
Sudah 5 hari lamanya, Monita terus mendiami Ilham, namun meskipun marah, Monita tidak melewatkan kesempatan untuk terus menyiapkan sarapan, makan siang maupun makan malam untuk Ilham.
Ilham pun selalu makan sendiri di meja makan tanpa adanya Monita, seolah menghindarinya, Monita meminta bi’ Ratih untuk membawakan makanannya ke kamar dengan dalih tidak enak badan.
Bahkan tak hanya itu, mereka juga sudah tidak tidur sekamar apalagi tidur seranjang, Monita awalnya hendak tidur di kamar tamu, namun Ilham melarangnya, dalam hal ini dia yang mengalah dengan tetap membiarkan Monita di kamar utama dan dia tidur di kamar tamu yang ada di lantai dasar.
Seperti saat ini, selesai makan malam, Ilham beranjak dari meja makan menuju kamarnya, namun seketika langkahnya terhenti melirik ke kamar dirinya dan Monita yang ada di lantai atas, tiba-tiba saja ada rasa rindu yang menyeruak mengusik hatinya, ia merindukan Monita karena sudah 5 hari ini dia tidak pernah melihat wajah Monita, karena Monita yang terus mengurung diri di kamar demi menghindarinya, Ilham berniat untuk naik menapaki anak tangga, namun pada saat dia mulai melangkahkan kakinya untuk naik, perasaan ragu mulai menyapa hingga membuat Ilham mengurungkan niatnya.
Ilham pun putar haluan untuk kembali menuju kamarnya, dia ragu-ragu untuk menghampiri Monita yang ada di kamar karena takut mendapat penolakan dari Monita.
Namun seketika rasa rindu dalam hatinya kian membara, membuat Ilham sulit membendungnya, bayangan dirinya dan Monita yang bercumbu, bermesraan, saling mengutarakan kebahagiaan terlintas di benaknya dan berhasil mengundang rindu yang semakin dalam.
Lima hari tidak bertemu Monita bagaikan lima tahun bagi Ilham, namun rasa takut akan penolakan Monita lah yang membuat Ilham selalu mengurungkan niatnya kala ia ingin meminta maaf, pada saat dia sudah hampir sampai di pintu kamar tamu, ia sontak menghentikan langkahnya dan mengurungkan niatnya, ia mulai mengepalkan tangannya dengan perlahan ketika tangannya sudah mengambang hendak meraih handle pintu
“Aagghhh persetan dengan rasa takut.” Gumam Ilham dalam hati lalu kembali berlari menuju tangga untuk ke kamar utama.
Begitu sampai di depan pintu kamar mereka, Ilham pun mulai mengetuk pintunya.
Tok… tok… tok
Ilham mengetuk pintu, namun tidak ada sahutan dari Monita.
Tok…tok…tok
Monita yang tengah duduk berselonjor di atas ranjang sembari menonton TV, mengerutkan dahi mendengar suara ketukan pintu yang seperti di gedor-gedor.
“Iya sebentar.” Teriak Monita dari balik pintu membuat Ilham seketika tersenyum merekah, terlebih saat Monita sudah membuka pintu.
“Kenapa?” Tanya Monita dengan wajah datar.
Tak langsung menjawab dengan kata-kata, Ilham pun masuk begitu saja ke dalam kamar lalu mengunci kembali pintu kamar itu.
“Ada apa?” Tanya Monita dengan tangan yang bersedekap di dada.
“Aku kesini karena ingin menjelaskan kejadian malam itu, aku tidak ingin kamu terus salah paham denganku mengingat kamu tidak pernah mau memberikan aku kesempatan untuk menjelaskannya.” Ucap Ilham lembut.
“Mas tidak perlu menjelaskan apapun padaku, aku merasa tidak pantas untuk marah karena hal itu, aku sadar siapa aku!” Jawab Monita sembari tersenyum lirih.
