
Seminggu sudah Rendy dan Naomi mendekam di jeruji besi. Kehidupan keluarga Adhitama kini semakin membaik, sejauh ini belum ada konflik yang menerpa rumah tangga mereka. Ilham sudah menjual rumah utama yang dahulu pernah menjadi tempat tinggal dia bersama Naomi, Ilham ingin menyingkirkan semua kenangan bersama Naomi termasuk rumah yang dulu Ilham hadiahkan pada mantan istrinya itu.
Tak lupa pula dengan mama Nancy yang selalu datang berkunjung ke rumah anak dan menantunya itu demi bisa bertemu Dikta cucu gembulnya yang sudah semakin besar dan aktif. Begitu besarnya kebahagiaan mama Nancy dan papa Agam saat melihat hadirnya penerus tahta di tengah-tengah mereka. Ucapan terimakasih tak henti-hentinya mereka utarakan pada Monita yang sudah melahirkan Dikta sebagai cucu pertama mereka.
Selain mama Nancy, Amira istri Shaka juga sering berkunjung di rumah Monita setiap weekend dengan membawa serta kedua anaknya untuk bermain bersama Dikta.
Seperti hari ini, Shaka, Amira dan mama Nancy sedang berada di rumah Ilham dan Monita. Mama Nancy sudah berada di dapur bersama Monita sedangkan Shaka dan Amira masih ada di ruang tamu sembari berbincang dengan Ilham.
“Oh iya, Rendy masuk berita lagi, wajahnya babak belur karena bertengkar dengan sesama penghuni di sana.” Ujar Shaka mengutarakan informasi yang ia ketahui.
Ilham menatap Shaka dengan raut wajah yang sulit di artikan, entah dia senang atau bagaimana. Lantas dalam hitungan detik, ponsel Shaka sudah berada di tangannya demi memastikan berita yang terkuak ke media.
“Siapa Ham? Mama mau lihat juga dong?” Ucap mama Nancy mendadak muncul.
Pengusaha sukses ibu kota kini jadi kacung di balik jeruji besi dan dipukuli hingga babak belur oleh sesama tahanan. Nancy tersenyum miris kala membaca headline tentang Rendy. Kemudian wanita itu menatap Ilham penuh kelegaan.
“Itu memang pantas dia dapatkan karena sudah berani berbuat macam-macam pada kak Ilham.” Ucap Amira menimpali, dia juga sangat lega kala keluarga Adhitama bisa melumpuhkan Rendy. Bahkan sangat disayangkan, Naomi yang selama ini dia anggap sahabat baik, nyatanya sama bejatnya. Sama sekali dia tidak menduga, sempat-sempatnya dia mau berteman dengan Naomi. Bagaimana tidak, pertemuan mereka bermula dari persahabatan Ilham dan Shaka.
Nancy sontak memeluk erat putranya, dia bersyukur lantaran Tuhan mengizinkan mereka untuk menemukan pelaku pembunuhan besannya dan menyingkirkan hama seperti Naomi dari keluarga mereka.
“Sekarang kamu percaya kan bagaimana busuknya mantan istri dan sahabatmu itu?”
Ya Ilham paham, dulu dia begitu mempercayai Rendy dan dengan kekehnya mempertahankan Naomi yang nyatanya adalah racun dalam keluarga.
“Alangkah baiknya sahabat itu tidak usah banyak-banyak Ham, punya dua sahabat saja itu sudah cukup, yang penting mereka tulus menyayangimu.” Ujar mama Nancy mengingatkan Ilham.
“Iya tante, seperti Shaka kan?” Tanya Shaka dengan bangganya, pria ini sudah menganggap ibu dari sahabtnya ini seperti ibunya. Maklum dia sudah tidak punya orang tua sejak remaja, karena yang merawat dan menghidupinya sejak kecil hanyalah neneknya.
“Iya, kamu dan Andre adalah sahabat Ilham yang selalu setia mendampinginya sejak dulu. Bahkan tante sangat yakin dan percaya, kalian berdua tidak akan mengkhianati Ilham dan akan tulus meyayanginya.”
Ilham hanya tersenyum kecut mendengar itu, sejak tadi dia geli mendengar mamanya selalu menyebut kata sayang dari sahabat prianya. Mana ada dua pria saling mencurahkan kasih sayang, kalau loyal baru iya.
