
Beberapa jam berselang begitu Ilham menyampaikan berita buruk itu Monita tampak merenung di kamarnya, hingga membuat ia mengambil alih Dikta.
Ilham tidak ingin mengganggu Monita dulu, saat ini keadaan Monita persis setahun lalu bagaimana dia menangis dan merenung di hari pertama kematian ibunya. Wajar dia terpukul, bu Rahayu sudah satu tahun ini pergi, tapi pelakunya baru ditemukan sekarang. Peristiwa pahit itu kembali mengulik batinnya, benar-benar menyiksa. Sekarang tinggal bagaimana Ilham menjelaskannya pada Eden, yang sejak tadi belum pulang karena masih di kampusnya.
Betapa beruntungnya Monita diratukan pria ini, dia mengurus Dikta kala Monita sedang tenggelam dalam tangis. Bahkan dia rela tidak masuk kantor hari ini. Meeting bersama klien baru terpaksa dia percayakan pada Andre, karena tidak ada yang lebih penting dari keluarganya.
“Tuan!”
Ilham yang baru saja selesai memandikan Dikta, menoleh begitu pintu kamar putranya diketuk.
“Ck mengganggu saja, sebentar ya sayang, kita lihat bi’ Rani mau apa.” Dengan membawa serta Dikta yang kini masih bulat dalam keadaan basah. Ilham lebih baik bajunya basah dari pada meninggalkan putranya.
“Ada apa?”
“Ada nyonya Naomi tuan.”
“Apa?” Dikta bahkan menangis kala mendengar teriakan papanya. Mungkin telinganya terasa sakit.
“Astaga maaf ya sayang, kamu kaget ya? Papa sampai lupa kalau sedang menggendongmu.” Ucap Ilham lembut sembari mengecup pipi gembulnya. Semudah itu Dikta menangis, padahal pada papanya sendiri. Maklum Ilham memang jarang mengurus Dikta karena kesibukannya di kantor, bukan karena tidak perhatian, Ilham baru sempat mengurus anaknya, kala Monita sedang tidak enak badan atau sedang sedih seperti ini. Dikta kebanyakan dirawat oleh Monita, jadi Ilham tidak terbiasa dan bahkan lupa kalau dia tengah menggendong putranya.
“Sebentar bi’ anakku menangis.” ujar Ilham menundah amarahnya, Dikta butuh ditenangkan, padahal beberapa waktu lalu putranya sebahagia itu kala bermain air.
Beberapa menit dia membuat Dikta tenang, dan tentu saja dia masih ingat batas pembicaraan sebelumnya. Pria itu menyerahkan Dikta pada bi’ Rani dan berlalu turun ke ruang tamu.
Muak sekali rasanya Ilham mendengar nama itu, mau apa lagi wanita jal*ng itu? Ingin marah pada bi’ Rani, tapi salah Ilham sendiri tidak memperingatkan mereka untuk menghalangi kedatangan Naomi, bahkan bila perlu usir sekalian.
“Mau apa lagi?” Ketus Ilham sudah tak selembut dahulu. Ia mendudukkan dirinya di sofa sembari menatap datar istri yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya itu.
“Mas boleh aku bertemu Monita juga?” Tanya Naomi hati-hati, dia hafal betul bagaimana gestur tubuh suaminya ini jika marah.
“Untuk apa?”
“Ada apa?” Tanya seorang wanita secara tiba-tiba dan berjalan menghampiri mereka.
Ilham dan Naomi sama-sama menoleh, Naomi menampilkan senyum manisnya pada Monita yang kini tengah memandangnya dengan tatapan datar. Bukan seperti Monita yang dia kenal lembut dan hampir tidak pernah menampilkan wajah masam kala di depannya. Secebis perasaan tidak enak menyapa dirinya, baik Ilham maupun Monita sudah tak hangat lagi kala menyambut kedatangannya. Tapi Naomi akan berusaha menjaga sikap.
“Duduklah.” Titah Monita dengan datar dan membuat Naomi geram sebenarnya, namun tetap ia tahan demi bisa merebut hati Ilham kembali.
Naomi menuruti perkataan Monita dan mendudukkan diri di sofa tepat di depan mereka.