__ADS_1
“Aku tidak pernah mengatakan itu pada Rendy, mana mungkin aku mau menyerahkanmu padanya, membiarkanmu dekat dengan David saja sudah sangat mengusik pikiranku dan berhasil membuatku cemburu buta, apalagi harus menyerahkanmu pada Rendy.” Jelas Ilham sembari mulai mengusap lembut sebelah pipi Monita.
Monita pun terdiam sejenak dan mulai menatap Ilham dengan tatapan lirih.
“Tolong percayalah padaku sayang, jangan salah paham lagi, aku benar-benar tidak mengatakan hal itu pada Rendy, aku berani bersumpah.” Tambah Ilham yang terus mengusap lembut pipi Monita.
Monita pun terus terdiam, namun entah kenapa ada perasaan lega dalam hatinya saat Ilham menghampirinya dan mulai memberi penjelasan dengan caranya yang lembut.
“Oh ya, ini aku bawakan coklat untukmu, semenjak hamil, kau suka coklat kan?” Ucap Ilham lagi sembari meraih sebuah coklat di saku celananya lalu menunjukannya pada Monita.
Ilham pun mulai membuka kemasan coklat itu, dan mengarahkannya ke mulut Monita.
Setelah terdiam beberapa saat, Monita pun perlahan mulai membuka mulutnya dan membiarkan Ilham menyuapinya.
Ilham pun semakin mengembangkan senyumannya saat menyaksikan itu, namun Monita saat itu tidak mau kalah, dia juga ingin menyuapi coklat itu untuk Ilham.
“Aku juga mau menyuapimu.” Ucap Monita sembari meraih sebatang coklat itu dari tangan Ilham.
Namun dengan cepat Ilham menjauhkan sebatang coklat itu dari jangkauan Monita, hingga membuat Monita mengerutkan dahinya.
“Apa Mas tidak ingin kusuapi?”
Lalu tanpa permisi, Ilham langsung melahap bibir Monita begitu saja, menciuminya dengan begitu lembut, hingga coklat yang sebelumnya sudah dimakan oleh Monita, juga ikut terasa di indera perasa Ilham, tak lama Ilham pun melepas tautan bibir mereka sembari mengutas sebuah senyuman.
“Benar saja, rasanya akan jauh lebih nikmat jika cara menikmatinya seperti yang barusan kulakukan.” Ucap Ilham.
Monita pun tak kuasa lagi menahan senyumannya, senyuman manis dari bibirnya pun seketika muncul, terpancar nyata di wajah cantiknya, Ilham memang selalu tau bagaimana cara membuat Monita tersenyum, bahkan di saat dia merasa tak karuan sebelumnya.
Akhirnya entah setan jenis apa yang merasuki diri Monita, sehingga dengan keberaniannya, Monita yang polos kini mulai mencondongkan tubuhnya dan mendaratkan bibirnya ke bibir Ilham, tentu saja Ilham tak tinggal diam dan membalas ciuman itu, ciuman yang awalnya dilakukan penuh kelembutan, kini sudah semakin menuntut, hingga membuat Ilham dan Monita kembali mengarungi lautan kenikmatan yang tiada tara malam itu.
Mereka melakukannya dengan berbagai gaya, mulai dari berbaring, duduk hingga berdiri, semua sudah mereka lakukan demi merasakan sensasi baru, mereka bahkan melakukannya sebanyak tiga kali dalam semalam, menyalurkan ha*** yang sudah terpendam sejak lima hari yang lalu.
Kini mereka sudah sampai di puncak kenikmatan, membuat tubuh Monita ambruk di atas tubuh Ilham, untuk permainan yang terakhir ini Monita yang pegang kendali, dengan nafas yang masih terengah-engah Monita mulai berbaring di samping Ilham sembari menyandarkan kepalanya di dada bidang Ilham dalam keadaan tubuh yang sama-sama masih polos.
“Mas!” Panggil Monita saat deru nafasnya yang tersengal mulai kembali normal.
“Hmmm.” Jawab Ilham sembari mengusap ujung kepala Monita.
