
“Bagaimana Ndre?” tanya Ilham kala Andre menghubunginya. Baru selangkah kaki Ilham berjalan keluar dari rumah utama, dia sudah menyuruh Andre mencari tau tentang Naomi lebih dalam lagi. Andre sangat-sangat tangkas, belum satu jam Ilham bertitah, dia sudah memberi informasi.
“Tuan, mereka sudah lama menjalin hubungan bahkan sebelum Naomi menyuruh tuan menikah lagi dan sebelum tuan dan Naomi menikah, mereka sudah 6 tahun ini menjalin hubungan terlarang itu. Bahkan wanita itu juga tau Rendy pelaku pembunuhan bu Rahayu, tapi dia sengaja menutupinya dan bahkan memberitahukan segala gerak gerik kita pada Rendy agar pria itu bisa melarikan diri.” jelas Andre secara detail tanpa harus menyebut Naomi dengan embel-embel nyonya lagi. Sama halnya dengan Ilham, dia benar-benar muak dengan wanita itu, yang sudah tega bersekongkol membunuh ibu dari gadis yang ia cintai.
Rahang Ilham mengeras dengan gigi yang begemeletuk. Ia sontak mengepalkan tangannya, Naomi benar-benar sudah memantik api amarah dalam diri Ilham. Jantungnya semakin tak karu-karuan, matanya memanas. Ini benar-benar di luar dugaannya, Naomi bertindak sejauh ini. Benar kata mama Nancy, dia bukan berubah, tapi topengnya terjatuh.
“Baik, pantau terus Ndre jangan biarkan dia lolos.” titah Ilham dengan tatapan membunuh. Jika Ilham sudah bergerak, maka siap-siap merasakan amukan seorang Ilham Adhitama.
Mendengar kabar itu, pikiran Ilham melayang ke beberapa waktu lalu, di mana dirinya baru pulang dari desa Monita dan mendapati keberadaan Naomi yang cukup mengejutkan. Masih teringat jelas dalam benaknya, kala itu Ilham secara terang-terangan membocorkan, siapa pelaku penabrakan bu Rahayu pada Naomi. Begitu Naomi tau, wanita itu mendadak haus, dan pamit ke dapur untuk mengambil minum, pantas saja ponselnya yang sejak awal di atas nakas sudah tidak ada begitu ia pamit untuk minum, rupanya dia ke dapur hanya untuk menghubungi badjingan itu agar waspada. Dan bodohnya, Ilham sama sekali tidak curiga sedikit pun.
“Ada apa Ham?” Tanya mama Nancy yang kala itu masih berada di dalam mobil bersama Ilham. Mobil Ilham bahkan baru terparkir di depan rumah, secepat itu Andre sudah mengabarinya.
“Mereka sudah lama menjalin hubungan bahkan jauh sebelum dia meminta Ilham menikah lagi. Sudah enam tahun ini mereka menjalin hubungan. Naomi juga terlibat membantu Rendy melarikan diri kala Ilham mencarinya untuk meminta pertanggung jawaban atas meninggalnya mertua Ilham.” jawab Ilham mengusap kasar wajahnya. Benar-benar diluar dugaan. Plot twist yang Naomi ciptakan sukses mengguncang hati banyak pihak.
“Dasar ******! Cepat kau ceraikan dia Ilham mama sudah sangat muak dengannya.” ketus mama Nancy kemudian turun dari mobil dan membanting pintu mobil itu hingga menciptakan dentuman yang cukup keras. Ilham sampai mengurut dada melihat luapan emosi mamanya.
“Mama?” sapa Monita begitu melihat kedatangan mama mertuanya. Wajahnya yang merah padam sontak berubah kala menatap menantu kecilnya itu. Bergegas ia menghampiri Monita, dan merengkuh tubuh mungil wanita dengan dagu belah itu.
Monita mengerutkan dahi, kerasukan apa mama mertuanya ini pikirnya. Menghilang begitu lama, datang-datang peluk Monita.
Mama Nancy menatap Monita dengan begitu lekat, netranya sudah mengembun.
“Apa yang terjadi? Kenapa mama menangis?” tanya Monita seraya menyeka air mata Nancy.
__ADS_1
“Duduklah nak. Baru akan mama ceritakan.” Nancy mendudukkan Monita ke sofa yang lumayan besar itu, sembari mengusap pundak menantunya. Tak lama berselang, Ilham juga tampak berdiri di ambang pintu menyaksikan dua permatanya yang menunjukkan perhatian satu sama lain.
“Ada apa ma? Kenapa menangis?”
Monita tampak khawatir melihat buliran bening itu mengalir dari netra mertuanya, hatinya ikut tersayat menatap wajah sendu itu. Dia sangat menyayangi wanita ini, dia tidak rela jika sampai ada yang membuatnya menangis.
“Naomi mengkhianati Ilham dan berselingkuh dengan lelaki bejat yang beranma Rendy nak.” ujar mama disela-sela tangisnya, ini baru secuil informasi, mama Nancy akan mengutarakannya secara perlahan agar Monita tidak syok.
