
Setelah puas berciuman, Ilham mulai menempelkan dahinya ke dahi Naomi, menangkup kedua pipi Nomi dengan nafas yang terengah-engah, melahap bibir Naomi berhasil membangunkan perasaan yang lain dalam diri Ilham.
“Aku benar-benar tidak bisa menahannya sayang.” Ucap Ilham kemudian hendak beranjak, namun Naomi menahan tangannya.
“Mau ke mana?”
Ilham berbalik badan dan kembali menatap Naomi, dengan perlahan ia mulai mencondongkan tubuhnya di hadapan Naomi.
“Aku mau ke toilet, aku salah memulainya disaat kondisimu seperti ini, jadi aku juga yang harus menyelesaikannya.” Bisik Ilham tepat di telinga Naomi.
Mendengar itu Naomi pun tersenyum geli, suaminya dari dulu memang tidak bisa menahan gejolaknya saat ingin melakukannya pada Naomi, sehingga jika sudah terlanjur basah seperti itu, maka dia akan menyelesaikannya di kamar mandi dengan cara mandiri.
Pagi hari yang cerah…
Monita membuka matanya saat merasakan sengatan mentari yang menyentuh wajahnya, Monita mengerjapkan matanya dan melihat ke arah jendela.
“Sudah pagi ternyata.” Gumam Monita lirih kemudian mulai bangkit dari tidurnya, sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.
Dengan masih terduduk di atas ranjang yang empuk itu, Monita menyisir seluruh ruangan yang sangat besar itu dengan seksama, lalu kemudian senyum miris mulai terbit dari wajah cantiknya.
“Tak disangka, aku tidur di kamar sebesar ini seorang diri, dia meninggalkan aku sendirian bahkan di malam pertama kami.” Cetus Monita seorang diri.
Namun lagi-lagi Monita menepis pikirannya itu.
“Ah tidak tidak, bukankah itu bagus? Itu artinya aku lolos lagi dari terkaman seekor singa itu.” Ucap Monita sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat.
“Tapi, kalau tidak dilakukan secepatnya, kapan aku hamil? Dan kapan aku bisa pergi dari hidupnya?” Monita mulai bertanya-tanya sendiri dan mulai memjiti pelipisnya yang terasa sedikit berdenyut.
Lagi-lagi Monita tersenyum miris, kini Monita hidup bagaikan wanita yang tidak punya kehormatan sama sekali, kehidupan Monita berbanding terbalik dengan namanya yang mempunyai arti terhormat, pernyataan yang menyebutkan kalau nama itu adalah doa ternyata salah, buktinya bagi Monita itu malah kebalikannya.
Tak mau terus larut dalam pikiran yang begitu menguras otak, akhirnya Monita bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, untuk menyegarkan kembali tubuhnya.
Sementara di sebuah kamar, di atas ranjang dengan sprey warna merah polos itu, Naomi sudah bangun lebih dulu dengan terus menatap kagum wajah tampan suaminya.
“Aku beruntung bisa menikahi pria sebaik dan setampan kamu, Ilham Adhitama, kau nyaris sempurna.” Gumam Naomi dalam hati.
“Tapi, apakah semua kehangatan dan cinta yang kau berikan padaku akan tetap sama meskipun nantinya kau akan meniduri wanita itu?” Kini perasaan cemas mulai menyelusup ke dalam hatinya.
Naomi yang awalnya begitu antusias ingin Ilham menikah lagi, tiba-tiba mulai cemas sendiri, tapi dengan cepat ia segera menepis kecemasannya itu, dia terus meyakinkan dirinya sendiri kalau cinta Ilham padanya begitu besar, tidak mungkin Ilham akan berubah dan mencintai wanita asing yang baru saja hadir dalam hidupnya.
“Pagi hari sudah disambut dengan wajah murung.” Ujar Ilham tiba-tiba yang sontak membuyarkan lamunan Naomi.
__ADS_1
“Sayang, kamu sudah bangun?” Tanya Naomi menatap Ilham dengan tatapan tak percaya.
“Seperti yang kamu lihat.” Jawab Ilham lalu langsung menarik tubuh Naomi dan mendekap tubuh sang istri dengan penuh kehangatan.
Naomi pun membalas pelukan Ilham, kini mereka tidur sambil berpelukan.
“Mas Ilham.”
“Ya.”
“Bagaimana kalau mulai besok, kita pindah ke vila kita?”
“Pindah? Kenapa?” Tanya Ilham melonggarkan pelukannya dan menatap sang istri dengan dahi yang mengkerut.
“Aku ingin kau membawa istri mudamu tinggal bersama kami di vila.” Jawab Naomi dengan ragu-ragu, karena ia tau, Ilham pasti tidak akan langsung menyetujuinya.
“Rupanya permintaanmu ini terlalu banyak, setelah memintaku menikah lagi, kini kamu memintaku untuk membawa wanita itu tinggal bersama di vila yang sudah saya belikan khsusus untukmu.” Ucap Ilham mulai memalingkan wajahnya ke samping.
