Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 61 Gagal


__ADS_3

Kini Andre, Eden dan Ija sudah sampai di taman hiburan, Eden tampak tak bersemangat karena mereka pergi berkencan tapi tidak berdua saja.


Sedangkan Andre, dia senang-senang saja walaupun ada Ija, nampaknya dia sudah mulai pasrah jika harus ditemani Ija, semua itu demi meraih kepercayaan Ilham dan calon kakak iparnya.


Andre yang melihat kekesalan Eden, berusaha untuk mengajak Eden menikmati berbagai wahana yang ada di sana untuk menghilangkan kekesalannya.


“Kelihatannya kamu tampak kesal, apa karena kita tidak bisa berkencan berdua? Apa karena kamu ingin berduaan denganku saja?” Bisik Andre agar tidak terdengar oleh Ija.


Sementara Eden yang mendengar itu tampak membulatkan matanya, bagaimana pun ia tidak mau jika harus terlihat menyukai Andre sebelum Andre mengungkapkan isi hatinya.


“Tidak kata siapa? Aku biasa saja kok.” Eden pun berkelit.


“Ya sudah kalau begitu mari kita bertiga menikmati berbagai wahana di sini.” Ajak Andre kemudian, sedangkan Eden hanya mengangguk patuh.


Andre menunjuk wahana cora-cora dan langsung menarik tangan Eden dan tak lupa pula dia mengajak Ija pergi ke wahana itu bersama.


Mereka berdua duduk di kursi nomor dua dari belakang, sedangkan Ija di kursi nomor tiga, wahana pun sudah mulai bergerak.


Awalnya ketiganya merasa biasa saja, tapi lama kelamaan adrenalin dari wahana tersebut mulai terasa, Eden dan Ija berteriak kegirangan sedangkan Andre hanya menunduk saja karena merasa takut, ia pun memejamkan matanya.


“Sial! Bisa turun harga diriku di depan Eden, kenapa aku sampai sebodoh ini si, bisa-bisanya aku memilih wahana ini.”


“Yeeee…. Ini benar-benar menyenangkan!” Teriak Eden yang benar-benar menikmati wahana tersebut.


Tak lama Eden melirik Andre yang ada di sebelahnya, ia menepuk pundak pria itu dan mengajaknya berbicara.


“Kak kenapa kau memejamkan mata? Atau jangan-jangan, kau ketakutan ya?” Ujar Eden sedikit mengejek.


Andre membuka matanya dan berpura-pura berani, sayangnya itu tak berlangsung lama, begitu wahana berhenti dan mereka mulai menuju ke wahana berikutnya, perut Andre sudah terasa mual, dan dia pun muntah di rerumputan.


“Tu kan muntah, kenapa si kakak harus memilih wahana yang tidak bisa kakak naiki.” Ujar Eden sembari memijat tengkuk leher Andre agar bisa mengeluarkan semua isi dalam perutnya.


“Ja, ada minyak angin?” Tanya Eden yang beralih menatap Ija.


“Tidak ada kak.”


“Ya!” Seru Eden kemudian kembali memijat-mijat tengkuk Andre.


Seketika senyum Andre terlihat meski sangat tipis, ternyata menunjukkan kelemahannya bukanlah menurunkan harga diri, tetapi memantik kepedulian dari Eden yang selama ini ia harapkan.


Beberapa menit setelahnya, Eden mengajak Andre dan Ija untuk masuk ke rumah hantu, namun Ija tidak ingin masuk karena takut, jadi dia menunggu di luar saja.


Seketika Andre langsung panas dingin, hantu adalah hal yang paling dia benci dan takutkan, namun Eden tidak mengetahui hal itu, dia terus memaksa Andre agar mau menemaninya masuk ke dalam.


Andre diam mematung begitu sudah berada di depan rumah hantu, Eden yang tampak antusias, langsung menarik tangan Andre dan membawanya masuk.

__ADS_1


Suara-suara menyeramkan dan mencekam terus terdengar, beberapa penampakan hantu pun mulai bermunculan, Andre berjalan dengan was-was dan penuh perasaan takut.


Tak lama kemudian, ada hantu yang tiba-tiba mendekat dan menganggetkam Andre, seketika Andre langsung pingsan begitu saja.


Eden masih terus berbicara sendiri tanpa menyadari menyadari bahwa Andre sudah tidak mengikutinya dari belakang.


“Kak, kenapa kau diam saja?” Tanya Eden yang menoleh ke arah Andre, namun sudah tidak ada Andre di belakangnya.


Begitu melihat Andre, Eden terkejut saat melihat Andre yang sudah tak sadarkan diri.


“Kak Andre! Bangun!” Teriak Eden menepuk pelan pipi Andre.


“Apa dia benar pingsan?” Tanya Eden yang masih berpikir kalau Andre hanya bercanda.


Ketika mencoba meraih tangan Andre, Eden merasakan tangan Andre yang sudah basah dan dingin, itu tandanya ini bukan pingsan bohongan, Eden pun mulai mencari bantuan dengan berniat menelepon Ija dan meminta Ija memanggil bala bantuan dari orang yang berada di luar.


Dengan cepat Eden langsung mencari nomor kontak Ija.


