Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 138 Kelahiran Kedua


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu keadaan Rosa semakin membaik. Namun Roy dan Doni masih tetap di sana untuk mengawasi Rosa. Meski sedikit tidak suka, tapi David memaklumi apa sebab mereka mengawasi Rosa seketat itu.


“Ros.” Panggil David begitu dia selesai menyuapi Rosa.


“Hm?”


“Kenapa kau bisa senekat itu menyakiti Monita? Kenapa kau berubah menjadi semengerikan itu?”


Percayalah, pertanyaan David sukses membuat Rosa bungkam dan menundukkan wajah. Dia malu? Jelas saja iya, bahkan dia tak habis pikir kenapa juga dia nyaris meracuni Monita, benar-benar perbuatan orang rendahan, dan saat itu juga Rosa merasa persis orang rendahan.


“Ya aku mengerti, itu semua karena kamu mencintai Ilham kan? Tapi Ros, kalau boleh aku mengingatkan, lebih baik kau menyerah saja, pasti banyak pria yang akan menyukai kamu.”


“Termasuk kamu?”


Pertanyaan Rosa seketika membuat David tertegun. Antara senang atau tidak, tapi terus terang dia tidak tau dengan cara bagaimana dia menanggapinya. Kalau boleh jujur, dia masih cinta tapi David bingung dengan pertanyaan Rosa yang terdengar ambigu.


“Mau makan apa lagi?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Rosa, David justru mengalihkan pembicaraan yang membuat Rosa gusar. Dari mata David jelas terlihat pria itu masih menyimpan cinta sedalam itu padanya, dan Rosa tidak mau hilang kesempatan.


Seminggu ini David menjaganya, hal itu membuat mata hati Rosa terbuka dan sadar sesadar sadarnya bagaimana perasaan Rosa yang sebenarnya. Seminggu merupakan waktu yang cukup untuk Rosa menyadari rasa cintanya. Terserah bagaimana perasaan David padanya, yang jelas Rosa ingin mengutarakan cintanya sekarang.


“Aku masih mencintai kamu mas.”


David tertegun, dia berusaha memastikan apakah pendengarannya tidak salah? Indera pendengarannya mendadak terganggu sepertinya.


“Ka_kamu bilang apa tadi?”


“Aku masih mencintai kamu Vid, dan aku ingin kembali padamu.”


“Tapi sebelum kamu menjawabnya, aku ingin jujur satu hal.” Imbuhnya kemudian.


“Apa?”


Rosa menghela napas kasar, memejamkan mata sesaat lalu membukanya perlahan. Sekuat mungkin dia meyakinkan diri, tidak ingin menutup-nutupi apapun. Bukan kah suatu hubungan harus diawali dengan kejujuran? Tak peduli David menerimanya atau tidak, tapi Rosa ingin jujur saja. Detik ini juga, Rosa ingin berhenti dari dunia hitam itu. Namun sebelum itu dia harus berterus terang, takutnya David tau dari orang lain.


“Sebenarnya aku_ bekerja sebagai wanita malam di club A.” Ungkap Rosa seraya menundukkan kepala. Malu sekali rasanya dia, wajahnya memerah jantungnya seakan berhenti berdetak dengan mata yang mulai membasah.

__ADS_1


Mendengar itu mata David membulat sempurna, pengakuan Rosa ini bagaikan tamparan baginya. Dadanya terasa sesak, sakitnya bak dihujam ribuan anak panah, pasokan udara di ruangan tersebut seakan tak dapat melegakan pernapasannya. Pria itu mendadak lemas dengan air mata yang menetes di pipinya. Rosa bisa melihat raut kekecewaan dari wajah David.


“Entah sudah berapa banyak lelaki yang telah tidur denganku. Entah setebal apa dosa yang menempel di tubuhku, maafkan aku David, aku masih berani mencintaimu dengan keadaan mahkotaku yang sudah tak berbentuk lagi.” Lirih Rosa dengan kristal bening yang sudah lolos dari pelupuk matanya. Dia bahkan turun dari ranjang dan bersimpuh di kaki David, namun semakin terpukul lah Rosa kala David malah menjauhkan kakinya begitu Rosa hendak menyentuhnya. Rosa menatap sendu ke arah David, dan dengan sisa tenaganya dia berusaha berdiri dan menatap manik indah itu.


