Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 83 Terlibat Cekcok


__ADS_3

“Kak David, maaf ya tadi aku bawa-bawa kal David dalam masalah rumah tangga aku dan mas Ilham.” Ujar Monita dengan raut wajah rasa bersalah.


“Jangan sungkan, tapi maaf kalau aku lancang, memangnya kalian bertengkar ya?”


Mendengar pertanyaan David, bukannya menjawab Monita malah terdiam dengan ekspresi wajah sendu.


“Emmm ya sudah tidak usah dijawab, tapi ngomong-ngomong kalian mau pulang ke apartemen?” Tanya David mengalihkan pembicaraan.


“Tidak kak, aku dan kak Monita tidak tau mau ke mana.” Jawab Eden apa adanya, mendengar pernyataan Eden itu, Monita sontak mendelikkan matanya dan mengguit siku Eden karena merasa tidak enak pada David.


“Kalau begitu bagaimana kalau kalian tinggal di apartemenku saja.” Tawar David kemudian.


“Ah tidak perlu Vid, mereka akan tinggal di apartemen saya saja.” Sergah Andre setelahnya, bagaimana pun Andre tidak suka jika istri kesayangan atasannya ini tinggal di rumah pria lain apalagi pria itu adalah rival berat atasannya.


Mendengar itu Eden menatap Andre dengan tatapan tak percaya, yang ia khawatirkan bagaimana nanti kalau kakak iparnya tau keberadaan mereka, bisa-bisa kakak ipar dan juga istri pertamanya itu akan memgambil paksa anak Monita, sama halnya dengan Eden, Monita juga punya ketakutan yang sama.


“Tenang saja, tidak akan ada yang tau keberadaan kalian.” Ujar Andre seakan mengerti kegelisahan Monita dan juga Eden.


“Emmm Vid, saya harap kamu tidak membocorkan keberadaan mereka berdua.”


“Aman kok Ndre, tenang saja.” Jawab David sembari menepuk pelan bahu Andre.


****


Satu bulan kemudian, Ilham mencari-cari keberadaan Monita namun hasilnya nihil, keadaan Ilham saat ini sangatlah kacau, tubuhnya kurus, kantung matanya semakin jelas, rambutnya memanjang karena sudah tidak pernah dipotong lagi, Ilham juga sudah tidak pernah masuk kantor dan selama sebulan itu pula Ilham selalu mengabaikan istri pertamanya, bahkan ia sudah tidak pernah menyentuh bahkan tidak pernah tidur seranjang lagi dengan Naomi, ia malah lebih nyaman tidur sendiri di sofa ruang keluarga.


Melihat hal itu Naomi semakin gusar, betapa dalamnya cinta sang suami terhadap madunya hingga membuat dia diabaikan seperti ini, Ilham tampak sangat terpukul dengan kepergian Monita.


Namun meski begitu, tak bisa dipungkiri Naomi juga merasa hampa, kepergian Monita membuat ia khawatir kalau kalau Monita berubah pikiran dan tidak akan memberikan anaknya pada mereka.


Seperti hari ini, di dalam kamarnya, Naomi sedang gundah pada saat membuka media sosial dan menonton sebuah video yang menampilkan seorang bayi yang begitu lucu.


Senyuman getir terukir di wajah cantiknya, tak lama air matanya mengalir saking terharunya, ia berandai-andai, seandainya dia mempunyai anak pasti kebahagiaannya akan terasa lengkap.


“Tuhan, kenapa harus aku yang kau pilih menjadi wanita yang tidak sempurna ini, apa salah, aku menginginkan sesuatu yang bahkan tidak mungkin aku dapatkan?” Naomi bermonolog sendiri.


Menit berikutnya, matanya menoleh ke arah pintu yang sudah terbuka, Ilham muncul dari balik pintu dan berjalan menuju toilet namun Naomi segera bangkit dari ranjang dan memanggilnya.


“Mas!” Panggilan Naomi berhasil menghentikan langkah Ilham.


Ilham berbalik dan menatap Naomi dengan mengangkat kedua alisnya sebagai isyarat untuk bertanya.


Dengan langkah gontai Naomi melangkahkan kakinya mendekati Ilham.


“Mas, ada yang ingin aku katakan, ayo mas duduk dulu.” Naomi menarik tangan suaminya dan mendudukkan Ilham di sofa yang berada di sudut kamar utama.


“Ada apa?”


“Mas, ayo kita cari Monita.”


Ilham menatap Naomi dengan tatapan tak menyangka begitu mendapat pernyataan dari istrinya, ada angin apa hingga tiba-tiba istri pertamanya itu mengajaknya mencari Monita, padahal yang ia tau sekarang Naomi sangat membenci Monita, namun kenyataannya yang ia dengar hari ini justru sebaliknya, hanya saja Ilham tidak ingin percaya begitu saja, pasti ada udang di balik batu.

__ADS_1


“Kenapa tiba-tiba kamu ingin mengajakku mencari Monita?”


