenyum sembari mengusap-usap punggung istrinya.
“Apa setelah ini kamu akan semakin mencitaiku?”
Monita pun perlahan mulai melepaskan tautan tubuh mereka dan menatap lekat mata suaminya.
“Aku memang sudah sangat sangat mencintai kamu.” ucapnya lembut.
__ADS_1