“Kenapa mas? Kamu tidak sudi aku sentuh? Aku sudah yakin, kamu akan menghindariku setelah aku jujur, tapi tidak apa, setidaknya aku lega sudah berani mengutarakan perasaanku padamu dan sudah berani jujur tentang semuanya. Aku tidak keberatan kalau kamu tidak sudi menatapku lagi, karena seorang pelacur sepertiku, tidak pantas buat kamu.” Lirih Rosa dengan suara tertahan. Semakin sakit rasanya, begitu David menatapnya dengan tatapan kecewa. David tetap bergeming, ini semua masih sangat asing baginya, masih sulit rasanya jika dia harus menatap netra itu lagi dengan cinta.


Rosa tersenyum getir lalu mundur perlahan. Jangan ditanya bagaimana perasaannya, tentu saja sangat sakit, batinnya bagai terkoyak belati, perih tak tertahankan. Niatnya ingin mengutarakan semua yang dia rasa tanpa sisa, tapi nyatanya dia malah mendapatkan penolakan dari David. Munafik jika dia tidak berharap, secebis harapan itu ada sebenarnya meski wanita itu sudah berusaha jujur.


“Terima kasih sudah mau merawat seorang pelacur sepertiku hingga sembuh. Aku akan berhenti dari dunia hitam itu dan pergi jauh dari kota ini demi bisa menghindari mami Bela dan anak buahnya yang sewaktu-waktu akan menangkapku. Seminggu kau menjagaku di sini, demi Tuhan mataku terbuka untuk berhenti dari pekerjaan itu.”


David terdiam, tidak tau lagi harus berkata apa. Yang pasti, saat ini dia sangat kecewa. David memejamkan mata seraya memijat pangkal hidungnya, semua terasa mengejutkan. Di saat bersamaan Rosa mengungkapkan cinta dan menguak fakta yang membuat dada David sesak. Pria itu bingung harus bersikap bagaimana, untuk saat ini, rasa kecewanya lebih besar dari tubuhnya.


“Maaf Ros, aku harus pulang.” Ucap David kemudian langsung berlalu meninggalkan Rosa saat itu juga. Ungkapan itu bak anak panah yang menghujam tepat di dadanya, wajar jika David terkejut. Dengan tatapan sendu dan sejuta sesal, Rosa memandangi mantan kekasihnya yang perlahan menghilang.


****


Setelah setengah jam keberangkatan Ilham ke kantor, Monita mulai merasa tak nyaman pada perutnya. Sejak tadi dia tampak biasa saja, bahkan dia sempat berjalan keliling pekarangan rumah untuk mencari keringat, namun siapa sangka 10 menit kemudian Monita merasakan mules yang tiada tara.


Eden dan mama Nancy yang kala itu tengah berada di dapur sontak terkejut mendengar teriakan Monita dari taman belakang. Dengan langkah tergopoh-gopoh mereka bergegas menuju taman belakang untuk memastikan apa yang telah terjadi.


“Astaghfirulah Monita!” Pekik mama Nancy mendadak tersentak melihat Monita sudah terkapar lemas di rerumputan seraya meringis kesakitan.


Mama Nancy berteriak memanggil pak Rudi hingga membuat sang empu bergegas menghampiri.


“Ada apa Nya? Apa ada maling?”


“Maling dengkulmu, nona Monita mau lahiran, kita harus segera membawanya ke rumah sakit.” Bukan main kesalnya mama Nancy kala Rudi malah menanyakan maling ketimbang melihat kondisi menantunya terlebih dahulu.


“Sekarang Nya?”


“Nggak, tunggu lebaran kuda! Ya sekarang dong Rud, gimana sih kamu.” Omel mama Nancy yang teramat gusar. Dia sudah sedarurat itu, tapi lemotnya Rudi malah kambuh di saat genting begini. Pak Rudi memang selemot itu, dan lemotnya itu selalu bikin mama Nancy sekeluarga sakit kepala. Tapi mereka tetap mengandalkan Rudi selama bertahun-tahun ini karena kejujuran dan keuletan Rudi yang tidak bisa keluarga Adhitama temukan pada orang lain.


Secepat itu pak Rudi mengambil alih Monita dan membopongnya menuju mobil. Setelah meletakkan Monita di kursi belakang, pak Rudi mengitari mobil dan duduk di bangku kemudi.


Sepanjang perjalanan, Monita terus meringis kesakitan, dia meremas ujung bajunya karena tidak mungkin menjambak rambut mama Nancy. Kalau saja itu Ilham, Monita bisa dengan bebas melampiaskan rasa sakitnya, tapi ini mama Nancy, mana berani dia.


