
“Akhirnya kau pulang juga sayang.” Ucap Ilham begitu melihat istrinya pulang dengan beberapa kantong belanjaan di tangannya, tidak tau apa saja yang dibeli, Ilham merasa Monita pergi terlalu lama. Ya lama menurut dia padahal hanya satu jam saja, satu jam tapi Ilham merasa seperti sudah 1 minggu. Berlebihan sekali memang, tapi begitulah Ilham. Mungkin karena trauma pernah ditinggal Monita membuat dia semakin posesif saja.
“Perasaan baru 1 jam aku pergi, kenapa mas? Apa dia menangis?” Tanya Monita kemudian langsung menghampiri putranya lalu mendekapnya.
“Hmmm wanginya.” Seru Monita begitu ia mencium anaknya yang wanginya mengalahkan parfum terwangi di dunia.
“Memang wangi, dari pada dipake di lantai mending ke tubuhnya.” Gumam Ilham dalam hati tak kala melihat istrinya memuji wangi tubuh anaknya.
Ilham sempat melakukan kesalahan kecil dengan tak sengaja membuat isi minyak wangi dalam botol itu hampir tumpah. Untung saja baru tumpah sedikit, jadi sisanya Ilham gunakan semua di baju Dikta, makanya bisa sampai wangi begitu.
Setelah belanjaan Monita di ambil alih pelayan, Monita berinteraksi dengan putranya. Di saat berinteraksi, Eden yang baru pulang dari kampus sontak menghampiri Dikta.
“Hei Dikta, selamat siang, ikut aunty yuk.” Ujar Eden langsung mengambil alih Dikta dari pelukan kakaknya.
“Kak, Diktanya aku pinjam dulu ya.” Eden meminta izin dan langsung di angguki Monita.
“Apa dia memang terbiasa bersama Eden sayang?” Tanya Ilham begitu Eden sudah berlalu.
“Iya.” Jawab Monita singkat.
“Sayang.”
“Hm.”
“Kenapa singkat sekali sih jawabnya.” Protes Ilham melihat perubahan sikap istrinya.
“Iya sayang, kenapa? Apa yang kamu butuhkan? Begitu ya?” Ujar Monita dengan polosnya sembari mengusap lembut sebelah pipi suaminya. Namun tak disangka, perlakuan Monita yang menurutnya biasa itu ternyata sudah membangunkan sisi tersendiri dalam diri seorang Ilham.
Pria itu menarik sudut bibirnya, kemudian tanpa aba-aba, ia meraih tengkuk Monita dan mengecup bibir istri kecilnya itu.
Perlakuan Ilham itu sontak membuat mata Monita membulat kala menatap seorang pelayan wanita tengah menyaksikan adegan yang tak pantas dilihat itu. Pelayan itu tak bermaksud apa-apa, ia yang kebetulan hendak ke kamar Dikta dan mengambil baju kotor bayi itu di sana, ia tak tau kalau matanya akan tercemar kala melihat adegan tersebut. Ia langsung putar haluan dan kembali menuju dapur karena gugup.
“Mas!” Monita memukul-mukul dada Ilham namun Ilham tak menggubrisnya, ia malah mencekal kedua pergelangan tangan Monita dan terus melanjutkan aksinya.
Namun Monita terus memberontak, merasa istrinya sedang tidak baik-baik saja membuat Ilham melepaskan pagutannya dan menatap sang istri dengan dahi mengkerut.
“Ada apa sayang?”
“Pelayan tadi melihat kita saat mas yang seenaknya mencium aku seakan tak ada beban.” ketus Monita menatap luar biasa tajam ke arah suaminya.
Ilham langsung menoleh ke belakang memastikan keberadaan pelayan yang Monita maksud tadi.
“Telat, dia sudah pergi.” ketus Monita lalu beranjak dari duduknya namun, secepat kilat Ilham menarik tangannya hingga ia terduduk di pangkuan Ilham.
__ADS_1
“Tapi kan pelayannya sudah pergi sayang.” Ucap Ilham menatap Monita dengan lekat.
“Tapi mas tidak boleh seenaknya melakukan hal mesum seperti tadi di sini.”
“Lalu di mana kita harus melakukannya sayang?” Tanya Ilham yang membuat Monita lemas seketika.
