Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 38 Berpisah Sebentar


__ADS_3

Setelah berhasil mengusir Rendy pergi, Ilham kembali masuk ke dalam rumah lalu melirik Monita yang bersembunyi di balik guci besar dengan keadaan hidung yang sudah berdarah.


Melihat keadaan Monita sontak mengundang sesak di hati Ilham, bagaimana tidak, istrinya sedang hamil namun di perlakukan secara kasar oleh orang lain bahkan hampir di perkosa.


Ilham melangkah dengan cepat dan langsung memegang kedua pundak Monita dan membantunya berdiri, ia menatap Monita dengan tatapan nanar, lalu kemudian mengusap air mata yang sedari tadi menetes di pipi mulus Monita, hingga akhirnya tanpa pikir panjang, Ilham membopong tubuh Monita menuju kamar.


Sesampainya di kamar, Ilham perlahan merebahkan tubuh Monita di atas ranjang lalu mengambil tisue dan mengusap darah yang ada di hidung Monita dengan lembut.


“Maafkan aku sayang, aku sudah meninggalkan kamu sendirian di rumah, aku benar-benar gagal menjagamu, maafkan aku, apa perutmu tidak sakit?” Tanya Ilham sembari mengusap lembut perut Monita.


Monita pun menggeleng pelan lalu tersenyum tipis.


“Tidak perlu minta maaf seperti itu Mas, ini bukan salah Mas Ilham, tapi ini salahku yang sudah pernah menjadi wanita penghibur sehingga membuat semua lelaki salah paham denganku, dan mau mengambil kesempatan untuk menjamah tubuhku.”


“Tidak sayang, kamu wanita terhormat, kamu tidak pantas di perlakukan tak senonoh, aku saksinya kalau kamu wanita yang mampu menjaga diri bahkan saat bekerja di tengah-tengah kubangan nista, aku tidak rela kalau sampai ada yang memandangmu rendah, kau wanita yang patut dihargai.” Jelas Ilham sembari mengusap lembut sebelah pipi Monita.


Lagi-lagi pernyataan Ilham sukses membuat hati Monita tersentuh, Ilham berubah menjadi pria yang lembut yang mampu menenangkan hati Monita walau dalam keadaan yang begitu kalut, Monita benar-benar merasa beruntung karena Ilham sudah banyak berbuat baik padanya, bahkan selalu menjadi dewa penolong untuknya.


Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya, hubungan Monita dan juga Ilham sudah semakin harmonis, tidak ada masalah apa pun yang mengganggu hubungan mereka akhir-akhir ini.


Seperti saat ini, Monita dan Ilham sedang duduk di taman belakang, di bawah taburan bintang, Monita sedang duduk bersandar di bahu Ilham sembari menikmati secangkir teh.


“Mas.” Seru Monita memecah keheningan.


“Hmmm.”


“Aku merindukan ibu, aku ingin pulang kampung untuk menemui ibu.”


Ilham pun terdiam tampak berpikir sejenak, sejujurnya dia begitu ragu jika Monita bepergian dalam keadaan hamil muda seperti sekarang ini.

__ADS_1


“Mas, kenapa diam? Apa aku boleh ke kampung untuk menemui ibu?” Tanya Monita yang kini mendongak demi bisa menatap suaminya.


“Tunggu aku menyelesaikan proyek baruku dulu ya, hanya satu minggu baru kita bisa ke sana bersama, aku juga ingin menemui ibumu untuk memperkenalkan diri sebagai menantu.”


“Tapi Mas, aku bisa pergi sendiri, Mas Ilham selesaikan dulu pekerjaanmu di kantor, aku akan pergi sendiri, dan soal pernikahan kita, biar aku yang mengatakan semuanya pada ibu.” Jelas Monita mulai merubah posisinya jadi menghadap Ilham dengan kedua tangan yang terus memegang lengan Ilham.


“Kamu tidak boleh pergi sendiri dalam keadaan hamil muda seperti sekarang Monita!” Ucap Ilham namun masih dengan nada lembut, gurat kecemasan mulai menghiasi wajah tampannya.


“Mas, aku janji, aku akan menjaga diri, hanya dua hari Mas dan aku akan segera kembali ke sini, ayolah Mas, pelase!” Mohon Monita dengan wajah memelas.


“Baiklah, tapi kau pergi bersama Andre ya, aku akan meminta anak perempuan bibi’ untuk menemanimu, kebetulan sekarang hari libur jadi biarkan anak perempuan bi’ Ratih pergi bersamamu.”


