
“Monita senang sekali ma, akhirnya Monita bisa belikan Dikta baju ini, tau nggak ma ini baju sudah Monita impi-impikan sejak lama, tapi Monita nggak bisa beli karena harganya mahal. Tapi hari ini Monita tidak menyangka, baju ini sekarang sudah ada di tangan Monita. Makasih ya ma.” seru Monita pada sang mama begitu mereka sudah berjalan keluar mall. Setelah selesai mencari bang Agus, untuk membayar hutang nasi gorengnya, kini Monita sedang jalan-jalan dengan mertuanya.
Dua wanita beda usia ini puas jalan-jalan di mall, mereka juga tak lupa membawa Dikta yang kini sedang ada dalam gendongan pelayan yang ada di rumah mama Nancy. Pelayan itu juga senyum-senyum sendiri melihat tingkah menggemaskan Monita. Berbeda sekali dengan Naomi yang di saat bersama mertuanya, hanya diam dan terlihat kaku. Entah karena malu atau bosan.
“Memangnya Ilham kurang kaya sampai baju segitu saja tidak bisa beli?” mama Nancy memutar bola matanya malas dengan raut wajah sinis namun itu hanya di luarnya saja. Dalam hati mama Nancy dia gemas sekali dengan tingkah laku Monita yang menurutnya persis anak remaja itu.
Hanya saja, sampai detik ini wanita paruh baya itu gengsi untuk menampakan kasih sayangnya pada Monita karena kesalahan menantu kecilnya ini yang ikut-ikutan berbohong bersama Ilham dan Naomi.
“Hehehe tidak ma, uang mas Ilham masih banyak kok, dia juga masih kaya, saldo di atm Monita yang mas Ilham transfer kemarin juga masih banyak sisanya, cuma kalau untuk beli baju seharga motor begitu Monita sayang uangnya ma, Monita cuma tidak mau saja di anggap royal sama mas Ilham. Monita tidak enak hati ma.”
“Ya ampun Monita, kamu itu istrinya Ilham, jadi kenapa kamu tidak enak segala kalau mau menghabiskan uangnya. Toh itu juga itu untuk Dikta anaknya, sekali pun itu untuk kamu pake, ya tidak masalah. Lebih baik uang suami kamu dihabiskan untuk kamu dan anak kamu dari pada dihabiskan pelakor. Mau pelakor yang habiskan?” cetus Nancy jadi gemas sendiri dengan pola pikir menantunya ini.
“Tapi kan yang pelakor di sini Monita ma.” jawaban yang tidak salah tapi tidak juga benar sama sekali.
“Iya juga ya.” ujar mama Nancy singkat padat dan sama sekali tidak jelas.
Mereka kembali melanjutkan langkahnya sembari melihat-lihat beberapa pasang sepatu yang ada di sana. Hingga akhirnya, tak sengaja mata mama Nancy melihat sepatu menantunya yang sudah usang bahkan warnanya pun sudah pudar. Saking kagetnya, mama Nancy sontak membeliak, dengan mulut yang menganga, ssperti sedang melihat seorang anak balita yang tertangkap basah menuangkan semua isi sabun cair di lantai.
“Monita!”
Monita menoleh dengan kening yang berkerut, dia jadi ikut panik begitu melihat mama mertuanya panik.
“Ada apa ma?”
“Kamu itu jangan buat saya malu ya, kenapa kamu pakai sepatu kucel begitu?” protes mama Nancy tak suka melihat menantunya memakai sepatu jelek seperti itu. Monita pikir apa, dia sampai hampir jantungan saking paniknya.
“Tapi kan ini masih bagus ma.” jawab Monita seraya menunduk sedikit melihat ke arah sepatunya yang menurutnya masih bagus.
Ya sebenarnya sepatu itu masih bagus, hanya saja mama Nancy tidak pernah memakai sepatu usang seperti itu, jadi dia melayangkan protes begitu melihat menantunya memakainya. Terbiasa hidup mewah dia ingin menantunya juga mengenakan barang-barang mewah.
__ADS_1
“Benar-benar Ilham ini, sampai sepatu istrinya saja dia tidak perhatikan.” gerutu mama Nancy dengan suara pelan, namun masih dapat Monita dengar.
“Apa ma?”
“Kita beli sepatu sekarang.” pungkasnya kemudian menarik tangan menantunya menuju ke tempat sepatu yang berjejer rapi di raknya.
“Coba ini.” ujar Nancy begitu karyawan di toko itu memberikan sepasang sepatu berwarna hijau tua yang tampak cantik sekali di kaki Monita.
Nancy mengamati sepatu itu dengan seksama, namun sepersekian detik kemudian dia merasa tidak cocok dengan sepatu itu.
“Kurang, bagian bawahnya kurang tinggi. Ambil lagi yang lain.”