“Iya tante benar, Shaka amat sangat menyayangi Ilham dan Shaka janji akan selalu menyayangi putra tante ini selamanya dan seutuhnya.” Tuturnya seraya menatap Ilham dengan senyum tengilnya dan sontak mendapatkan tatapan tajam dari Ilham.
“Idih, apa-apaan. Kalau seperti ini kamu seperti pria dengan penyimpangan se**sual.” Sergah Ilham kemudian berlalu dari ruangan itu menghampiri istrinya yang saat ini ada di dapur. Lama-lama pembicaraan ini jadi tidak sehat.
“Tapi kan Ham, aku benar-benar menyayangimu, aku tidak berbohong.” Teriak Shaka begitu punggung Ilham sudah semakin menjauh.
“Bohong pun aku tidak peduli Shaka!” Sahut Ilham dari kejauhan.
Amira dan mama Nancy hanya terkekeh melihat interaksi Ilham dan juga Shaka.
“Ya sudah, tante ke dapur dulu ya mau bantu Monita buat perkedel kentang.”
“Amira ikut tan.”
“Ya sudah ayo.”
“Sayang, jangan pergi dong nanti aku di sini sendirian.” Ucap Shaka mendadak lebay.
__ADS_1
“Ya ampun jangan manja deh Ka, itu mending kamu main sama anak-anak.” Seru Amira seraya menunjuk Queen dan Samudra yang sedang asyik bermain bersama Dikta.
Mana ada bermain bersama balita, gerutu Shaka seraya melirik tiga balita itu, semntara Amira dan mama Nancy berlalu dari hadapan pria itu.
“Monita, kamu lagi apa sayang?” Suara Ilham terdengar lantang dan sepertinya akan mengganggu sang istri.
“Heh Ilham, jangan ganggu Monita, nanti perkedelnya tidak jadi lagi kalau kamu ikut nimbrung di dapur.” Cegah mama Nancy namun semuanya sudah terlambat.
Hendak melarang namun semuanya sudah terlanjur. Mama Nancy lepas kendali, karena saat ini, Ilham meminta bi’ Ratih dan bi’ Rani untuk menyingkir karena ia ingin membantu istrinya dengan kemampuan yang tidak seberapa itu. Oh iya, jadi setelah rumah utama dijual, bi’ Ratih, Ija dan pak Rudi juga Ilham bawa sekalian pindah kerja di rumah barunya.
“Ilham, mama bilang jangan ganggu Monita sama Amira. Sana duduk di depan sama Shaka, jangan ngintilin istri terus.”
Monita dan Amira memang tidak protes, tapi mama Nancy yang merasa terganggu karena tidak ingin pekerjaan dapur itu menjadi runyam.
“Ilham tidak mau berbaur di sana bersama Shaka, Ilham geli dengar dia bilang sayang sama Ilham.” Jawab Ilham yang masih trauma bila duduk berdua dengan Shaka, kemudian mulai mengambil adonan yang sudah siap dibentuk itu.
“Shaka itu laki-laki normal Ilham, alasan saja kamu ini. Iya kan Mir? Dia masih nafsu kan sama kamu?” Tanya mama Nancy yang sontak mendapat anggukan dari Amira. Jujur saja dia sedikit malu mendengarnya.
Mulut ibu dan anak memang sama-sama frontal, ucapannya tidak difilter sama sekali, wajah Amira sampai memerah karena menahan malu mendengarnya.
“Mas lihat tu tangan kamu kotor.” Sergah Monita dengan maksud agar suaminya tidak ikut-ikutan.
“Sebentar aku cuci tangan dulu, yang ini jangan dibentuk biar aku yang bentuk.”
Benar-benar tidak bisa dilarang, bukannya membantu, yang ada dia menghambat pekerjaan Monita dan Amira. Bahkan dengan percaya dirinya dia mengambil setengah dari adonan yang sudah Monita siapkan.
Nancy hanya melirik Ilham dari ekor matanya, ingin marah tapi Ilham bukan lagi bocah 3 tahun. Tapi kalau dibiarkan sepertinya akan buat kacau dapur yang nantinya akan membuat Monita naik darah.
