
Disebuah kamar, seorang wanita tengah terlelap saking lelahnya menunggu sang suami yang tak kunjung pulang, terakhir kali suaminya pamit ke luar kota dan akan pulang begitu langit gelap, namun nyatanya sudah selarut ini tapi sang suami juga tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali.
Naomi yang awalnya tampak gusar, sedih dan curiga menunggu kepulangan suaminya memilih tidur dan mengarungi lautan mimpi karena kantuk yang teramat sangat. Wajar, jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari, dan wanita cantik itu baru saja terlelap setelah berperang dengan hatinya yang galau bahkan sampai melawan rasa kantuk.
Di malam yang pekat itu, baru saja setengah jam Naomi tertidur, derap langkah terdengar menuju kamar Naomi.
Seseorang dengan pakaian serba hitam dan penutup wajah berjalan menghampiri ranjang Naomi, merasa terusik dengan kegaduhan itu Naomi terjaga, namun alangkah terkejutnya dia begitu membuka mata ada orang yang tengah berdiri di samping ranjangnya. Merasa panik jika Naomi akan berteriak, orang itu bergegas membekap mulut Naomi.
****
“Sayang, kenapa kamu belum tidur juga?” Ujar Ilham yang mulai mengantuk namun harus ia tahan karena putra mungilnya ini masih terjaga.
“Mas cuci tangan sana, sebentar lagi aku mau mandi.”
“Hah mandi? Kita belum selesai sayang.” Keluh Ilham sembari menarik tangan Monita, Dikta yang sudah terbaring di kasur tampak sibuk sendiri bersuara sembari menggigit jemarinya.
“Percuma mas, Dikta sudah terbangun dan sulit untuk tidur kembali jika tidurnya terganggu begini.” Ujar Monita yang jelas tau kebiasaan putranya.
“Tapi kan…”
“Sudah sudah, lebih baik mas cuci tangan sekarang.” Titah Monita pada sang suami.
“Cuci tangan? Kenapa harus cuci tangan sayang?”
“Ya jari mas kotor, tidak mungkin pegang-pegang Dikta dalam keadaan jari yang kotor begitu.”
Harus dengan penjelasan sejelas itu baru Ilham akan mengerti. Ia pun beranjak menuju kamar mandi usai tertawa tanpa dosa.
“Mama ganggu tidur kamu ya sayang?” Tanya Monita menatap gemas anaknya yang sejak tadi tidak henti berceloteh seperti sedang marah.
Membangunkan pangeran yang tengah tidur menjadi celaka besar bagi keduanya, bahkan sampai jam setengah lima pagi, Dikta belum juga menunjukkan tanda-tanda mengantuk, bayi itu malah asik berceloteh sendiri entah apa yang ia bicarakan. Kalau hanya menemaninya di tempat tidur tidak masalah, tapi nyatanya Ilham harus menghiburnya dengan berbagai macam cara agar bayi kecil itu segera tidur.
Ini malam pertama ia merasakan jadi sosok ayah. Tanpa pemanasan, tanpa berlatih, bahkan Ilham tak pernah memegang seorang bayi selama hidupnya. Nasibnya sungguh baik lantaran Tuhan mempertemukan dia dengan anaknya.
“Ck, dia bahkan sudah tidur.”
Ilham menatap Monita yang sudah tertidur lelap, sedikit tidak percaya Monita tidur lebih dulu. Padahal memang Ilham sudah memerintahkan Monita untuk tidur lebih dulu karena takut istrinya akan kelelahan, namun nyatanya Monita memang benar-benar mengiyakan arahan Ilham. Ia tidur tanpa beban, dan membiarkan Ilham menjaga Dikta sendirian, seakan-akan Dikta adalah tanggung jawabnya seorang.
“Kapan kamu tidurnya?”
Ilham memeluk putranya, dan mengitari kamar agar supaya Dikta tertidur. Dia mencari sumber di internet, namun bukannya tidur, Dikta malah semakin segar saja, ia menganggap kalau Ilham sedang bermain-main dengannya. Ia semakin bahagia diperlakukan begini.
Hari pertama menjaga Dikta, mata Ilham akan dibuat menghitam, dia sudah menguap beberapa kali, matanya sudah berair. Begitu Dikta menangis, Ilham bingung harus berbuat apa, membuatkannya susu, Ilham belum paham dengan isi rumah ini. Tak lama ia menatap Monita, sang istri lah yang jadi kuncinya.
“Shuutt don’t cry baby… Mamamu sedang tertidur, jangan membuat dia terganggu.”