Wanita itu kembali mengambil sepasang sepatu yang lainnya lalu memberikannya pada Monita.
Setelah di amati lagi, rupanya mama Nancy masih kurang cocok. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menggerakan tangannya sebagai isyarat agar wanita cantik itu kembali mengambilkan sepasang sepatu lagi. Begitu terus menerus, hingga akhirnya mama Nancy menjatuhkan pilihannya pada sepasang sepatu flats berwarna nude, pilihan kedelapan.
****
“Beli apa aja sayang?”
“Baju-baju Dikta, baju aku dan sepatu aku mas.”
“Buat mas mana?”
“Tidak ada mas, mama cuma belikan untuk aku dan Dikta. Nanti aku bilangin mama ya supaya mas dibelikan juga.” ucap Monita seolah berbicara pada adiknya yang tidak dibelikan mainan oleh sang mama.
Mendengar itu Ilham menarik sudut bibirnya, dia bahkan menampakkan senyuman lebar dan memanggil istrinya seraya menepuk-nepuk sisi kursi yang ada di sampingnya.
Monita menuruti permintaan suaminya dan mendudukan diri di sofa samping suaminya dengan Dikta yang masih ada dalam pelukannya.
__ADS_1
“Sini sama papa.” Ilham mengulurkan tangannya hendak meraih Dikta.
“Wajahnya mirip aku semua sayang, tidak ada wajah kamu di sini.” ujar Ilham menimang-nimang anaknya.
Monita mencebik, sepertinya hanya dia yang merasa Dikta adalah dia dalam versi yang berbeda. Sementara suaminya dan yang lain mengatakan kalau Dikta adalah Ilham versi kecil.
Hadirnya Dikta menjadi sebuah ikatan yang melibatkan banyak hati. Hubungan Monita dan Nancy kembali menyatu walau pun Nancy belum sepenuhnya jujur kalau dia sudah kembali menerima Monita. Namun jauh dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia sudah sangat menyayangi menantunya itu, bahkan perasaannya pada Monita mengalahkan kasih sayangnya untuk Naomi. Ya secara sadar, Nancy sudah menggantikan Naomi dengan Monita.
Sebelum senja berganti, Monita sudah mandi demi menyejukkan tubuhnya yang terasa penat sejak tadi. Penat di tubuhnya masih terasa, karena sejak tadi sebelum mereka jalan-jalan ke mall, dia lebih dulu mengajak suaminya berkeliling untuk mencari bang Agus karena tempat jualannya yang berpindah-pindah.
Selesai mandi, Monita keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi dengan handuk kecil yang membungkus rambutnya basah. Ia menatap was-was Ilham yang sedang duduk di tepi ranjang, tapi kenapa dia tampan sekali, pikir Monita kini menggeleng cepat demi menepis pikirannya.
Pria itu tengah fokus dengan ponselnya, sembari melirik dengan ekor matanya. Dia sadar istrinya sudah selesai dan jarak mereka hanya beberapa meter saja.
Monita berlalu seperlunya, tak ada niat menggoda, seperti kebiasannya, dia menggunakan lotion di kaki jenjang dan tangannya. Kenapa tidak digunakan setelah ganti baju? Jawabannya karena Monita suka saja.
Ilham menyadari tirai jendela kamar masih terbuka lebar, dia segera mengambil langkah dan bergegas menutup tirai jendela itu. Padahal tidak ada yang akan melihat, meski pun ada security dan beberapa bodyguard, mereka tidak mungkin melihat. Jarak pintu gerbang dan rumah utama sangat jauh, jika mereka ingin mengintip, mereka perlu usaha lebih.
“Kenapa mas?” Tanya Monita panik, gerak-gerik suaminya membuat ia curiga.
“Tidak.” jawab Ilham singkat, padat dan sama sekali tidak jelas.
Pria itu berucap santai, lalu kembali duduk di tepi ranjang. Monita pun dibuat kesal, kenapa harus sepanik itu jika tidak ada apa-apa.
Butuh beberapa menit untuk selesai, baju tidur yang sedikit terbuka itu membalut tubuhnya dengan begitu indah. Bukan lingerie, tapi itu memang pilihannya.
“Sayang.” panggil Ilham seraya meletakkan ponselnya di atas nakas. Jika dia sudah melepas ponsel, itu tandanya tak ada lagi yang menjadi fokusnya.
Wanita itu mendekat, dia sama sekali tak berfikir jika kini, suaminya menatap dia dengan tatapan berbeda, pasalnya dia pikir suaminya tidak meliirknya sama sekali, karena sibuk memainkan benda pipih di tangannya sejak tadi. Dada dan bahu yang sedikit terbuka, bahkan belahan dadanya yang terlihat, membuat suaminya terlena.
__ADS_1
“Kau menggodaku? Hm?”