“Mas, aku ingin istirahat aku lelah.” keluh Monita menatap suaminya dengan raut wajah memelas, seakan mencari belas kasihan dari pria itu. Tapi sayangnya itu tak berlaku bagi Ilham, jika sudah terpancing begini, mustahil bagi dia untuk menahannya.
“Tapi kamu sudah terlanjur membuat aku turn on sayang.”
“Hah?!” pekik Monita tak percaya, bagian mana yang dia lakukan sehingga mampu membuat suaminya turn on. Setahu dia, dari tadi dia tidak melakukan hal yang dapat memantik ga*rah suaminya itu.
“Kamu membelai pipiku tadi dan berkata manis. Ayo lah sayang, dia sudah terlanjur bangun, tolong tidurkan dia ya.” pintah Ilham seraya menunjuk juniornya yang sudah tampak menegang.
Monita tercengang melihat ga*rah **** suaminya yang di luar nalar itu, menurut dia belaian tadi adalah hal wajar tapi diartikan lain oleh suaminya. Benar-benar membuat repot saja.
“Mau dilakukan di sini atau di kolam renang?” Tanya Ilham memberikan pilihan yang sontak membuat Monita kembali melayangkan tatapan tajam ke arah sang suami. Di sini saja dia sudah malu, apalagi di kolam renang yang jelas ada banyak pelayan yang suka duduk santai di sana.
“Dasar mesum.”
“Mesum ke istri sendiri kan tidak apa-apa sayang.” Ujar Ilham lalu tanpa aba-aba kembali mencium bib*r istrinya di tempat itu juga.
“Ehhmm!” Monita berusaha untuk menolak seraya mendorong tubuh kokoh Ilham dengan kedua tangannya.
Ilham tau jika saat ini istrinya tengah menolaknya, namun dia sama sekali tak gentar. Ilham malah melanjutkan aksinya, ga**rahnya yang membuncah sudah membutakan dia dan tidak peduli sedang berada di mana mereka saat ini.
“Ehhmpp!” Monita tak putus asa, ia masih ingin berteriak namun hasilnya tetap saja sama, suaranya tidak bisa keluar.
Namun hal itu justru membuat Ilham semakin memperdalam ciu*annya, bahkan kali ini dia malah melum**nya lalu mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang ramping Monita. Kini tubuh Monita semakin terkunci, membuatnya semakin tak bisa lolos meski sudah mencoba beberapa kali.
Ciu*an maut itu semakin menjadi dan semakin menuntut, lid*hnya semakin liar menembus masuk ke dalam rongga mulut sang istri dan berjelajah sesuka hati di sana.
Sialnya ga*rah Monita malah semakin mencuat saat dengan susah payahya ia tahan. Benteng pertahanan diri yang sejak tadi ia bangun, kini mulai runtuh kala Ilham semakin membuat ia melayang.
Monita mulai pasrah, tangan yang sejak tadi ingin mendorong jauh tubuh Ilham, kini bahkan meremas baju kaos suaminya.
Menyadari Monita yang mulai pasrah, Ilham tersenyum bahagia dalam hatinya. Kedua bib*r mereka kini saling berpagutan satu sama lain.
Entah sudah berapa lama mereka saling berpagutan, kini perlahan Ilham mulai melepaskan tautannya dari bib*r Monita. Namun tetap saja sorot matanya menatap begitu lekat, seakan terus menatap lembut sang istri.
Sebelah tangannya mulai mengusap pipi Monita yang memerah dan membelainya dengan penuh kasih sayang.
“Maaf jika kamu tidak nyaman sayang, tapi aku sangat sulit mengendalikannya.” Ungkap Ilham dengan suara setengah berbisik.
__ADS_1
Monita menatap suaminya tak kala lekat, bibirnya mulai bergetar merasakan kehangatan yang semakin menjalar ke sekujur tubuhnya.
“Aku ingin melakukannya di sini sayang.” Ucap Ilham yang memang memiliki fantasi se*s yang berbeda, dia ingin variasi se*s yang beragam, oleh karena itu dia ingin melakukannya di tempat tersebut tepatnya di ruang keluarga. Rasanya jika melakukan variasi seperti itu, akan lebih menatang dan membuat Ilham semakin berga*rah.
“Tapi mas, kalau ada orang bagaimana?” Tanya Monita dengan nafas tersengal.
