Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 71 Pura-pura


__ADS_3

Pagi beranjak sore, Ilham terus saja melirik jam tangan mewah yang melingkar di tangannya.


Sudah pukul empat, raganya memang ada di dekat Naomi, tapi hati dan pikirannya lari jauh memikirkan Monita yang sejak tadi ia tinggalkan sendirian dalam keadaan hati yang kalut.


Sejak tadi Naomi terus saja menggenggam tangannya, seakan tidak ingin memberi ruang pada suaminya untuk pergi lagi.


Diliriknya Naomi yang sudah mulai terpejam, Ilham pun dengan hanya menggunakan sebelah tangan mencoba mengirim pesan pada Monita.


“Malam ini aku tidur di kamar Naomi, jangan tunggu aku, malam nanti cepatlah tidur!” Pesan itu terkirim.


Di sebuah kamar yang sepi, tepatnya kamarnya sendiri, Monita terus saja duduk melamun dengan hanya menatap langit-langit kamar.


Monita langsung bersemangat begitu melihat notifikasi pesan masuk, namun detik berikutnya, hatinya langsung kecewa ketika pesan sudah selesai ia baca.


Monita tak membalas pesan Ilham, dia memilih mengabaikannya karena saking kecewanya.


Ilham sampai mengerutkan dahi begitu melihat pesannya yang hanya menampilkan dua centang biru, hanya dibaca tapi tidak dibalas.


Namun perhatian Ilham teralihkan begitu mendengar suara ketukan pintu dari luar, Ilham bertanya siapa gerangan yang ada di balik pintu sembari melirik daun pintu tanpa beranjak dari tempat tidur, karena tangannya yang satu menyanggah kepala Naomi yang sudah terlelap, sehingga membuat ia sulit beranjak.


Begitu mendengar bi’ Ratih yang mengetuk, Ilham perlahan menarik tangannya dan memindahkan kepala Naomi ke bantal lalu beranjak menuju pintu.


“Ada apa bi’?” Tanya Ilham begitu pintu kamar sudah dibuka.


“Anu tuan, di bawah ada nyonya Nancy dan tuan Agam, katanya mau ketemu nyonya Naomi.”


“Apa?!” Mimik wajah Ilham mengisyaratkan kepanikan, ia sontak membulatkan matanya dengan mulut yang sedikit menganga.


“Iy iya tuan.”


“Mereka ada di mana sekarang?”


“Di ruang tamu tuan.”


“Ya sudah suruh mereka menunggu, katakan saja aku dan Naomi akan segera turun.”


“Ada apa Mas?” Tanya Naomi yang sudah bangun dari tidurnya.


Ilham menoleh sebentar lalu kembali menyuruh bibi’ turun ke bawah.


“Ya sudah, bibi’ cepat turun ke bawah dan katakan kalau aku dan Naomi akan segera turun.”


“Baik tuan, bibi’ pamit turun dulu.” Jawab bibi’ seakan mengerti kepanikan mereka, karena untuk mengantisipasi kejadian tak terduga seperti ini, Ilham sudah meminta bibi’ untuk ikut berbohong pada kedua orang tuanya.


Setelah bi’ Ratih sudah berlalu, Ilham segera mengunci pintu kamarnya dan mencari sesuatu di dalam lemari.

__ADS_1


“Kenapa Mas?” Tanya Naomi yang ikut bingung dengan tingkah suaminya yang tampak tergesa-gesa.


“Sayang, mama dan papa ada di ruang tamu sekarang, kamu harus segera berakting hamil, karena yang mereka tau perut kamu pasti sudah membesar sekarang, jadi cepat pakai bantal ini.” Ucap Ilham sembari menunjukkan bantal ukuran sedang yang sudah ia temukan.


“Apa?! Ja… jadi mama dan papa ada di bawah?” Tanya Naomi yang jadi ikut panik.


“Iya makanya cepat pakai bantal ini di perutmu, agar kamu bisa terlihat seperti benar-benar hamil.”


Naomi segera meraih bantal itu dari tangan Ilham, dan mengikatnya ke belakang, setelah itu ia memandang dirinya di cermin, begitu dirasa pas dan terlihat sungguh-sungguh, ia dan Ilham segera keluar kamar menuju ruang tamu.


“Hai mama hai papa.” Sapa Naomi begitu sampai di ruang tamu.


“Sayang, perutmu sudah semakin membesar ya, mama senang sekali melihatnya, kau sehat nak?.” Tanya Nancy menghampiri menantunya, lalu mengusap lembut perut sang menantu.


