Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 53 Karya Terindah


__ADS_3

“Mas lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar Mbak Naomi.” Ucap Monita sembari menolak halus tubuh Ilham yang mendekat padanya.


“Sayang, nanti saja, apa aku boleh menyentuhmu? aku benar-benar tidak bisa menahan g*irahku yang terbakar karenamu.” Tanya Ilham yang menatap Monita dengan tatapan nafsunya.


Monita jadi bingung dibuatnya, akan tetapi menolak ajakan suami tidak diperbolehkan, apalagi Ilham meminta dengan bertanya dulu padanya, tidak langsung menerkamnya begitu saja.


Akhirnya Monita mengangguk, Ilham langsung merobek baju yang dikenakan Monita.


Ilham memimpin permainan mereka, dia tidak pernah sedetik pun untuk tidak tergoda dengan istrinya, matanya, bibirnya, semua yang ada pada tubuh istri mudanya itu sudah menjadi candu baginya.


Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya, begitu pun dengan Ilham dan Monita yang selalu sembunyi diam-diam di belakang Naomi untuk berduaan, dan tentunya hal itu karena keinginan Ilham yang ingin selalu mengajak Monita bermesraan di belakang istri pertamanya.


Bahkan Ilham sudah tidak pernah tidur di kamar lagi selama beberapa hari ini karena tidak ingin menyakiti hati kedua istrinya, ia memilih tidur di sofa yang ada di ruang TV, sampai saat ini, semenjak dia menyentuh Monita, dia sudah tidak pernah lagi berhubungan ranjang dengan istri pertamanya, hal itu tentu mengundang tanda tanya besar dari Naomi, namun ia tidak ingin terlalu mempermasalahkannya.


Hubungan Naomi dan Monita pun semakin membaik, sedangkan Eden, ia sudah resmi pindah di sekolah yang ada di kota besar itu, Ilham memilih sekolah terbaik dan bergengsi di kota itu untuk Eden, Ilham selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk Monita dan juga Eden, bahkan Ilham membagi uang jatah bulanan Monita sama seperti Naomi, dalam hal keuangan, bisa dikatakan Ilham berbuat adil terhadap mereka berdua.


Seperti hari ini, begitu Eden masih berada di sekolah dan Ilham masih berada di kantor, Naomi dan Monita sedang berkeliling mall mencari pakaian untuk Monita.


“Mon, aku belikan baju yang itu ya?”


Naomi menunjuk sebuah dress cantik yang panjangnya di atas lutut, Monita menggeleng, ia tidak ingin baju baru, ia mau diajak karena dipaksa.


“Ayolah Mon, mau ya? Sekali saja, aku ingin me-make over kamu, untuk lebih meningkatkan kemampuan meriasku.” Bujuk Naomi pada Monita.


Monita pasrah percuma saja menolak, Naomi pasti akan terap memaksanya, Naomi dan Ilham itu satu spesies yang sama, sama-sama suka memaksa.


“Baiklah kalau begitu mari kita pilih-pilih, agar kamu secantik bidadari setiap harinya, walaupun sebenarnya kamu sudah cantik, tapi aku ingin kamu lebih cantik lagi.”


Naomi sangat antusias sekali, ia bahkan memilih banyak pakaian untuk Monita, seolah-olah ia tengah memilih permen saja, padahal bagi Monita, sayang sekali uangnya jika hanya untuk membeli baju, dengan harga satuannya sampai berjuta-juta, lebih baik beli di pasar, seratus ribu sudah dapat dua daster.


Setelah selesai memilih, Naomi membayar belanjaan di kasir, lalu keduanya keluar dari toko pakaian tersebut, ia mengajak Monita pergi ke tempat potong rambut, untuk menciptakan style barunya, Monita harus memotong rambut panjangnya.


“Untuk apa kita ke sini? Mbak akan memotong rambut?” Tanya Monita.


“Tidak, tapi rambut kamu yang dipotong.” Jawab Naomi.