“Halo Ija, cepat kemari! Kak Andre pingsan! Aku tidak kuat mengangkat tubuhnya, tubuhku yang pendek ini akan tambah pendek jika aku mengangkatnya, tolong kau cari bantuan dari lelaki yang ada di luar sana, aku tunggu dalam waktu 5 menit!”


“Astaga, baik kak aku akan segera mencari bantuan.” Jawab Ija kemudian.


Sambungan telepon pun terputus, ia menunggu Ija datang dan membantunya.


“Pak bu, tolong teman lelaki saya di dalam rumah hantu itu, dia pingsan pak dan tidak ada lelaki yang bisa membantu kami mengangkatnya.” Ucap Ija dengan wajah memelas.


Pria dan wanita itu pun langsung setuju, mereka mengikuti Ija dan memasuki rumah hantu tersebut.


Ketika sudah menemukan keduanya, Ija langsung menghela nafas.


Wanita tersebut mengeluarkan minyak angin, dengan cepat pria itu langsung menyambar minyak angin itu dan mengoleskannya ke hidung Andre dengan harapan Andre akan segera bangun dari pingsannya.


Tak lama kemudian Andre benar-benar terbangun, mereka pun akhirnya lega sedangkan Eden, ia membantu Andre untuk bangun dari posisinya.


Saat sudah berdiri dengan sempurna, pria itu segera menepuk pundak Andre.


“Sebaiknya kalau bapak takut jangan memaksa!” Ucap pria tersebut lalu tersenyum kepada Andre.


“Iya, lihat tu kakak jadi tontonan banyak orang.” Tambah Eden menimpali.


Benar saja, kini Andre sudah menjadi pusat perhatian banyak pengungjung, namun Andre tidak mempedulikannya, dengan gaya cool, Andre mengambil kacamata hitam yang ada di sakunya lalu memakai benda tersebut, sedangkan Eden dan Ija hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Andre yang di luar nalar itu.


Seusai keluar dari rumah hantu, Eden, Andre dan Ija berjalan mencari tempat duduk untuk beristirahat.


“Kenapa si, kak Andre harus pingsan segala? Apa kal Andre benar-benar takut dengan hantu?” Ucap Eden menggerutu.

__ADS_1


Merasa harga dirinya rendah, Andre tidak terima dan membantah ucapan tersebut.


“Aku tidak takut, aku hanya kaget saja, hantu itu tiba-tiba saja muncul di hadapanku, apalagi wajahnya sungguh buruk!” Ucap Andre berkilah.


“Halah, mengaku saja, jangan alasan deh kak.” Ejek Eden sembari mengguit lengan Andre.


“Tidak, aku tidak takut, sudah kubilang aku hanya kaget saja, siapa yang tidak kaget coba hantu itu berdiri di depan mataku!”


“Ah bilang saja kalau kak Andre takut.”


“Tidak aku tidak takut!”


“Bohong, alasan saja kak Andre ini.”


“Awas ya kamu, kalau sampai kamu meledekku terus aku cium kamu di depan Ija.”


Mendengar itu, Eden sontak menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya, sedangkan Ija, dia hanya tersenyum geli melihat tingkah dua orang beda jenis kelamin dan usia itu.


Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya mereka menemukan gazebo untuk duduk, Andre mencari makan dan minum, sementara Eden dan Ija duduk menunggu di gazebo tersebut.


“Kak Eden, apa aku boleh bertanya?” Ucap Ija meminta izin Eden.


“Kalau mau bertanya ya langsung saja, tidak usa minta izin segala.” Ujar Eden.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Eden, Ija pun mulai bertanya tentang perasaan Eden.


“Apa kakak tidak ada hati dengan kak Andre? Aku yakin kak Andre menyukai kakak, terlihat jelas dari gelagatnya tiap melihat kakak.”


“Kalau boleh jujur, sebenarnya aku sudah menyukai kak Andre sejak pertama kali bertemu malam itu di rumah temanku yang ada di desa, posisinya saat itu dia sedang menjemputku.”


“Benarkah? Jadi kak Eden dan kak Andre itu sebenarnya saling suka.”


“Aku masih belum yakin Ja mengenai perasaan kak Andre, buktinya sudah sebulan ini kami kenal, tapi kak Andre belum ada menyatakan cinta padaku.” Ucap Eden mendadak jadi tampak lesu.


“Hais kak, mungkin kak Andre hanya menunggu waktu yang tepat, sangat kelihatan kok kalau kak Andre juga menyukai kakak.”


“Tetap saja aku tidak yakin Ja, sebelum kak Andre sendiri yang mengatakannya padaku.”


“Ya sudah terserah kak Eden saja, tapi saran aku, kak Eden jangan menerima cinta pria lain dulu ya, kakak tunggu saja pengakuan cinta dari kak Andre, aku suka melihat kakak dengan kak Andre, kalian berdua terlihat cocok tau.”


“Kalau soal itu, kita lihat saja nanti.”


Tak lama kemudian, Andre pun tiba dengan membawa makanan dan minuman di tangannya, mereka menyantap semua itu dengan lahap, setelahnya, mereka memutuskan untuk pulang.


Kencan Andre dan Eden malam ini gagal total karena kelemahan Andre sendiri, namun dia masih tetap memikirkan ide untuk bisa menghabiskan waktu berdua bersama Eden.

__ADS_1


__ADS_2