
Kini Rahayu sudah dimakamkan setelah menjalani prosesi pemakaman yang sudah berlangsung, Monita dan juga Eden duduk disamping kubur ibunya dengan menangis tersedu-sedu.
“Ibu padahal baru saja kita bertemu dan berbahagia, tapi ibu sudah pergi meninggalkan aku selamanya.” Tangis Monita semakin terdengar pilu.
Ilham segera berjongkok mensejajarkan tubuhnya dan juga Monita lalu mengusap air mata yang menbanjiri pipi istrinya itu dan membawa Monita masuk ke dalam dekapannya.
Begitu pun dengan Andre, entah kenapa, dia tidak tega melihat Eden yang menangis pilu seperti itu, ingin rasanya ia memeluk Eden dan menenangkannya, namun ia masih belum punya keberanian mengingat sudah ada Ilham di sisi mereka.
Setengah jam kemudian, Ilham mulai mengajak Monita dan Eden untuk beranjak pulang karena cuaca sudah hampir hujan, hal itu pun disetujui oleh Monita dan juga Eden yang ikut berdiri lalu melangkah dengan gontai menuju mobil Ilham.
Begitu sampai mobil, ilham membukakan pintu untuk Monita dan Monita pun masuk ke mobil dengan disusul oleh Eden dan Andre yang juga ikut masuk ke dalam mobil Ilham tepatnya di bangku bagian belakang.
Tak butuh waktu lama, kini mobil Ilham sudah terparkir sempurna di pekarangan rumah Monita, mereka pun turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah, setelah semuanya mendudukkan diri di sofa ruang depan rumah Monita, Ilham pun mulai bertanya.
“Sayang, sekarang tolong kamu jelaskan padaku, bagaimana musibah ini bisa terjadi?” Ucap Ilham yang kemudian memandang serius ke arah Monita.
Monita menarik dalam nafasnya, lalu kemudian ia mulai menjelaskan kronologi kejadiannya secara detail.
“Dan mobil itu terus saja melaju tanpa henti.” Jelas Monita di akhir kalimat.
Mendengar penuturan yang disampaikan sang istri membuat dahi Ilham semakin berkerut.
“Sepertinya ada yang tidak beres.” Celetuk Ilham dalam hati.
“Siapa orang itu? Kenapa dia sengaja ingin menabrak Monita?” Gumam Ilham lagi dalam hati.
“Sayang, apa kamu hafal plat nomor mobil itu?”
“Tidak, saking terkejut dan paniknya, mataku tidak fokus lagi ke situ.” Jawab Monita dengan tatapan kosong.
Ilham pun terus terdiam sembari otaknya terus berfikir.
“Tuan Ilham, sepertinya aku melihat ada sebuah cctv yang terpasang di tempat kejadian, karena tempat kejadian itu tepat di depan sebuah toko pakaian, dan aku seperti melihat ada cctv di situ.” Jelas Andre kemudian membuat pikiran Ilham semakin terbuka.
Tak lama Ilham pun mulai bangkit dari duduknya, membuat semua yang ada di situ sontak menoleh.
“Andre, ayo ikut aku!”
“Siap tuan.” Jawab Andre yang langsung berdiri dari duduknya.
“Sayang, kamu tunggulah di sini ya, aku dan Andre akan kembali ke tempat kejadian tadi untuk mengecek cctv yang ada di sana, supaya aku bisa menemukan pelaku yang sebenarnya.” Jelas Ilham kemudian.
“Tapi Mas…”
“Tidak usah khawatir, aku pasti akan baik-baik saja, kamu tunggulah di sini ya, aku akan segera kembali.” Ucap Ilham sembari mengecup singkat kening Monita.
__ADS_1
Moninta pun hanya mengangguk lesu, setelah Ilham beranjak, Eden pun kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang kakak dengan air mata yang terus mengalir namun sama sekali tak mengeluarkan suara.
“Andre, kita perlu melacak cctv di tempat kejadian tadi, aku ingin melacak pemilik mobil itu.” Jelas Ilham dengan wajah yang tegang.
“Baiklah, kalau begitu mari kita cek sekarang.” Jawab Andre kemudian langsung menginjak gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
“Ndre tolong naikkan lagi kecepatannya!” Titah Ilham yang diangguki Andre.
Andre pun semakin melajukan mobil yang ia kemudikan dengan kecepatan tinggi.