“Karena aku tidak ingin kehilangan anak itu mas, itu anak kita, aku dan kamu sudah membayarnya dengan bayaran yang fantastis, kita tidak bisa membiarkan dia pergi begitu saja dan membawa anak kami, dia sudah tanda tangan di atas materai jadi dia harus menepati janjinya.”


Dugaan Ilham benar, ada sesuatu yang Naomi inginkan.


“Naomi, kita tidak boleh memaksanya seperti itu, aku ingin mencarinya tapi tidak untuk mengambil paksa anaknya.”


“Tapi itu anak kamu juga mas! Kamu berhak penuh atas anak itu, pokoknya aku tidak mau tau mas, kita harus mengambil anak itu, lagi pula bulan ini Monita melahirkan, kita harus ada di sampingnya saat anak itu dilahirkan.”


Ucapan Naomi ada benarnya juga, dia memang harus ada di saat Monita melahirkan anaknya, akhirnya Ilham mengalah, ia pun menyetujui saran Naomi untuk kembali mencari Monita.


Sudah 3 hari Ilham berhenti mencari Monita bukan karena dia sudah menyerah, tapi dia sedang berfikir ke mana lagi dia akan mencari Monita, dia sudah mencari Monita di desanya, di rumah David, di semua hotel yang ada di kota itu tapi hasilnya tetap nihil, Monita tak kunjung ditemukan juga.


“Baiklah, aku akan mencari Monita, tapi tolong kamu tunggu di sini, biar aku yang mencarinya.” Setelah berkata seperti itu, Ilham beranjak dari duduknya menyambar kunci mobil di atas nakas lalu langsung berlalu begitu saja meninggalkan Naomi sendiri di kamar.


“Mas tunggu!” Namun Ilham terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya.


“Giliran mencari Monita langsung semangat 45.” Gerutu Naomi dengan kesal.


Namun bukan Naomi namanya kalau dia menurut begitu saja dengan perintah Ilham, ia pun menyusul Ilham dan mengambil kunci mobilnya lalu keluar dari kamar, dengan berjalan cepat ia menuruni anak tangga hingga sampailah ia di garasi mobil.


Naomi dengan tergesa-gesa menancap gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk mengikuti mobil suaminya yang sudah pergi lebih dulu.


Di sisi Ilham, ia baru teringat Andre, terakhir kali dia meninggalkan Monita di apartemen bersama Eden dan Andre, dia yakin pasti saat ini Monita sedang berada di apartemen Andre, ia pun membelokkan mobilnya menuju apartemen Andre.


Sedangkan Naomi, mengerutkan dahinya begitu melihat Ilham membelokkan mobilnya menuju apartemen Andre.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Monita sedang berjalan sembari membawa belanjaan dan berjalan kaki menuju apartemen.


Naomi tak ingin menghilangkan kesempatan itu, ia segera keluar dari mobilnya dan berlari kecil menghampiri Monita.


Monita sedang asyik berjalan sembari bersenandung ria, namun langkahnya terhenti dengan dahi yang mengkerut begitu pundaknya disentuh seseorang bersamaan dengan lengkingan suara yang tak asing di telinganya.


“Mbak Naomi?” Seru Monita begitu ia menoleh.


Naomi tersenyum lebar dan tanpa aba-aba, ia merengkuh tubuh Monita ke dalam dekapannya.


“Akhirnya aku bisa menemukanmu di sini.”


Monita berhasil dibuat melongo oleh sikap Naomi yang tiba-tiba baik padanya, di dalam benaknya sudah timbul berbagai pertanyaan, ada apa dengan istri pertama Ilham ini?


“Monita, kita pulang ke rumah yuk.” Ajak Naomi dengan binar di wajahnya, begitu ia sudah melepaskan tautan tubuh mereka.


Mendengar hal itu bukannya merasa senang, Monita justru mundur selangkah, sepertinya ia masih belum yakin dengan sikap Naomi yang tiba-tiba berubah baik padanya.


“Ada apa Monita? Bukan kah kamu ingin pulang dan berkumpul lagi dengan mas Ilham?”


Monita menggeleng cepat, ia ingin menyangkal karena sejujurnya dia sudah tidak ingin lagi bersama Ilham, dia ingin pergi jauh dari kehidupan Ilham dan Naomi, lagi pula Monita heran dengan wanita yang ada di depannya ini, kenapa dia seperti ingin memberi ruang untuk Monita dan juga Ilham? Namun Monita tidak ingin tertipu untuk kedua kalinya, kalau Monita setuju dan sudah terhanyut oleh cinta Ilham, akan semakin sakit rasanya kalau sampai Naomi kembali berubah pikiran dan kembali memisahkan Ilham dan Monita, Naomi benar-benar suka mempermainkan perasaan Monita, bumil itu tidak ingin hatinya kembali terluka.


“Maaf mbak, aku sudah tidak ada keinginan lagi untuk bersatu dengan mas Ilham, aku tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kalian, aku permisi!” Pamit Monita kemudian langsung berlalu meninggalkan Naomi yang masih berdiri di depan apartemen.

