Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 60 Kencan Membawa Ija


__ADS_3

Malam harinya tepat pukul 18.20, Eden berjalan mondar mandir di kamarnya memikirkan cara untuk pergi bersama Andre, mengingat dirinya yang selama ini tidak pernah keluar bersama seorang lelaki, membuat dia ragu sekaligus malu untuk meminta izin Monita.


Hingga tak lama kemudian, Eden pun memantapkan hatinya dan memberanikan diri untuk keluar kamar dan meminta izin pada Monita dan Ilham, ia pun bergegas meraih tas yang ada di atas nakas, sejak tadi Eden sudah siap-siap, tapi dia masih ragu untuk keluar kamar.


Sedangkan Andre, dia memberanikan diri untuk menjemput Eden namun hanya di depan rumah saja, bahkan Andre belum turun dari mobil karena masih ingin mengumpulkan keberanian.


“Den, mau kemana sudah rapi begitu?” Tanya Monita yang tak sengaja melirik Eden yang sudah berdiri di samping mereka berdua.


Posisinya saat itu Monita dan Ilham sedang duduk bersantai di ruang keluarga, namun fokus Monita teralih ke Eden yang sudah berdiri di samping mereka dalam keadaan yang sudah rapi.


Eden masih diam dan sesekali tersenyum lirih, senyumannya tampak sangsi, Eden seperti ragu-ragu menjawab pertanyaan Monita.


“Den?” Panggil Monita lagi.


“Kak.. Eden mau jalan-jalan sama kak Andre, boleh kan?” Tanya Eden dengan nada lirih.


“Den, maaf ya kakak tidak bermaksud untuk mengekang kamu, hanya saja ujian kamu kan masih 5 bulan lagi, alangkah baiknya kamu fokus dengan ujian kamu dulu, jangan pacaran dulu, bukan apa-apa, kakak hanya ingin masa depan kamu tidak terganggu, kalau kamu berpacaran atau kencan begini dengan seorang pria yang ada fokus kamu akan terbagi.” Terang Ilham mencoba memberi pengertian pada adik iparnya itu.


Sementara Monita, mencerna semua ucapan Ilham dan mengiyakan apa yang Ilham katakan.


“Kakak setuju dengan kakak ipar kamu Den, sebaiknya kamu fokus dulu dengan masa depan kamu, kakak hanya tidak ingin terjadi apa-apa padamu, bukan kakak tidak percaya pada kalian berdua, tapi siapa yang bisa menjamin, dua orang yang sedang di mabuk cinta tidak akan melakukan hal di luar batas, apalagi hanya pergi berdua.” Jelas Monita menambahkan.


“Tapi kan kak..”


“Den tolong kamu dengarkan nasehat kami sebagai pengganti orang tua untukmu.” Ucap Ilham menimpali.


“Tapi kakak ipar, kasihan kak Andre, dia sudah sejak tadi menungguku di luar, kalau aku membatalkannya, bisa-bisa kak Andre akan kecewa dan sedih.”


“Benar-benar ya anak itu, sudah aku katakan tadi pagi agar jangan mengganggu Eden dulu, kenapa dia tidak mengerti juga, akan aku temui dia.” Umpat Ilham hendak beranjak namun Monita menahan tangannya.


“Mas… tahan emosi kamu!” Ujar Monita memperingatkan.


“Tapi sayang…”

__ADS_1


“Mas, kalau aku pikir-pikir, lebih baik Mas izinkan saja Eden pergi bersama Andre, kasihan Andre ternyata sejak tadi dia di luar menunggu Eden.” Ucap Monita yang jadi tak tega.


Mendengar penuturan Monita, senyuman Eden mengembang seketika, dia senang kakaknya akan membelanya, dia yakin Ilham tidak akan berani menolak apa yang dikatakan kakaknya nanti.


“Sayang, bagaimana bisa kamu berubah pikiran secepat ini, tadi kamu setuju dengan pendapatku, tapi sekarang setelah tau Andre menunggu di luar kamu jadi luluh, bagaimana nanti kamu akan mendidik anak kita nanti kalau kamu selalu saja mudah merasa iba begini.”


“Mas, aku mengizinkan Eden dan Andre pergi, karena aku akan meminta Ija untuk menemani mereka berdua.”


Mendengar itu Eden sontak mendelikkan matanya, bagaimana bisa berkencan tapi bertiga, yang dia tau di mana-mana kencan itu hanya untuk dua orang saja, bisa-bisa dia tidak akan punya kesempatan berduaan dengan Andre, semua akan terbatas jika ada Ija.


Eden seperti itu bukan karena ingin melakukan hal tak senonoh dengan Andre, tapi dia hanya ingin berdua dengan Andre, pure hanya berkencan berdua saja, dia akan membuat Andre menyatakan cinta padanya, namun sepertinya gagal karena ada Ija.