“Iya ma, mama dan papa kapan pulang? Kenapa tidak memberitahu kami dulu.” Tanya Naomi begitu mertuanya sudah mendudukkannya di sofa mewah ruang tamu itu.


“Semalam, mama dan papa sengaja tidak memberitahu kalian biar surprise.” Jawab Nancy begitu ia menyusul duduk di samping Naomi.


“Maaf ya sayang, mama tidak ada di sisi kamu selama kamu ngidam, jadi mama tidak menikmati kebersamaan denganmu di masa-masa hamil muda kamu.” Tambahnya.


“Tidak apa-apa ma, lagi pula ada Mas Ilham kok yang selalu siap siaga menjaga Naomi.”


“Apa benar dia menjagamu dengan baik? Kalau dia tidak menjagamu dengan baik, kamu tinggal lapor mama saja, nanti mama jewer telinganya itu.”


“Hahaha tidak kok ma, dia menjagaku dengan baik, oh ya bagaimana masalah perusahaan papa yang di sana? Apa sudah beres?” Tanya Naomi mengalihkan pembicaraan, dia merasa tidak nyaman kalau mertuanya terus membahas soal kehamilan.


Mendengar itu, jantung Naomi seolah berhenti berdetak, dia takut lama-lama bu Nancy curiga jika terus terusan berkunjung ke sini.


“Tidak perlu sering juga ma, kan rumah mama jauh, takutnya mama capek bolak balik kesana kemari, nanti kalau sudah lahiran kami pasti akan mengabari mama.” Naomi berkata begitu karena tidak ingin selalu bertemu ibu mertuanya, takutnya rahasianya akan terbongkar.


“Sayang, ini cucu pertama mama, jadi mama harus sering-sering ke sini menjenguknya, bahkan mama tidak akan lelah jika sering-sering bolak balik rumah kalian dan rumah mama untuk menjenguk calon cucu mama, demi menantu dan cucu kesayangan mama, segalanya pasti akan terasa mudah.”


“Hehehe baiklah ma.”


Naomi melirik singkat ke arah suaminya, sungguh dia sudah tidak bisa menghindar lagi, sebanyak apapun alasan yang akan dia utarakan, mama mertuanya tetap kekeh ingin sering-sering ke rumah mereka hanya untuk menjaganya, membantu menjaga kehamilan pura-pura Naomi.


Sementara Ilham hanya diam saja melihat kepiawaian akting sang istri di depan mamanya.


****


Eden melirik ponselnya yang sejak tadi terus berdering, menampilkan nama kakaknya dari layar ponsel, entah sudah berapa kali kakaknya menelepon, namun Eden tidak mengangkatnya juga.


“Angkat saja, kakak mu sedang hamil, jangan buat dia stres karena mengkhawatirkanmu.” Ujar Andre yang sejak tadi melihat Eden mengabaikan panggilan dari Monita, sejak tadi telinganya sudah berdengung karena mendengar dering telepon dari ponsel Eden yang terus saja diabaikan.


“Aku akan mengangkatnya nanti.” Jawab Eden yang tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


Namun lagi-lagi ponsel itu kembali berdering, karena sudah tidak tahan dengan bunyinya, Eden meraih ponsel itu dan menggeser icon merah pada layar ponsel tersebut lalu menonaktifkannya.


“Kenapa dimatikan si..” gerutu Monita karena panggilannya ditolak.


Namun Monita belum menyerah, ia kembali menelepon nomor Eden, namun nomornya sudah tidak aktif, makin paniklah Monita, ia ingin segera menjemput Eden.


Akhirnya, Monita menyambar sling bagnya yang ada di atas nakas lalu bergegas keluar dari kamarnya menuju apartemen Andre untuk menjemput Eden.


Monita terlihat menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa, ia terus berjalan menyusuri tiap sudut ruangan, namun begitu hampir sampai ke ruang tamu, langkah Monita sontak terhenti saat melihat kedua orang tua Ilham tengah bercengkrama dengan Naomi, mata Monita beralih ke perut Naomi yang tampak membuncit, Monita langsung mengerti jika itu hanya pura-pura.


Namun semakin lama, Monita mengutas senyuman, hatinya menghangat begitu melihat kelembutan Nancy saat memperlakukan Naomi, ia pun berandai-andai, seandainya dia yang diberi perhatian oleh Nancy, seandainya Nancy tau kalau dia juga istri Ilham dan kini tengah mengandung cucu pertama mereka, sayangnya hal itu hanya fatamorgana, senyum Monita seketika pudar.


