Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 74 Apartemen Baru


__ADS_3

Tidak perlu waktu lama untuk meruntuhkan pertahanan Monita kali ini, hanya dalam hitungan menit, Monita akhirnya mulai merespon Ilham dengan penuh penghayatan.


Monita pun mulai mengalungkan tangannya ke leher Ilham, membuat Ilham lagi lagi harus tersenyum senang karena hal itu.


Ilham mulai membopong tubuh Monita, meski pun sudah berisi karena hamil, itu tidak membuat Ilham kesulitan untuk membopong tubuh Monita di tempat yang tak jauh dari wastafel.


Mereka kembali saling mem**sa, namun lagi-lagi hal itu tidak membuat keduanya berpuas hati, Ilham dengan gagahnya membopong tubuh Monita, kali ini ia ingin membawa Monita ke k**ar m**di yang ada paling dekat dengan dapur, ia sudah tak tahan lagi jika harus melakukannya di kamar tamu yang agak sedikit jauh dari dapur, padahal kamar itu sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena gai*ah yang sudah menguasai, Ilham memilih membawa Monita ke k**ar ma**di


Dengan sebelah tangannya Ilham langsung mengunci pintu k**ar ma**i itu, dan terus membawa Monita menuju wastafel dan mendudukannya di sana.


Ilham memang sering melakukannya dengan Naomi, Monita memanglah bukan kesan pertama baginya dalam melakukan hal itu, namun rasanya sangat jauh berbeda bila melakukannya dengan sang istri mudanya ini, saat dengan Monita, Ilham merasakan kepu**an yang begitu dahsyat, anak kecil ini memang benar-benar pintar, padahal ini pengalaman pertamanya, namun dia sudah terlihat sangat lihai dalam mengimbangi Ilhaam.


Saat ini, isi kepala Ilham hanya dipenuhi dengan Monita, Monita dan Monita. Rasanya dia sudah tidak sanggup lagi bila berlama-lama mengabaikan Monita demi Naomi, malam ini, Monita benar-benar sudah menguasai diri, isi kepala dan juga hatinya, bahkan dia sudah tidak peduli jika Naomi memergoki mereka, yang penting Ilham bisa menuntaskan keinginannya.


Begitu aktivitas itu sudah selesai, dan mereka ingin keluar, dua pasutri itu sama-sama terkejut mendapati bi’ Ratih sudah bangun dan sedang memasak di dapur, tapi untung saja posisi bi’ Ratih sedang berdiri membelakangi mereka, bi’ Ratih sedang asyik memasak sarapan pagi, sehingga Ilham dan Monita bisa dengan leluasa bergegas keluar dari k**ar man** itu menuju kamar mereka masing-masing.


Begitu Ilham membuka pintu kamarnya, untung saja Naomi masih tertidur pulas, jadi ia bisa kembali berbaring dan pura-pura tidur di samping Naomi, agar tidak menimbulkan curiga, kali ini Ilham bisa bernafas lega karena sang istri pertama tidak mengetahui apa yang ia lakukan bersama si istri muda semalam.


Sedangkan Monita, begitu sampai kamar ia memilih berendam air hangat di bathup, tadi mereka sudah tidak sempat mandi lagi karena pasti, acara mandinya akan berlangsung sangat lama, bisa-bisa mereka akan keluar jam 12 siang dari k**ar man** kalau masih harus mandi lagi, bisa-bisa mereka akan kedapatan.


Monita duduk setengah berbaring di dalam bathup, kedua matanya menatap kosong ke arah langit-langit kamar mandi, bayang-bayang aktivitasnya bersama sang suami tadi seolah terus menghiasi benaknya dan takkan hilang, selalu saja muncul dan berseliweran di depan matanya.


Lagi-lagi senyuman Monita kembali terukir di wajah cantiknya, Monita benar-benar sudah sangat mencintai Ilham, ia sudah terperosok masuk ke dalam kubangan perasaan cinta pada suami dari Naomi itu.


****


Tok tok tok….


Pintu kamar Monita diketuk.


Monita yang baru saja selesai mandi, begitu keluar dari walk in closet, dengan masih menggunakan handuk kimono, ia melangkah menuju pintu dan membukanya.


“Bi’ Ratih? Ada apa?” Tanya Monita begitu ia membuka pintu.


“Anu non, nyonya Naomi sudah menunggu non Monita di ruang keluarga, katanya ada yang mau dibicarakan.” Jawab bibi.


“Baiklah bi’ tunggu sebentar, aku ganti baju dulu.”