__ADS_1


“Monita tunggu!” Naomi segera mengejar Monita sebelum ia masuk ke dalam apartemen, dengan sigap, Naomi mencekal tangan Monita hingga membuat Monita terhenti.


“Monita aku mohon berikan anak itu padaku, kamu sudah berjanji untuk memberikannya pada kami, lagi pula kami sudah membayarmu Monita, jadi tolong kau berikan anak itu padaku.” Naomi memohon dengan suara serak sembari mencekal tangan Monita.


“Aku tidak akan memberikan anak ini pada kalian mbak, anak ini adalah satu-satunya harta yang aku miliki setelah adikku, aku akan membawa dia pergi, mengenai uang kalian, aku berjanji aku akan menggantinya walaupun hanya dicicil.” Ucap Monita menghempas tangan Naomi lalu memegangi perutnya dengan air mata yang sudah mulai menetes di pipinya.


“Tidak Monita, bertahun-tahun aku menunggu agar bisa mendapatkan seorang anak tapi aku tidak bisa karena kekuranganku, begitu tau aku tidak bisa hamil lagi, duniaku seakan redup, namun semuanya kembali berwarna begitu tau kau hamil anak suamiku, sembilan bulan aku menunggu Monita, aku mohon berikan anak itu padaku, kau masih bisa menikah dengan pria lain dan bisa memiliki anak lagi.” Naomi memohon dengan raut wajah memelas, air matanya sudah mengalir deras membasahi pipi mulusnya.


Namun tak lama Monita mengusap sendiri air matanya lalu berkata.


“Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan anak ini pada mbak Naomi, asal mbak Naomi berikan mas Ilham padaku seutuhnya.”


Mendengar penuturan Monita, membuat Naomi sontak membulatkan matanya lantas….


PLAAKK!!!


Ia melayangkan tamparan yang teramat keras ke pipi Monita hingga membuat Monita hampir terhuyung, Monita memegang sebelah pipinya yang terasa perih akibat tamparan Naomi tadi.


“Kamu benar-benar wanita murahan, pelacur! Berani-beraninya kamu berkata seperti itu padaku!!” Bentak Naomi dengan tatapan sengit.


“Aku meminta suami pada mbak Naomi namun berhasil membuat mbak semarah ini padaku, lantas bagaimana dengan mbak Naomi yang meminta anak dari ibunya?” Ujar Monita dengan buliran bening yang lolos begitu saja dari netranya.


“Aku meminta anak padamu karena aku sudah membayarmu dengan harga yang sangat fantastis, bukan kah itu wajar? Tapi kenapa sekarang kamu malah berubah pikiran! Bukankah kamu seperti menipu kami?!”


“Menipu bagaimana mbak? Sudah aku katakan, aku akan mengganti uang kalian namun biarkan aku pergi membawa anakku, kenapa mbak malah menyebutku penipu?!”


“Monita aku mohon padamu, tolong jangan keras kepala, berikan anak itu padaku tanpa harus melepaskan mas Ilham.” Naomi memohon dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


“Ada apa lagi ini?” Eden tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah mereka, begitu melihat keberadaan Eden Monita segera berdiri di samping adiknya.


“Kamu lagi? Kenapa kamu tidak pernah berhenti mengganggu kehidupan kak Monita? Tidak cukup kah selama ini kalian selalu membuat kakakku bersedih?”


“Eden, aku mohon bujuk kakak kamu agar dia mau memberikan anak itu padaku, aku sudah menunggu anak itu selama sembilan bulan, tapi begitu anak itu akan segera lahir, kakak kamu malah tidak ingin memberikan anak itu padaku.” Ucap Naomi dengan raut wajah memelas.


“Pak security!!” Eden berteriak memanggil security yang kebetulan berdiri tidak jauh dari mereka.


Pak security pun menoleh ke arah Eden lalu segera menghampiri mereka.


“Iya mbak ada apa?”


“Tolong bapak bawa wanita ini keluar, karena dia sudah mengganggu kenyamanan kami selaku penghuni apartemen ini.” Tegas Eden sembari menatap sengit ke arah Naomi.


“Baik mbak.” Jawab security hendak mencekal tangan Naomi namun wanita itu segera menepisnya.


“Tidak perlu!! Saya bisa jalan sendiri!” Tegas Naomi sembari menatap sinis ke arah Eden dan Monita kemudian berlalu dari hadapan mereka.


“Den sepertinya kita harus segera pindah dari sini, mereka sudah mengetahui keberadaan kita.” Ungkap Monita mulai merasa tidak aman dengan tempat mereka sekarang.


“Baiklah kak, tapi bagaimana kalau kita tinggal di kos-kosan milik kak David saja? Aku yakin mereka tidak akan menemukan kita di sana, aku dengar kak David punya kos-kosan di kompleks B.” Saran adiknya pada Monita.


“Iya Den, terserah kamu saja, yang penting kita pindah dari sini sekarang juga.”

__ADS_1


__ADS_2