Ia ingin berbalik menuju kamar, tidak berani lewat karena akan mengganggu kehangatan mereka, begitu ia ingin berbalik, langkahnya terhenti oleh suara seorang wanita yang secara tidak sengaja sudah melihatnya.


“Heii..” panggil Nancy yang berhasil membuat perhatian semuanya teralihkan.


Monita pun membalikkan tubuhnya dan berusaha tersenyum.


Melihat Monita yang tersenyum kepadanya, Nancy pun membalas senyuman itu, namun senyumnya pudar seketika begitu matanya beralih menatap perut buncit Monita, siapa gadis itu? Pertanyaan itu lolos begitu saja dalam benak Nancy.


“Naomi, Ilham, itu siapa?” Tanya Nancy kemudian.


“Ma, di… dia… dia… istri rekan bisnis Mas Ilham, dia hanya tinggal sendiri di rumahnya, makanya aku dan Mas Ilham berinisiatif untuk mengajaknya tinggal di sini karena kami sudah berjanji pada suaminya untuk menjaganya selama suaminya pergi.” Jelas Naomi sedikit terbata-bata.


Nancy pun kembali mengulas senyuman, dan menatap penuh haru pada Monita.


“Sini nak, kemarilah.” Nancy menggerakan tangannya sebagai isyarat agar Monita mendekat.


Sementara Ilham, mendengus kesal mendengar pernyataan Naomi yang mengatakan kalau Monita adalah istri rekan bisnisnya, rekan bisnis yang mana coba? Jelas-jelas suaminya itu Ilham, kenapa Naomi tidak mendiskusikan hal ini padanya dan mengambil alasan konyol itu, bagaimana jika nanti mamanya meminta untuk dipertemukan dengan suami bohongan Monita? Lelaki mana yang nantinya akan Naomi hadirkan? Ilham yang dasarnya cemburuan, tidak rela jika Monita disandingkan dengan pria lain meski itu hanya pura-pura.


Monita pun mengayunkan kakinya menghampiri Nancy, begitu sudah berdiri di hadapan mereka, Monita menyalami bu Nancy dan pak Agam secara bergantian.


Nancy mengusap lembut perut Monita, namun Nancy terkejut karena begitu ia menyentuh perut Monita, janin dalam perut Monita tiba-tiba bergerak.


“Sepertinya dia suka dengan sentuhan tanganku.” Ucap Nancy sembari tersenyum bahagia.


Monita pun hanya tersenyum hangat, ia menatap lekat ibu mertuanya itu, menatap ke dalam manik mata bu Nancy yang menggambarkan banyaknya curahan cinta dan kasih dari dalam diri wanita paru baya itu.


Sementara pak Agam pun ikut tersenyum, entah kenapa pria paru baya itu bersikap biasa saja begitu melihat Naomi berada di tengah-tengah mereka, namun berbeda saat melihat Monita, dia seperti melihat menantu yang sedang mengandung garis keluarga Anugrahjaya, itulah kenapa tiba-tiba ia mengulas senyuman.


Hati Ilham menghangat begitu melihat perhatian Nancy pada wanita yang mengandung benihnya itu, apalagi saat melihat senyuman sang papa yang terus melihat ke arah Nancy dan Monita, papanya yang terkenal cuek dan masa bodoh itu tampak bahagia, ia seakan tau kalau janin yang dikandung Monita itu adalah cucunya.


“Apa nama perusahaan suami kamu?” Tanya pak Agam yang tiba-tiba buka suara.


Monita terdiam, dia tidak tau harus jawab apa, pasalnya nama perusahaan suaminya adalah Anugrahjaya yang berarti perusahaan pak Agam juga, Monita tidak punya persiapan apa-apa untuk menjawab pertanyaan dadakan itu dan ia juga tak pandai berbohong.

__ADS_1


“Suaminya CEO di Green Agency pa.” Bukan Ilham yang menjawab, melainkan Naomi.


Mendengar Naomi menyebut perusahaan David, mata Ilham membulat sempurna, kenapa harus David? Yang merupakan rival beratnya, ada apa dengan istri pertamanya ini? Dia seperti sengaja membuat Ilham terbakar api cemburu, tapi mana Naomi tau kalau David menyukai Monita, Naomi hanya asal saja begitu menyebut nama perusahaan itu, karena yang ia tau, perusahaan itulah yang banyak menjalin kerja sama dengan perusahaan suaminya.


__ADS_2