“Baik nona.” Balas bi’ Ratih sembari membungkuk dan berlalu dari hadapan Monita.


Monita mengganti pakaiannya dengan dres polos selutut berwarna hijau tosca, ia membiarkan rambutnya tergerai tanpa merias wajah dengan make up tipis, ia hanya menggunakan bedak saja namun tak mengurangi kecantikannya, setelah selesai ganti pakaian, ia pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuruni anak tangga menuju ruang keluarga untuk menemui Naomi.


“Mbak..!” Panggil Monita begitu dirinya sudah berada di hadapan Naomi.


“Duduk!” Titah Naomi dengan angkuhnya.


Monita mendudukkan dirinya di sofa king size yang ada di hadapan Naomi, kini mereka sudah duduk berhadap-hadapan.


“Kapan kamu pindah dari sini?” Tanya Naomi tanpa basa basi lagi.


“Secepatnya mbak, jika bisa saya bahkan ingin pindah sekarang juga.” Jawab Monita tak kalah tegas, bumil ini sudah mulai kesal dengan tingkah ketus wanita yang ada di depannya ini, apa lagi dia juga sering mengalami mood swing semenjak hamil membuat perasaannya semakin sensitif.


“Bagus! Tapi jangan lupa, setelah kau melahirkan, aku akan mengambil anak itu.”

__ADS_1


Monita mendesis kesal, bagaimana tidak Naomi bersikap ketus padanya namun masih tetap menginginkan anaknya, sekelabat rasa tidak rela mulai menyapa hatinya, dia seakan tidak ikhlas jika harus memberikan anaknya pada orang lain.


“Kita lihat nanti.” Ujar Monita kemudian beranjak dari duduknya dan meninggalkan Naomi begitu saja.


“Monita!” Panggil Naomi namun Monita tak menoleh sedikit pun.


“Monita..!!!” Panggil Naomi lagi, namun Monita terus saja melangkahkan kakinya, hingga membuat Naomi mendengus kesal begitu melihat punggung wanita itu yang semakin menjauh dari matanya.


“Jangan bilang kalau dia berubah pikiran.” Gumam Naomi dalam hati sembari mengecak pinggang saking kesalnya.


Sesampainya di kamar, Monita langsung menghubungi Ilham untuk mengutarakan keinginannya yang ingin pindah sekarang juga.


“Halo sayang.” Jawab Ilham dari seberang telepon.


“Mas, aku ingin pindah dari sini sekarang juga.”


“Kenapa tiba-tiba sayang?”


“Loh bukan kah sudah aku katakan waktu itu kalau aku ingin pindah? Dan kata mas, tunggu sampai proyek mas selesai, aku rasa proyek mas itu sudah selesai dan mas juga sudah janji akan membawaku pindah dari sini.” Ucap Monita menuntut janji suaminya.


“Baik, aku akan membawamu pindah dari sana, tunggu aku pulang sekarang juga.”


“Iya mas.” Monita mengakhiri panggilannya dan mengirim pesan pada Eden.


“Den, kita pindah siang ini juga ke apartemen pemberian mas Ilham, pulang dari sekolah tidak usah pulang ke rumah ini lagi, kau minta kak Andre untuk mengantarkan mu langsung ke apartemen baru kita.”


“Kita mau pindah sekarang?”


“Iya, barang-barangmu akan kakak kemasi.”


20 menit kemudian, semua barang-barang mereka sudah selesai dibereskan, Monita meminta pak Rudi untuk meletakkan koper-koper mereka ke ruang tamu.


Menit berikutnya, Monita mendengar deru mobil Ilham berhenti di depan rumah mereka, Monita menunggu suaminya dengan antusias.


Begitu Ilham muncul di ambang pintu, Monita segera berdiri dan meraih sling bagnya lalu mengenakannya.


“Kenapa buru-buru sayang? Apa Eden tau kalau kalian akan pindah?” Tanya Ilham sembari merengkuh bahu istrinya.


“Sudah mas, aku sudah memberitahunya melalui pesan, ayo kita pergi sekarang.”


“Tunggu, apa kamu sudah makan siang?”


“Nanti saja mas, kalau sudah sampai apartemen kita tinggal pesan makanan dan aku makan saja di sana.”


“Ya sudah, Ndre! Tolong kau masukkan semua koper-koper Monita dan Eden ke mobil, pak Rudi tolong bantu Andre ya.”


“Siap tuan!” Jawab pak Rudi dan Andre bersamaan.


“Kenapa harus kau juga yang mengantarnya mas?” Suara seorang wanita menghentikan aktivitas Ilham begitu tangannya hendak membuka pintu mobil untuk Monita.


