
Kini Monita duduk di kursi yang ada di depan kolam renang. Ia memikirkan kembali tentang hubungannya dengan Ilham, rasanya Monita ingin segera mengakhirinya.
Sementara di kamar utama, Naomi duduk di tepi ranjang dengan linangan air mata, dadanya sesak karena harus menyaksikan pemandangan yang tak mengenakkan tadi.
Ceklek..
Ilham membuka pintu kamar dan mengayunkan kakinya menghampiri Naomi, begitu sudah berada di dekat Naomi, Ilham ikut duduk di tepi ranjang tepatnya di samping Naomi.
Ia hendak memegang bahu Naomi namun dengan segera Naomi menepis tangan Ilham dan mengubah posisinya jadi membelakangi Ilham.
Ilham pun memeluk tubuh Naomi dari belakang, dan menopangkan dagunya di bahu Naomi.
“Lepaskan aku Mas.” Naomi berusaha melepas tangan Ilham yang melingkar di pinggangnya, namun sulit.
“Tidak akan.”
Naomi berusaha melepaskan pelukan Ilham namun tenaganya tidak cukup kuat, ia pun akhirnya pasrah dan terus berdiam diri dengan air mata yang terus mengalir.
“Maafkan aku sayang.”
“Sampai kapan kau terus bersikap lembut seperti itu padanya Mas? Rupanya cintamu padanya sudah begitu besar, bahkan melebihi cintamu padaku.” Ucap Naomi dengan tatapan dingin.
“Sayang, tolong jangan bahas itu dulu, aku masih sangat mencintaimu, sampai saat ini kau masih tetap menjadi wanita pertama dalam hidupku.”
“Iya wanita pertama yang diduakan.”
Ilham pun melepaskan tautan tubuh mereka dan membalikkan tubuh Naomi agar bisa berhadapan dengannya, kali ini Naomi pasrah, ia tidak memberontak, Ilham pun meraih dagu Naomi.
“Sampai saat ini kamu masih jadi ratu di hatiku, kamu masih jadi yang pertama, rasa cintaku padamu masih sama seperti dulu, tidak berkurang sedikit pun.” Ujar Ilham, entahlah dia juga tidak tau apakah ungkapannya itu sesuai dengan hatinya, yang ada dalam pikirannya sekarang adalah bagaimana caranya untuk membujuk Naomi agar mau memaafkannya kembali.
“Tapi tidak lagi jadi yang utama kan Mas?”
__ADS_1
“Kata siapa? Jika kamu bukan yang utama, aku tidak akan ada di sini sekarang, mungkin aku masih berada di ruang keluarga dan lebih memilih menenangkan hati Monita, ketimbang datang mengejarmu.” Sungguh Ilham benar-benar merasa bersalah sudah mengatakan itu, dia jadi semakin tidak enak pada Monita, pasalnya hatinya sudah sangat mencintai Monita, namun dia juga tidak bisa mengabaikan wanita pertama yang sudah mengisi hatinya selama bertahun-tahun lamanya itu.
Naomi pun terdiam, dia merasa di atas angin begitu mendengar penuturan Ilham barusan, memang benar, selama ini Ilham selalu menjadikan dia yang utama, setiap kali dia marah dan cemburu pada Monita, Ilham pasti akan membujuknya terlebih dahulu, dan memilih mengabaikan Monita.
Naomi pun memeluk erat tubuh tegap suaminya, mencari kenyamanan di sana, karena memang pelukan Ilham mampu memberikan kehangatan untuknya, pelukan yang sudah bertahun-tahun ini ia rasakan, yang tidak ada bedanya dari awal mereka bertemu, pelukan yang tidak ingin lagi Naomi bagi dengan wanita lain termasuk madunya.
****
“Ayo naik!” Ucap sang pemilik suara bariton yang tengah berdiri di depan mobilnya yang ia parkir tepat di depan halte tempat Eden duduk.
Eden pun mendongakkan kepalanya, sang pemilik suara itu adalah Andre, Eden sedikit tersentak, pasti ini perintah kakak dan kakak iparnya, dengan cepat Eden memalingkan muka, dia tidak mau pulang ke rumah itu lagi.
Melihat tingkah gadis polos itu, Andre menyunggingkan senyum, ia segera berjalan menuju halte lalu mengulurkan tangannya pada Eden, gadis itu hanya melirik singkat uluran tangan Andre, lalu kembali memalingkan muka bersikap acuh tak acuh.