“Niatku datang ke sini adalah untuk meminta maaf secara langsung pada kalian atas semua yang aku lakukan. Terutama padamu Monita, aku minta maaf, aku khilaf, jujur saja aku sangat merasa kehilangan saat Ilham sudah tidak pernah pulang ke rumah kami dan dia sudah sering menghabiskan waktu bersama kamu dan putra kita.” Tutur Naomi kemudian. Sejak awal memang wanita itu sudah mengklaim kalau Dikta adalah putra bersama.
“Putra kita katamu mbak?” Monita berdecih, ia bahkan tersenyum miring, jika dilihat dari raut wajahnya, tampaknya Monita benar-benar kecewa padanya namun Naomi tetap memakai topengnya demi bisa mempertahankan suaminya. Dia akan mencoba menebalkan sabarnya, meski berbagai umpatan untuk Monita dia lontarkan dalam hatinya.
__ADS_1
“Kamu masih punya muka menyebutnya sebagai putramu setelah sudah menghinanya dan menyematkan anak hasil zina pada dirinya? Apa kamu tidak malu mbak?” Monita mulai meradang, semua perbuatan Naomi nyatanya berhasil membuatnya ilfil terlebih saat mengetahui wanita itu sudah mengkhianati suaminya dengan tidur bersama pria yang tidak lain adalah sahabat Ilham di rumah utama Ilham sendiri.
“Monita.” Naomi beranjak dari duduknya dan hendak menggenggam jemari Monita namun wanita itu segera menepisnya.
“Tolong maafkan aku, jika ada kata yang lebih dari maaf aku akan mengatakannya, apa yang harus aku lakukan Monita, agar kau bersedia memaafkan aku.” Naomi benar-benar memasang topengnya dengan baik saat ini, langkah pertama memang dia harus bersikap baik pada madunya demi bisa kembali merebut hati suaminya.
“Sebaiknya kau pulang Naomi, dan jangan menginjakkan kaki lagi di rumah ini.” Ucap Ilham menimpali.
Sefatal itukah kesalahannya? Naomi menatap Ilham tak percaya, pertama kali dalam hubungan mereka Ilham bersikap sedingin ini padanya. Hanya demi membela istri mudanya Ilham sampai lupa daratan seperti ini pikirnya. Pasalnya selama menjalin hubungan dari pacaran hingga menikah, Ilham tidak pernah memintanya pergi. Bahkan jika Naomi pergi Ilham akan menyusulnya dan memohon padanya agar tidak ditinggalkan, tapi ini sungguh di luar nalar, Ilham seperti bukan Ilham suaminya.
“Mas mengusirku?” Tanya Naomi tak menyangka.
“Bahkan detik ini juga kau sudah bukan istriku lagi Naomi.”
Naomi terperanjat, dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan buliran kristal yang menggenangi netranya. Bak dihantam bongkahan batu besar mendarat tepat di dadanya, suaminya menceraikannya hanya karena perempuan lain.
Bukan hanya Naomi, tapi Monita juga sama terkejutnya. Ilham melepaskan wanita yang dulu mati-matian ia halangi agar tidak ke pengadilan untuk mengajukan cerai hingga hampir mengorbankan Monita dan anaknya, kini ia ceraikan di depan matanya sendiri. Mungkin harus begini dulu baru Ilham sadar betapa liciknya wanita yang bertahun-tahun ia cintai itu.
“Mas akan menceraikanku?” Tanya Naomi lirih, raut wajahnya mengisyaratkan raut permohonan.
“Iya, biar ku perjelas, detik ini juga aku talak kamu Naomi!” Tegas Ilham dengan lantang hingga membuat Naomi terduduk di sofa.
Benarkah ini akhir dari kisahnya? Apa itu artinya dia akan kehilangan suaminya? Rasanya itu adalah hal yang masih begitu asing bagi Naomi. Tak pernah dia bayangkan sebelumnya kalau dirinya akan becerai dengan Ilham, bahkan meski pun dia sudah berselingkuh dia tidak pernah berharap berpisah dengan suaminya. Ilham adalah yang utama dan Rendy hanya pelarian saja. Naomi yang tidak tau menahu akar permasalahannya sontak melayangkan tatapan permusuhan pada Monita. Dia masih mengirah semua ini karena wanita itu.
Naomi menghapus air matanya lalu bangkit dari duduknya sembari melangkahkan kakinya mendekati Monita, rupanya dia akan menabuh genderang perang untuk madunya ini. Detik berikutnya, ia mendaratkan tangannya tepat di wajah Monita. Tamparan itu terdengar begitu renyah bahkan Ilham sontak terperanjat. Monita merasakan panas di wajahnya dan balas melayangkan tatapan luar biasa tajam pada Naomi.
