
Satu bulan kemudian, kini kandungan Monita sudah memasuki usia 3 bulan, Nancy dan Agam sering mengunjungi rumah mereka untuk menjenguk Naomi dan membawakannya makanan, seperti biasa, disaat kedua mertuanya datang, Monita selalu bersembunyi di dalam kamar, walaupun Naomi sudah mengajaknya keluar untuk bertemu mertuanya, namun Monita tetap tidak mau, dia belum siap bertemu mereka.
Saat ini Naomi tengah disibukkan dengan bisnis barunya dibidang fashion, sesuai cita-cita Naomi dari dulu, ia ingin Ilham memodalinya untuk membangun bisnis fashion dan Ilham sudah mengabulkannya, kini ia tengah sibuk merintis usahanya itu.
Nancy yang mendengar Naomi akan menyibukkan diri dengan bisnis barunya itu pun sempat melarangnya, karena khawatir dengan kandungan pura-puranya itu, namun Naomi tetap kekeh dengan berjanji tidak akan terlalu kelelahan karena ada asisten wanitanya yang akan membantu, hingga akhirnya dengan terpaksa, Nancy pun menyetujuinya.
Lewat produk bernama NR by Naomi Ratu istri pertama Ilham itu menjual berbagai macam produk dress dan tas branded, adapun brand fashionnya itu ia beri nama Naomiratu.co.
Bahkan seminggu yang lalu, Naomi baru pulang dari luar negeri untuk memperkenalkan brand fashion miliknya, di salah satu negara besar yaitu Prancis.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Ilham baru pulang dari kantornya karena ada meeting mendadak saat sore hari.
Tak lupa ia singgah ke toko bunga untuk membeli dua buket bunga untuk kedua istrinya, begitu sampai, Ilham langsung turun dari mobil dan membawa satu buket bunga mawar super besar di tangannya sedangkan buket bunga besar yang satunya lagi ia tinggalkan di mobil, biarlah nanti akan ia berikan pada Monita saat malam hari.
Entah kenapa malam ini Ilham begitu merindukan Naomi, seperti lama tak berjumpa saja. Tentunya hal itu karena Ilham yang sudah tidak pernah lagi tidur di kamar Naomi, ia diam-diam tidur di kamar Monita dan menghabiskan malam bersama istri keduanya itu, lalu berpindah lagi ke ruang TV begitu sudah jam bangun Naomi, yaitu jam lima pagi.
Rasa bersalah kini menyelimuti hati Ilham yang sudah sering mengabaikan Naomi, istri pertamanya itu.
Wajah berseri dan senyum yang tak pernah lepas dari bibirnya, diambang pintu kamar Naomi sudah menjemputnya dengan wajah yang ditekuk.
“Jangan merajuk begitu dong sayang..” Ilham berlari menghampiri Naomi, mengangkat tubuh istrinya lalu menciumi wajahnya bertubi-tubi, kebetulan malam itu Monita sedang ada di kamarnya dan ruangan itu terlihat sepi jadi Ilham tidak perlu drama sembunyi-sembunyi lagi dengan Naomi.
Sedangkan Naomi, ia tertegun sejenak melihat Ilham yang memperlakukannya seperti itu, pasalnya semenjak kepulangannya, Ilham sudah tidak pernah menyentuh dan menciuminya seperti sekarang ini, perasaan bahagia kian menyelimuti hati Naomi, ia tersenyum bahagia, suaminya sudah kembali seperti dulu lagi, Naomi pun mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
Masih menggendong Naomi, ia merebahkan tubuh Naomi di ranjang lalu langsung menindihnya.
Lantas Ilham menghujami ciuman di bibir indah Naomi secara membabi buta.
Ilham berhenti, barulah ketika sang istri menyudahi aksinya dengan cara menepuk dadanya berulang kali.
“Mas, aku pikir sikap dinginmu padaku akhir-akhir ini karena kamu sudah mencintai Monita dan ingin menjaga perasaannya hingga kamu tidak ingin tidur sekamar denganku lagi.” Pandangan Naomi sendu, jari-jarinya bermain di dada Ilham yang tertutup kemeja hitam.