Monita membulatkan matanya seraya menutup mulutnya yang menganga lebar. Suaranya tercekat sehingga membuat Monita tak mampu lagi berkata-kata, informasi ini begitu mengejutkannya, satu persatu fakta tentang Naomi terkuak seketika. Sama sekali tidak dia duga, sejauh ini yang dia tau Naomi masih bertahta di hati Ilham, matanya sontak menatap manik Ilham, yang kini juga tengah menatapnya.
Tatapan mereka saling beradu, Monita memandangi suaminya dengan tatapan sendu. Rasa cemas kian mendera, dia khawatir suaminya akan sakit hati, wanita itu tidak tau bagaimana perasaan suaminya saat ini. Hati Ilham sudah tidak sakit lagi kala mengetahui Naomi menodai pernikahan mereka, hanya amarah yang menggerogoti batinnya, ya Ilham merasa Naomi sudah menginjak harga dirinya dengan bebuat zina di rumah yang sudah dia beli dengan jeri payahnya.
Fakta mencengangkan ini, cukup menampar Ilham. Dia sadar bahwa tidak semua sahabat itu tulus, kita harus memilah dengan seksama kepada siapa kita menaruh kepercayaan.
Ilham tersenyum lirih, sembari berjalan menghampiri istrinya, detik berikutnya dia duduk di samping bidadari yang dia harapkan tidak akan mengkhianatinya. Monita mengusap lembut wajah suaminya dan menatapnya dengan lekat.
“Jadi mbak Naomi berselingkuh dengan Rendy yang dulu hampir menodaiku?”
Ilham mengangguk, mendengar pertanyaan sang istri membuat Ilham kembali mengingat peristiwa sinting itu. Emosinya kian membuncah dan ingin sekali dia menghabisi badjingan itu saat ini juga. Sudah terlalu banyak kejahatan yang Rendy lakukan pada keluarganya.
“Apa lagi ini Ilham? Jadi Rendy juga hampir menodai Monita?” tanya mama Nancy yang tak kalah terkejut.
“Iya ma, saat itu Monita sedang hamil muda, beruntung Ilham datang tepat waktu dan menyelamatkan Monita, kalau tidak mungkin Rendy sudah berhasil memperkosanya.”
__ADS_1
“Badjingan! Benar-benar tidak bisa dibiarkan. Kau harus cepat bertindak Ilham.”
“Iya ma, mama serahkan saja semuanya pada Ilham.”
“Tapi mas, mungkin saja mbak Naomi berselingkuh karena dia merasa selalu mas abaikan.” tuturnya kemudian. Secebis rasa bersalah itu masih ada sebenarnya sekali pun dia sudah mendengar perselingkuhan itu.
“Mereka berselingkuh jauh sebelum kita menikah sayang, bahkan sebelum aku bertemu denganmu dan sebelum aku dan dia menikah. Hubungan mereka sudah berjalan 6 tahun, aku pun jadi ragu sekarang, anak siapa yang dikandungnya dulu. Mungkin saja itu anak Rendy.” ungkapnya yang membuat Monita tak henti-hentinya tercengang.
Sulit dipercaya, Naomi yang terlihat sangat mencintai Ilham bahkan amat sangat lembut pada mertuanya bak menantu idaman menyimpan rahasia sebesar ini. Sepandai-pandainya tupai melompat, suatu saat akan jatuh juga, begitulah perumpamaan yang pas untuk Naomi saat ini. Tak ada yang menduga bahwa dia sudah mengkhianati Ilham enam tahun lamanya, bahkan mama Nancy pun tidak menyangka. Dia merasa sudah ditipu mentah-mentah oleh Naomi, dan bodohnya dia tidak curiga sama sekali dan malah mencurahkan kasih sayang yang berlimpah ruah pada wanita itu. Menyesal sekali rasanya Nancy.
“Ternyata dia tak ubahnya wanita jal*ng! Mempercayai kepolosannya sama saja dengan mempercayai fitnah dajal.” umpat mama Nancy saking geramnya.
Monita sampai tak mampu berkata-kata lagi, dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan.
“Masih ada satu fakta yang tak kalah mencengangkan lagi Monita. Tapi kamu harus kuat mendengarnya ya.”
“Fakta apa ma?” Perasaan Monita mendadak tidak enak kala mendengar mertuanya mulai melontarkan kata pembuka seperti itu.
“Mama sudah menemukan pelaku pembunuhan ibu kamu.” ungkap mama Nancy perlahan.
Bongkahan batu besar seakan menghimpit relung hati Monita. Ulu hatinya terasa sesak. Jantungnya tak karu-karuan, mama Nancy sukses mengulik luka lama yang belum kering sempurna itu.
“Si… siapa pelakunya ma?” tanya Monita dengan jantung yang bergemuruh.
__ADS_1
“Pelakunya Rendy sayang.” Mama Nancy mengusap lembut pundak menantunya agar supaya dia tenang. Nancy menatap wajah sendu menantunya dengan raut penuh kecemasan, takut menantunya tidak akan kuat.
Benar saja, mata Monita memanas, dadanya naik turun. Berutubi-tubi fakta mengejutkan muncul satu persatu, berhasil membuat dadanya sesak. Bahkan pasokan oksigen di ruangan yang seluas ini saja tak mampu melegakan pernapasannya, Monita benar-benar lemas rasanya bahkan Ilham sampai menahan tubuhnya yang sudah tersandar lemas di dada bidang Ilham agar tidak terjatuh.