“Pasti gara-gara dia kan mas? Kamu berani menceraikan aku karena dia, sudah aku duga, kehadiran wanita ini adalah awal dari kehancuran rumah tangga kita! Aku benci kamu Monita! Aku benci!” Pekik Naomi dan hendak menarik rambut Monita namun Monita segera mencekal pergelangan tangan wanita itu.
“Lepaskan tanganku jal*ng! Kamu wanita murahan, pelacur sepertimu tidak pantas besanding dengan suamiku!” Umpat Naomi yang tiba-tiba saja meradang.
Namun umpatannya terhenti kala wajahnya mendapat tamparan yang teramat keras. Bukan dari Monita, tapi dari Nancy ibu mertuanya.
“Mama…” Naomi menatap mama Nancy dengan raut wajah tak menyangka. Wajahnya memerah karena tamparan yang dilayangkan Nancy bahkan darah segar tampak mengalir dari sudut bibirnya.
“Kamu yang pelacur!” Hardik mama Nancy seraya menunjuk wajah Naomi, lalu kembali mendaratkan tangannya tepat ke pipi sebelah Naomi bahkan sampai membuat wanita itu terhuyung.
“Ma? Kenapa mama menamparku?”
“Cih… kamu menyebut menantuku murahan lantas sebutan apa yang pantas kusematkan padamu yang tidur dengan pria lain disaat kamu masih berstatus seorang istri? Bahkan pelacur saja masih ada nilainya dibanding kamu!” Teriak mama Nancy yang sontak terdengar sampai ke telinga-telinga para pelayan di dapur. Mereka sontak berlari ke ruang keluarga demi memastikan apa yang sebenarnya terjadi.
Namun begitu sampai, mereka sama-sama terkejut dengan kejadian menghebohkan itu, nyonya besar terlihat tengah marah besar pada istri pertama majikan mereka. Naomi tertampar kala mendengar mama Nancy menyebut Monita menantu, hal itu membuat Naomi merasa mama Nancy mulai menciptakan tembok yang teramat tinggi diantara mereka. Namun ada hal lain lagi yang menelisik indera pendengaran Naomi.
“Maksud mama?” Tanya Naomi dengan raut wajah bingung. Jujur saja saat ini hatinya mulai ketar ketir, mama mertuanya membahas perselingkuhannya yang dia yakini sudah dia tutup dengan rapi.
__ADS_1
Melihat tingkah sok polos menantunya ini membuat mama Nancy memutar bola matanya malas. Lantas dia merogoh ponsel yang ada di tasnya lalu memperlihatkan video panas Naomi bersama Rendy, yang kala itu wajah Rendy dalam video tidak terlihat jelas karena terhalang tubuh Naomi yang tengah meliuk-liuk di atas tubuh Rendy.
Bahkan video itu juga menampilkan wajah Naomi dengan jelas, karena di detik berikutnya Naomi berbalik menghadap pintu kamar dengan posisi membelakangi Rendy.
Naomi amat sangat tersentak bahkan matanya membola kala melihat video rekaman itu, susah payah dia meneguk salivanya yang mendadak pekat. Rahasia yang dia sembunyikan sebegitu apiknya kini terkuak juga, dari mana mertuanya mendapat rekaman ini? Dia merasa sudah tidak aman lagi sekarang, habislah dia, sudah tidak ada lagi alasan Ilham untuk mempertahankannya. Pantas Ilham menjatuhkan talak padanya, rupanya video ini sebabnya.
Takut, sakit, malu kini bersatu padu dalam hatinya. Jika sudah begini, apa lagi yang hendak dia jelaskan? Naomi benar-benar sudah kehabisan bahan, tapi tunggu! Bukankah dia masih bisa menyangkal dan balik menyerang Ilham dan Monita karena diabaikan. Yah bukan Naomi namanya kalau di tidak bisa mengelak, tapi satu hal yang tidak dia sadari, Ilham tak semudah itu dibodohi.