Tak butuh waktu lama, kini mobil yang dikemudikan Andre sudah sampai tepat di depan toko yang dimaksud, Ilham dan Andre pun sama-sama turun dari mobil dan berjalan memasuki toko tersebut.
“Selamat sore, bisa kah saya bertemu dengan pemilik toko ini?” Ilham menyapa lelaki paruh baya yang menyambut kedatangan mereka.
“Saya sendiri, ada apa tuan? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pria paruh baya itu dengan ramah.
“Kebetulan sekali, sebelumnya kami minta maaf mungkin kami sudah mengganggu, kami ke sini ingin mengecek rekaman cctv untuk kejadian tabrak lari tadi pagi, kebetulan yang tertabrak tadi adalah ibu mertua saya, jadi saya ingin memastika plat nomor mobil yang sudah menabrak mertua saya.” Jelas Ilham dengan sopan kepada pemilik toko itu.
“Oh ya sudah, mari mari tuan, masuk ke ruangan saya dulu, akan saya perlihatkan.” Ucap pria tersebut yang langsung mempersilahkan Ilham dan Andre masuk ke ruangannya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Begitu di persilahkan duduk, Ilham dan Andre pun sudah terduduk di sebuah sofa ada dalam ruangan pria tersebut.
Pria tersebut dengan sigap langsung membuka laptopnya, dia sengaja membuka rekaman cctv dari laptop agar lebih puas dan jelas melihat ketimbang dari ponsel.
“Sekitar jam 8 pagi.” Kini giliran Andre yang menjawab.
Mendengar jawaban Andre, dengan cepat pria itu memilih rekaman di jam yang disebutkan Andre, dan membuka rekaman di bagian depan toko.
Rekaman cctv di jam tersebut menampilkan Monita yang berjalan bersama ibunya menyebrangi jalan, dan tak lama terlihatlah mobil yang dimaksud.
“Perlambat!” Tegas Ilham nampak serius.
Pria itu segera menslow motion kan rekaman itu hingga benar-benar jelas terlihat bagaimana gerakan ibu Monita saat menyelamatkan Monita dan memilih mengorbankan dirinya.
“Astaga, ini sungguh tindakan kriminal.” Seru pria tersebut yang juga ikut tegang.
“Sebaiknya tuan Ilham lapor polisi saja.” Ucap Andre menutup mulutnya karena kaget saat melihat ulang rekaman itu.
Di rekaman itu begitu jelas terlihat plat nomor dari mobil itu, Ilham meraih ponselnya dan mencatatnya di aplikasi catatan yang ada di ponselnya, begitu pula dengan wajah sang penabrak yang juga bisa terlihat karena kaca mobilnya yang cukup transparan.
“Tolong zoom di bagian wajahnya.” Ucap Ilham lagi.
Ketika di zoom, maka terlihat jelaslah sang pengemudi mobil yang meski memakai kacamata dan topi serba hitam itu, Ilham masih tetap bisa mengenalinya.
“Dia rupanya!” Seru Ilham dan Andre secara serentak kemudian saling berpandangan dengan tatapan serius.
__ADS_1
“Apa boleh saya meminta file rekaman cctv di kejadian itu pak?” Tanya Ilham lagi yang sudah menggenggam sebuah flash disk kecil di tangannya.
“Tentu saja tuan.” Jawab pria tersebut seraya mengulurkan tangannya hendak meminta flash disk yang ada di tangan Ilham.
Ilham pun segera memberikannya, lalu dengan sigap pria itu langsung mencolokkan flash disk tersebut ke tempat colokkan yang ada di laptop dan menyalin video rekaman cctv tersebut, lalu kembali memberikannya pada Ilham.
“Terima kasih banyak pak, ini ada sedikit tips untuk bapak, karena sudah mau meluangkan waktu untuk membantu saya.” Ucap Ilham setelah bangkit dari duduknya dan memberikan sejumlah uang pada pria itu,
“Ah tidak apa tuan, tidak usah repot-repot, saya ikhlas membantu tuan berdua, ambil saja uangnya, saya rasa tuan lebih membutuhkan uang tersebut dari pada saya, apalagi saat ini tuan sedang berduka.” Jawab pria tersebut yang belum tau siapa Ilham sebenarnya.
Ilham pun hanya tersenyum tipis sembari meraih tangan pria itu dan meletakkan uang tips pemberiannya di telapak tangan pria itu.