Memang bukan dia yang menyusui, tapi Ilham tak kehabisan akal. Tanpa mengganggu tidur Monita, ia hanya mengubah posisinya agar Dikta bisa minum ASI tanpa merasa sulit. Sedikit sulit memang tapi bukan berarti tidak berhasil.
“Pintar, harusnya dari tadi Dikta.”
__ADS_1
Usahanya tidak sia-sia, akhirnya Ilham merebahkan tubuhnya di ranjang sembari memeluk sang buah hati dan pemilik jiwanya, Monita. Tak butuh waktu lama untuk Ilham terlelap, karena memang sudah sangat mengantuk sejak tadi.
Sementara Monita yang merasakan sesuatu di bagian buah dad*nya terbangun, ia menatap Dikta yang sudah terlelap tanpa melepas asupan utamanya.
“Apa dia baru tertidur?”
Monita bermonolog sendiri, ia merasa kasihan pada Ilham, jika posisinya harus tidur bertiga begini, ranjangnya terlalu sempit, tidak cukup untuk Ilham. Akhirnya, setelah menunggu beberapa saat, Monita memindahkan Dikta ke tempat tidurnya.
Begitu melihat Dikta benar-benar sudah terlelap, Monita mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya di ranjang. Kini keadaan kamar itu gelap, hanya mengandalkan temaran lampu hias.
“Dia kurusan.” Monita mengamati tubuh suaminya yang memang tampak lebih kurus dari sebelumnya. Terlihat jelas dari rahangnya yang terlihat semakin jelas dan pergelangan tangannya yang mengecil.
Monita kasihan sebenarnya, Ilham baru tertidur ternyata. Ia menarik selimut dan menyelimuti suaminya sampai batas dada. Ini kali pertama ia membagi tempat tidur dengan orang lain.
Sedangkan di sisi lain, di kediaman Ilham, bi’ Ratih sontak terkejut begitu dia bangun hendak menyiapkan sarapan, ada seseorang dengan pakaian serba hitam sedang berjalan mengendap-endap keluar menuju pintu utama.
Saking paniknya bi’ Ratih sampai berteriak histeris. Merasa dirinya tertangkap basah, dengan gelap mata orang tersebut bergegas menghampiri bi’ Ratih dan membekap mulut wanita paruh baya itu dengan bius, hingga berhasil membuat bi’ Ratih tak sadarkan diri.
Tubuhnya merosot jatuh ke lantai, setelah dipastikan sudah benar-benar pingsan, orang tersebut kabur begitu saja meninggalkan bi’ Ratih yang tergeletak di lantai.
****
Ketika matahari sudah meninggi, Ilham malah masih tertidur pulas. Dis bangun kesiangan karena semalam begadang menjaga Dikta.
Monita yang sudah bangun lebih awal membuka tirai kamar hingga cahaya menelusup masuk lewat jendela. Merasa cahaya itu mengganggu matanya, Ilham berdecak kesal kemudian menarik bantal dan menutupi wajahnya. Persis seperti dulu saat Ilham yang kadang kalah menelusup masuk dan tidur di kamar Monita, wanita itu kembali melakukan hal yang sama agar sang empu kesal.
“Sayang?”
“Bangun, hampir jam delapan.” ucap Monita memerintah. Jika dulu dia membangunkan Ilham karena takut tertangkap basah oleh Naomi, kini dia meminta Ilham bangun karena hanya jahil saja.
“Tega kamu, aku tidur hampir jam lima sayang, tolonglah.”
“Sebentar lagi bi’ Ina datang mengurus Dikta di kamar, yakin mau tetap di sini?” Tanya Monita sebenarnya ragu kalau Ilham akan tidak nyaman begitu orang lain melihatnya.
Ilham tetap bergeming, dia malah meraih guling dan kembali memejamkan mata.
“Mas, apa kamu tidak akan pulang?” Tanya Monita, seakan ketakutannya yang tidak akan berhasil membawa Monita pulang berada di alam mana saja, Ilham langsung terkesiap dan menatap Monita dengan tatapan kesal.
“Aku tidak akan pulang hari ini kalau tidak membawa kalian.” Jawab Ilham mengerutkan dahi.
“Tapi mas, aku harus pamit kak David dulu.” Tidak mungkin Monita pulang tanpa pamit pada pria yang sudah berjasa dalam hidupnya serta bersedia membelikan rumah untuk dirinya beserta anak dan adiknya tempati.
“Aku yang antar.” Ia langsung menuju kamar mandi dan dengan secepat kilat ia mencuci muka dan menyisir rambutnya menggunakan jemari, ia mengganti piyamanya dengan kaos oblong dan celana jeans, persiapan seadanya karena agenda hari ini hanya mengantar istrinya ke hotel David, mereka menuju ke sana karena David memang sedang berada di sana.