“Tapi Mas, apa itu tidak merepotkan mereka.” Ucap Monita tampak tak enak hati.


“Tidak sayang, aku yang akan menyuruh mereka untuk bersamamu, pokoknya kamu tidak boleh pergi sendiri.”


Semenjak Monita hamil, Ilham jadi makin posesif, dia tidak mengizinkan Monita melakukan hal-hal yang akan membuatnya khawatir, bahkan dia sengaja menyuruh anak bi’ Ratih yang bernama Ija untuk pergi bersamanya agar tidak terjadi fitnah jika Monita hanya pergi berdua saja dengan Andre.


Ilham hanya ingin Monita disupiri oleh Andre karena Andre sudah biasa bolak balik menggunakan mobil meski itu perjalanan jauh, Ilham tidak menyuruh pak Rudi karena usia pak Rudi yang sudah tua, takutnya pak Rudi tidak akan fokus mengemudi mengingat kondisi tubuhnya yang sudah tidak sebugar sewaktu masih muda.


“Baiklah, aku akan pergi bersama Andre dan Ija.” Ucap Monita kemudian.


Ilham pun tersenyum hangat lalu memeluk tubuh Monita dengan erat.


“Jangan lama-lama di sana ya, cepat pulang, nanti aku rindu.” Ujar Ilham dengan nada manja.


“Ya ampun Mas, Monita kan belum pulang kampung.”


“Iya tapi tetap saja, kamu harus cepat pulang, bahkan rasanya aku ingin membawa adik dan ibumu tinggal di sini saja supaya kamu sudah tidak akan pergi jauh lagi seperti ini.”

__ADS_1


“Mas, rumah ibu itu di kampung, jadi tidak mungkin ibu dan Eden pindah ke sini dan meninggalkan rumah peninggalan ayah.” Ucap Monita yang sontak melepaskan tautan tubuh mereka.


“Iya iya, ayo mendekat lagi, biarkan aku memelukmu lebih lama lagi.” Ujar Ilham kembali menarik tubuh Monita ke dalam dekapannya.


Monita pun tersenyum dan patuh saja saat Ilham menarik tubuhnya lalu mendekapnya kembali.


Keesokan harinya…


Setelah menyiapkan sarapan dan semua keperluan kantor Ilham, Monita pun berkemas dengan membawa beberapa potong pakaian, karena dirinya hanya dua hari di sana, jadi Monita hanya membawa sedikit pakaian.


Selesai sarapan, Monita dan Ilham berjalan beriringan menuju teras depan dengan Ilham yang menjinjing tas yang berisi pakaian Monita, Andre dan Ija juga sudah berdiri di samping mobil menunggu Monita.


“Tuan mari biar saya yang membawa tasnya.” Andre pun segera meraih tas Monita dari tangan Ilham lalu memasukannya ke dalam bagasi mobil.


Ilham mengehela nafas panjang dan menatap lekat istri sirinya itu.


“Hati-hati ya, segera telepon aku kalau sudah sampai.” Ucap Ilham sembari memegang kedua pundak Monita.


“Iya, Mas juga jangan lupa makan ya, jaga diri baik-baik.”


“Iya sayang, itu sudah pasti, aku akan menjaga diri baik-baik agar tubuhku sehat dan kuat, sehingga jika kau pulang aku bisa langsung memakanmu.” Bisik Ilham selirih mungkin agar tidak di dengar Andre dan Ija.


“Dasar mesum.” Sergah Monita sembari mengulum senyumnya.


“Ya sudah aku berangkat dulu ya mas.”


“Iya sayang, hati-hati ya, I love you.”


“I love you to.”

__ADS_1


Ilham pun mengecup kening Monita dan kembali mendekap tubuh istrinya sejenak, Andre yang melihat tingkah Ilham terhadap istri mudanya itu seketika dibuat sedikit tercengang, mungkinkah cinta Ilham sudah beralih? Dulu dia begitu mencintai Naomi bahkan tidak sanggup jika harus kehilangan istri pertamanya itu, tapi sekarang rupanya hati Ilham sudah berpaling, tapi melihat Ilham yang sekali-kali melamun karena merindukan Naomi membuat Andre kembali berfikir, mungkin kah kini hati Ilham sudah bercabang dua? Mencintai dua wanita sekaligus, hmm kalau menurut Author mungkin saja, hehehe.


__ADS_2