“Tidak mungkin, aku punya kamu yang paling sempurna dari semuanya.” Kata Ilham, setelahnya dia menciumi pipi Naomi, singkat saja tapi berhasil membuat Naomi merona hebat.
“Jadi Mas benar-benar tidak mencintainya kan?” Tanya Naomi lagi.
Ilham pun menghela nafas kasar, ia terdiam sejenak, bagaimana tidak, sebenarnya Monita juga sudah menempati singgasana di hatinya, namun tidak mungkin dia jujur pada Naomi soal perasaannya itu.
“Benar! Aku tidak berbohong sayang, coba kamu ingat-ingat lagi, kapan aku berbohong padamu?”
Naomi langsung menggeleng, dia tau betul Ilham tidak pernah berbohong tentang apapun.
__ADS_1
Sang suami selalu mengatakan apa saja yang dialaminya kepada Naomi, selalu seperti itu selama bertahun-tahun kebersamaan mereka.
“Maaf Mas, aku benar-benar takut kamu berpaling dariku, aku tau sebagai seorang wanita aku tidak sempurna, aku tidak bisa memberimu anak, aku cacat Mas.” Mata Naomi berkaca-kaca.
“Ssstt! Jangan berkata seperti itu, kamu sempurna sayang, tidak ada wanita di luar sana sesempurna kamu.” Hibur Ilham.
“Termasuk Monita?”
“Iya.”
Meskipun bibir Ilham menyunggingkan senyuman lebar, namun sebenarnya hatinya seperti dicabik-cabik dengan brutalnya, kebohongan ini benar-benar menyiksa, Ilham merasa membohongi Naomi dan Monita sekaligus di saat bersamaan.
“Aku pikir hati Mas sudah bercabang dua.” Rajuk Naomi dengan bibir yang ia majukan beberapa senti.
Jika ini Monita, Ilham pasti sudah mencubit gemas pipi tembemnya, sayangnya, perempuan yang ada dibawahnya ini adalah Naomi, berlaku imut di umurnya yang hampir memasuki tiga puluh tahun, tidak menimbulkan kesan apa-apa pada Ilham.
Mungkin kah dia sudah tidak mencintai Naomi?
“Kalau hatiku sudah bercabang dua, kamu mau apa sayang?”
Ilham menampilkan senyum menggoda, padahal, dia berharap Naomi akan memberikan jawaban yang sesuai kehendaknya, menerima pernikahannya dengan Monita selamanya.
“Aku mau minta cerai lah! Untuk apa aku ada di samping kamu sementara kamu sudah tidak memerlukan aku.” Ketus Naomi.
“Tapi, walau pun aku menikah dengan Monita selamanya, kamu tetap jadi yang pertama sayang.”
“Yakin kalau aku tetap jadi yang pertama? Oke mungkin aku jadi yang pertama, tapi aku sudah bukan segalanya kan.” Naomi sangsi.
Naomi seratus persen benar, Ilham mengakuinya bahkan sekarang dia sedang merasakannya, kehadiran Naomi tidak terlalu berarti lagi di hatinya, posisi Naomi perlahan-lahan sudah tergantikan oleh Monita.
Bukan salah Monita, ini sepenuhnya salah Ilham yang tidak bisa menjaga hatinya, ia membiarkan dirinya jatuh begitu saja pada Monita, dan mencintai perempuan manis itu dengan segenap hatinya.
“Kalau kamu terus bersama Monita, kita cerai ya Mas.”
Ucapan Naomi menarik kesadaran Ilham kembali pada kenyataan, dia menatap wajah Naomi dengan tatapan memelas, ia sangat benci dengan kata ‘cerai’ entah itu dari Naomi atau Monita yang mengatakannya, sama-sama akan membuat hati Ilham terluka.
“Aku janji tidak akan hidup selamanya dengan Monita sayang, cukup kamu saja.”
“Aku pegang janji kamu Mas.”
Lalu ia menarik tengkuk Ilham, dan mulai mencium bibir tebal Ilham, dengan senang hati Ilham membalasnya, mereka bercumbu dengan panas dan dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Ketika Ilham membuka matanya, wajah terluka Monita terlintas, Ilham tercekat dan mendadak membuka matanya.