Monita hanya pasrah menuruti permintaan Ilham yang tak terbantahkan itu, ia sengaja memperkecil masalah karena bisa dipastikan Ilham akan selalu menuntut pembenaran hingga membuat Monita di posisi salah.
Pada saat keduanya masuk ke dalam hotel mewah itu, semua mata tertuju pada Ilham, terutama kaum hawa karena ketampanannya yang di atas rata-rata.
Mereka berdecak kagum namun begitu mata mereka memindai tangan pria itu, harapan mereka pupus seketika karena sepanjang berjalan, Ilham terus menggenggam tangan Monita.
__ADS_1
“Sayang tunggu.” Ujar Ilham menahan langkah Monita.
“Ada apa mas?”
“Aku mau check in.”
“Untuk apa mas?” Namun Ilham tidak menjawab, dia terus menarik tangan istrinya menuju resepsionis untuk melakukan check in.
Monita yang sudah matang bahkan sudah beranak satu ini paham arah tujuan Ilham. Ada-ada saja, di saat genting begini suaminya masih sempat-sempatnya mencuri kesempatan dalam kesempitan.
Begitu selesai check in, mereka berjalan menuju kamar di lantai 10 menggunakan lift. Monita pasrah demi memperkecil masalah, lebih baik dia turuti saja.
Begitu sampai lift, Ilham buru-buru menekan tombol yang ada di lift itu agar liftnya tertutup, tak peduli dengan orang yang hendak masuk.
“Hanya muat berdua, kau masuk setelah ini saja.” Titah Ilham seenaknya hingga membuat Monita panik luar biasa, ia melayangkan tatapan tajam pada suaminya, benar-benar semena-mena, pasalnya pria itu adalah tamu yang memiliki hak yang sama.
“Kenapa di tutup? Dia bisa marah.” Ujar Monita menuntut penjelasan dari sang suami.
“Mereka mengganggu saja.” Jawab Ilham menatap Monita dengan senyum teduhnya.
Detik berikutnya Ilham menghimpit tubuh Monita, hingga menyisakan jarak yang tinggal beberapa centi saja.
“Jangan macam-macam mas, ini lift, siapa pun bisa masuk.” Ujar Monita menahan dada Ilham yang semakin mendekat, dia jadi ketar ketir sendiri kala pria itu menatapnya begitu lekat dengan tatapan yang sulit didefinisikan.
“Kenapa memangnya kalau ada yang masuk?”
Sejak dulu Ilham memang tidak tau tempat, bahkan di dapur rumahnya yang jelas tempat orang rumah berlalu lalang, bahkan ada istri pertamanya juga dia bisa seenaknya mendekap Monita tiba-tiba bahkan sampai mencumbunya, apalagi di sini, yang tidak ada Naomi jelas Ilham semakin menggila.
“Ini pagi pertama, dan aku belum merasakannya.” Ujar Ilham sembari membelai bibir ranum istrinya dengan jemarinya.
“Mas, jangan di sini ya.”
“Ayo lah sayang, aku sedang ingin.
Jika Ilham sudah berucap, jelas hal itu akan ia lakukan. Tidak ingin Monita sampai mendorong tubuhnya, Ilham meletakkan kedua tangan sang istri di atas kepala. Pria itu mulai mengikis jarak hingga membuat Monita sesak napas. Ciuman yang awalnya lembut perlahan jadi menuntut, Monita takut tertangkap basah, ia berusaha memalingkan wajah.
“Kamu berani menolakku?”
Sepertinya berhasil, Ilham mengerutkan dahi dan melayangkan tatapan tajam pada istrinya.
“Sadar ini dimana? Kalau sampai ada yang lihat gimana?”
Monita berdecak kesal, suaminya tidak tau tempat. Dan benar saja apa yang ia takutkan, lift terbuka, sepasang mata menatap bingung ke mereka. Monita tampak ketar ketir, sedangkan Ilham malah terlihat santai dan menoleh ke arah pria itu.
“Kenapa? Dia istriku!”
Padahal tidak ditanya, Ilham malah memberi penjelasan tanpa diminta. Dari sorot matanya pria itu tidak percaya, sedangkan Monita merasa sangat malu bukan main, rasanya ia ingin mengacak-acak otak suaminya itu, dan membuangnya ke lautan, biar hilang bersamaan dengan pikiran mesumnya itu.
Begitu keluar lift, Ilham menarik tangan Monita dengan langkah yang panjang. Bahkan Monita sampai kesulitan menyesuaikan langkahnya.
__ADS_1