
Andre dan Eden sudah sampai di cafe tujuan, mereka duduk di ruangan VIP, dan memesan makanan di sana.
Sepanjang duduk bersama dan menunggu makanan datang, wajah Eden terlihat murung, dia hanya diam dan melamun, melihat itu Andre merasa ada yang sedang mengganggu pikiran gadis belia itu.
Karena merasa penasaran, Andre pun bertanya.
“Ekhem.” Andre berdehem.
Mendengar deheman Andre, lamunan Eden buyar, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah Andre.
“Ada apa?” Tanya Andre sembari menggenggam satu tangan Eden, mata Eden tertuju pada tautan tangan mereka, seketika Eden terenyuh, genggaman tangan itu seakan mampu menyalurkan energi positif dalam diri Eden.
“Eden… hei!” Panggil Andre sembari menjentikkan jarinya di depan wajah gadis manis itu.
Lamunan Eden buyar untuk kedua kalinya.
“Eh… maaf kak, kenapa?” Tanya Eden kemudian.
“Dari tadi aku perhatikan kamu terus saja melamun, ada apa?”
Eden pun terdiam sejenak, dia menghela nafas dalam, lalu mulai menceritakan kegundahan hatinya saat ini.
“Aku sedang memikirkan kak Monita, tadi dia mengirim pesan padaku, katanya kak Naomi kembali menukar kamar mereka, entah kenapa, aku merasa ada masalah diantara mereka berdua.” Jelas Eden tanpa menatap Andre.
“Semoga antara mereka berdua tidak terjadi masalah, kamu jangan terlalu cemas begitu, kan semuanya belum pasti kalau benar mereka ada masalah atau tidak, karena setau aku, Nyonya Naomi dan nona Monita baik-baik saja, hubungan mereka juga sangat dekat.”
“Tapi kalau ada bagaimana? Kalau sampai hubungan mereka sudah tidak baik lagi, aku akan membawa kak Monita pindah dari rumah itu.”
“Kalau itu aku juga setuju, karena biar bagaimana pun, istri pertama dan istri kedua itu sulit untuk akur, Nyonya Naomi dan nona Monita saja akur karena Nyonya Naomi belum tau bagaimana hubungan Nona Monita dengan tuan, kalau sampai dia tau, hubungan mereka pasti akan renggang.”
“Itu lah yang aku pikirkan kak, aku punya feeling kalau sekarang mereka sedang tidak baik-baik saja.” Ucap Eden tampak lesu.
Tak lama pesanan pun datang, waiters sudah mengantar makanan mereka dan menyajikannya.
“Sebaiknya kamu makan dulu, jika seandainya memang mereka ada masalah, aku yakin tuan Ilham pasti akan memisahkan mereka, dan aku akan membantu mencarikan apartemen yang nyaman untuk kalian tinggali.”
__ADS_1
“Baiklah.” Jawab Eden kemudian.
Mereka pun menikmati makan siang dengan tenang dan damai.
****
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 19.00 malam, Ilham baru pulang dari kantor karena harus meeting dengan beberapa klien.
Mendengar deru mobil baru masuk ke halaman rumah, Naomi langsung keluar dari kamar, Naomi tampak antusias, seakan tidak ingin memberi kesempatan untuk Monita mendekati Ilham, ia bergegas menuju halaman depan.
Namun siapa sangka, ternyata sejak tadi Monita sudah duduk di ruang tamu bersama sahabat lamanya dari kampung yang datang berkunjung, kebetulan sahabatnya itu sedang mencari pekerjaan di kota, jadi dia nekat merantau dari kampung ke kota, dan pertama kali yang ia cari adalah tempat tinggal Monita, dengan bermodalkan alamat yang Monita kirim melalui share lock, sahabatnya itu sampai juga di kediaman Monita.
Karena waktu berbincang mereka sudah cukup lama, sahabatnya pun pamit pulang ke kos yang berada lumayan dekat dengan rumah Ilham.
“Sayang, lagi ada tamu ya?” Tanya Ilham datang menghampiri Monita lalu langsung menggenggam tangan sang istri siri.
“Mon, ini suami kamu ya?”
“Iy… iya.” Jawab Monita tampak ragu karena takut Naomi mendengar.
Saat sudah melihat Naomi, Ilham kontan melepaskan tautan tangan mereka, apalagi melihat Naomi menatapnya dengan nanar, semakin tidak enaklah hati Monita dan Ilham.