“Maafkan aku Mas, kalau kita tinggal terpisah dengannya nanti bagaimana aku bisa memastikan kalau dia baik-baik saja dan makan dengan baik, dia adalah wanita yang nantinya akan menjadi seorang ibu untuk anak kita, mempersiapkan anak yang tumbuh dan berkembang dengan baik harus dimulai dengan ibu yang sehat.” Jelas Naomi lalu meraih tangan Ilham dan menggenggamnya.
Ilham masih terus terdiam, rupanya dia tampak berpikir.
“Mas, please.” Ucap Monita dengan menangkupkan kedua tangannya ke dada dan mulai memasang wajah memelas.
“Kamu tenang saja, kita katakan saja kalau vila kita sudah lama kosong dan aku mau tinggal di vila itu karena itu adalah hadiah darimu, sangat sayang kalau vila sebesar itu sampai tidak ditempati, lalu…” Naomi menggantung kalimatnya.
“Lalu?” Tanya Ilham dengan raut wajah bingung.
“Lalu aku akan pura-pura hamil untuk meyakinkan Mama dan Papa, kalau aku mengatakan yang sebenarnya, takutnya nanti Mama tidak akan setuju karena wanita yang kau peristri itu adalah seorang ladies yang kau ambil dari sebuah club.” Jelas Naomi dengan menundukkan kepalanya.
Dengan wajah datarnya, Ilham pun tampak berpikir mencerna saran dari istrinya itu.
Sejujurnya Ilham ragu dan takut kalau hal itu tidak berhasil, karena itu adalah kebohongan besar yang akan mereka lakukan pada kedua orang tuanya.
Meskipun menginginkan seorang cucu, kedua orang tua Ilham tidak setuju kalau Ilham sampai melakukan poligami, karena saking sayangnya pada sang menantu, mereka sampai tidak rela jika Naomi harus tersakiti.
Setelah berpikir lumayan lama, akhirnya dengan berat hati, dengan berbagai pertimbangan Ilham pun menyetujui saran dari istrinya, lagi-lagi dia menyetujui ide gila Naomi berikutnya.
“Baik, aku setuju.” Cetus Ilham kemudian.
“Benarkah?” Tampak wajah sumringah mulai menghiasi wajah Naomi.
__ADS_1
“Emmm.”
“Aaa terimakasih Mas.” Ucap Naomi dengan manja, lalu kemudian langsung memeluk erat tubuh sang suami dengan erat.
Melihat tingkah istrinya yang begitu senang mendengar Ilham menyetujui ide gilanya itu, membuat Ilham semakin tak habis fikir, apa ini keputusan yang tepat? Entahlah coba jalani saja dulu.
Pagi hari yang cerah…
Sekitar jam 05.00 pagi, disaat hari masih gelap, Naomi justru sudah bangun dan kini tengah berkutat di dapur demi memasak sarapan untuk seluruh orang yang ada di rumah.
Naomi jarang masak, namun untuk hari ini, Naomi berinisiatif untuk mulai memasak demi menyenangkan hati kedua mertuanya.
Naomi begitu bersemangat saat mulai berkutat dengan beberapa wajan yang ada di dapur, namun aktivitas Naomi sempat terhenti sejenak saat mendengar suara ibu mertuanya yang terdengar sedikit histeris.
“Naomi, sayang, kamu ngapain di dapur? Ngapain coba masak-masak seperti itu, kan sudah ada pelayan, biarkan ini jadi tugas pelayan, mama tidak pernah membiarkan kamu sibuk-sibuk di dapur begini ya.” Tegur Nancy pada menantu kesayangannya itu karena selama ini, Nancy memang tidak pernah membiarkan Naomi memasak.
“Sudah sudah, lebih baik mama duduk manis saja dan tunggu makanan yang akan Naomi hidangkan ya.” Jawab Naomi dengan lembut lalu mendorong pelan tubuh Nancy dan mendudukkannya di kursi khusus meja makan.
“Tapi…”
“Sssttt.” Naomi segera memotong ucapan sang mertua sembari meletakkan jari telunjuknya sendiri di bibirnya.
Akhirnya Naomi dengan bersemangat kembali ke dapur untuk memindahkan beberapa makanan yang sudah ia masak ke piring.
Tak perlu waktu lama, kini semua makanan yang sudah dimasak Naomi sudah terhidang semuanya di atas meja.
Tak lama, Ilham mulai terlihat menuruni anak tangga dengan sudah berpakaian rapi.
“Sayang, kamu sudah siap? Maaf ya saking sibuknya di dapur, aku tidak sempat menyiapkan pakaian untukmu.” Celoteh Naomi saat melihat suaminya sudah terduduk di sampingnya.
“Jadi kamu yang masak semua ini?” Tanya Ilham dengan menaikkan alisnya.
Naomi pun mengangguk lalu dengan sigap menyendokkan nasi goreng ke piring Ilham.
“Mau tambah lagi?” Tanya Naomi dengan wajah berseri-seri.
“Sudah cukup.”
“Apa mama juga mau ini?” Tanya Naomi menawarkan dimsum goreng untuk Nancy.
“Ah tidak sayang, ini saja.”
__ADS_1
“Ada apa dengan dia? Apa dia sengaja melakukan ini semua karena ada maunya dan mau mengambil hati mama dan papa?” Ilham bertanya-tanya dalam hati sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan.