
Hari ini hari libur, Naomi dan Ilham sedang duduk bersantai di ruang keluarga sembari menikmati teh, akhir-akhir ini Naomi bersikap manja ke Ilham, dia duduk dengan menyandarkan kepala di bahu suaminya.
Sementara Eden, ia kluar dari kamarnya dan tanpa sengaja menyaksikan kemesraan Ilham dan Naomi di depan matanya.
Eden seketika mengepalkan tangannya, berani-beraninya mereka bermesraan di ruang terbuka seperti itu, dia takut kalau sampai kakaknya melihat, yang ada Monita makan hati lagi, terserah mereka kalau mau bermesraan, asalkan jangan sampai Monita lihat, setidaknya tunggu sampai Monita dan Eden pindah dari rumah itu dulu baru mereka bisa melakukan apa saja.
Eden terus berjalan melewati mereka berdua tanpa melirik mereka sedikit pun, Ilham dan Naomi sama-sama melihat ke arah Eden, Naomi mengerutkan dahinya melihat tingkah Eden yang menurutnya kurang sopan, lewat begitu saja tanpa menyapa mereka sedikit pun.
Sementara Ilham, dia jadi tidak enak hati pada adik iparnya itu, yang sudah melihat kemesraan mereka secara langsung, dia takut Eden akan membencinya, dan meminta Monita menjauhi Ilham.
“Lama-lama anak itu mulai tidak sopan!” Gerutu Naomi dengan raut wajah kesal.
“Sudahlah, tidak usah diperpanjang, mungkin hari ini dia sedang ada masalah jadi dia tidak menyapa begitu melewati kita.” Ucap Ilham memberi pembelaan.
“Bela saja terus, mungkin karena dia adik iparmu ya Mas, kamu takut dia marah dan dia akan menjauhkan Monita dari kamu.” Ketus Naomi dengan tangan yang bersedekap di dada.
“Bukan begitu sayang, aku hanya tidak ingin kamu memberat-beratkan masalah yang sepele.”
“Tapi tetap saja, anak itu tidak punya etika Mas, apa dia tidak pernah diajari sopan santun?”
“Aku santun hanya pada orang yang pantas untuk disantuni.” Tiba-tiba suara seorang wanita menyelah ucapan Naomi.
Naomi menatap ke arah sumber suara, ia menatap tajam pemilik suara yang tak lain adalah adik madunya itu, lalu bangkit dari duduknya.
“Apa maksud kamu?”
Ilham pun ikut berdiri dari duduknya dan jadi kelimpungan sendiri melihat Naomi dan Eden berdiri berhadap-hadapan dan saling menatap tajam, ini baru Eden dan Naomi Ilham sudah panik bukan main, bagaimana jika itu Monita dan Naomi? Menyatukan istri pertama dan kedua itu bukan perkara yang mudah, akhirnya tekad Ilham untuk memisahkan mereka berdua sudah bulat, Ilham akan segera mencarikan apartemen untuk istri dan adik iparnya itu.
“Sepertinya kak Naomi sudah tau maksud saya apa? Kak Naomi mempermasalahkan sikap saya yang kurang sopan tadi? Sebaiknya sebelum kak Naomi protes dengan sikap saya, kak Naomi berkaca dulu, bagaimana sikap kak Naomi.”
__ADS_1
“Dasar playing victim, sudah jelas yang salah di sini kamu karena tidak sopan ketika lewat di depan orang yang lebih tua, kenapa sekarang jadi menyuruhku berkaca? Apa kakakmu tidak pernah mengajarkanmu sopan santu?”
Mendengar Naomi meremehkan didikan kakaknya padanya, membuat emosi Eden tersulut, ia pun melangkahkan kakinya mendekati Naomi.
“Den maafkan Naomi ya, tolong jangan terpancing emosi, lebih baik sekarang kamu masuk kamar.” Kali ini Ilham yang buka suara.
“Cukup Mas, biarkan aku memberi peringatan pada anak ini! Agar dia sadar diri!”
“Perlu kuperingatkan, jangan pernah meremehkan didikan kakak saya, kakak saya sudah sangat berhasil mendidik saya dengan baik, namun semua tergantung sikap anda! Kalau anda baik, saya juga pasti akan baik! Tapi kalau anda jahat, saya juga pasti akan melakukan hal yang sama!” Cetus Eden sembari menunjuk wajah Naomi.
“Turunkan tanganmu itu!” Eden pun menurunkan tangannya dan tersenyum sinis.
