Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 88 Tak Menyangka!


__ADS_3

Tepat pukul delapan malam, Monita dan juga Ilham sedang berada di rumah pemberian David yang kini tengah di tempati oleh Monita.


Niat hati ingin membawa anak dan istri beserta adik iparnya pulang, namun cuaca tiba-tiba hujan, mereka mengurungkan niat untuk pulang karena tidak baik pulang membawa bayi dengan cuaca seperti itu.


Ilham masih sangat marah mendengar pengakuan David kalau mereka akan menikah, karena hal itu berbagai imajinasi berkeliaran di kepalanya, ia pikir Monita berselingkuh.


Pasti Monita sudah tidur dengan pria brengsek itu, apalagi David memang pria tampan bahkan ketampanan mereka hampir setara walau pun sebenarnya Ilham yang lebih tampan 1 tingkat, terlebih David juga orang berada seperti dirinya.


Mengingat hal tentang David membuat dada Ilham meletup-letup, itulah kenapa sejak di jalan sampai sudah beberapa jam di rumah Ilham tak mengajak bicara Monita.


Sementara Monita yang baru selesai menidurkan Dikta merasa was-was kalau Ilham akan menyerangnya sewaktu-waktu, ia juga merasa was-was kalau Ilham akan mengambil anaknya.


Karena saking takutnya, Monita tak beranjak dari ranjang, ia terus saja tidur di samping Dikta agar tak diambil Ilham.


Ilham yang sedari tadi duduk di luar sembari meneguk secangkir kopi terakhirnya menatap tajam ke arah pintu kamar Monita, ia meletakkan cangkir kosong itu ke atas meja lalu beranjak menuju kamar tersebut.


“Letakkan anak itu ke tempat tidurnya.”


“Tidak, kalian akan mengambilnya, aku tidak akan menyerahkan anak ini pada kalian.”


“Monita!!” Pekik Ilham dengan geram, kekesalannya semenjak di bandara tadi sudah tidak bisa ia bendung lagi, ia tidak mau menerima kenyataan kalau Monita telah menjadi calon istri David.


“Biarkan kami hidup bahagia, tolong lupakan kami, berikan aku ruang untuk bernapas.”


“Apa melupakan? Setelah kamu bertunangan dengan laki-laki itu? Rupanya kamu jadi lebih berani dan percaya diri sekarang.” Cibirnya.


“Terserah apa kata mas Ilham, yang jelas aku akan menjadi istri orang, tolong jangan usik kami lagi!”


“Akan menikah? Jangan gila kamu, kamu masih istri saya Monita! Apa kamu sudah berzina dengannya?” Tuduh Ilham menatap jijik dan muak pada wanita cantik yang ada di depannya sekarang, emosi Ilham yang sudah terlanjur tersulut itu mengingkari kata hatinya sendiri yang sempat berkata kalau, dia tidak peduli Monita sudah menikah lagi asal dia bisa menemukan istrinya itu.


Tak ingin Dikta mendengar keributan, Monita mengangkat tubuh anaknya dan membaringkan dia di box bayi yang terletak tepat di samping tempat tidurnya.


“Pelankan suaramu!” Pekik Monita yang sama kesalnya.


“Ah terserah aku! Bahkan kamu membiarkan anakku menganggap pria itu sebagai ayahnya, keterlaluan kamu Monita!” Ia meluapkan semua uneg-uneg dalam hatinya dan menyerang Monita tanpa jeda.


“Aku tidak pernah berzina dengannya! Hentikan tuduhanmu itu Ilham! Bahkan dia akan menikahiku secara sah di mata hukum dan agama.” Jelas Monita seolah menyindir Ilham yang hanya menikahinya secara siri.


Ilham mendesis kesal, ia keluar menuju mobil mengambil tasnya dan mengeluarkan sesuatu di dalamnya, begitu Ilham kembali masuk kamar pria itu melempar dua buku kecil berwarna merah dan hijau tepat di depan Monita.


“Lihat itu!” Sentak Ilham dengan raut wajah kesal.


Monita melirik kedua buku itu dengan dahi mengkerut, beragam tanya timbul dalam benaknya.


“Buku nikah siapa itu?” Batin Monita sebelum menyentuh buku tersebut.


“Ambil!” Cetus Ilham lagi tampak kesal melihat Monita yang masih bergeming dan mematung.

__ADS_1


Dengan perlahan Monita meraih salah satu buku tersebut, dalam buku itu terpampang jelas foto latar biru yang menampilkan dirinya beserta Ilham di sana.


Melihat itu darah Monita berdesir seketika, tubuhnya seakan membeku, tangannya bergetar, ia membaca kapan buku itu terbit.


Seketika tubuh Monita lemas, ternyata Ilham tak pernah ingkar dia melegalkan pernikahan mereka saat Monita kabur membawa anak mereka.


Ilham mencengkram kedua bahu Monita begitu melihat reaksi Monita yang tak berkutik.


“Kalian sudah tidur bersama kan?” Pertanyaan Ilham sukses membuat hati Monita perih, rasa sakit itu seoalah menghujam jantung ibu satu anak itu.


PLAAKKK


Sebuah tamparan mendarat di pipi Ilham, perkataan Ilham mampu menyulut emosi Monita. Kalau bukan karena Ilham yang lebih memilih mengejar Naomi dan mengabaikan Monita yang sedang dalam bahaya waktu itu, Monita tidak akan pergi jauh dan hendak menikah dengan David demi menyelamatkan status anaknya.


Mana tau Monita kalau pernikahan mereka sudah tercatat di kantor urusan agama, mana tau dia? Yang dia tau selama ini pernikahan mereka hanya ilegal.