__ADS_1
“Ku rasa ini sudah terlambat namun aku tetap ingin mengucapkannya, karena kita banyak melewati hari-hari yang rumit, terima kasih sudah membelikan ku ponsel, berkat ponsel darimu, aku jadi bisa kembali menghubungi ibu dan adikku dengan mudah.”
“Tidak perlu berterima kasih, membahagiakanmu sudah menjadi kewajibanku.” Jawab Ilham dengan senyuman tipis.
“Tapi, kenapa kamu menulis nomormu dengan nama ‘suami tampanku’ di kontak itu?” Tanya Monita yang mulai mendongakkan kepalanya demi bisa melihat suaminya.
“Hahaha, itu sudah benar sayang, bukankah aku adalah suamimu dan aku juga sangat tampan?” Seloroh Ilham dengan tersenyum lebar.
“Haisss kamu terlalu percaya diri, tapi…”
“Tapi apa?” Tanya Ilham yang mulai merubah posisinya jadi berhadapan dengan Monita lalu balas memeluk Monita yang tengah memeluknya sejak tadi.
“Tapi memang benar Mas Ilham sangat tampan.” Ucap Monita dengan jujur sembari menahan senyumnya.
“Lalu?”
“Lalu apa?” Monita tampak mengerutkan dahi.
“Kamu hanya mengakui ketampananku saja? Kamu tidak mengakui kalau aku ini suamimu?” Tanya Ilham yang seakan menuntut pengakuan dari Monita.
“Iya iya, kalau itu memang sudah 100% benar.” Namun setelah mengatakan itu, Monita pun seketika terdiam dengan tatapan sendunya.
“Hei kenapa mendadak jadi diam seperti ini?” Tanya Ilham sembari mengusap lembut pipi Monita.
“Kamu memang suamiku Mas, tapi hanya suami kontrak.” Jawab Monita mulai mengeluarkan uneg-unegnya tanpa ragu.
“Kata siapa? Aku akan menjadi suamimu selamanya.”
“Bukan Mas, kamu itu suami Mbak Naomi, buktinya tadi di depan khalayak ramai, kamu hanya mengakuiku sebagai tamu VIP, bukan sebagai istrimu.” Tutur Monita sedikit menyindir Ilham dengan terus mengulum senyumnya.
“Sayang, jadi kamu memperhatikan hal itu? Aku tidak bermaksud seperti itu, aku mengatakan kalau kamu tamu VIP ku karena memang kamu lah tamu spesial di situ, maafkan aku sayang, baiklah mulai sekarang aku akan mengumumkan pada semua orang kalau kamu adalah istriku.” Jelas Ilham mendadak jadi panik dan takut kalau Monita akan kembali salah paham.
“Jangan! Bagaimana kalau orang tuamu tau? Aku tidak ingin itu terjadi Mas, pikirkan juga perasaan Mbak Naomi.”
Mendengar nama Naomi disebut membuat Ilham kembali terlihat lesu, dia masih begitu sensitif mendengar nama Naomi, yang entah di mana rimbanya saat ini, istri pertamanya, wanita pertama yang berhasil merebut hatinya itu sudah pergi meninggalkan dirinya dengan tega.
Melihat reaksi Ilham ketika mendengar nama Naomi di sebut membuat Monita tersenyum lirih, entah kenapa dia berfikir kalau Naomi sudah berhasil menguasai hatinya hingga tidak memberi cela sedikit pun untuk wanita lain memasukinya, termasuk Monita, namun mana Monita tau kalau anggapannya itu keliru, justru dirinya lah yang sudah mengalihkan dunia Ilham hingga membuat Ilham sudah banyak melupakan Naomi, bahkan tanpa Ilham sadari, namun cinta di hatinya untuk Naomi masih ada.
__ADS_1
Seakan tidak mau merusak moment kebersamaan mereka, Ilham pun mengalihkan pembicaraan dan mulai mencairkan suasana lalu memeluk erat tubuh Monita dengan posesif, menciptakan kembali kenyamanan di hati Monita.