
Sudah satu minggu, Monita terus mendiamkan Ilham, mereka masih tidur terpisah dengan Ilham tidur di kamar tamu dan Monita tidur di kamar utama.
Hari ini Monita ingin keluar rumah, gadis itu ingin jalan-jalan ke sebuah perpustakaan terdekat, tiba-tiba dia merindukan ibu dan adiknya, semenjak ponselnya hilang, dia sudah tidak pernah lagi bertukar kabar dengan mereka, demi mengusir rasa suntuknya, Monita ingin membaca buku.
Ilham sedang pergi ke kantor, jadi Monita tidak perlu repot-repot untuk meminta izin Ilham karena pasti pria itu tidak mengizinkannya.
Monita pergi ke perpustakaan dengan berjalan kaki, karena jarak rumah dan perpustakaan yang ia tuju hanya memakan waktu 5 menit saja.
Namun ketika sedang ayik berjalan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekatnya, Monita semakin melebarkan senyumnya saat kaca mobil itu diturunkan.
“Mas David!” Seru Monita tampak kegirangan.
David tersenyum lalu turun dari mobil untuk menghampiri Monita.
“Kau mau ke mana Monita?” Tanya David dengan tersenyum hangat.
“Saya mau ke perpustakaan Mas, Mas David mau ke kantor ya?”
“Tidak, kebetulan saya sudah selesai meeting jadi sebenarnya saya keluar untuk cari makan.” Jawab David berbohong, dia memang sudah selesai meeting, namun dia keluar kantor bukan untuk makan melainkan untuk pulang ke rumah.
“Oh begitu ya, kalau begitu saya mau ke perpustakaan dulu, Mas David boleh ke restoran sekarang, mungkin Mas David sudah lapar.” Ucap Monita sedikit kikuk.
“Emmm bagaimana kalau kita makan dulu lalu aku antar kamu ke perpustakaan, aku ingin makan bersama kamu.”
Sebenarnya Monita juga lapar, mengingat tadi dia keluar tanpa mengisi perutnya terlebih dahulu, wanita itu hanya sarapan pagi, tapi belum makan siang, apalagi sekarang sudah jam satu siang, perut Monita sudah keroncongan.
“Tapi kalau kamu keberatan, saya bisa pergi makan sendiri.” Ucap Ilham kemudian saat melihat Monita hanya diam tak bergeming.
“Mas David mau aku temani makan?”
“Kalau kamu tidak keberatan.”
“Bisa kok Mas, aku tidak keberatan, kita mau makan di mana?” Tanya Monita jadi antusias karena sejujurnya dia juga ingin makan.
“Ikut aku.” Ajak David sembari menarik tangan Monita dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Kini David dan Monita sudah berada di dalam mobil, sepanjang jalan David sesekali melirik Monita yang sedang asyik menikmati pemandangan yang ada di luar jendela mobil.
“Benar-benar mahakarya Tuhan yang sempurna.” Gumam David dalam hati dengan menyunggingkan senyuman tipisnya.
Hanya butuh waktu 10 menit, David dan Monita sudah sampai di restoran yang dimaksud.
__ADS_1
Begitu duduk di dalam ruang vvip dan sedang menunggu makanan datang, Monita tiba-tiba melamun, dia kembali teringat ibunya.
Menyadari Monita yang hanya diam melamun, membuat David berencana membuyarkan lamunannya.
“Monita, Monita..” panggil David sembari melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Monita.
Monita tersentak dan sadar dari lamunannya.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba melamun?”
“Aku rindu ibu dan adikku.” Jawab Monita dengan jujur.
“Memangnya ibu dan adikmu ada di mana?” Tanya David mengerutkan dahinya.
“Mereka ada di kampung.”
“Kampung? Jadi Ilham punya saudara di kampung ya?”
Monita pun sedikit terperanjat, bisa-bisa David akan mengetahui rahasia mereka, bagaimana tidak, waktu itu dia mengaku kalau dia dan Ilham saudara sepupu, Monita pun segera mencari alasan untuk menjawab pertanyaan David.