“Aku belum bilang pada Ilham, nanti kalau dia marah bagaimana?” Gumam Monita dalam hati, takut Ilham tidak menyukai jika rambut panjanganya dipotong.


“Ayo, aku jamin kamu pasti akan terlihat cantik.”

__ADS_1


“Baiklah.” Jawab Monita.


Rambut panjang Monita dipotong sampai bahu, kini Monita terlihat seperti anak SMA yang baru saja keluar dari sangkarnya, tampilannya sekarang terlihat lebih fresh dan lebih manis, Naomi tersenyum melihat itu, sesuai ekspektasinya.


Lalu, Naomi mengajak Monita berkeliling lagi ke mall selesai rambutnya dipotong, ia mampir ke restoran membeli makanan untuk dibawa pulang ke rumah.


Tanpa disangka, ada seseorang yang terus memperhatikan mereka, ia bahkan mengikuti keduanya secara diam-diam.


“Monita, bagaimana kabarmu? Aku benar-benar merindukanmu.” Ucap pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah David.


Kedua wanita itu berjalan menuju parkiran memasuki mobil yang harganya sangat fantastis itu, lalu mengemudikan mobil tersebut keluar dari area mall.


Masih ingin melihat Monita, David mengikuti mobil itu dari belakang.


Sekitar 30 menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah bak istana itu.


“Monita Maheswari, aku ingin memilikimu, jika sampai Ilham menyakitimu dan lebih memilih Naomi, aku akan dengan cepat merebutmu darinya.” Ucap David.


David pun melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Ilham, ia tersenyum senang ketika melihat Monita, meski pun hanya dari jauh, David bersyukur setidaknya hari ini dia bisa melihat Monita.


Naomi sudah bersiap untuk me-make over Monita, ia sudah membawa keluar semua make up yang ada di meja riasnya, Naomi merias Monita di ruang keluarga dengan pencahayaan yang terang, Monita hanya bisa pasrah dengan apa yang akan Naomi lakukan.


“Uh, kulit wajahmu lembut sekali, apa kamu sering perawatan?” Tanya Naomi yang penasaran.


“Aku tidak pernah perawatan, aku hanya membeli produk yang aku beli di warung.” Jawab Monita.


“Astaga, ternyata dia orangnya memang tidak terlalu memperhatikan penampilan, tidak perawatan saja mukanya sudah semulus ini, bagaimana jika perawatan? Apa aku salah menjadikan Monita sebagai rivalku dengan menjadi istri siri suamiku?” Gumam Naomi dalam hati memandang wajah Monita dengan intens.


“Kau benar-benar membuatku iri.” Ucap Naomi.


“Kenapa?” Monita berpikir apa yang membuat Naomi iri padanya, padahal menurut Monita, jika dibandingkan dengan dirinya, Naomi sudah sangat cantik bagaikan artis papan atas, berbeda dengan dirinya yang tampak biasa saja.


“Kau tidak perlu menghabiskan banyak uang untuk membuat wajahmu lebih bersih dan glowing, berbeda denganku, aku melakukan berbagai macam perawatan untuk membuat wajahku seperti sekarang, aku benar-benar iri Mon.”


Monita meletakkan tangannya di atas tangan Naomi.


“Tidak ada yang perlu Mbak irikan, Tuhan menciptakan manusia itu adil, Mbak bahkan sangat cantik, melakukan perawatan merupakan usaha untuk merawat kecantikan itu, jadi intinya kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki.”


Jawaban Monita membuat Naomi yakin, bahwa hati Monita sangatlah baik dan bersih.

__ADS_1


Akhirnya, Naomi pun melanjutkan kegiatannya, dimulai dari memberikan foundation di seluruh wajah Monita sesuai dengan tone warna kulit Monita, serangkaian make up terus Naomi lakukan untuk membuat Monita tampil berbeda dari biasanya, Naomi tersenyum senang melihat hasil dari kepiawaian tangannya dalam merias.


“Kau tampak cantik Monita.”


“Coba aku mau melihatnya.” Pinta Monita.


“Tunggu dulu, aku belum selesai, sekarang kau ganti pakaianmu menggunakan gaun yang aku beli ini, jangan lama ya, karena setelah ini aku akan menata rambutmu, sebentar lagi Mas Ilham akan datang, aku akan memberinya kejutan dengan memperlihatkan hasil karyaku ini.”


Monita pun tertegun sejenak, bagaimana jika Ilham malah akan memujinya di depan Naomi? Ia tidak ingin Naomi salah paham, Memang benar Naomi akan memperlihatkan hasil karyanya dalam merias, tapi yang dirias adalah Monita, wanita yang selalu Ilham puja selama ini.


Akhirnya Monita meraih gaun yang diberikan Naomi, ia pergi ke kamar untuk mengganti pakaiannya, ia melihat dengan detail gaun yang Naomi berikan.


“Apa Mbak Naomi tidak salah memilihkan aku gaun? Ini lumayan terbuka, bahkan belahan dadanya hampir kelihatan, apa aku harus tetap memakainya?Bahu dan tulang selangkaku juga kelihatan.”


Namun Monita memilih untuk tetap memakainya, ia menghargai pilihan Naomi untuknya meski pun tidak terlalu menyukainya.


Monita keluar dari kamar dan kembali ke ruangan keluarga.


“Wah gaun itu cantik dan pas sekali di tubuhmu Mon.” Naomi memuji kecantikan gaun dan juga wajah Monita.


“Ayo duduk lagi, aku akan menyelesaikan step terakhirnya.”


Naomi mulai menata rambut Monita dengan di curly, setelah selesai, Naomi meminta Monita untuk berpose layaknya seorang model.


“Benar-benar cantik, senyum atau pun tidak aura kecantikannya tetap terlihat, ingin rasanya aku menangis melihat ini, benar-benar karya terindahku.”


Tak lama kemudian pintu masuk rumah terbuka, Ilham lah orang yang membuka pintu tersebut, ia begitu lelah dengan kegiatan hari ini, rasanya ia ingin segera mandi dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Rumah sepi sekali, ke mana Naomi dan Monita.” Ilham bertanya-tanya di mana para wanita yang disayanginya itu.


Ilham pun berjalan menuju ruang keluarga untuk mencari dua wanita itu, sebelum ia membersihkan tubuh dan beristirahat.


Begitu terkejutnya ia saat melihat istri sirinya yang begitu cantik dengan riasan di wajahnya, Ilham tak berkedip sama sekali melihat pemandangan indah di hadapannya, Monita memakai gaun yang sangat cantik, namun mata Ilham dibuat mendelik saat Monita memakai gaun yang cukup terbuka, rasanya ia ingin menarik Monita untuk masuk ke kamar agar tidak ada laki-laki yang melihat sebagian tubuhnya yang terekspos, namun hal itu tidak bisa ia lakukan karena ada Naomi di situ.


“Mas, coba lihat karyaku, aku sudah pintar merias kan?” Tanya Naomi begitu melihat keberadaan Ilham.


Ilham hanya diam mematung, sembari menatap Monita tanpa berkedip, hal itu menjadi perhatian Naomi, sejenak ia merasa menyesal sudah mendandani Monita secantik ini.


“Mas Ilham terpesona melihat Monita, niat hati ingin memperlihatkan karya meriasku padanya, agar dia bisa memberiku modal untuk membuka brand fashion sendiri, tapi dia malah terpesona dengan kecantikan Monita.” Gumam Naomi dalam hati.

__ADS_1


Namun ia segera menepis pemikirannya itu, menurutnya Ilham tidak mungkin mencintai wanita selain dirinya, bagi Naomi, cinta Ilham padanya masih begitu besar, sehingga tidak mungkin terganggu oleh orang yang baru saja hadir dalam hidupnya.


__ADS_2