Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 102 Naomi Sakit Hati


__ADS_3

Di sebuah kamar seorang wanita sedang duduk meringkuk sembari memeluk kedua lututnya di balkon kamar, wanita itu menantikan sang belahan jiwa yang tak kunjung datang. Sedih? Iya, raut wajahnya menggambarkan segalanya. Bahkan bukan hanya sedih, rasanya dia juga frustasi, amat sangat frustasi.


Hingga akhirnya, sebuah ide muncul dalam benaknya. Naomi tertegun sesaat, dalam benaknya ia ingin merealisasikan ide yang ada dalam kepalanya itu. Senyum smirk terbit di wajahnya.


“Sepertinya aku harus ke rumah mama Nancy, terakhir kali yang kudengar, mama Nancy memarahi mas Ilham karena sudah tega mengkhianatiku. Sampai sekarang kan mama Nancy berpikir kalau dalang dari semua sandiwara ini adalah anaknya sendiri.” Naomi bermonolog sendiri dengan senyum yang semakin mengembang.


Sepersekian menit, tak butuh waktu lama, bahkan hanya dengan memoles wajahnya tipis-tipis, Naomi bersiap untuk ke rumah mertuanya.


Seperti kembali menemukan semangatnya, ia melenggang meniti tangga dengan senyum sumringah. Bi’ Ratih dan Ija sampai heran sendiri melihat majikannya itu. Bahkan mereka sempat takut dan berpikir yang tidak-tidak, ya mereka berpikir majikannya itu mulai mengalami gangguan mental. Bagaimana tidak, tadi pagi dia meraung-raung dan berteriak persis orang kesetanan di dalam kamarnya dan siang ini, dia keluar kamar dengan raut wajah sebaliknya.


****


“Aduh aduh cucu oma lucunya, mirip siapa ini, hayo mirip siapa?” Seru Nancy tersenyum lebar dan berdialog dengan cucunya yang kini sudah berada dalam gendongannya.


“Mirip mama dong oma.” jawab Monita menirukan suara bayi.


“Mirip anak saya dong, kamu tidak liat tu mata, hidung dan mulutnya mirip Ilham.” celetuk mama Nancy tak terima jika cucunya mirip Monita.


“Tapi kan alisnya mirip alis aku ma, kulitnya juga putih seperti kulitku.” sela Monita tak mau kalah.


“Tapi kulit anak saya juga putih, seperti kulit saya. Ilham itu ikut gen saya. Tinggi, putih, hidungnya bangir.”


“Tapi papa Agam juga tinggi dan putih hidungnya juga mancung ma.” sahut Monita dengan polosnya.


Mendengar itu Nancy memutar bola matanya malas, “terserah kau sajalah.” ujar mama Nancy mengalah. Tidak ada gunanya berdebat dengan anak kecil, pikirnya.

__ADS_1


“Tapi mama masih cantik loh, padahal sudah punya anak yang dewasa bahkan sampai sudah punya cucu saja mama tetap cantik.” puji Monita dan sontak membuat pipi Nancy bersemu merah. Dia menarik sudut bibirnya tipis bahkan tak terlihat.


“Memang saya cantik.” jawabnya dengan percaya diri. Bisa di lihat kan tingkat percaya diri Ilham menurun dari siapa.


Disaat Nancy dan Monita tengah asyik bersenda gurau, ada sepasang mata yang melihat mereka dari ambang pintu. Rasa cemburu menjalar dari dalam hatinya hingga ubun-ubun dan menimbulkan emosi membara. Wanita itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Bagaiamana tidak, Monita benar-benar sudah merebut posisinya dari hati sang mertua. Bukan hanya Ilham yang ia rebut, tapi mama Nancy juga. Mertua yang selama ini amat sangat menyayanginya, kini tengah bercengkrama dengan madunya.


“Keterlaluan! Anak kecil itu benar-benar menjengkelkan, posisiku yang sudah bertahun-tahun ini aku pertahankan, kini runtuh seketika cuma karena dia bisa menghadirkan pewaris tahta.” Batinnya dan berdecak sebal. Dadanya bergemuruh, marah, kecewa dan sakit hati kini bersatu padu.


Akhirnya dengan wajah masam, Naomi berlalu meninggalkan tempat itu begitu saja. Dengan langkah panjang ia berjalan menuju mobil, ia masuk ke dalam mobil dan memukul-mukul setang kemudi dengan amarah yang membuncah. Hatinya mendadak dongkol, posisinya sebagai pemegang tahta tertinggi setelah mama Nancy di keluarga Adhitama benar-benar terancam.