“Eh iya itu… kami memang tinggal di kampung, walau pun saudara tapi aku dan Mas Ilham berbeda bagai langit dan bumi, Mas Ilham berasal dari keluarga kaya sedangkan aku dari keluarga tak berpunya.” Jawab Monita sembari tersenyum cengengesan.
“Oh begitu rupanya, lalu kamu ke Jakarta untik apa? Apa kamu kuliah?”
“Lalu apa kau sudah mendapat pekerjaan?”
“Belum.” Jawab Monita kemudian.
“Kalau begitu bekerja di kantorku saja.” Ucap David dengan semangat, mencoba memberi penawaran.
“Ah tidak perlu, Mas Ilham juga akan mempekerjakan aku di kantornya, tapi belum sekarang.”
Tak lama makanan pun datang sesuai yang di pesan David dan Monita.
Monita nampak sangat lahap saat menikmati makanannya, sementara David yang juga sedang menyantap makanan sejenak melihat Monita yang sedang makan.
David tersenyum memandangi wajah Monita yang terlihat sangat menggemaskan ketika mulutnya dipenuhi dengan makanan.
“Makan lah dengan tenang, tidak ada orang yang akan mengambil makananmu, jadi tidak perlu tergesa-gesa.” Ucap David lembut sembari mengusap ujung bibir Monita yang kotor akibat sisa makanan yang menempel.
Mendapat perlakuan David yang lembut sejenak membuat Monita gugup dan salah tingkah, namun ia pun langsung kembali cengengesan sembari mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Hehehe maaf, jujur saja pikiranku kalut saat ini sehingga membuatku melewatkan makan siang.” Jawab Monita sembari cengengesan sembari terus melahap makanannya.
“Lain kali jangan seperti itu lagi, kau bisa saja terkena asam lambung jika sering menunda makanmu seperti itu.” Ucap David lembut.
Monita pun hanya mengangguk sembari tersenyum manis, ia pun menghabiskan makanannya sampai tuntas dan tidak menyisakan sedikit makanan pun, begitu pun dengan David, dia juga sudah selesai menyantap makanannya.
David pun memanggil pelayan meminta bilnya, sedangkan Monita dia meraih dompet di tasnya hendak membayar makanan mereka bedua namun David segera mencegahnya.
“Tidak usah, biar aku saja, simpan saja uangmu.” Ucap David sembari menuntun tangan Monita ke bawah.
“Ta.. tapi…”
David tidak menggubris ucapan Monita, dia sudah membuka dompetnya dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar makanan tersebut.
“Mas David, terima kasih ya.”
“Tidak usah sungkan.” David pun tersenyum.
“Lain kali aku yang akan mentraktir Mas David, pokoknya Mas harus mau.”
“Iya tenang saja, setelah ini kita akan kembali bertemu.”
“Janji ya? Awas menolak lagi.”
“Iya, bagaimana kalau sebentar malam kita makan malam?” Tawar David lagi.
“Tapi kali ini, aku dulu yang traktir bagaimana?” Lanjutnya.
“Tapi aku tidak bisa kalau nanti malam.” Monita menolak dengan halus, karena pikirnya, dia sudah keluar seharian ini, dia takut nanti kalau dia keluar lagi sebentar malam, Ilham tidak akan mengizinkannya, apalagi harus keluar dengan seorang pria.
“Kalau besok?”
“Nanti aku kabari lagi ya.” Sejujurnya Monita tidak mau keluar dengan pria lain selama dia sudah menikah, namun dia tidak enak menolak permintaan David, apalagi David selalu baik padanya, Monita harus memikirkan cara bagaimana dia bisa pergi menemani David makan malam.
“Ada hal yang penting yang ingin aku sampaikan, tapi nanti saja kalau kita sudah makan malam bersama.”
“Oh ya kebetulan besok aku ulang tahun, anggap saja kita sekalian merayakan hari ulang tahunku.” Lanjutnya kemudian.
“Benarkah? Itu artinya aku harus menyiapkan hadiah.” Ucap Monita dengan bersemangat.
“Tidak perlu hadiah, cukup kau temani aku makan malam itu sudah menjadi hadiah terindah bagiku.”
__ADS_1
Monita tampak berfikir, ia menimbang-nimbang tawaran makan malam David, tidak enak juga rasanya jika terus menolak, apalagi besok David ulang tahun.