Monita hanya menatapnya datar, sedangkan Amira lepas tangan dan tidak bisa melarang lebih karena itu adalah suami Monita, seorang CEO yang harusnya disegani tapi malah bikin naik darah begini. Perasaan mereka mulai tidak enak.
“Yang rapi, aku tidak suka makan perkedel kentang bentuk bulat seperti bola pingpong.”
Sejak awal sudah diperingatkan, senyum tengil suaminya membuat Monita kian tidak nyaman, entahlah apa yang akan terjadi setelah ini.
“Tenang sayang, kalau cuma bentuk-bentuk beginian aku ahlinya. Tanganku ini multifungsi.”
Terserah, multifungsi kek, multitalenta kek atau apapun itu, yang jelas saat ini Monita ingin Ilham menyingkir dari sana.
Beberapa waktu di awal semua berjalan dengan baik, Ilham menuruti apa kata Monita meski satu perkedel kentang berhasil dia selesaikan dengan begitu lama, karena Monita tidak ingin bentuknya tidak sama seperti perkedel pada umumnya.
Kurang lonjong, kurang padat, kurang rapi, masih bulat semuanya Monita atur dan itu membuat tangan Ilham sedikit kaku sebenarnya, entah karena wanita ini mengidap OCD atau hanya menguji Ilham agar menyerah saja, Ilham juga tidak tau. Tapi pria itu tetap tidak mau menyerah. Bahkan Amira memilih duduk bersama Nancy untuk menyelesaikan pekerjaan yang lain karena bosan bila terus diganggu seperti itu.
Hingga di pertengahan perjuangannya, Ilham mulai menyerah. Bukan menyerah ingin pergi, melainkan menyerah karena menuruti kemauan istrinya. Bentuknya semakin aneh dari perkedel satu ke perkedel yang lain. Ada yang bentuk bulat seperti bola, ada yang lonjong bahkan ada yang dia ukir sedemikian rupa hingga seperti membentuk sesuatu yang tak asing di mata itu, seakan membentuk mahakarya yang sempurna, walau sebenarnya bentuknya tak lazim.
“Ada mama sama Amira loh mas. Bisa-bisanya kamu buat bentuknya seperti itu.” Omel Monita menggema, benar saja firasatnya dari awal memang sudah tidak enak.
“Ini namanya perkedel laki-laki, kalau yang itu perempuan.” Jawab Ilham sekenannya dan benar-benar membentuk adonan perkedel itu memanjang, seakan tanpa beban dan wajahnya pun biasa saja.
“Perkedel laki-laki apanya! Sudah sana lepaskan adonan itu!” Sentak Nancy tak habis pikir, perangai lama putranya mulai terlihat kembali setelah sekian lama dia sempat serius dan tampak galau semenjak beristri dua, kini ketengilannya itu kembali dalam dirinya begitu bebannya lepas. Namun hal itu justru membuat Nancy semakin jengkel.
__ADS_1
“Ini lebih simpel ma, supaya makannya lebih kenyang.”
“Kenyang apanya, adonannya dari bahan yang sama, bentuk normal juga bikin kenyang.” Pungkas Nancy mulai tak tahan, Monita mungkin diam karena tidak berani menegur Ilham langsung di hadapannya.
“Tapi bentuknya elegan ma.”
Penjelasan Ilham semakin membuat Nancy ingin membalurkan seluruh tepung terigu di wajah putranya yang tengilnya tak tertolong itu. Nancy sempat bersyukur semenjak menikahi Monita Ilham mulai dewasa, nyatanya itu karena dia hanya sedang memikul beban saja, namun semenjak bercerai dengan Naomi sifat tengilnya itu kembali lagi. Mungkin begini cara Ilham mengekspresikan kebahagiaannya, benar-benar bedah.
“Lagian mana ada bentuk perkedel begini, ubah Ilham!” Teriak Nancy semakin kesal saja, Ilham pikir mereka yang ada di dapur itu tidak paham maksudnya apa.
“Perkedel Ilham begini bentuknya mama mau apa? Lagi pula Monita tidak marah, iya kan sayang?”
