
Malam harinya, tepat pukul 21.00 malam, Monita sudah tertidur di kamarnya begitu selesai makan malam tanpa Ilham, ya tanpa Ilham karena sore tadi, ada rapat mendadak yang mengharuskan Ilham hadir di kantor saat itu juga, pukul 21.00 Ilham baru pulang.
Di tengah lelahnya, Ilham senang melihat wajah Monita yang terlihat tenang dalam tidurnya, Ilham menunduk sedikit dan memberikan kecupan selamat tidur di kening Monita.
Dikecupnya kening Monita dengan lembut, beralih ke mata gadis itu, pindah lagi ke pipi dan hidung mancung seperti orang arab, wajah yang kadang kala membuat ia marah itu berubah menjadi sedap dipandang.
Mungkin karena aura wanita hamil yang memancar, Ilham juga tidak mengerti, yang jelas, Ilham begitu nyaman dan ingin dekat-dekat dengan Monita.
Bukannya tidur dengan tenang karena kelelahan, konsentrasi Ilham malah buyar begitu masuk kamar.
Terlebih selimut Monita tersibak karena wanita itu ganti posisi, bila sebelumnya tidur miring, kini Monita jadi tidur telentang, membuat Ilham merasa terpancing.
Belum ingin mengganggu istrinya dengan melakukan hal-hal aneh, Ilham menggelengkan kepalanya, mengusir segala pikiran-pikiran gelap yang sempat terlintas.
Ilham berinisiatif untuk cepat tidur, ia naik ke ranjang dengan pelan, agar tidak mengganggu tidur si bumil.
Baru saja berbaring, Monita langsung bergerak dan mengerjap, padahal tadi dia naik ke ranjang dengan pelan dan hati-hati, tapi masih saja bisa membuat Monita terbangun.
“Mas Ilham?”
Monita mengedip-ngedipkan matanya, hampir saja ia terkejut, aroma parfum Ilham menusuk rongga hidungnya hingga membuat Monita tersadar, itu hanya aroma suaminya, Ilham Adhitama.
“Maaf sayang, aku sudah membuatmu terbangun, ayo tidur lagi.” Ilham meraih pundak Monita lalu merapatkan tubuhnya, agar mereka tidur berpelukan.
Namun Monita menepis tangan Ilham.
“Gerah Mas, jangan peluk Monita.”
Seakan tak mau kehabisan akal, Ilham meraih remot AC dan menurunkan suhu ruangan menjadi sangat rendah.
“Kemari!” Serunya dengan senyum licik.
Monita sampai kehabisan kata-kata, Ilham memang orangnya pemaksa.
Bukannya tidur, dua sejoli itu malah mengobrol, sesekali Monita bersembunyi dibalik selimut, keterlaluan, Ilham menurunkan suhu kamarnya menjadi sangat dingin, dinginnya minta ampun.
Ilham memang sengaja menurunkan suhu AC kamar itu, biar Monita merasa kedinginan dan merapat ke arahnya, sekedar memberi kehangatan yang sempat ia tawarkan tadi.
__ADS_1
“Tidur lagi yuk!” Sebuah kecupan kembali melayang di kening Monita.
Menurut Monita, semenjak hamil sifat Ilham padanya berubah menjadi sangat manis, Monita sempat berfikir, kalau seperti ini terus, Monita tidak masalah jika tiap tahun diminta untuk hamil, Monita pun tersenyum kecut, ada-ada saja isi pikiran gadis manis ini.
“Kenapa tersenyum?” Tanya Ilham yang sempat memperhatikan wajah gadis belia itu.
“Tidak.” Monita jadi gugup, ia mengulum senyumnya.
“Kenapa? Apa ada yang lucu?” Ilham terus memaksa.
“Tidak hehehe.” Monita pun tersenyum karena saking malunya.
Tiba-tiba Ilham terkesima dengan senyuman polos tanpa dosa itu, saking gemasnya, langsung saja Ilham mencium bibir gadis manis itu.
Monita semakin terkekeh, entah kenapa dia sangat menyukai perlakuan Ilham itu.
“Coba katakan apa yang membuatmu tersenyum?” Ilham semakin penasaran karena Monita hanya menggeleng.
“Monita jangan buat aku semakin penasaran!”
Karena Ilham terus menuntut, Monita membisikkan sesuatu di telinga Monita.
Disaat kebanyakan makhluk tengah terlelap, dua manusia ini malah sedang berkelana.
Ilham dan Monita berkelana tanpa batas, menembus dinding rasa dan asa yang seakan tidak pernah puas, begitu rasa dahaga itu tuntas, keduanya baru bisa mengakhiri perjalanan panjang, dan berakhir dengan mandi keringat bersama.
Setelah pertempuran selesai, gadis manis itu terlelap di balik selimut yang menutupi sekujur tubuhnya.
Di sisi gadis itu Ilham tertidur dengan wajah yang dipenuhi rasa kepuasan, kunjungan pertama pada aset yang ia miliki, membuatnya terus mengukir senyuman.
Acara kunjungan itu sukses besar, membuat wajah Ilham sumringah dan bercahaya bagaikan cahaya bulan purnama.
Tak lama kemudian Ilham terbangun karena merasa haus, dia ingin ke dapur untuk mengambil minum, tenaganya terkuras karena ulahnya sendiri.