“Kak kenapa harus dengan Ija si?” Protes Eden sedikit kesal.


“Kamu pergi bersama Ija atau tidak sama sekali?”


“Haiss..” Gerutu Eden agak gusar, kenapa sekarang kakaknya jadi ketularan posesifnya kakak ipar, dia kan jadi tidak leluasa.


Sementara Andre tampak gelisah menunggu Eden di dalam mobil, hingga akhirnya ponselnya berdering, panggilan masuk dari Ilham, melihat itu Andre mengerinyitkan dahinya.


“Kenapa tuan menelepon?” Akhirnya Andre pun menjawabnya.


“Halo tuan.”


“Ndre, kau ada di depan rumahku ya sekarang? Kalau mau menjemput Eden cepat masuk ke dalam rumah.” Ujar Ilham dengan lugasnya.


Deegg…


“Dari mana tuan tau kalau aku ada di depan?” Jantung Andre seakan berhenti sejenak, ia pun menghela nafas panjang, demi menetralkan perasaannya.


“Andre! Kenapa kau diam saja? Apa kau mau aku berubah pikiran dan tidak mengizinkanmu membawa Eden.” Tegas Ilham dengan nada ancaman.


“Ti.. tidak tidak tuan, baiklah aku akan segera masuk.” Jawab Andre dengan cepat.

__ADS_1


Akhirnya tanpa pikir panjang, Andre pun membuka pintu mobilnya dan turun dari mobil, dengan langkah gontai, dia berjalan memasuki rumah Ilham dan mendapati Ilham dan Monita yang sudah duduk menunggunya di ruang tamu.


“Duduk!” Titah Ilham begitu melihat Andre berdiri di ambang pintu.


Andre pun berjalan menghampiri kedua majikannya itu dan duduk di sofa yang ada di depan mereka, Andre tampak ragu mengangkat wajahnya untuk menatap Ilham dan Monita.


“Kak Andre, tidak perlu menunduk seperti itu, rileks saja kami tidak akan memangsamu kok.” Ucap Monita sembari menahan senyumnya melihat tingkah laku Andre yang terlihat begitu kikuk.


“Maaf nona, aku hanya merasa rendah saja, datang ke sini dan mengajak salah satu keluarga Adhitama untuk berkencan.” Jawab Andre dengan segan.


“Sudah aku katakan kak, jangan sungkan seperti itu, aku dan Eden sebenarnya juga hanya dari keluarga biasa-biasa saja, dan akan kembali ke derajat kami jika suatu saat akan….” Ucapan Monita terpotong karena Ilham segera menyergahnya.


“Akan apa? Jangan bilang kamu akan mengatakan itu lagi, sudah berapa kali aku bilang, jangan bahas soal itu lagi sayang, kamu tidak akan ke mana-mana, kamu akan selamanya denganku.” Ungkap Ilham sembari menatap lekat istrinya dan menggenggam kedua tangannya.


“Tapi Mas…”


“Ssstttt!! Jangan bicara hal itu lagi ok!” Ilham meletakkan jari telunjuknya di bibir Monita.


Monita pun mengangguk patuh lalu balas menatap Ilham dengan lekat, kini mereka saling menatap jauh ke dalam manik mata masing-masing.


Sementara Andre yang melihat itu seperti obat nyamuk saja, melihat keromantisan kedua pasutri itu membuat dia merasa iri, seandainya dia bisa cepat-cepat menikahi Eden, pasti dia akan sangat bahagia.


“Tuan dan nona ini bisa-bisanya mempertontonkan kemesraan mereka di depan aku yang masih jomblo ini.” Gumam Andre dalam hati.


Sementara Eden dan Ija, sudah siap-siap untuk pergi bersama Andre.


Namun Andre mengerutkan dahi begitu melihat Ija yang juga sudah siap-siap.


Seakan mengerti dengan tatapan Andre itu, Ilham pun segera memberi penjelasan.


“Ija akan menemani kalian selama bersama, mengingat karena aku belum percaya sepenuhnya jika kau akan menahan diri saat hanya jalan berdua saja, akan lebih baik jika ada orang lain yang menemani kalian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”


Mendengar itu Andre benar-benar dibuat melongo, bagaimana bisa dia berkencan tapi harus ditemani Ija, namun berbeda halnya dengan Eden yang memikirkan cara agar Andre akan menyatakan cinta padanya, Andre justru belum mau menyatakan perasaannya sampai Eden lulus SMA, Andre benar-benar ingin menjaga kepercayaan Ilham, untuk malam ini, Andre hanya ingin berkencan saja.

__ADS_1


__ADS_2