“Kenapa? Anda tidak suka? Sebaliknya aku juga tidak suka dengan sikap anda yang selalu seenaknya, bukankah anda yang meminta suami anda untuk menikah lagi? Kenapa sekarang tidak terima? Ini semua salah anda, yang sudah membuka peluang besar untuk suami anda menikahi kakak saya, jadi jangan salahkan suami anda jika dia sudah mulai mencintai kakak saya, karena cinta tidak memilih akan bermuara di hati siapa, layaknya dua pasangan normal, mereka akan saling mencintai karena terbiasa, dan semua itu anda yang membiasakannya.”
“Dan anehnya lagi, anda malah membenci kakak saya dan menjauhinya sekarang, anda bersikap ketus padanya dan mendiamkannya.”
“Eden!” Bentak Monita yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Kak Monita?”
Monita berjalan menghampiri Eden dan menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jangan bicara tidak sopan pada Mbak Naomi!”
“Kenapa? Aku hanya tidak suka dia bersikap tidak baik pada kakak, dia seakan menuntut kakak supaya tidak mencintai suaminya, padahal dia sendiri yang megundang cinta itu hadir di hati kalian, siapa suru menyuruh suami sendiri menikah lagi.”
“Eden stop!” Monita menampar pipi Eden hingga membuat Eden terperanjat sembari memegangi pipinya, ia menatap Monita dengan tatapan tak menyangka.
“Monita!” Ilham pun juga terkejut.
__ADS_1
“Kenapa kamu menamparnya?” Ilham pun mendekati Eden dan hendak memegang bahunya namun Eden segera menepis tangan Ilham.
“Keterlaluan! Aku baru saja membela kakak karena dia sudah meremehkan kakak, tapi kakak malah menamparku? Jadi ini balasan dari kakak setelah pembelaan yang aku lakukan pada kakak?!” Teriak Eden dengan air mata yang sudah mengalir begitu saja dari matanya.
Mata Monita berkaca-kaca, ia seakan menyesali perbuatannya tadi pada adiknya, ia pun menatap nanar telapak tangannya yang tadi sudah ia pakai menampar adik kesayangannya itu.
“Eden maafkan kakak.” Monita mendekati Eden namun Eden segera memundurkan langkahnya dan berlari menuju pintu keluar lalu pergi dari hadapan mereka.
“Eden tunggu!” Monita hendak mengejar adiknya namun Ilham segera mencekal tangannya.
“Biarkan dulu, nanti aku akan menghubungi Andre untuk mengejarnya.”
Ilham pun segera meraih ponsel di saku celana, dan mengetik nomor Andre lalu menghubunginya.
“Tolong cepat kau kejar Eden, mungkin dia belum jauh dari rumah, dia pergi dalam keadaan kacau, tolong kau temani dia.”
“Apa? Baik tuan, aku akan segera menemukannya.” Jawab Andre dari seberang telepon, Andre pun mengakhiri panggilannya, Andre jadi sedikit tidak sopan pada bosnya itu karena mematikan telepon lebih dulu, biasanya Ilham yang lebih dulu mengakhiri panggilan teleponnya, namun kali ini Andre jadi panik karena mendengar Eden pergi dari rumah dalam keadaan kacau, jadi dia tidak memperhatikan situasi, dan untungnya kali ini Ilham memakluminya.
“Mas! Eden pasti pulang kan?” Tanya Monita dengan raut wajah sendu.
“Iya sayang, kamu tenang ya, Andre pasti akan berhasil menanganinya.” Jawab Ilham yang refleks mengusap lembut kedua bahu Monita lalu membawa Monita ke dalam dekapannya.
Tanpa sadar perhatian Ilham yang berlebihan pada Monita, serta panggilan sayangnya itu berhasil membakar hati yang lainnya.
Naomi pun berlalu dari hadapan mereka, melihat Naomi yang tampak marah membuat Ilham jadi tidak enak hati, pasti istrinya itu marah karena Ilham memberikan perhatian lebih pada Monita saat masih di depan Naomi.
Akhirnya Ilham pun melepaskan tautan tubuh mereka dan menatap nanar punggung Naomi yang sudah semakin menjauh.
“Maaf sayang, aku harus mengejar Naomi dulu, aku takut dia marah, kamu tunggu di kamar, aku akan menyusul kamu.” Ucap Ilham mengecup singkat kening Monita lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
“Sampai kapan aku harus begini Tuhan? Lagi-lagi aku kembali diabaikan, aku menyesal sudah berani mencintai pria beristri.” Batin Monita, buliran bening kembali membasahi netranya.