“Yah aku akui ma, aku memang berselingkuh dari anak mama. Tapi semua itu juga karena kesalahan anak mama sendiri. Wanita mana yang tahan jika dirinya diabaikan selama setahun lebih ini? Sejak Ilham kenal jal*ng ini, dia sudah tidak pernah lagi menyentuhku. Mama masih mau membelanya juga? Putra kebanggaan mama ini sudah mengkhianati cintaku.” Imbuhnya dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Ya jika ada penghargaan wanita paling percaya diri sedunia, maka dialah orangnya.
“Naomi cukup! Jangan pernah kau menyebut istriku jal*ng! Dia wanita suci sebelum aku menidurinya, bukan seperti kau yang sudah tidak perawan semenjak kita menikah. Bahkan mungkin mahkotamu itu sudah kau berikan lebih dulu pada badjingan itu.” Tegas Ilham yang sudah tak kuasa menahan umpatan Naomi pada istrinya yang terus menerus menyebutnya jal*ng.
“Maksud kamu apa mas? Bukankah sudah kujelaskan padamu bahwa aku pernah diperkosa waktu remaja?” Jelas Naomi masih saja berkilah. Dia bahkan merangkai kebohongan sedramatis itu demi mengelabui suaminya sejak lama.
“Dan kau pikir aku akan percaya begitu saja? Naomi, Naomi, aku bukan anak kemarin sore yang bisa kau bodohi!” Tuturnya seraya tersenyum miring.
“Aku bahkan tau kalian sudah 6 tahun lamanya menjalin hubungan terlarang itu. Tapi sayangnya, aku tidak tau siapa pria itu karena dirinya cukup pintar bersembunyi. Namun itu sudah tidak penting lagi, aku tidak mau tau lebih jauh lagi tentangmu. Aku tidak peduli lagi perihal siapa pria itu karena yang patut aku salahkan di sini adalah kamu! Salah kamu yang tidak bisa menjaga kesucian pernikahan kita! Perselingkuhan itu terjadi karena kesepakatan dua pihak, meski pun dia memohon padamu jika kau tidak menanggapi, semuanya tidak akan terjadi.”
“Tapi mas_”
“Sudahlah Naomi lebih baik kau enyah dari rumah ini.”
“Tapi mas_”
“Roy!” Ilham memanggil salah satu bodyguard mereka.
“Ya bos!” Pria berbadan kekar itu bergegas masuk memenuhi panggilan Ilham.
“Cepat kau bawa keluar perempuan ini dari rumahku! Dan ingat, jangan pernah biarkan dia masuk lagi ke rumah ini, paham?!”
“Mas! Mas Ilham tolonglah, mas jangan seperti ini.” Naomi memohon sembari menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Ayo keluar!” Bentak pria berwajah garang itu dengan memndelikkan matanya pada Naomi seraya menyeretnya keluar.
“Lepaskan aku! Kau tidak tau siapa aku? Beraninya kau! Aku istri pertama bos kalian, nyonya besar di sini!” Jelas Naomi pada bodyguard baru Ilham, masih belum sadar diri juga.
Pria itu tak menggubrisnya, dia terus menyeret wanita itu hingga berhasil keluar gerbang. Cukup sulit memang karena wanita itu terus meronta-ronta, tapi bukan berarti tidak bisa. Badan kekarnya mampu membawa Naomi keluar walau pelipisnya sedikit berkeringat karena dia harus menggunakan tenaga dalam.
“Berani sekali kau pada istri bosmu sendiri! Kau akan kupecat!”
“Hahahaha… lucu sekali anda. Sudah bukan istri lagi, tepatnya kau cuma mantan istri nyonya.” Pria itu terbahak kala mendengar pernyataan Naomi yang halunya sedalam palung mariana itu.
Roy kembali masuk begitu berhasil menyeret Naomi keluar gerbang dan bergegas menutup pintu gerbang itu sembari berpesan pada dua security di pos agar tidak membiarkan wanita itu masuk ke rumah ini lagi.
__ADS_1
“Hei buka pintunya! Ilham belum menggugatku di pengadilan, itu artinya aku masih punya kesempatan untuk rujuk dengannya, awas saja kalian kalau sampai aku kembali menjadi istri Ilham. Aku akan memecat kalian semua!”
Naomi terus berceloteh, tanpa harus mereka gubris sama sekali. Mereka menggunakan jurus pura-pura tuli, dan mengencangkan volume musik yang sejak tadi mereka putar demi menyamarkan suara cempreng itu lalu kembali bersantai sembari menyeruput secangkir kopi hitam di dalam pos satpam.