Andre jadi gemas sendiri, akhirnya tanpa pikir panjang, Andre segera menggendong tubuh Eden ala bridal style, Eden pun kaget, ia meronta-ronta minta diturunkan, namun Andre tetap tak menggubrisnya, Andre membawa Eden masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah ia buka sejak tadi, agar ia bisa dengan mudah membawa Eden masuk ke dalam mobil, Andre sudah berencana akan membopong tubuh Eden jika dia menolak ajakan Andre.
“Aku tidak mau pulang kak Andre!” Ketus Eden begitu Andre sudah menjalankan mobilnya.
“Kita akan ke apartmenku.”
“Tenang saja, aku tidak akan macam-macam padamu, kau tenangkan dirimu di apartemenku, begitu hatimu sudah tenang, baru kau bisa pulang ke rumah.”
“Aku tidak mau ke rumah itu lagi, aku tidak mau bertemu mereka semua!” Bentak Eden dengan bibir mengerucut sembari melipat tangannya di dada.
Andre semakin gemas melihat Eden, baginya jika seperti itu Eden seperti anak balita yang merajuk karena tidak dibelikan ice cream, Andre pun menoel pipi Eden lalu mengacak-acak rambutnya.
“Jangan diacak-acak.” Eden kembali merapikan rambutnya.
“Siapa suru jadi cewek imut begini, aku kan jadi gemas.”
Pipi Eden kembali bersemu merah mendengar pujian Andre, namun ia tidak memperlihatkannya, ia segera mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela sembari menahan senyum.
__ADS_1
Andre yang menyadari ekspresi malu-malu Eden, hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala, ia pun meraih tangan Eden dan mengecupnya.
Eden yang menyadari itu, sontak berbalik menatap Andre dengan rona merah di pipinya sembari tersenyum.
“Kenapa harus dikecup sih.” Eden melepaskan tangannya dari genggaman tangan Andre lalu menyembunyikannya di balik cardigan yang ia pakai.
Melihat itu, Andre berpikir ingin menjahili Eden, ia pun menepikan mobilnya tepat di jalanan sepi, Eden semakin terkejut dan sedikit panik.
“Kenapa berhenti di sini? Di tempat sepi lagi?”
Andre pun tersenyum menggoda dan menatap Eden dengan tatapan yang berbeda, ia mulai mencondongkan tubuhnya mendekati Eden, Eden pun membulatkan matanya.
“Apa yang akan dia lakukan?” Batin Eden dengan jantung yang berdebar-debar, Eden pun semakin memundurkan tubuhnya hingga mentok di kaca jendela mobil.
Andre semakin mendekatkan wajahnya, memangkas jarak diantara mereka, melihat wajah Andre yang sudah semakin dekat dengannya Eden perlahan menutup matanya, ia seakan pasrah menerima perlakuan Andre selanjutnya.
Detik berikutnya, dahi Eden mengkerut begitu sabuk pengaman sudah melingkar di tubuh bagian depannya, ia pun segera membuka mata, begitu matanya terbuka, ia terperanjat melihat Andre yang sudah kembali duduk tegap di tempatnya, Eden menatap Andre dengan raut wajah bingung dan malu pastinya.
“Kenapa? Aku hanya memasangkan sabuk pengaman, apa yang ada dipikiranmu? Sehingga harus tutup mata segala.” Andre pun tersenyum mengejek.
“Tidak ada, aku tidak sedang memikirkan apa-apa.” Sanggah Eden seakan tidak terima.
“Bohong, kamu pasti mengharapkan ciuman dariku kan?” Andre semakin mengembangkan senyumannya, karena ingin menggoda Eden.
“Apa? Aku tidak berpikir seperti itu.”
“Kamu tenang saja, nanti di apartemen aku pasti akan menciummu.”
“Turunkan saja aku di sini kalau sampai kakak berbuat macam-macam padaku di sana.”
“Hahaha kenapa jadi marah? Aku bercanda, aku tidak akan macam-macam padamu, tenang saja, kita ke sana sekarang ya.” Andre pun mengusap sisi kiri pipi Eden dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Hati Eden sedikit menghangat melihat perlakuan Andre, baru kali ini dia meraskan perhatian dari lawan jenis, mengingat dirinya yang tidak pernah pacaran sebelumnya.
Andre adalah pria yang paling menjaga kehormatan wanita, selama ini dia tidak pernah bermain perempuan, bahkan dia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita mana pun sebelum dekat dengan Eden, Andre tetap akan membuktikan ucapannya, dia tidak akan melakukan hal tak senonoh pada gadis belia yang ada di sampingnya sekarang, apa lagi sampai mengambil kegadisannya, Andre akan mengambil kegadisan Eden hanya jika mereka sudah menikah, bisa dibilang, Andre adalah lelaki yang bisa dipercaya.