“Rud, cepat sedikit, Monita sudah sangat kesakitan.” Titah mama Nancy tampak gusar, padahal pak Rudi sudah melajukan mobil dengan kecepatan penuh, tapi mama Nancy merasa pak Rudi seperti kusir delman yang mengendalikan kuda. Lamban sekali rasanya, mungkin karena baru kali ini mendampingi mantu lahiran, jadi dia agak berlebihan.

__ADS_1


“Ini sudah cepat nya.” Sahut Rudi yang jadi bingung, cepat yang bagaimana lagi maksud nyonya besarnya ini.


Perjalanan yang harusnya ditempu selama 30 menit, kini hanya dipersingkat menjadi 10 menit. Kini mobil sedan berwarna hitam itu sudah memasuki pekarangan rumah sakit, para perawat dengan sigap menyambut Monita dan membaringkannya di brankar dengan dibantu oleh mama Nancy dan Eden.


Kata orang, sekecil apapun perbuatan pasti ada balasannya. Beberapa hari lalu, Ilham menghardik seorang pria yang menabraknya karena harus menemani istrinya lahiran.


Dan hari ini Ilham menuai karmanya, usai melaksanakan rapat bersama para petinggi perusahaan, detak jantung Ilham seolah berhenti begitu mendapat kabar dari papa Agam kalau istrinya sudah berada di rumah sakit dan sudah pembukaan 8 cm.


“Kenapa tidak cepat memberitahuku?”


“Ini bukan waktunya bertanya-tanya Ilham, cepat ke sini. Monita dilarikan di rumah sakit A.”


“Wajarlah pa aku tanya, masa aku dikabari pas sudah bukaan 8.”


“Sudah cepat ke sini.” Papa Agam mematikan sambungan telepon secara sepihak, untung saja jarak antara rumah sakit dan kantor Ilham hanya 10 menit saja. Tapi tetap saja Ilham gusar, terlebih jalanan dari kantor menuju rumah sakit rawan macet, semakin panik lah dia.


“Andre stop!”


“Kenapa Ham?”


“Kau lambat, bisa-bisa anakku sudah lahir kalau begini.”


Ilham melihat ke depan, sepertinya dia bisa turun dari mobil dan berlari menuju rumah sakit, paling cuma butuh lari selama 5 menit saja untuk dia bisa sampai ke sana.


Hingga akhirnya, tanpa pikir panjang Ilham segera turun dan berlari secepat mungkin. Dia tidak mau kehilangan momen penting ini, sudah cukup dia tidak ada saat Dikta lahir, untuk anak kedua ini Ilham ingin menyaksikan sendiri sang buah hati mendobrak pintu dunia untuk bertemu dengannya.


Tak peduli dengan umpatan beberapa orang yang bertabrakan dengan Ilham secara tidak sengaja. Pria itu terus berlari dengan langkah tergesa-gesa, untung saja perjuangan Ilham tidak sia-sia.


Semua saling harap dan berpikir jika Ilham sudah dihubungi, hingga begitu mereka menyadari Ilham tidak muncul juga padahal sudah bukaan 9, mereka sontak panik dan bergegas menghubungi Ilham.


Hampir terlambat, beberapa detik dia menggenggam tangan sang istri menggantikan mamanya, tangisan sang buah hati memecah suasana hingga Ilham menitikkan air mata.


Malaikat kecil nan tampan itu kini hadir sudah. Sembilan bulan menanti, meski harus terbayar sekali pun dengan keringat dan darah diujung perjuangan Monita.


“Kamu hebat sayang, dia pasti secantik kamu.” Ucap Ilham yang masih mengirah anak mereka perempuan.


“Btw dia laki-laki.” Jawab Monita menghela napas panjang, meski dalam keadaan lemah, rasanya mulutnya gatal kalau tidak membenarkan ucapan Ilham.

__ADS_1


“Astaga aku tidak tau sayang.”


Sementara di sisi lain, tak hanya Monita yang saja yang berjuang. Di Jerman, Amira juga baru saja melahirkan buah cinta mereka yang ketiga bersamaan dengan lahirnya putra kedua Ilham dan Monita. Mereka melakukan panggilan virtual, dan memperkenalkan putra dan putri mereka masing-masing. Ya, untuk kali ini Amira melahirkan seorang putri yang cantik, secantik dirinya.


__ADS_2