“Saya memang sangat suka menghargai bantuan orang yang sudah dengan baik membantu saya, jadi tolong jangan menolaknya, jika bapak menolaknya, itu akan mengundang resah di hati saya karena tidak berterima kasih dengan baik kepada bapak.” Ucap Ilham kemudian berlalu meninggalkan ruangan itu disusul dengan Andre yang juga mengikuti langkahnya.
Pria tersebut tak dapat membantah lagi, ia pun mengucapkan terima kasih kembali pada Ilham yang sudah berlalu dari ruangannya.
Begitu Ilham dan Andre pergi, pria tersebut melihat beberapa lembar uang di tangannya dan alangkah terkejutnya pria itu begitu menghitung jumlahnya yang lima kali lipat lebih tinggi dari pendapatannya setiap bulan di toko miliknya.
“Kenapa dia tega melakukan hal itu tuan?” Tanya Andre yang terlihat semakin penasaran, begitu masuk ke dalam mobil.
“Kurasa dia memang menargetkan Monita menjadi sasarannya, karena dendamnya terhadap apa yang sudah saya lakukan kepadanya waktu itu, karena dia tidak bisa mencelakai saya jadi dia mencoba mencelakai Monita.”
“Berarti dia sudah mengawasi nona Monita sejak awal sebelum kami sampai di sini, mungkin dia sudah mengikuti kami dan begitu ada kesempatan, dia langsung ingin menabrak nona Monita, namun sayang bu Rahayu lah yang harus menjadi korban.” Tambah Andre lagi.
Andre pun melajukan mobilnya menuju rumah Monita, Ilham belum mau melaporkan kejadian tersebut ke polisi karena Ilham ingin memberi pelajaran kepada pelaku tersebut dengan tangannya sendiri dan Andre pun sepakat dengan hal itu.
“Sejujurnya aku begitu tidak tega melihat keadaan Eden yang begitu terpukul dengan kejadian ini, nona Monita beruntung karena sudah memiliki tuan Ilham yang begitu mencintainya, sedangkan Eden? Aku berjanji mulai hari ini, aku akan melindungi dan menjaga gadis itu, kasihan dia.” Gumam Andre dalam hati dengan tatapan serius.
Entah kenapa Andre sudah semakin berempati dengan Eden, baru kali ini dia merasa peduli dengan seseorang yang baru dikenalnya itu dengan begitu dalamnya, mungkin karena Eden adalah adik ipar atasannya, itulah sebabnya ia begitu kasihan melihat Eden yang amat sangat terpukul itu, terlebih saat melihat Eden yang menangis histeris begitu jenazah ibunya di turunkan ke liang lahad, hati Andre semakin tak tega, entah itu karena Eden adalah adik ipar atasannya atau karena perhatian pria terhadap wanita.
Flash back on..
“Tidak, aku mohon jangan masukkan ibu ke dalam sana, sebentar lagi akan hujan, aku tidak mau ibu kedinginan dan sendirian di dalam sana, di dalam sangat gelap, aku mohon tolong jangan masukkan ibuku ke liang lahad ini!” Teriak Eden nampak begitu histeris.
“Kakak ipar! Tolong gunakan kekuasaanmu, biarkan ibu kembali!” Pekik Eden yang beralih menatap Ilham namun dengan sigap Monita langsung menarik tangan Eden dan mendekapnya.
“Aku mohon tolong kau tenanglah, jangan seperti ini, ibu sudah diangkat di langit dan menjadi bidadari di sana, yang di dalam sini hanya lah jasadnya.” Monita mencoba menenangkan Eden dengan mata yang begitu sembab.
“Aku ingin menyusul ibu.”
“Eden tolonglah, jangan berkata seperti itu, masih ada kak Monita dan juga kak Ilham yang akan bertanggung jawab padamu, kami semua akan melindungi dan menjagamu apapun terjadi.” Ucap Andre sembari mengusap lembut punggung Eden.
Eden adalah orang yang paling terpukul dan tak terima atas kepergian ibunya, karena selama ini, dia yang paling banyak bersama sang ibu tercinta dalam keadaan suka maupun duka, terlihat dari bagaimana histerisnya Eden mulai dari rumah sampai ke pemakaman, bahkan Eden sempat pingsan begitu melihat jasad ibunya sudah terbungkus kain kafan, namun beruntung Eden cepat sadar begitu Monita menggosok-gosokkan kapas alkohol ke hidung Eden, sehingga Eden bisa sadar dan melihat jasad ibunya dikuburkan.
Flash back off..
__ADS_1