“Semua pelayan itu tidak akan berani untuk datang lagi ke sini, mereka sudah saling mengingatkan sayang dan Eden juga tidak akan keluar kalau dia sudah bersama Dikta begitu, dia tidak mungkin meninggalkan Dikta sendirian.” Jelas Ilham dengan suara parau, seakan pintar membaca situasi, padahal kenyataannya kalimat itu hanya kalimat penenang untuk istrinya.
“Sayang, apa kita harus berhenti sekarang? Aku ingin kita malanjutkannya, rasanya aku tak bisa menahannya kalau kita harus ke kamar dulu.” Keluh Ilham saat miliknya sudah semakin sesak.
“Baiklah mas, lakukan sesukamu.” Ujar Monita memberi lampu hijau dan langsung saja menyambar bib*r Ilham.
Monita sudah terlanjur kehilangan kendali atas dirinya sendiri, sudah terlambat jika dia menghambat perasaan yang meronta-ronta minta ingin disalurkan segera, apalagi jika bukan perasaan ingin bercinta.
Sedangkan Ilham langsung menyambut bib*r istrinya dengan senang hati, bukan hanya sekedar itu, ia bahkan begitu semangat saat membalas Monita dan ciu*an panas mereka pun kembali terjadi.
Meski itu di tempat terbuka, namun tak menghalangi niat Ilham untuk membuka seluruh pak**n yang dikenakan Monita, kini tubuh mereka sama-sama polos tanpa sehelai benang pun.
Layaknya bayi yang tengah kehausan, Ilham menyesap benda kenyal nan sintal milik Monita dengan begitu rakusnya. Monita tak segan menekan kepala Ilham dengan perlahan agar semakin memperdalam lagi mengulum area coklat kemerahan itu.
Setelah puas membuat diri masing-masing melayang jauh ke udara, Ilham mulai menancapkan rudal miliknya ke dalam inti Monita, membuat Monita melenguh tak tertahankan.
Lenguhan Monita mampu membangunkan hasr*t Ilham hingga pada kadar yang tak terhitung lagi, membuatnya semakin ganas memaju mundurkan pinggulnya dengan cepat. Monita semakin tak terkendali ia sudah tak peduli lagi jika ada orang yang akan memergoki mereka saat ini, yang ada di pikirannya adalah dia ingin mencapai puncak kenik**an bersama Ilham. Padahal yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang berani memergoki mereka karena pelayan yang tadi tak sengaja sempat melihat kemesraan mereka sudah memperingatkan rekannya yang lain agar tak lewat ke ruang keluarga dulu untuk sementara waktu, sementara Eden tengah terlelap bersama Dikta di kamarnya saat ini.
Kedua insan yang tengah kehilangan akal sehatnya kini sedang saling beradu di atas sofa layaknya dua ekor singa yang saling memangsa.
“Sayang, aku mau keluar.” Racau Ilham semakin menambah kecepatan gerakan pinggulnya, setelah setengah jam melakukan permainan menyenangkan itu.
Monita hanya mengangguk, dia sudah tak mampu lagi berkata-kata setelah berkali-kali mencapai *******.
Seketika Ilham memuntahkan lahar putih itu di dalam rahim Monita, Ilham pun akhirnya terkulai lemas dan ambruk di atas tubuh sang istri dengan bermandikan keringat.
“Sayang, kenapa kamu buang di dalam lagi?” Tanya Monita sedikit cemas karena dia tidak menggunakan KB.
“Maaf sayang, aku tidak bisa menahannya lagi, kita berikan saja Dikta adik.” Jawab Ilham dengan nafas yang memburuh dan sontak membuat Monita menyerang suaminya dengan cubitan kecil di perut sang suami.
“Awww sakit sayang!” Keluh Ilham tersentak dan sontak bangkit dari tubuh istrinya sembari mengelus bekas cubitan Monita.
“Makanya jangan asal bicara, Dikta baru tiga bulan mas, belum boleh punya adik lagi. Apa kamu tidak sayang padaku? Aku melahirkan SC, dan anakku masih bayi kata dokter itu sangat beresiko mas.” Gerutu Monita mencebik kesal.
“Benarkah sayang? Maaf aku tidak sengaja, kalau begitu kamu pakai KB ya, nanti sore aku antar ke rumah sakit.”
“Untung saja bukan masa subur.” cetus Monita merasa sudah berada di titik aman meski hatinya masih ketar-ketir.
__ADS_1