Dikecupnya kening wanita yang kini sedang mengandung benihnya tersebut, perlahan dengan hati-hati Ilham turun dari ranjang tanpa suara.
Ilham meninggalkan istrinya yang sedang terlelap, ditutupnya pintu kamar dengan pelan, supaya tidak menimbulkan bunyi.
__ADS_1
Ilham pun berbalik menuju dapur, namun ada sosok wanita yang menatapnya tak percaya, membuat hati Ilham langsung ngilu luar biasa.
Hati Ilham mulai bergejolak, rasa bersalah kian menyeruak ke dalam hati yang mulai bercabang itu.
“Sayang, kamu sudah pulang?” Tanya Ilham menatap Naomi yang sudah berdiri di hadapannya.
Namun mata Naomi sudah mengembun, begitu melihat pemandangan yang mengganggu hatinya, meski berusaha tegar, namun ia hanyalah wanita biasa, yang akan merasa tidak kuat bila miliknya terbagi.
“Kamu belum mau tidur?” Kata sederhana itu keluar juga dari mulut Ilham, awalnya kata-kata itu begitu sulit ia ucapkan, sudah kedapatan begini, membuat Ilham malu setengah mati, malu pada kesetiaan yang pernah ia utarakan, malu pada janji yang sudah ia langgar, malu pada kenyataan kalau hatinya mulai bimbang.
Ternyata sulit juga bila berbuat adil, karena adil sulit diterapkan dalam kehidupan rumah tangga, adil hanyalah kata-kata yang hampir tidak bisa direalisasikan.
Ilham tampak kelimpungan begitu Naomi memandangnya dengan tatapan yang seakan menuntut ketidakadilan yang ia dapatkan.
“Sudah larut, tidurlah, kamu pasti lelah.” Ucap Ilham dengan suara pelan, keberanian pria perkasa itu seakan hilang entah kemana rimbanya.
BRUAKKK
Ilham terhenyak begitu Naomi menutup pintu kamarnya dengan keras, Ilham sampai tersentak saking kagetnya.
Naomi benar-benar kesal pada Ilham, ia sengaja menutup pintu keras-keras, agar suaminya itu tau kalau dirinya sangat marah, ternyata ini yang mereka lakukan selama Naomi tidak ada, Naomi benar-benar menyesal sudah percaya sepenuhnya pada gadis polos itu, tidak dia bukan gadis polos, dia wanita murahan dari rumah bordil, tunggu saja, begitu anaknya lahir, Naomi akan kembali menjadi ratu di hati Ilham dan di rumah ini.
Naomi sudah pulang sejak satu jam yang lalu, dia mengintip ke kamar Monita, namun Monita sudah tertidur, satu jam kemudian Ilham pulang, Naomi yang memang tidak bisa tidur mendengar suara mobil dari depan, Naomi bergegas ke balkon kamar melihat sang suami menuruni mobil, melihat sosok Ilham yang turun dari mobil membuat Naomi tersenyum bahagia, ia bergegas menuju meja rias dan mengenakan lingerie serta menyemprotkan parfume ke seluruh tubuhnya.
Naomi sengaja tidak memberitahu Ilham tentang kedatangannya, agar menjadi kejutan.
Naomi mengintip sejenak dari balik pintu, ia mengulas senyuman begitu Ilham menaiki anak tangga, dia kembali berdiri tegak sembari merapikan rambutnya, begitu ia kembali mengintip, Ilham malah melewati kamarnya dan malah memasuki kamar utama yang dia berikan pada Monita.
Sesak, itulah yang Naomi rasakan, dadanya terasa sesak, nafasnya memburu, jantungnya seperti terhenti sejenak, perlahan buliran bening jatuh membasahi pipinya, Naomi menangis sejadi-jadinya, tubuhnya merosot di balik pintu dengan tangis yang begitu memilukan.
Cukup lama istri pertama Ilham itu menangis, setelah tangisnya sedikit mereda, hati Naomi mulai sedikit tenang, ia perlahan membuka pintu kamarnya, dan berjalan keluar menuju pintu kamar Monita, agak lama dia berdiri di situ, menunggu suaminya atau madunya keluar, Naomi bermaksud ingin menciduk sang suami dan juga Monita, Naomi ingin mereka tertangkap basah.
Benar saja, tak lama berdiri di depan pintu kamar utama dengan jarak yang cukup jauh, Ilham keluar dari kamar Monita, bisa dipastikan mereka sudah melakukan hubungan ranjang di dalam sana, bisa dipastikan, hal itu sudah sering mereka lakukan, mengingat kesempatan mereka begitu banyak karena kesibukan Naomi yang bolak balik Indonesia Paris demi merintis bisnis barunya.
Ilham terciduk, Naomi berhasil membuat suaminya tertangkap basah, wajah Ilham berubah jadi pucat pasi, wajahnya menyiratkan rasa bersalah, membuat Naomi semakin yakin kalau suaminya baru melakukan hubungan ranjang dengan Monita.
Sementara Ilham, melangkah dengan gontai menuju sofa, rasa haus yang ia rasakan tadi hilang seketika, dia tidak jadi ambil minum, tenggorokannya sudah basah karena beberapa kali menelan ludah sendiri, gara-gara Naomi memergokinya.
__ADS_1
Ilham memilih untuk melanjutkan tidur yang sempat tertunda karena kejadian tak terduga tadi.