Seketika ekspresi Ilham langsung berubah, raut wajahnya sudah mirip seperti orang yang baru terciduk karena sudah berselingkuh.
“Naomi..!” Ucap Ilham dengan canggung.
Merasa Ilham hanya miliknya, Naomi berhambur memeluk pemilik tubuh bidang itu, matanya melirik ke arah Monita yang berdiri tepat di samping suaminya, ia memeluk tubuh Ilham dengan erat, Ilham hanya miliknya! Monita hanya alat untuk dia dan Ilham memperoleh keturunan, begitu anak itu lahir, Ilham akan menceraikan Monita.
Naomi terus meyakinkan dirinya kalau Ilham akan memilihnya, dia yakin Ilham akan meninggalkan Monita, dia tidak tau kalau perjanjian itu sudah dihapus oleh suaminya sendiri.
Naomi memeluk Ilham dengan hangat dan penuh kerinduan, begitu dirinya dipeluk Naomi, Ilham jadi tak enak hati pada Monita, Ilham bisa melihat kalau ada percikan api cemburu dari mata sang istri muda.
Melihat keadaan yang sudah tidak enak itu, sahabat Monita yang bernama Karin itu pamit undur diri, begitu Monita mengiyakan, Karin berlalu dari hadapan mereka, walau pun dalam hatinya bertanya-tanya, ada apa dengan rumah tangga Monita dan siapa wanita yang memeluk suami Monita tadi, namun ia mencoba untuk tak menggubris hal itu dulu.
“Sayang, ayo kita ke ruang makan dulu, kalian pasti belum makan malam kan? Kita makan malam bersama ya?” Bisik Ilham kepada Naomi yang tengah memeluk tubuhnya dengan erat, bagaikan permen karet.
__ADS_1
Lidah Ilham sudah mulai kapalan memanggil Naomi dengan sebutan sayang, dia tidak sadar ada hati yang sedang terbakar.
Saat sudah sampai di ruang makan, Ilham mendudukkan kedua istrinya itu di satu meja makan yang sama.
Hawa dingin perlahan mulai tercipta dalam ruangan tersebut.
Dengan perasaan yang tidak enak karena situasi ini, Ilham memberanikan diri untuk buka suara.
“Sekarang kita mulai makan ya.”
Dua wanita itu hanya diam dengan perasaan yang berkecamuk, Naomi memalingkan muka sedangkan Monita hanya menunduk.
“Kenapa jadi begini.” Batin Ilham yang merasa rumahnya sudah tidak nyaman untuk ditinggali.
“Naomi, aku mohon bersikap lah seperti biasa pada Monita.”
Barulah Naomi melirik suaminya.
“Aku tidak bisa berbuat baik pada wanita yang sudah menghancurkan kepercayaanku.”
“Tapi Monita sedang mengandung anak kami Naomi.” Tanpa sadar tangan Ilham mengelus perut Monita yang sedang duduk di sampingnya.
Monita yang terus menunduk sejak tadi, langsung mendongak dan menatap sang pemilik tangan itu dengan penuh arti begitu Ilham mengelus perutnya.
Pemandangan itu sangat mengusik hati Naomi, ia pun beranjak dari duduknya dan memilih pergi.
“Aku ke kamar dulu.”
Naomi melempar tubuhnya di atas kasur, begitu ia sampai di kamarnya, ia menangis sambil tengkurap, dadanya terasa sesak, dia membekap mulutnya sendiri agar tangisnya tak terdengar sampai keluar.
Naomi sangat sakit hati melihat kemesraan suami dan madunya itu, kenapa Naomi harus menerima kenyataan pahit kalau dia sudah tidak bisa hamil lagi? Kenapa dari semua wanita, hanya Naomi yang Tuhan pilih untuk merasakan hal ini? Sedangkan Monita, hanya dua bulan pertemuannya dengan sang suami, tapi dia bisa hamil secepat itu, Naomi terus merutuki nasibnya yang tidak semulus nasib wanita lain.
Namun semua sudah terlanjur, Naomi kembali menata hatinya, setelah merasa cukup tenang, ia mulai menjernihkan pikiran.
“Usia kehamilan wanita itu sudah menginjak 5 bulan, baguslah kalau begitu!” Batinnya.
__ADS_1
Meski hatinya sakit, karena suaminya sudah tidur berkali-kali dengan wanita itu, Naomi mencoba menerima, tinggal empat bulan lagi, Naomi harus bersabar selama 4 bulan, setelah 4 bulan berlalu, Naomi akan memiliki Ilham dan anak seutuhnya.