Sudah Monita duga, senyum tengil yang dia tampakkan dari awal sudah membuat Monita curiga, itu memang pertanda buruk.
“Ya sudah mas saja yang makan perkedel bentuknya begitu.” Tegas Monita tak terima penawaran.
Lihatlah! Sikap pembangkangnya sewaktu dulu membuat Nancy wisata masa lalu. Kenapa sifatnya yang ini harus kembali pikir Nancy membayangkan bagaimana pembangkangnya Ilham dulu waktu masih duduk dibangku menengah pertama.
“Tapi ini bentuknya pas dimulut kamu sayang, sekali hap langsung masuk semuanya.”
Nancy tersedak ludah sendiri, anak kecil yang dulunya sering merengek minta tambahan waktu main bola kini sudah melewati batas kedewasaan. Nancy tentu paham makna tersirat dari ekspresi Ilham yang sengaja menggoda menantunya.
“Mama kenapa? Sudah sana goda papa kalau masih kuat.” Ujar Ilham dan sontak mendapat tepukan yang amat kuat di dahinya dari Monita.
Tanpa Ilham suruh, Nancy juga ingin berlalu, melihat Ilham seperti itu dia semakin bernostalgia bagaimana Ilham dulu sewaktu masih sekolah hingga menikah dengan Naomi.
“Mama.” Monita menatap mama mertuanya yang sudah menjauh.
“Mas, kamu apaan sih. Lihat tu mama pergi, kalau bercanda jangan keterlaluan. Mama pasti marah.” Monita panik kala melihat mertuanya benar-benar pergi.
“Mon, aku ikut tante juga ya.” Amira ikut pamit sembari mengan senyumnya sejak tadi.
“Maaf ya Mir, suamiku memang aneh, mungkin kurang asupan.” Jelas Monita berfikir kalau Amira tidak nyaman dengan tingkah Ilham.
“Lihat! Gara-gara mas semuanya pergi. Mas nggak sopan, mama tanya malah jawabnya begitu, ada mama sama Amira mas malah bentuk perkedel aneh kayak gini.” Monita bicara dengan nada serius, dia tidak tau lagi harus menegur suaminya dengan cara apa.
“Aku hanya menjawab pertanyaan mama sayang aku tidak bermaksud cari ribut.” Ujar Ilham tak terima, Ilham yang tak mau kalah jelas saja membela diri. Dia berpikir, niatnya untuk menjawab pertanyaan mamanya bukan sengaja cari perkara.
“Ya ampun mas! Pintar sekali jawabnya ya. Mama pergi karena kamu tidak bisa dilarang. Mama jadi kesal sendiri!” Oceh Monita semakin berapi-api, jika didiamkan ternyata suaminya makin melunjak.
Ilham memilih diam. Mulutnya diam namun tangannya tidak berhenti melakukan apa yang ada dalam benaknya. Ilham tetap melanjutkan aksinya.
“Mas! Dengar aku tidak?!”
“Iya dengar Mon. Aku tidak tuli sayang.”
Tidak tuli katanya, tapi dia sengaja pura-pura tidak dengar ucapan Monita. Kini tangannya berhenti bukan karena omelan Monita, melainkan karena adonannya sudah habis.
“Nah begini kan unik.”
__ADS_1
Unik kata dia? Justru bentuknya sangat-sangat tak lazim menurut Monita. Dia bahkan khawatir Ilham akan memberikan perkedel itu pada Dikta dan kedua anak Amira, dia tidak ingin mata ketiga anak itu tercemar hingga akhirnya dia memilih membuatkan makanan yang lain untuk mereka bertiga.
“Goreng sendiri dan awas kamu kasih makan Queen dan Samudra ya. Dikta mungkin belum mengerti, tapi mereka berdua sudah mengerti, jangan macam-macam ya kamu mas. Kalau sampai berani kamu kasih makan itu mereka, aku hukum tidak kasih jatah selama seminggu!” Ancam Monita dan berhasil membuat Ilham ketar ketir. Rupanya perintah yang ini akan Ilham turuti, bagaimana tidak, tidak dapat jatah selama sehari saja dia uring-uringan, apalagi ini seminggu. Ilham memang bisa menahan selama Monita datang bulan, tapi kalau tidak datang bulan begini mana dia tahan.