“Kalau seperti ini, yang ada aku akan kehilangan segalanya, terutama mas Ilham. Membayangkannya saja aku tidak sanggup, apalagi harus menjalaninya.” keluh Naomi kemudian. Ia bersandar di sandaran kursi kemudi dan mengusap wajahnya kasar. Butiran kristal itu lolos dari netranya, dadanya sesak, sakit sekali rasanya. Wanita cantik itu tampak stres, dunianya seakan hancur, dan Monita merupakan ancaman paling nyata dalam hidupnya kini.


Naomi menikahi Ilham karena kekayaan dan ketampanannya tentu saja. Ketampanan yang paling mencolok yang kerap digadang-gadangkan sebagai blasteran surga itu membuat Naomi semakin tak ikhlas jika dia harus kehilangan suami.


Dia yang dulunya begitu Ilham cintai dan menempati tahta tertinggi di hati Ilham kini harus tergeser karena orang baru, yang berhasil memberikannya seorang anak.


Tidak hanya takut kehilangan harta dan suami, Naomi juga berambisi ingin memiliki Dikta, yang sempat ia anggap sebagai sumber penyelamat rumah tangganya. Tak semudah membalikkan telapak tangan, kini Dikta sudah berada dalam dekapan pemiliknya yang sebenarnya, dan hal itu semakin membuat Naomi iri.


****


“Jadi bagaimana Ilham? Apa kau sudah bertemu istri dan anakmu?” Tanya Shaka karena yang terakhir dia dengar, istri Ilham yang tengah hamil itu menghilang.


“Ya seperti yang kau lihat dari raut wajahku, terlihat bagaimana aku sekarang?” Tanya Ilham semakin mengembangkan senyumnya, raut wajahnya yang berbinar-binar seakan menunjukkan kalau saat ini dia tengah bahagia. Berbeda dengan terakhir kali Shaka melihatnya, wajah Ilham suram, masam dan lingkar hitam di matanya semakin jelas, bahkan tubuhnya tampak kurus. Kini tubuh Ilham kembali berisi bak tubuh atletis.


“Kalau aku terawang, binar di wajahmu menunjukkan kalau saat ini kau tengah berbahagia.”

__ADS_1


“Tepat sekali! Istriku sudah ditemukan beberapa hari yang lalu bersama putraku.”


“Kau memiliki seorang putra?”


“Ya bahkan saat ini aku juga ingin memiliki seorang putri.”


“Tahan dulu Ilham, istrimu bahkan baru melahirkan, apa kau ingin menghajarnya juga?” Ujar Shaka tak habis pikir dengan g*irah se** sahabatnya ini. Ia bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala.


“Istriku sudah jalan empat bulan ini melahirkan Shaka.”


“Apa istrimu SC?”


“Iya.” jawab Ilham singkat.


“Kata dokter, kalau istri bekas SC, jarak kehamilannya harus 2 tahun, agar luka bekas operasinya sembuh total. Kamu mau rahim istri kamu robek dan bayimu tercekik hingga berujung kematian?” jelas Shaka yang sudah memiliki jam terbang lebih tinggi dari Ilham.


“Apa iya begitu Ka?” mendengar itu Ilham jadi bergidik ngerih, pasalnya dia tidak mau membahayakan istrinya.


“Iya masih banyak sekali resiko lainnya, jadi lebih baik kamu sabar Ham, dan tunggu sampai anak kamu 2 tahun, sampai sekarang aku dan Amira juga tengah program hamil anak ketiga, dan kami sedang program anak perempuan, tapi sayangnya Tuhan belum berkenan untuk memberikannya. Sampai saat ini kami masih sabar menunggu.”


“Semoga Amira cepat memberikan anak perempuan untukmu ya.”


“Aku sudah punya satu anak perempuan Ham, namanya Queen, itu anak pertama saya, kamu tau itu kan? Tapi aku ingin punya satu anak perempuan lagi.”


“Semoga berhasil.” Ilham menepuk pelan pundak Shaka.

__ADS_1


Mereka masih betah berbincang padahal meeting sudah selesai satu jam lalu. Disaat mereka tengah asik membahas anak dan istri masing-masing, Andre yang masih lajang hanya diam terbawa perasaan dan mendadak ingin menikah juga. Sekelabat bayangan wajah Eden muncul dalam benaknya. Rasanya dia ingin mempersunting gadis itu. Sekali-sekali dia ikut tertawa mendengar perbincangan lucu mereka soal ranjang, meski tidak diajak.


__ADS_2