“Apa-apaan ini Monita?” Ilham menyalak marah begitu mendapat tamparan keras dari istri mudanya itu, ia menatap tajam wajah istrinya yang bertambah cantik itu.


“Ternyata wanita malam akan tetap kembali pada derajatnya! Wanita murahan!” Ilham meluapkan amarahnya yang membuat dadanya meletup-letup, membiarkan kobaran api amarah itu membakar mereka berdua.


PLAAKK


Monita kembali melayangkan tamparan keras di pipi suaminya.


“Kenapa kamu marah dan menamparku? Sudah berpaa kali dia menidurimu?!”


“Kenapa kamu selalu melakukan ini padaku?!” Tanya Monita dengan tangis tertahan.


Detik berikutnya, tangisnya pecah, tubuhnya merosot ke lantai.


“Kenapa kamu menangis Monita? Kamu pikir perlakuanmu ini akan ku maafkan? Tidak akan!” Tegas Ilham tanpa berniat untuk membantu istrinya bangkit kembali.


“Iya teruslah seperti itu, mencabik hati yang tak berharga ini!”


“Jangan berlagak sok suci! David benar-benar sudah memalsukan dokumen, dia sudah mencatat pernikahan kalian di kantor urusan agama, aku akan menuntutnya! Akan kujebloskan dia ke dalam penjara!”


Monita mendongak, ia menatap Ilham dengan raut wajah bingung.


“Kalian sudah memalsukan dokumen! Aku tak menyangka ternyata kalian sepicik itu!” Cecar Ilham lagi.


“Apa maksud mas Ilham?”


Monita benar-benar bingung kali ini, pasalnya dia tidak tau kalau Ilham sudah melegalkan pernikahan mereka dan dia juga tidak tau apakah David sudah mencatat pernikahan mereka di kantor urusan agama? Kalau Ilham yang lebih dulu melakukan pencatatan itu, artinya yang David daftarkan adalah palsu, jika memang sudah ia daftarkan.


“Kenapa? Apa kau takut? Aku akan menjebloskan kalian ke dalam penjara, jangan harap kalian bisa lolos!”


“Belum tentu juga kan kak David sudah mencatat pernikahan kami?”

__ADS_1


“Kamu jangan naif Monita! Apa kamu benar-benar tidak tau kalau calon suami sialanmu itu sudah mencatat nama kalian di kantor urusan agama? Aku punya buktinya, apa perlu aku pertemukan kepala kantor yang ada di sini dengan kamu? Atau aku telpon saja?” Ilham segera meraih ponselnya yang ada di saku celana, mengetik nomor kepala kantor itu yang sudah dia minta pada Doni sejak tadi.


Ilham benar-benar gerak cepat, begitu sampai rumah beberapa jam lalu, dia meminta Doni untuk mencari tau gerak-gerik David, dan ternyata dia menemukan satu fakta kalau pria itu sudah melakukan pencatatan pernikahan di kantor itu, beserta nomor telepon kepala kantor urusan agama di daerah itu sebagai bukti.


“Apa kau akan bertemu langsung dengannya? Atau hanya menelepon saja?” Tanya Ilham yang mulai percaya kalau istrinya tidak tau menahu soal itu.


“Berbicara lewat telepon saja.” Jawab Monita singkat, dia cukup percaya dengan suaminya ini, dia lebih dulu mengenal Ilham dibanding David, cukup lama bersama Ilham membuat Monita hafal bagaimana watak suaminya itu.


Ilham segera menghubungi nomor kepala kantor itu. Tak butuh waktu lama sambungan telepon terhubung.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam, maaf mengganggu ini saya Ilham Adhitama, ada yang ingin saya tanyakan pak.”


“Ya silahkan pak.” Jawab kepala kantor urusan agama dari seberang telepon.


“Jadi begini, apa anda kenal dengan pria yang bernama David Bramantyo? 10 hari lalu dia melakukan pencatatan pernikahan di kantor anda bersama wanita bernama Monita Maheswari Kusuma.”


“David Bramantyo… David… David…” ujar pria paruh baya itu terdengar tengah berfikir.


“Dia CEO perusahaan Green Agency di kota A dan punya cabang Green Agency juga di sini.”


“Oh iya benar, saya kenal dia, seorang CEO Green Agency.”


Mendengar penuturan pria tersebut Ilham menarik sudut bibirnya.


“Jadi apa benar pak 10 hari lalu dia melakukan pencatatan pernikahan di kantor bapak?” Tanya Ilham lagi.


“Iya benar pak, dia melakukan pencatatan pernikahan di sini tanpa membawa calon istrinya, memangnya ada apa ya pak? Apa bapak juga orang yang sama yang menanyakan ini tadi siang?”


“Saya atasan pria yang berkunjung tadi.”


“Oh iya, memang tuan yang tadi, berkunjung ke kantor sekaligus meminta nomor saya, apa ada masalah pak?” Tanya pria itu terdengar ramah.


“Ah tidak, saya hanya bertanya saja, kalau begitu terima kasih pak maaf sudah mengganggu waktu anda.”


“Sama-sama pak.” Sambungan telepon berakhir.


Begitu pembicaraan selesai, Ilham melirik ke arah Monita yang masih diam mematung, wanita itu membatu, darahnya seakan tumpah setengah.


Monita tak percaya, pria yang sudah dia anggap baik dan hangat itu melakukan penipuan semacam ini.


Bahkan pria itu sudah sangat toleran padanya, namun Monita lagi-lagi tak menyangka langkah yang David ambil benar-benar di luar nalar.


Ilham membungkuk lalu mencengkram rahang Monita.


“Bagaimana mungkin putraku berubah menjadi putra pria brengsek itu?” Sentak pria itu dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


__ADS_2