
Jarum jam sudah mengarah ke angka 12 siang, karena tidak ada meeting lagi, Ilham berniat untuk pulang saja, tiba-tiba dia teringat Monita yang sudah tiga hari ini dia tinggalkan sendirian di hotel.
“Bagaimana keadaan gadis itu ya?” Tanya Ilham seorang diri.
Ilham pun beranjak dari duduknya, meraih jas yang gantung di sandaran kursi lalu berjalan menuju ruangan asisten Andre.
“Ndre antar saya ke hotel, kita akan jemput Monita sekarang!” Titah Ilham mulai melangkah mendahului Andre.
“Baik tuan.” Jawab Andre kemudian ikut beranjak dari duduknya menyusul langkah Ilham.
Ternyata bukan hanya permintaan sang istri, Ilham ingin menjemput Monita karena benar-benar khawatir dengan keadaan gadis itu, mengingat sudah tiga hari dia meninggalkan gadis itu di hotel sendirian tanpa kabar darinya.
Dua puluh menit kemudian, sampailah Ilham dengan mobil yang dikemudikan Andre tepat di depan lobi hotel, Ilham turun lebih dulu dan meminta Andre untuk menunggunya di basement saja.
Ilham pun melangkahkan kakinya menuju lift khusus menekan angka 10 tepat di mana kamar Monita berada.
Tinngg…
Lift sudah berhasil mengantar Ilham ke lantai yang dituju, Ilham mulai melangkah keluar meninggalkan lift menuju kamar Monita, begitu sampai di depan pintu kamar, Ilham menggesek kunci berbentuk kartu itu di gagang pintu kamar hotel.
Begitu pintu terbuka, Ilham mendapati Monita yang sedang tertidur pulas.
“Apa kerjaannya di hotel ini cuma tiduran saja.” Batin Ilham dengan senyum meremehkan.
Tak lama Ilham pun melangkahkan kakinya mendekati ranjang tempat Monita tidur, melihat Monita yang tidur membelakangi dirinya, Ilham pun mulai membangunkan Monita.
“Hei bangun!”
Namun Monita masih tak bergeming, Ilham pun kembali memanggilnya.
“Monita!” Tegas Ilham kemudian, namun masih tak ada jawaban dari Monita.
“Hei gadis pemalas! Kuperintahkan kau untuk bangun!” Teriak Ilham mulai meninggikan suaranya, namun tetap tak ada jawaban.
Ilham pun mulai mengerutkan keningnya, tak lama Ilham menarik tubuh Monita dan membaliknya, begitu tubuh Monita sudah telentang, betapa terkejutnya Ilham saat melihat wajah Monita yang pucat pasi, dengan tubuh yang menggigil.
“Monita! Apa kau sakit?” Ucap Ilham lalu mulai menempelkan punggung tangannya di dahi Monita, dan benar saja, begitu Ilham menyentuh dahinya, kepala Monita benar-benar panas.
Ilham pun segera menghubungi dokter pribadi mereka untuk memeriksa keadaan Monita.
Tak butuh waktu lama, dokter pribadi keluarga Adhitama sudah sampai di hotel Ilham.
“Dok, tolong periksa keadaan wanita ini.” Ucap Ilham dengan raut wajah cemas.
“Baik tuan, permisi.” Jawab dokter lalu langsung memeriksa keadaan Monita.
Setelah sudah selesai memeriksanya, dokter pun menatap Ilham dan mulai menjelaskan.
__ADS_1
“Penyakit asam lambung yang diderita Nona ini kambuh, ditambah dengan flu yang dialaminya, sehingga membuat Nona ini mulai demam, saya akan meresepkan obat untuknya.” Ucap sang dokter kemudian mulai menuliskan beberapa resep dan mengambil obat yang akan diberikan.
“Baik dokter, berikan obat yang terbaik untuknya.”
“Ini sirup khusus asam lambung untuknya, berikan 30 menit sebelum makan, kemudian dilanjutkan dengan obat yang lain setelah makan.” Jelas dokter itu secara detail kemudian memberikan beberapa macam obat kepada Ilham.
“Baiklah terima kasih dok.” Jawab Ilham setelah meraih obat-obat itu dari tangan sang dokter.
“Iya sama-sama, kalau begitu saya permisi dulu tuan.” Ucap sang dokter kemudian berlalu meninggalkan Ilham.
Setelah kepergian dokter, Ilham meraih ponsel di saku celana lalu menghubungi Andre.
“Halo Ndre, tolong kau belikan makanan untuk Nona Monita dan bawa ke sini.”
“Baik tuan.” Jawab Andre singkat.
“Makanannya harus makanan sehat, belikan juga beberapa buah-buahan untuknya.”
“Siap tuan.” Tegas Andre, setelah Ilham mematikan sambungan telepon, Andre mulai menancap gas menuju rumah makan.
Tak lama, Monita pun mulai membuka matanya, dia sedikit tersentak saat melihat Ilham yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya.
“Mas Il…ham.” Ucap Monita dengan terbata-bata.
“Monita, kau sudah sadar.” Tutur Ilham dengan raut wajah cemas.
“Aawww.” Keluh Monita sembari memegangi perutnya.
Melihat itu Ilham pun kembali membaringkan tubuh Monita.
“Jangan bangun dulu kalau masih sakit.” Ucap Ilham yang jadi semakin khawatir.
“Tadi aku sudah memanggil dokter untuk ke sini, dokter sudah meresepkan obat untukmu, kata dokter asam lambungmu mulai naik, jadi ini ada sirup khusus asam lambung, aku akan menuangkannya untukmu.” Jelas Ilham hendak menuangkan sirup di sendok plastik yang sudah disediakan khusus di dalam kemasan sirup itu.
“Saya bisa minum sendiri tuan.” Ucap Monita mencoba meraih sendok berisi sirup itu, namun dengan cepat Ilham mencegahnya.
“Jangan banyak membantah!” Tegas Ilham kemudian memasukkan sendok berisi sirup itu ke mulut Monita.
Tanpa berani menolak lagi, Monita pun hanya pasrah saat Ilham memasukkan sendok berisi sirup itu ke mulutnya, lalu membantu Monita untuk minum air.
Ilham pun mengusap lembut rambut panjang Monita dan menggenggam tangannya.
“Ya Tuhan, perlakuannya padaku sekarang benar-benar lembut.” Gumam Monita dalam hati menikmati semua perhatian Ilham padanya.
Ting Tong….
Bel pintu kamar pun berbunyi, Ilham bergegas bangkit dari duduknya hendak membuka pintu.
__ADS_1
Begitu dibuka, muncul lah Andre dari balik pintu dengan membawa beberapa kantong plastik berisi makanan dan buah-buahan.
“Ini pesanannya tuan.” Ujar Andre sembari memberikan beberapa kantong plastik itu pada Ilham.
“Baik, kau boleh turun sekarang.” Jawab Ilham singkat sembari meraih beberapa kantong plastik itu.
Ilham mulai memindahkan beberapa makanan itu ke piring yang sudah disediakan, setelah semuanya beres, Ilham kembali mendudukkan dirinya di kursi dekat ranjang, lalu mulai menyuapi Monita.
Monita yang sudah tidak berani menolak itu mulai menerima suapan dari sang suami.
Begitu makanan sudah habis, Ilham mulai mengupas buah apel dan memotongnya untuk Monita makan, begitu sudah terkupas habis dan sudah dipotong, Ilham kembali menyuapi Monita dengan buah-buahan itu.
Setelah suapan ke sekian, Monita mulai menolaknya karena sudah lumayan kenyang, Ilham pun menyudahi suapannya lalu meraih plastik obat untuk dia berikan pada Monita.
Sudah selesai minum obat, Ilham membaringkan tubuh Monita dan menyelimutinya sebatas dada.
“Kamu tidur ya, aku akan menjagamu di sini.” Bisik Ilham dengan lembut.
Monita hanya mengangguk lalu mencoba memejamkan mata untuk tidur.
Entah kenapa, begitu melihat Monita sakit, Ilham jadi tak tega, ia pun refleks mau mengurusi Monita saat dalam keadaan sakit seperti itu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 15.00, Ilham masih terus menemani Monita dan menunggunya untuk bangun, mungkin karena efek obat dari dokter, Monita jadi tertidur begitu pulasnya, sehingga membuat Ilham tidak tega untuk membangunkannya.
Ponsel Ilham pun berdering dengan menampilkan nama ‘istriku’ dilayar ponselnya.
Tak berniat mengabaikannya, Ilham pun mengangkat telepon Naomi.
“Halo.”
“Mas, kamu sudah di mana? Apa belum pulang kantor?” Tanya Naomi dari seberang telepon.
“Maaf sayang, pulang kantor aku singgah ke hotel tempat aku meninggalkan Monita untuk menjemputnya, namun begitu sampai, aku melihat Monita malah terbaring lemas dengan keadaan tubuh sudah menggigil karena demam, jadi aku memanggil dokter untuk memeriksa dan memberikannya obat, setelah makan dan minum obat, Monita tertidur pulas karena efek obat yang diberikan dokter, jadi sampai sekarang aku sedang menunggunya bangun, aku tidak tega membangunkannya melihat tidurnya yang sangat pulas.” Jelas Ilham secara detail tanpa ada yang di tutup-tutupi.
Mendengar Ilham memberikan perhatian lebih pada wanita lain membuat hati Naomi berdenyut, Naomi mulai merasakan cemburu dan sakit hati atau entah apalah namanya, yang jelas saat ini dada Naomi terasa sesak, hingga tanpa sengaja, buliran bening itu lolos begitu saja membasahi pipinya.
“Jadi nama maduku itu adalah Monita.” Gumam Naomi dengan tersenyum miris.
“Sayang? Kamu baik-baik saja kan?” Tanya Ilham saat suara Naomi sudah tak terdengar lagi.
“Eh iya sayang maaf tadi aku… hanya…. Sedang sibuk saja memasak, jadi aku tidak langsung menjawab.” Jawab Naomi jadi tampak gelagapan.
“Oh begitu ya, kamu tenang saja, begitu Monita sadar, aku akan langsung membawanya pulang ke rumah kita.”
“Iy… iya Mas.” Jawab Naomi singkat.
Naomi pun segera mematikan sambungan telepon dan mulai menangis sejadi-jadinya menumpahkan rasa sakit yang sedari tadi ia tahan, ia pun tanpa sadar mulai terduduk begitu saja di lantai dalam keadaan bersimbah air mata.
__ADS_1
“Apa begini rasanya, sakit sekali Tuhan, belum juga apa-apa, tapi aku sudah merasa sesakit ini, aku tidak boleh egois, karena ini sudah menjadi keputusanku.” Lirih Naomi dalam hati sembari memegangi dadanya yang mulai terasa sesak.