Ilham dan Monita sama-sama menoleh ke arah sumber suara, ternyata pemilik suara itu adalah Naomi yang sedang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang bersedekap di dada.


“Sayang, izinkan aku mengantarnya dulu, sekarang Monita adalah tanggung jawab saya apalagi dia sedang hamil anak kita, aku hanya ingin memastikan dia nyaman di tempat tinggal barunya.”

__ADS_1


“Terserah kau saja mas!” Ujar Naomi kemudian berlalu begitu saja dari hadapan mereka.


“Naomi!”


“Mas, sebaiknya biar kak Andre saja yang mengantarkan aku ke apartemen, mas temani mbak Naomi saja, jangan biarkan dia marah padamu mas.” Ujar Monita sembari memegang pundak Ilham.


“Ah tidak tidak, kali ini aku yang akan mengantarkan mu, ayo masuk mobil jangan membantah lagi.” Ilham membalikkan tubuh Monita dan menuntunnya menuju mobil.


“Tapi mas….”


“Monita!” Ilham segera memotong ucapan Monita dan membawanya masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil mereka saling diam dengan pikiran mereka masing-masing, mobil yang dikendarai Andre itu melaju melewati banyak tempat di tengah kota.


Ilham baru berhenti saat mereka sampai di sebuah apartemen mewah yang dikelilingi gedung tinggi di sekitarnya.


Rupanya Ilham sudah menemukan apartemen mewah untuk Monita dan Eden tinggali, dia sudah mendapatkan apartemen itu kemarin dan hari ini baru bisa ia berikan pada Monita.


Mata Monita mengelilingi sekeliling gedung, hatinya berdecak kagum melihat keindahan apartemen yang terpampang di depan matanya.


“Ayo masuk!” Seru Ilham pada Monita dan Andre saat akan masuk ke dalam lift.


Begitu Monita dan Andre masuk, Ilham menekan tombol menuju unit mereka.


Belum juga sampai ke lantai yang dituju, pintu lift terbuka, seorang pria berpakaian casual dengan jeans belel, masuk bergabung dengan mereka bertiga.


Pria yang baru masuk itu menatap Monita sekilas, kemudian tersenyum pada wanita cantik itu, meski hamil aura wanita cantik itu tetap terpancar.


“Tinggal di sini? Kenapa saya tidak pernah lihat?” Tanyanya dengan ramah dan dibalut dengan nada yang sok akrab.


“Ekhem… khem…” Ilham berdehem, tangannya langsung meraih pinggang Monita dan merapatkan ke arah tubuhnya, seolah itu adalah kode keras bagi pria asing tersebut, bahwa Monita adalah miliknya, titik!


Kontan pria asing yang akan jadi tetangga di apartemen Monita itu mundur perlahan, pria itu sedikit menjauh, apalagi begitu ia melihat perut Monita yang berisi, bukan prinsipnya menikung wanita bersuami.


Suasana menjadi sedikit kaku di dalam lift tersebut.


Sesaat kemudian, lift yang sudah terisi empat orang tersebut kembali terbuka, kali ini yang masuk adalah bujang-bujang tampan.


Ilham melirik pria-pria tersebut, kulit mereka bersih dan wajahnya tampan-tampan, Ilham menduga mereka adalah pria dari bandung, Ilham sempat mendengar mereka berbahasa Sunda.


“Kenapa banyak penghuni pria?” Batin Ilham mendadak jadi cemas.


Sejak tadi Ilham sudah ingin keluar dari lift yang dipenuhi kaum Adam itu, diliriknya Monita, untung saja sejak tadi Monita menundukkan wajah.


Ilham baru bisa bernapas lega begitu mereka sudah sampai di unit yang dituju.


Begitu sampai di depan unit milik Monita, Ilham menekan password 040404 yang merupakan tanggal pernikahan mereka, gadis itu pun ikut masuk lalu disusul dengan Andre yang membawakan koper Monita dan juga Eden dan langsung diletakannya di kamar masing-masing, karena Eden dan Monita akan tidur terpisah nantinya, Ilham sengaja memisahkan kamar Monita dan Eden agar sewaktu-waktu dia bisa datang dan menginap di apartemen itu untuk tidur bersama Monita.


“Sayang, sekarang kamu dan juga adikmu akan tinggal di sini, inilah apartemen yang sudah aku janjikan.” Ucap Ilham kemudian.


“Aku akan sering-sering ke sini untuk menemanimu tidur.”


Jleb…

__ADS_1


Otak Monita sudah traveling ke mana-mana.


__ADS_2