Bibirnya tak lagi bergerak aktif menghujam bibir Naomi, kali ini hanya ada ciuman sepihak, hanya Naomi saja yang mencumbunya tanpa ampun, sedangkan Ilham, pikirannya melayang pada Monita di kamar sebelah.
Tidak ingin Naomi kembali menaruh curiga, Ilham kembali fokus, tersenyum mesum, ia membuka satu kancing kemeja yang Naomi kenakan, lidahnya berlarian di kulit putih Naomi, membuat perempuan itu mendesis karena geli.
“Aku merindukanmu Mas, bayangkan tiga bulan lebih kita tidak main, sepertinya aku tidak bisa berhenti Mas, kalau misalnya kita main sekarang.” Kata Naomi tanpa rasa malu.
“Jangan berhenti, kamu tau kan aku pantang berhenti sebelum keluar sepuluh kali?” Ilham terkekeh geli, lalu kembali membuka setiap kancing kemeja Naomi.
“Sebenarnya aku juga kangen sayang, milikku tegang terus tiap melihat kamu, kadang juniorku ini nyut-nyutan, rasanya ingin menerkammu, tapi tubuhku yang tidak bisa diajak kompromi.”
Naomi memukul pelan dada Ilham begitu mendengar sang suami menggodanya, Ilham memang rada-rada cabul dan mesum, tak jarang kata-katanya ceplas ceplos jika mengenai urusan ranjang.
“Main sekarang ya Mas.” Iba Naomi.
Wajahnya memerah karena panas dan g*irah yang membuncah.
Kalau biasanya Ilham yang asal terkam tanpa permisi, kini pria itu nampak santai, ia tersenyum simpul, tidak ada kilatan g*irah lagi di matanya.
Ilham berbohong saat mengatakan ingin menerkam Naomi tiap melihatnya, sebaliknya, Ilham tidak merasa apa-apa saat melihat istri pertamanya, berbeda ketika dia bersama Monita, rasanya ia ingin menghabiskan waktu bersama istri keduanya itu di ranjang saja.
“Mas cepat, aku sudah tidak sabar.” Rengek Naomi lagi.
Ilham pun menuruti kemauan Naomi, bibirnya menyapu kulit Naomi yang tak tertutup kemeja lagi, menciumi setiap inci kulit mulus sang istri.
Sayangnya, secantik dan semenggoda apapun Naomi, juniornya tidak terlalu bereaksi, dia tidak mengerti apa yang terjadi padanya, tapi dia akan tetap berusaha membahagiakan Naomi.
Ilham membuka kaitan bra yang menutupi pay***ra Naomi, dua buah bukit kembar kini terekspos sempurna di depan mata Ilham, ketika Ilham ingin mencium kedua bukti kembar itu, langkahnya terhenti.
Tubuh Ilham seolah membeku, keningnya berkerut-kerut, detik berikutnya, tatapannya berubah menjadi tatapan tajam.
“Kenapa berhenti Mas?” Tanya Naomi yang tidak terima dengan perbuatan Ilham.
“Tanda apa di pu**ng kamu ini?” Ilham berkata dengan emosi tertahan, sinar matanya menyorot tajam, seolah ingin membelah tubuh Naomi menjadi dua.
“Ini.” Ilham menunjuk bulatan merah yang sangat jelas, tepatnya di sebelah kanan di dekat puncaknya.
Naomi yang masih bingung, mengiringi arah tunjukkan Ilham, seolah menyadari sesuatu, wajahnya berubah jadi pucat pasi.
“I.. ini bekas, terbentur ujung meja rias, aku tidak sengaja menjatuhkan lipstikku, pada saat ku ambil pu**ngku terbentur ujung meja rias.” Jawab Naomi dengan terbata-bata.
__ADS_1
Namun Ilham bukanlah laki-laki polos yang gampang dibodohi sebegitu gampangnya, dia yakin kalau tanda merah di pu**ng Naomi adalah bekas cup***an, jelas sekali bukan dia yang melakukan itu, dia sudah tiga bulan tak menyentuh sang istri, lalu siapa?